BAB III MODERNITAS DALAM CERITA ANAK INDONESIA
A.1. Tokoh dan Penokohan
Tiap-tiap buku bacaan anak seri pengenalan profesi yang saya teliti memuat sebuah kisah yang diperankan oleh satu tokoh utama, yakni masing-masing pelaku pekerjaan dalam tiap judul. Semua tokoh tersebut diberi nama untuk memberikan kesan bahwa ia individu spesifik yang tengah diceritakan kisah hidupnya. Selain itu, tiap individu ini digambarkan memiliki sifat-sifat tertentu yang rupanya identik dengan stereotipe karakteristik pekerjaan yang mereka jalani. Dalam bagian ini, saya akan merangkum bagaimana para tokoh tersebut dideskripsikan.
Dalam buku Ilmuwan, tokoh utamanya bernama Bu Silvi. Ia tercatat sebagai pegawai Badan Konservasi Sumber Daya Alam100 yang telah bekerja di unit Cagar
100 Dalam struktur perangkat pemerintahan, lembaga ini bernaung di bawah Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Tugasnya adalah mengelola kawasan konservasi (khususnya hutan suaka alam dan taman wisata alam), mengawasi tumbuhan dan satwa yang dilindungi dalam wilayah tersebut, serta memantau upaya penangkaran dan pemeliharaan tumbuhan dan satwa oleh perorangan, perusahaan, atau lembaga konservasi terkait. (Lihat Sejarah Organisasi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan RI dalam http://ksdae.menlhk.go.id/sejarah-ksdae.html).
68
Alam Hijau selama lima tahun. Terkait pekerjaannya sebagai peneliti tanaman langka, Bu Silvi resah dengan kondisi jarang ditemukannya sejumlah spesies tanaman. Ia khawatir spesies itu akan punah, padahal tanaman tersebut punya potensi membantu memenuhi kebutuhan hidup manusia; misalnya pohon tengkawang yang dapat menghasilkan minyak nabati dan di masa lampau batangnya kerap digunakan sebagai bahan pembuatan rumah. Bu Silvi digambarkan sebagai sosok yang tekun dan teliti. Ia mencatat hasil penelitian yang ia lakukan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Itu semua dilakukan demi menemukan cara paling efektif untuk memelihara kelestariannya.
Kerja panjang sebagai ilmuwan membutuhkan seseorang yang visioner. Bu Silvi membayangkan betapa bahagianya jika sejumlah jenis tanaman yang tengah ia teliti itu suatu hari berkembang lebih banyak sehingga manusia dapat memetik manfaat dari hasil tanaman itu. Selain kelangkaan tanaman, hal lain yang acap kali membuatnya sedih adalah maraknya penebangan pohon dan pembakaran hutan. Menarik untuk dilihat bahwa pekerjaan sebagai ilmuwan mendorong Bu Silvi untuk punya kontribusi terhadap masalah tertentu yang secara luas dihadapi masyarakat. Para ilmuwan digambarkan mengupayakan langkah-langkah agar kehidupan manusia menjadi lebih baik.
Lain halnya dengan Bu Silvi yang mencemaskan kondisi hutan Indonesia sebagai paru-paru dunia, Kak Oka sang Dokter Gigi digambarkan lebih tenang dan tidak banyak khawatir dalam keseharian kerjanya. Kak Oka bekerja di sebuah rumah sakit dan setiap harinya menangani para pasien yang memiliki masalah atau ingin berkonsultasi seputar kesehatan gigi dan mulut. Ia kerap bertemu dengan pasien yang takut atau tegang ketika masuk ruang periksa, contohnya pasien
anak-69
anak. Namun, Kak Oka tetap berupaya menenangkan para pasien. Ia melakukan pemeriksaan dengan teliti untuk mengetahui masalah dan tindakan pengobatan yang diperlukan. Suatu kali seorang pasien protes padanya karena tidak diizinkan mencabut gigi yang sakit. Menghadapi komplain semacam itu, Kak Oka tersenyum sembari menjelaskan mengapa gigi yang sakit tidak boleh dicabut. Dengan sikap tenang dan berbagai informasi yang ia berikan itu, para pasien selalu dapat memahami langkah-langkah pengobatan yang diperlukan untuk kesehatan gigi mereka. Tak lupa, di setiap akhir kunjungan, Kak Oka selalu berpesan agar para pasien senantiasa menjaga gigi mereka dengan baik. Ia amat bahagia saat melihat pasiennya dapat tersenyum lagi.
