BAB II ANAK INDONESIA: SEBUAH KONSTRUKSI KELUARGA DAN NEGARA
B. Anak di Sekolah
B.1. Tut Wuri Andayani: Hakikat Pendidikan untuk Anak
Klise. Tapi nyatanya tidak setelah mengulik langsung dari pencetus gagasannya. Kalimat tut wuri andayani bukanlah sesuatu yang asing terdengar di Indonesia. Dengan mudah ditemukan di setiap emblem seragam para murid sekolah formal di negara ini, pun jadi semboyan yang didengungkan berulang kali jika sedang berbicara tentang pendidikan. Saya pribadi tidak banyak menaruh perhatian pada semboyan ini, sampai pada akhirnya memeriksa apa yang diutarakan Ki Hadjar Dewantara (yang dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia) ketika mengajukan konsep itu sebagai prinsip yang mendasari gerakan kependidikannya lewat institusi Taman Siswa55.
55 Taman Siswa dipersiapkan sejak 1921 dan secara resmi didirikan pada tahun 1922 di Yogyakarta. Perguruan ini lahir karena adanya kebutuhan akan pendidikan yang semakin luas, sementara pemerintah belum dapat mengusahakannya secara merata. Taman Siswa adalah salah satu dari beberapa gerakan rakyat lainnya yang berinisiatif membangun sekolah mandiri tanpa subsidi pemerintah, seperti sekolah dan asrama yang didirikan dari Dana Belajar Darmo Woro (Darmo Woro Studiefonds), kelompok Pasundan, Muhammadiyah, dan perkumpulan Adidharmo yang mendirikan Adhidharmo-Onderwijs-Instituut (Lembaga Pengajaran Adhidharmo). Bentuk perguruan Taman Siswa adalah paguron (‘rumah’ guru) dan pawiyatan (sekolah). Di sini, murid dan guru tinggal bersama dalam sebuah asrama dan melakukan kegiatan selayaknya keluarga. Di pagi hari, anak-anak mengikuti pelajaran di sekolah, sementara di luar aktivitas belajar-mengajar di kelas, mereka akan melakukan aktivitas sosial lainnya yang juga didampingi oleh para gurunya. Dari sinilah semboyan tut wuri andayani yang berarti mengikuti di belakang dengan wibawa berasal. Sebagai satu kesatuan utuh, para
46
Dalam sub-bab ini, saya ingin mengemukakan beberapa catatan penting yang saya kumpulkan dari tulisan Ki Hadjar Dewantara. Pertama-tama pemilihan pemikir ini mungkin saja terdengar seperti “otomatis”, sebab ialah nama yang paling kerap dirujuk (baik secara serius maupun sepintas lalu) untuk persoalan seputar pendidikan di Indonesia. Tak disangka, pilihan ini amat tepat dalam konteks penelitian tesis saya yang berfokus secara khusus pada cerita anak, serta secara umum (dan tak terelakkan) pada dunia anak-anak itu sendiri. Menariknya, ketika mengulas topik pendidikan secara umum, Ki Hadjar sendiri langsung menempatkannya sebagai sebuah usaha tuntunan yang ditujukan bagi subjek “anak-anak”. Selanjutnya akan saya paparkan bagaimana Ki Hadjar merumuskan hal-hal mendasar yang semestinya dijadikan pegangan dalam mendidik (anak).
Ki Hadjar Dewantara ialah tokoh pendidikan nasional Indonesia yang banyak menyumbangkan pemikirannya dalam hal pendidikan dan pengajaran untuk diterapkan di tingkat nasional. Berkarya di tengah “zaman peralihan”56 membuatnya merumuskan prinsip dan konsep pendidikan yang mengarahkan manusia Indonesia pada satu tujuan: menjadi manusia merdeka.57 “Mendidik anak itulah mendidik rakyat.”58 Bagi Ki Hadjar, kehidupan manusia pada masa mana pun merupakan hasil dari didikan semasa kanak-kanak. Itulah sebabnya, penting sekali memerhatikan bagaimana pendidikan untuk anak diselenggarakan.
Terkait tujuan untuk menjadi manusia merdeka, lebih jauh Ki Hadjar menguraikan bahwa pendidikan dan pengajaran adalah dua hal penting yang menentukannya. Dalam kehidupan bersama (baca: berbangsa), kedua hal tersebut
guru menemani murid-muridnya melakukan berbagai kegiatan di bawah tujuan pendidikan secara bersama-sama, bukan memerintah/mendikte mereka saja.
56 Ki Hadjar Dewantara menamai masa transisi dari kolonialisme menuju kemerdekaan Indonesia sebagai “zaman peralihan”.
57 Dewantara, Ki Hadjar. (1977). Ki Hadjar Dewantara: Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka Bagian I Pendidikan Cetakan Kedua. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, hal. 1.
