• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wajah Baru Standar Pemberadaban oleh Brett Bowden

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teoretis

F.2. Wajah Baru Standar Pemberadaban oleh Brett Bowden

Secara sederhana, tulisan Bowden28 menyelidiki sejarah wacana pemberadaban dan memuat perincian tentang perubahan atau perkembangan makna dan fungsi yang berputar di sekitar kata “peradaban” (civilization). Pada awal kemunculannya, wacana misi pemberadaban disebarkan dalam tubuh yang sama dengan kolonialisme (dan imperialisme). Wacana ini hadir sebagai wajah santun bagi intensi perluasan kekuasaan yang mengikutinya. Gagasan tentang menjadi “beradab” pun terkait erat dengan gagasan tentang kemajuan (idea of progress),

27 Giroux, Henry. 2005. “Cultural Studies, Resisting Difference, and the Return of Critical Pedagogy” dalam Border Crossings: Cultural Workers and the Politics of Education. New York: Routledge, hal. 137-155.

28 Bowden, Brett. (2009). The Empire of Civilization: The Evolution of an Imperial Idea. Chicago: The University of Chicago Press.

28

bahkan oleh Georg Iggers, seorang sejarawan Amerika, disebut sebagai “bentuk representasi teori modernisasi yang pertama”.29

Wacana pemberadaban setidaknya melibatkan dua pihak berkarakteristik bertentangan: “yang-beradab” dan “yang-tertinggal”. Gagasan ini mengasumsikan bahwa mereka yang beradab memiliki ciri masyarakat yang lebih modern, lebih maju (misalnya punya sistem keadilan dan tata negara yang lebih kompleks, menerapkan pemanfaatan teknologi yang lebih terdepan). Sementara itu, mereka yang tertinggal dianggap belum memenuhi standar itu dan “perlu dibantu” untuk mencapainya. Secara spesifik, wacana pemberadaban diposisikan sebagai rasionalisasi untuk melegitimasi praktik kolonialisme Eropa. Posisi yang-beradab jelas dimiliki oleh kolonial, dan yang-tertinggal adalah masyarakat di belahan dunia lain yang diokupasi oleh pihak yang pertama (dalam banyak kesempatan, dua pihak ini kerap dirujuk sebagai “the West and the rest”; hanya Barat yang bernama [diawali dengan huruf kapital pula!], sementara belahan lain dianggap tanpa wajah dan seakan-akan dapat dikelompokkan jadi satu tanpa masalah).

Dalam tulisannya, Bowden juga sempat mengutip pernyataan Edward Shils untuk menekankan bahwa proyek modernisasi, secara khusus, berarti proses ‘menjadi seperti Eropa’. Orang-orang barangkali lebih suka melakoni proses ini tanpa harus tergantung kepada Barat, namun Shils menyatakan bahwa modern merupakan karakter alamiah Barat, datang “dari sananya”.30 Maka, dalam relasi semacam ini, tidak akan pernah ada situasi di mana masyarakat jajahan menyejajari atau bahkan melampaui Barat.

29 Ibid., hal. 69.

30 Ibid., hal. 72. Bowden mengutip pernyataan Shils, “[I]t has become part of their (Western’s, red.) nature to be modern and indeed what they (the West, red.) are is definitive of modernity.” Lih. Shils, E. (1970). “Political Development in the New States—The Will to Be Modern,” dalam Readings in Social Evolution and Development. S. N. Eisenstadt (ed.). Oxford: Pergamon, hal. 379-382.

29

Wacana pemberadaban jelas menimbulkan banyak masalah. Mengasumsikan bahwa Barat lebih maju dari yang lain adalah yang pertama. Persoalan lain, mengklaim bahwa ada tugas yang harus diemban Barat untuk memajukan masyarakat lainnya pula (the white man’s burden). Dan praktiknya, menunjukkan ambivalensi yang amat kentara: demi mengajari bangsa lain untuk jadi beradab, kolonial malah kerap kali menggunakan cara-cara yang tidak beradab. Mereka mencaplok kepemilikan wilayah, menundukkan masyarakat agar mengikuti aturan main mereka, mengeksploitasi manusia dan sumber daya alam daerah jajahan, dan lain sebagainya.