Tiap-tiap pekerjaan digambarkan menimbulkan kebahagiaan yang beragam. Cerita Pak Haris menunjukkan betapa berbedanya kebahagiaan yang dicapai lewat kerja seorang Jaksa. Dalam sistem hukum dan peradilan Republik Indonesia, seorang jaksa bertugas membuktikan kesalahan yang dilakukan seorang terdakwa lewat proses pengadilan. Untuk menjalankan tugas itu, Pak Haris harus bekerja sama dengan personel lembaga lain, yakni para penyidik dari Kepolisian. Sebagai jaksa, Pak Haris merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan agar siapa pun yang bersalah harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Maka, ia tak ragu mengupayakan agar semua hal yang diperlukannya dalam persidangan nanti dipersiapkan secara lengkap. Pak Haris juga dideskripsikan sebagai seseorang yang antisipatif, sebab ia berhasil menunjukkan bukti kuat yang secara telak mematahkan semua bantahan terdakwa. Keberhasilan kerjanya tercapai setelah hakim memutuskan bahwa terdakwa kasus korupsi penggelapan dana bantuan untuk masyarakat miskin itu dinyatakan bersalah serta harus menjalani hukuman dan membayar ganti rugi. Namun kerja tak usai di sini, Pak Haris masih harus
70
menyelesaikan banyak kasus lainnya dengan tujuan membela kebenaran dan keadilan.
Beralih ke judul lainnya, dalam Akuntan, tokoh Kak Tara dihadirkan sebagai sosok yang cermat dan analitis. Ia bekerja di sebuah kantor akuntan publik yang menyediakan layanan jasa bidang keuangan. Dalam satu hari, ia dapat mengerjakan beberapa jenis tugas dan menemui lebih dari satu klien. Ia tampak sibuk dan memiliki mobilitas yang tinggi. Klien-klien yang ditemuinya pun bukan orang sembarangan; dengan kemampuannya di bidang akuntansi, Kak Tara berhasil menolong Pak Syam, pemilik perusahaan perumahan, dan Bu Siska, pemilik restoran besar yang kondang hingga luar negeri. Oleh karena berurusan dengan kelangsungan finansial usaha para kliennya, Kak Tara harus teliti memeriksa berbagai hal yang diperlukan untuk membaca situasi unit usaha tersebut dan memastikan semua itu tercatat dengan rapi. Setelah itu, ia harus menganalisis apa yang terjadi agar dapat memberi saran yang tepat dan meyakinkan untuk memperbaiki situasi di tiap unit usaha kliennya.
Kembali ke dunia hukum, hadir Bu Hana sang Pengacara yang tugasnya mengharuskan ia berhadap-hadapan dengan jaksa. Berbeda dari Pak Haris, dalam persidangan Bu Hana justru harus membantu terdakwa agar terbukti tidak bersalah. Sosok pengacara dalam buku pengenalan profesi ini digambarkan memiliki kesadaran untuk membantu orang awam menyampaikan pembelaan mereka dalam bahasa hukum. Bu Hana sendiri terbiasa menangani kasus para artis atau pejabat ternama yang kaya raya. Namun, ketika ia bertemu dengan Nenek Ara, seorang lansia yang tertuduh mencuri sekantong wortel, Bu Hana langsung tersentuh dengan kesederhanaan beliau dan memutuskan untuk membantu secara cuma-cuma. Berkat
71
bantuan Bu Hana, hakim memutuskan bahwa Bu Hana tidak bersalah. Ternyata, simpati Bu Hana tak hanya berhenti di persidangan; ia bahkan mengantarkan Nenek Ara pulang ke gubuknya yang sederhana. Peristiwa membantu Nenek Ara ini menggerakkan hati Bu Hana untuk berjanji memperjuangkan keadilan bagi orang-orang kecil yang dicurangi seperti Nenek Ara.