47
berfungsi memerdekakan manusia sebagai anggota dari rakyat. Secara khusus, pengajaran bertujuan memerdekakan hidup lahiriah manusia; sementara pendidikan adalah peranti yang memerdekakan batinnya.59 Dalam konteks ini, merdeka dimaknai sebagai tidak tergantung kepada orang lain, melainkan bertumpu pada kekuatannya sendiri. Cita-cita ini dapat dipahami lahir di tengah situasi Indonesia yang baru saja lahir sebagai bangsa baru. Dengan masih adanya pengaruh dan campur tangan pemerintahan kolonial, ada kebutuhan untuk merumuskan dan menyebarluaskan gagasan tentang menjadi merdeka dari bentuk-bentuk belenggu itu. Semangat ini tercermin dalam upaya Ki Hadjar untuk merumuskan prinsip dan dasar pendidikan yang khusus dan sesuai untuk hidup bangsa Indonesia. Hal ini akan saya bahas kemudian.
Ki Hadjar membedakan “pendidikan” dari “pengajaran”, meski keduanya kerap digunakan untuk menggantikan satu sama lain. Pengajaran (diterjemahkan dari kata bahasa Belanda onderwijs) adalah bagian dari pendidikan, yakni kegiatan memberi ilmu/pengetahuan/kecakapan yang berfaedah secara lahir dan batin kepada anak. Sementara pendidikan (diterjemahkan dari kata bahasa Belanda
opvoeding) berarti tuntunan dalam hidup pertumbuhan anak-anak.
Adapun maksudnya pendidikan yaitu: menuntun segala kekuatan kodrat
yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggauta masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.60
Kutipan di atas adalah tujuan ideal dari pendidikan menurut konsep yang diajukan oleh Ki Hadjar Dewantara. Tujuan semacam ini lahir dari persepsi bahwa ada hal-hal yang bersifat kodrati pada pribadi tiap anak dan tugas pendidikan adalah hanya menuntun dalam proses tumbuh-kembang anak.
59 Ibid.
48
Gagasan tentang maksud pendidikan tersebut saya tempatkan sebagai respons atas perdebatan terkait independensi anak dan intervensi orang dewasa dalam soal-soal seputar dunia kanak-kanak seperti yang sempat saya singgung di sub-bab pertama. Rincian maksud tersebut menunjukkan adanya kesadaran bahwa anak adalah individu yang memiliki bakat tersendiri. Persisnya “bakat” inilah yang perlu ditemukan dalam jalannya proses pendidikan; dan di titik itulah tugas utama pendidikan dimulai, yakni untuk menuntun anak menyadari dan membina bakatnya. Sebagai konsekuensinya, tindakan represi yang banyak dikenakan kepada anak-anak dalam proses tumbuh kembang mereka (misalnya lewat institusi sekolah) adalah justru suatu hambatan dan mestinya sebisa mungkin diminimalisasi. Pendidikan bertugas mengarahkan saja “dari belakang” (artinya tidak mendikte dari semula) agar bakat dalam diri anak-anak itu membantu mereka mendapatkan kemerdekaannya.61
Dengan demikian, Ki Hadjar dalam pemikirannya tidak sepakat dengan sistem “paksaan – hukuman – ketertiban”62 yang sering ada di kebanyakan sekolah. Hal tersebut menyalahi prinsip kemerdekaan yang menjadi tujuan dari pendidikan. Lebih dari itu, ia bahkan menganjurkan dalam salah satu poin yang menjadi asas dari perguruan Taman Siswa bahwa dalam praktik pendidikannya, “Kita tidak meminta sesuatu hak, akan tetapi menyerahkan diri untuk berhamba kepada Sang Anak.”63 Dalam konsep yang diusungnya ini, Ki Hadjar menempatkan subjek anak sebagai pusat dari segala bentuk praktik pendidikan yang menjadi turunannya. Tentu saja ada kepentingan yang dipahami orang dewasa berguna bagi kehidupan anak-anak, akan tetapi kepentingan itu bukanlah yang utama. Hal pertama yang
61 Ibid., hal. 21. 62 Ibid., hal. 48. 63 Ibid., hal. 49.
49
harus dikedepankan dalam proses pendampingan anak adalah subjek anak itu sendiri dan bakat yang dibawanya.