Kolonialisme klasik barangkali sudah berlalu (tapi, jamak dibicarakan bahwa kolonialisme sebenarnya belum usai hingga kini, hanya beralih bentuk [atau kerap disebut neokolonialisme]), namun nyatanya gagasan yang dibawa wacana pemberadaban masa itu tampaknya laten. Inilah landasan argumen Bowden. Wacana yang dimaksud terus direproduksi, hanya saja telah berubah bentuk. Bowden menyarikan pernyataan Gerrit W. Gong dengan tesis yang sederhana, yakni bahwa standar modernitas dan standar hak asasi manusia (HAM) kini menjadi standar global baru yang menggantikan standar pemberadaban31. Kedua standar inilah wajah baru norma yang asumsinya diamini secara universal oleh warga dunia tanpa batasan administratif negara. Akan tetapi, kedua standar ini bukanlah muncul dari udara kosong. Gong menekankan bahwa nilai-nilai tentang hidup modern dan perlindungan terhadap hak asasi manusia merupakan versi bentukan Eropa. Artinya, lagi-lagi keduanya menjadi perpanjangan tangan bagi “misi pemberadaban” masa kini dengan wajah yang sama sekali berbeda dari misi pemberadaban klasik

31 Ibid., hal. 166. Pernyataan ini dimuat Gerrit W. Gong dalam bukunya yang berjudul The Standard of “Civilization” in International Society terbitan Clarendon tahun 1984.

30

(kolonialisme). Cara yang ditempuh bukan lagi okupasi dan opresi. Sebaliknya, kedua standar ini umumnya dianggap sebagai nilai bersama yang secara alami perlu kita pegang.

Tesis penting Bowden setelah ia merangkum beberapa pendapat pemikir terkait wajah baru pemberadaban ini adalah bahwa standar modernitas, hak asasi manusia, serta gagasan dan praktik demokrasi telah bercampur jadi kesatuan tak terpisahkan.32 Dalam pembahasannya tentang perpaduan modernitas, hak asasi manusia, dan demokrasi ini, Bowden mengutip tulisan ilmuwan politik Amerika, Francis Fukuyama, bertajuk “Natural Rights and Human History”33. Fukuyama mengelaborasi definisi hak asasi manusia (HAM) sebagai “aspirasi moral dan prioritas masyarakat modern, yakni masyarakat yang secara sistematis memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi demi memenuhi kebutuhan manusia”34. Fukuyama mengamini bahwa modernitas dan HAM hadir satu paket dengan sistem pemerintahan demokrasi. Maka, penerapannya di masyarakat yang nondemokratis atau setidaknya menganut sistem politik yang bertentangan dengan demokrasi sering kali bersifat kontraproduktif.

Meski demikian, Bowden mengambil sikap yang berbeda dari Fukuyama terkait “perbedaan” sistem politik serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diterapkan oleh tiap-tiap negara. Fukuyama menuturkan bahwa HAM menjadi aspirasi yang eksplisit utamanya pada masyarakat yang telah maju baik dalam kategori ekonomi maupun politik. Bowden merasa, tidak ada bukti kuat yang berhasil menunjukkan mengapa HAM tidak cocok untuk masyarakat yang tidak

32 Dalam tulisannya, Bowden menggunakan kata “conflating”.

33 Fukuyama, Francis. (2001). “Natural Rights and Human History” dalam National Interest 64, hal. 17-30.

31

mengikuti ideal Barat itu. Sama halnya dengan negara yang dengan sengaja tidak memprioritaskan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka tidak perlu dilabeli sebagai negara “tertinggal”.35

Dalam lingkungan yang melazimkan demokrasi, HAM, dan modernitas sebagai nilai fundamental kehidupan sosial dan politiknya, negara atau bangsa lain yang berpegang pada nilai berbeda dianggap sebagai ancaman. Oleh karena itu, mereka yang berbeda ini perlu diseragamkan agar membawa nilai yang sama. Nilai-nilai ini pun perlu disebarkan dalam bingkai spesifik, yakni kapitalisme (atau neoliberalisme). Modernitas, HAM, dan demokrasi yang akan ditegakkan bukanlah sesuatu yang boleh lahir dengan “unik” dalam konteks tiap-tiap bangsa. Akan tetapi, ketiganya mesti mendorong negara tersebut untuk dapat bergabung dalam masyarakat pasar bebas. Upaya imperialisme ini dibayangkan sebagai sesuatu yang “saling menguntungkan”. Dengan membuat negara tetangganya lebih demokratis, adil, dan modern, negara “maju” merasa aman karena berhasil mengeliminasi ancaman. Sementara di sisi yang lain, negara “tertinggal” ini dianggap memperoleh berkah berupa kehidupan yang lebih demokratis, adil, dan modern.