BAB III MODERNITAS DALAM CERITA ANAK INDONESIA
A.3. Plot
Secara sederhana, plot dapat dimengerti sebagai rangkaian peristiwa yang menyusun jalannya sebuah cerita. Ragam plot sendiri amat beragam; terus berkembang dari waktu ke waktu. Namun, salah satu rumusan plot klasik yang kerap jadi rujukan (baik untuk membaca karya, maupun menilai plot lainnya) adalah plot versi Aristotelian. Rumusan plot yang ditulisnya itu awalnya ditujukan untuk bentuk naratif drama, namun di kemudian hari model itu menjadi semacam fondasi bagi terbangunnya versi plot lain.102 Aristoteles hanya menyertakan tiga istilah sederhana dalam plot versinya: awal, tengah, akhir (a beginning, a middle, an
end). Ketiga hal yang menjadi struktur dasar plot karya sastra itu harus dirangkai
dalam konsep kesatuan/keutuhan (unity) yang berdasarkan prinsip kausalitas (notion of causality). “Awal” plot harus menjadi sumber dari semua aksi yang kemudian akan muncul. Bagian “awal” inilah yang akan menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa dalam bagian “tengah” yang selanjutnya akan menuntun kepada
102 Aristoteles menuliskan rumusan plotnya itu dalam Poetics, salah satu tulisan kritik sastra paling tua yang dikenal sejarah; buku ini ditulisnya sekitar abad ke-4 SM. Poetics amat monumental karena inilah karya pertama dan tertua yang memuat teori drama dan filsafat yang berfokus pada teori sastra. Karya ini merupakan perluasan wilayah studi filsafat yang ditawarkan di Lyceum (sekolah yang didirikan Aristoteles). Sebagian dari motivasi penulisannya adalah melawan kritik Plato yang begitu kuat atas sastra. Konten Poetics sendiri di kemudian hari jadi warisan penting dalam tradisi kritik sastra dan menjadi fondasi bagi berbagai teori sastra yang dikenal saat ini, misalnya pemisahan karya sastra berdasarkan genre, metode kritik yang evaluatif dan tidak hanya didaktis, dan penekanan lebih pada elemen tindakan (action) yang dianggap Aristoteles jauh lebih penting dalam menggerakkan cerita ketimbang elemen tokoh (character)—poin yang disebut terakhir inilah yang menjadi dasar teori plot Aristotelian. (Lihat Habib, M.A.R. 2005. A History of Literary Criticism: From Plato to the Present. Oxford: Blackwell Publishing.)
82
“akhir” di mana tidak ada lagi hal-hal yang menggantung. Semua sudah terselesaikan.
Teori plot Aristotelian ini turut menjadi dasar dari teori plot yang selanjutnya dikembangkan oleh Gustav Freytag, seorang kritikus asal Jerman. Dalam bukunya
Technique of Drama (1863), ia memperkenalkan teori plotnya yang kemudian
dikenal dengan nama Piramida Freytag. Piramida ini membagi plot naratif menjadi lima bagian: exposition, rising action (dalam teori Aristoteles disebut complication),
climax, falling action, dan denouement/resolution.103 Elemen tersebut dapat dikatakan menjabarkan elemen teori plot Aristotelian dengan lebih mendetail. Umumnya, cerita digerakkan mengikuti perjalanan tokoh protagonis “mencapai” suatu tujuan tertentu, dengan berbagai hambatan yang datang dari tokoh lain maupun situasi tak menguntungkan di sekitarnya. Exposition merupakan bagian awal narasi yang umumnya berfungsi memperkenalkan berbagai unsur dalam cerita, misalnya tokoh dan latar. Rising action ditandai dengan peristiwa yang memicu adanya konflik. Climax adalah titik kulminasi konflik, puncak dari gesekan antara misi tokoh protagonis dengan berbagai hambatan. Falling action disusun dari peristiwa pascakonflik dengan tegangan yang mulai turun. Elemen ini menuntun ke bagian denouement/resolution di mana tindakan dan intrik pada akhirnya selesai, entah sebagai keberhasilan maupun kegagalan.
Dengan dasar pengertian semacam itu, bagian ini akan memeriksa plot yang menggerakkan narasi buku-buku seri pengenalan profesi ini, sekaligus poin inilah yang akan menunjukkan mengapa kategorisasinya sebagai fiksi agak rumit sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya. Secara garis besar, konten
83
narasi sepuluh buku ini berpusat pada dua hal, yakni penggambaran rutinitas kerja dan informasi teknis dalam keseharian kerja para tokoh. Informasi teknis ini ditandai dengan pembedaan format penulisan, yakni dicetak tebal. Istilah-istilah bercetak tebal ini dimuat kembali di halaman isi paling belakang dari tiap judul buku dalam bentuk glosarium. Istilah yang dipilih menjadi informasi teknis umumnya bersifat sangat spesifik dalam kaitannya dengan jenis pekerjaan yang diceritakan.