Selain subjek anak memang berada dalam kondisi serba kurang pengalaman dalam menghadapi hidup (jika dibandingkan orang dewasa), Ki Hadjar menyebutkan bahwa ada dorongan lain yang menyebabkan orang dewasa ingin punya andil dalam proses pendidikan anak. Ia menyebutnya sebagai paedagogis
instinct64, yang dimaknai sebagai keinginan dan kecakapan tiap orang untuk mendidik anak-anaknya dengan tujuan mereka selamat dan bahagia.65 Hal inilah yang membuat tiap-tiap keluarga mengupayakan praktik pendidikan meski bentuknya tidak teratur.66
Dalam sekumpulan tulisannya yang secara khusus membicarakan pendidikan kanak-kanak, Ki Hadjar Dewantara menjabarkan beberapa pengaruh dari para pemikir yang mendorongnya untuk merumuskan prinsip pendidikan yang secara khusus sesuai untuk kehidupan kanak-kanak di Indonesia. Dalam institusi Taman Siswa, ada sub-lembaga tersendiri yang dikhususkan bagi anak-anak di bawah usia 7 tahun. Di lembaga lain, bagian ini disebut sebagai “Taman Kanak-Kanak”67, juga sebagaimana kita kenal di masa sekarang. Sementara di Taman Siswa, Ki Hadjar menggunakan nama “Taman Indria”. Alasannya: pertama, sub-lembaga ini tidak bertujuan untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada anak-anak, melainkan
64 Naluri ini disebabkan oleh adanya naluri yang pokok (oerinstinct) yang berarti keinginan untuk kekalnya keturunan (Dimuat dalam salah satu tulisan Ki Hadjar Dewantara yang pada awalnya dipublikasikan dalam terbitan Keluarga Th. I No. 1, 2, 3, 4 pada tahun 1936-1937. Saya membacanya dalam kumpulan tulisan Ki Hadjar Dewantara yang disusun dan diterbitkan oleh Majelis Luhur Taman Siswa).
65 Ibid., hal. 27.
66 Pendidikan dalam bentuk yang teratur, menurut Ki Hadjar Dewantara, lahir umumnya di luar institusi keluarga. Keteraturan itu dicapai lewat perumusan yang sungguh-sungguh untuk menentukan syarat dan alat pendidikan (misalnya seperti yang dilakukan oleh institusi sekolah).
67 Nama ini adalah terjemahan harfiah dari kindergarten, sebuah institusi sekolah untuk anak usia dini yang dicetuskan oleh Friedrich Frӧbel, seorang pedagog berkebangsaan Jerman.
50
semata-mata melatih kematangan berpikir mereka lewat pancaindra; kedua, nama “Taman Anak” di Taman Siswa digunakan untuk kelas I, II, dan III dari bagian sekolah rendah; dan ketiga, untuk membedakan diri dan melepas keterikatan dari inspirasinya, yakni kindergarten68.
Nama “Indria” dalam institusi pendidikan untuk anak usia dini tersebut diambil dari kata “indra”, yang menjadi pusat medium belajar anak-anak peserta didik di lembaga ini. Menurut Ki Hadjar, pancaindra adalah jalan masuk untuk “menyempurnakan rasa fikiran”69 anak, yang merupakan esensi dari pendidikan untuk anak-anak itu sendiri (alih-alih mendidik untuk memberikan pengetahuan). Cara ini dianggap paling sesuai dengan kodrat anak untuk bermain. Ki Hadjar percaya bahwa aktivitas utama anak adalah bermain. Hampir sepanjang waktu dalam hidupnya, anak-anak bermain. Panggilan tidur siang atau makan atau mandi oleh orang tuanya dianggap sebagai gangguan, yang dengan terpaksa atau gusar mereka patuhi.70
Mengapa anak tak henti-hentinya bermain? Untuk menjawab ini, Ki Hadjar merujuk pada Herbert Spencer yang mengajukan teori bahwa di dalam jiwa kanak-kanak, terdapat kelebihan atau sisa kekuatan yang selalu mendesak pribadi si anak dan mendorongnya untuk mengeluarkan kekuatan itu. Jika sisa kekuatan ini tidak dikeluarkan, si anak justru akan merasa tidak enak dan bahkan menjadi sakit.71 Selain memelihara kesehatan dan kekuatan tubuh anak, bermain juga mengasah
68 Lihat catatan kaki nomor 67. 69 Ibid., hal. 241.
70 Ibid., hal. 243. 71 Ibid., hal. 246.
51
ketajaman berpikir, kehalusan rasa, dan kekuatan kemauan. Dan pada akhirnya, dengan bermain, anak mempertebal rasa kemerdekaan dalam dirinya.72
Gerakan kependidikan Ki Hadjar Dewantara melalui Taman Siswa adalah manifestasi dari berbagai gagasan pendidikan yang ia kumpulkan dan modifikasi. Dua pemikir pendidikan yang utama menginspirasinya ialah Friedrich Frӧbel (1782-1852) dan Maria Montessori. Frӧbel ialah pedagog Jerman yang mendirikan
kindergarten untuk pertama kalinya pada tahun 1840 di Kota Blankenburg.