Lima kisah pengenalan profesi di atas menggambarkan para pelakunya yang melakukan aktivitas kerja di kantor. Kali ini, dalam buku Asyiknya Menjadi
Astronaut, tokoh utama tidak pergi ke kantor untuk bekerja. Kak Alfa dikisahkan
harus menempuh jalan panjang hingga akhirnya dapat memulai kerjanya sebagai astronaut. Karakteristik penting yang membuat ia berhasil melewati semua proses seleksi dan persiapan itu adalah rajin belajar dan membaca, serta memelihara tubuh yang ideal dengan berolahraga dan mengonsumsi makanan sehat. Ia juga mempelajari beberapa cabang ilmu pengetahuan alam untuk mendukung pekerjaannya, misalnya matematika, astronomi, dan meteorologi. Kak Alfa adalah si gemilang. Ia dideskripsikan mampu memenuhi semua persyaratan untuk bukan sekadar jadi astronaut, bahkan jadi komandan astronaut! Ketika melakukan misi pertama ke bulan, ia tampak gagah dengan pakaian khusus. Misinya pun berjalan lancar dan perjalanan ke angkasa luar membuatnya bangga sebab bisa menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan yang megah.
Selain bekerja di dunia hukum dan penelitian saintifik, rupanya boleh juga bekerja di dunia industri kreatif. Buku Asyiknya Menjadi Sutradara memotret sebuah deskripsi pekerjaan orang-orang dari wilayah pembuatan film. Kak Delis ialah seorang sutradara yang telah banyak menelurkan karya film; kali ini ia mau membuat film petualangan untuk anak-anak. Dari keseluruhan cerita, Kak Delis
72
utamanya tampak sebagai seseorang dengan sifat-sifat kepemimpinan. Ia memantau dan mengarahkan tiap-tiap proses dalam pembuatan film tersebut. Meski tiap tahapan dikerjakan secara khusus oleh orang dengan kemampuan spesifik (misalnya pengambilan gambar oleh juru kamera, penyuntingan oleh editor, penataan ilustrasi musik oleh penata musik), Kak Delis selalu hadir mendampingi orang-orang tersebut untuk melakukan pengawasan dan pengarahan. Film itu mendapatkan apresiasi yang baik dari para penonton anak dan keluarganya; lebih-lebih juga membuat Kak Delis dianugerahi penghargaan sebagai sutradara terbaik. Keberhasilan ini menumbuhkan tekadnya untuk terus membuat film bermutu.
Barangkali, cita-cita tertinggi yang dapat dibayangkan seorang anak adalah menjadi presiden, pemimpin sebuah negara. “Profesi” presiden adalah salah satu jawaban yang juga lumrah disuarakan oleh anak-anak di Indonesia ketika ditanyai tentang cita-cita. Kali ini tokoh Presiden Republik Indonesia diperankan oleh Pak Arya. Ia digambarkan punya tanggung jawab yang amat besar dan pekerjaannya serbapenting, sehingga sebelum mengawali kerjanya, ia harus mengucapkan sumpah. Ini artinya, konsekuensi dari pelanggaran dalam tugas amatlah serius. Pak Arya juga amat sibuk; dalam satu hari ia dapat melakukan berbagai pertemuan dan mengurusi segala macam hal. Dalam posisinya sebagai presiden, Pak Arya dideskripsikan memiliki kecenderungan untuk kerap melakukan intervensi, contohnya menyurati Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menentang peperangan yang terjadi di negara tetangga Indonesia, serta mengunjungi secara langsung lokasi bencana alam di wilayah pimpinannya. Selain itu, ia juga tampil sebagai sosok yang instruktif karena posisinya sebagai pemimpin. Cita-citanya adalah rakyat Indonesia sejahtera.
73
Beralih ke judul Asyiknya Menjadi Perawat, penggambaran tokoh Kak Dalia cenderung mirip dengan Kak Oka si dokter gigi. Kak Dalia adalah sosok yang selalu tenang dan ceria. Meski setiap hari bertemu dengan orang-orang yang sakit, ia selalu hadir dengan ceria dan berkomunikasi dengan ramah. Selain itu, karakteristik yang menonjol dari Kak Dalia adalah sifat keibuannya; ia selalu lemah lembut dan penuh kasih sayang dalam melayani para pasiennya. Ia bahkan dikisahkan terlibat secara emosional dengan kondisi sejumlah pasien; ia merasa bahagia jika para pasien itu berangsur-angsur pulih dan turut merasakan sedihnya anggota keluarga pasien yang harus menghadapi kesulitan atau ketegangan (misalnya sebelum menjalani operasi).
Terakhir, cerita Asyiknya Menjadi Tentara memotret sosok Kak Riga yang tangkas, cekatan, dan selalu siaga. Untuk menjalankan tugasnya, ia harus selalu memelihara fisik yang kuat dan sehat. Kak Riga dideskripsikan sebagai tentara yang heroik dan patriotik sebab ia bertugas melindungi rakyat Indonesia dari bahaya dan harus mengabdi sepenuhnya demi kecintaan pada negara. Meski mungkin bertentangan dengan tugas-tugas keras yang harus dijalaninya, Kak Riga dan rekan-rekan tentaranya ternyata dekat dengan rakyat. Ia senang jika masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan tenang dan aman. Begitu pula ketika ia bertugas menjaga garis perbatasan antara negara Indonesia dan Malaysia di daerah Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Regunya tinggal berdampingan dengan tentara Malaysia yang juga memiliki tugas serupa dan melakukan aktivitas sehari-hari bersama mereka meski bertugas untuk negara yang berbeda.
Sepuluh tokoh pelaku profesi di atas adalah potret ideal karakteristik orang dewasa yang melakukan pekerjaan spesifik dalam kesehariannya. Penggambaran
74
tokoh tersebut menampilkan sifat apa saja yang perlu dimiliki oleh seorang ilmuwan, dokter gigi, jaksa, akuntan, pengacara, astronaut, sutradara, presiden, perawat, dan tentara. Deskripsi karakteristik ini mau tidak mau mengarahkan pembaca untuk mengasosiasikan sifat-sifat tersebut dengan tuntutan tiap-tiap pekerjaan yang dilakoni para tokoh; misalnya, untuk jadi ilmuwan dibutuhkan ketekunan dan ketelitian, untuk jadi akuntan pun harus cermat dan analitis, jika ingin jadi tentara maka harus tegas dan punya fisik yang kuat, dan seterusnya.
Idealisasi juga ditampilkan dalam bentuk kerja individual. Para tokoh yang diangkat dalam tiap judul digambarkan sebagai pelaku profesi yang mumpuni. Mereka memang bekerja bersama banyak orang lainnya di sekitar, entah itu sesama anggota batalion, rekan kerja, asisten, atasan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, pada akhirnya “kemenangan” atau keberhasilan mereka adalah milik mereka sendiri, atau setidaknya disebabkan oleh kegigihan individual mereka. Bantuan atau kerja sama rekan sejawat tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang signifikan, bahkan terkadang para tokoh utama tampak bekerja sendiri tanpa bantuan tim.
Hal lain yang patut diperhatikan adalah peruntukan buku ini bagi pembaca anak dengan deskripsi karakter yang sepenuhnya dewasa. Bagaimana pengalaman mereka, yang dalam banyak hal amat berbeda, dijembatani? Semua tokoh utama dalam tiap judul memang digambarkan sebagai orang dewasa, dengan keseharian dan tanggung jawab khas orang dewasa. Hanya ada beberapa judul yang menghadirkan karakter anak yang turut berperan dalam jalannya cerita, yakni
Dokter Gigi, Sutradara, Presiden, dan Perawat. Pada judul yang lain, memang ada
beberapa karakter anak dalam ilustrasi, namun tidak diceritakan sebagai bagian dari kisah itu.
75
Meski demikian, anak-anak tidak serta-merta dibuat absen dari penceritaan.
Pertama, hal itu tampak melalui gaya tutur yang cenderung sederhana, meski dalam
beberapa kesempatan juga tetap rumit, misalnya ketika menjelaskan kecemasan tentang situasi hidup yang terkait dengan orang banyak (penegakan keadilan dan kebenaran dalam cerita Jaksa dan Pengacara). Kedua, secara khusus para tokoh disapa dengan panggilan yang menunjukkan adanya relasi tertentu dengan pembaca anak. Para tokoh dipanggil dengan beragam sebutan seperti “Ibu”, “Bapak”, atau “Kak”. Narator dalam tiap cerita adalah orang ketiga, yang memaparkan perjalanan para tokoh kepada pembaca (anak). Walau anak yang menyimak cerita tidak ditampilkan secara eksplisit, narator menyapa para tokoh sebagaimana seorang anak.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa deskripsi karakteristik para tokoh dalam setiap judul adalah representasi karakteristik ideal tiap-tiap profesi yang dijalani. Pembaca anak diperkenalkan dengan dunia kerja profesional orang dewasa melalui kisah para tokoh tersebut. Dunia pekerjaan yang semacam itu ternyata memang tidak banyak melibatkan subjek anak; kalaupun ada, mereka selalu didampingi oleh orang dewasa lainnya (misalnya Fea, pasien anak yang diantar ayahnya untuk memeriksakan kesehatan gigi).