Perhatiannya yang besar terhadap anak membuatnya berpikir untuk juga mendidik para calon ibu agar nantinya dapat mengasuh anak-anak mereka; pendidikan ini disediakannya dalam Frӧbelweekschool atau “taman ibu”. Akan tetapi, sekolah ini tidak sesukses taman kanak-kanak karena kurang mendapatkan perhatian. Setelah berkembang cepat dalam beberapa tahun pertamanya, kindergarten sempat ditutup pemerintah pada tahun 1848 karena Frӧbel menerima tuduhan keliru bahwa ia menjalankan suatu aliran politik di sana.73 Pada saat dibuka lagi setelah penarikan keputusan pemerintah itu, Frӧbel sendiri sudah meninggal dunia.74
Sekolah Frӧbel mengutamakan sifat atau tabiat anak yang terus bergerak dan berfantasi. Dalam kindergarten, segala kegiatannya harus bersifat menyenangkan untuk anak-anak, memberi mereka kesempatan untuk berfantasi, tidak terlalu mudah agar anak-anak dapat belajar cakap menyelesaikannya, memuat unsur kesenian, dan mengarahkan kepada ketertiban yang menjadi pokok sikap kemanusiaan dan kemasyarakatannya di kemudian hari.75 Bagi Ki Hadjar, konsep ini
72 Ibid., hal. 247-248.
73 Putusan pemerintah itu kemudian ditemukan keliru sebab Frӧbel yang terkenal sebagai “revolusioner”—yang diincar pemerintah—adalah saudara dari Friedrich Frӧbel, bukan ia sendiri. 74 Ibid., hal. 251.
52
mengutamakan kegembiraan anak-anak dalam proses belajar; namun sayangnya, anak-anak masih berada dalam situasi terperintah.
Sementara itu, konsep pendidikan anak lainnya yang lebih mengutamakan kemerdekaan ditemukan Ki Hadjar melalui pemikiran Montessori. Maria Montessori ialah seorang dokter berkebangsaan Italia yang pada suatu waktu memutuskan untuk menghentikan praktik kedokterannya dan beralih ke studi mendalam tentang kejiwaan anak. Sekolah pertama yang dirancang dan dipimpinnya adalah lembaga yang ditujukan untuk anak-anak dari pekerja sebuah pabrik di Roma pada tahun 1907. Sekolah ini dinamai Casa deibambini, yang berarti rumah untuk merawat anak-anak. Selama orang tuanya bekerja, rumah sekolah ini menampung dan merawat anak-anak tersebut76 (pada masa kini, lebih kita kenal dengan semacam taman penitipan anak). Di lembaga inilah, Montessori mengembangkan gagasannya tentang signifikansi pancaindra dalam proses belajar anak. Akan tetapi, bagi Ki Hadjar, pilihan Montessori tersebut mengurangi unsur permainan dalam pendidikan anak.
Dari kedua gagasan tersebut, Ki Hadjar meramu ulang idenya sendiri untuk diterapkan di Taman Indria (dan Taman Siswa secara umum). Ia tidak memisahkan pelajaran yang diresepsi melalui pancaindra dan permainan yang menyenangkan. Hal ini disebabkan oleh kepercayaan Ki Hadjar dan rekan-rekannya bahwa dalam tiap diri anak, secara kodrati (diisi oleh Sang Maha Among) telah tersedia segala peranti yang dapat membantunya belajar dan bersifat mendidik.77 Taman Indria,
76 Ibid., hal. 266-267. 77 Ibid., hal. 242.
53
dengan semboyan tut wuri andayani, memberi anak-anak kebebasan yang luas selama tidak menimbulkan bahaya.78
Uraian dari konsep pendidikan yang diusung oleh Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia ini membuat saya menilik lagi apa yang terjadi pada tahun-tahun belakangan. Pemaparan Ki Hadjar, bagi saya, mengindikasikan adanya kesadaran akan wacana kolonial yang lama memengaruhi pendidikan di Indonesia; dan dalam semangat berdiri sebagai bangsa baru saat itu, ia menyuarakan urgensi untuk menyusun sendiri rumusan pendidikan yang sesuai dengan kondisi Indonesia. Ki Hadjar tetap belajar dan terinspirasi dari para pemikir “Barat”, namun mengupayakan sebuah reformulasi dan penyesuaian supaya lebih cocok untuk menjawab kebutuhan bangsa alih-alih menguntungkan kepentingan bangsa asing.79