Dari sepuluh judul cerita yang saya dalami, hanya dua di antaranya yang dapat dengan jelas dikatakan memiliki plot yang (hampir) utuh. Kedua judul itu sama-sama memotret aktivitas kerja orang-orang yang bergelut di dunia hukum, yakni
Jaksa dan Pengacara. Kedua cerita ini disetir oleh sebuah kasus (atau dugaan)
pelanggaran hukum yang dilakukan oleh seorang warga negara dan diperlukan proses pengadilan untuk menentukan keputusan hukumnya. Rutinitas kerja jaksa dan pengacara dijabarkan melalui proses persiapan pengadilan dan proses pengadilan itu sendiri, hingga diakhiri dengan vonis hakim yang selalu memenangkan pihak yang diposisikan sebagai yang benar.
Dalam kisah Jaksa, kasus yang diangkat adalah penggelapan dana bantuan untuk rakyat miskin. Pak Haris sang jaksa bersama para penyidik Kepolisian mengumpulkan berbagai bukti yang menunjukkan bahwa terdakwa kasus tersebut memang telah melakukan korupsi. Berbagai bukti itu kemudian menjadi dasar untuk menyusun surat dakwaan yang dibacakan Pak Haris di pengadilan. Terdakwa, dengan bantuan penasihat hukumnya, membantah tuduhan jaksa. Namun, Pak Haris berhasil menghadirkan bukti jitu yang langsung membuktikan yang sebaliknya, yakni rekaman percakapan terdakwa dengan penerima uang hasil penggelapan
84
tersebut. Terdakwa tak lagi dapat mengelak. Hakim akhirnya menjatuhkan vonis bersalah beserta hukuman penjara dan denda kepada terdakwa.
Jalan cerita yang kurang lebih serupa terjadi pula dalam kisah Pengacara. Bu Hana menerima pengaduan dari Nenek Ara yang dituduh mencuri sekantong wortel. Kali ini, Bu Hana membantu kliennya secara cuma-cuma (pro bono). Proses yang sama dijalani, yakni pencarian bukti-bukti untuk memperkuat pembelaan Nenek Ara di pengadilan. Dalam persidangan, pemilik kebun wortel sempat menuding Nenek Ara dengan marah sembari menuduhnya mencuri. Namun, Bu Hana telah siap dengan saksi yang akan memberikan keterangan sebenarnya. Pak Adin, salah seorang pedagang sayur di pasar, membeberkan kronologi peristiwa Nenek Ara datang ke kiosnya untuk membeli sebuah wortel sebab uangnya hanya cukup untuk itu. Akan tetapi, karena kiosnya sudah hampir tutup, Pak Adin memberikan sekaligus satu kantong wortel untuk dibawa pulang Nenek Ara. Kesaksian Pak Adin ini menjadi kunci kemenangan Nenek Ara di pengadilan. Berkat bantuan Bu Hana, Nenek Ara yang tidak bersalah itu dapat terbebas dari gugatan hukum, sebagaimana seharusnya.
Kedua cerita tersebut diakhiri dengan janji dalam batin kedua tokoh (jaksa dan pengacara) selepas mereka memenangkan kasus masing-masing di pengadilan, bahwa mereka akan terus bekerja untuk menegakkan keadilan dan membela kebenaran. Menariknya, meski telah digambarkan secara implisit bahwa kedua profesi ini tentu saja saling berhadap-hadapan di pengadilan, masing-masing cerita tidak dengan jelas menunjukkan demikian. Tokoh utama selalu diposisikan bertentangan dengan klien hukum dari pihak lawan: pengacara melawan penggugat; dan jaksa melawan terdakwa. Tidak dideskripsikan secara eksplisit bahwa kedua
85
profesi ini membela dua pihak berbeda, yang tentu saja di mata pengadilan nantinya akan dinyatakan bersalah atau tidak bersalah, dan tidak mungkin sekaligus keduanya. Artinya, sebenarnya bisa saja jaksa maupun pengacara harus menjadi wakil hukum dari pihak yang bersalah, tidak melulu menolong mereka yang justru jadi korban ketidakadilan.
Absennya problematisasi tersebut bisa saja dipahami sebagai upaya penyederhanaan yang wajar untuk bentuk bacaan anak. Barangkali, pesan yang jauh lebih penting diterima adalah janji jaksa dan pengacara di penghujung cerita untuk menegakkan keadilan dan membela orang-orang yang berlaku benar. Akan tetapi, hilangnya problematisasi ini sepenuhnya dapat menghadirkan persepsi yang membingungkan bagi pembaca. Niat luhur untuk menegakkan keadilan dan kebenaran memang benar adalah prinsip yang mesti mendasari keseluruhan sistem hukum negara. Akan tetapi, pada kenyataannya dengan mudah diidentifikasi bahwa tidak demikian situasinya. Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Kalimat ini cukup lazim terdengar sebagai tanggapan atas kejanggalan proses peradilan maupun keputusan hukum atas suatu kasus pelanggaran peraturan di Indonesia.
Selain cerita profesi jaksa dan pengacara, delapan judul lainnya justru dapat dikatakan tidak memiliki plot. Setidaknya ada tiga alasan untuk menjelaskan pernyataan tersebut. Pertama, delapan cerita itu berfokus sepenuhnya pada deskripsi rutinitas kerja tiap-tiap pelaku profesi. Meskipun kesannya kronologis dari segi waktu, rangkaian peristiwa dalam aktivitas kerja delapan pelaku profesi tersebut tidak tersusun di atas prinsip kausalitas. Tiap-tiap peristiwa tidak saling menyebabkan atau disebabkan. Kedua, tidak ada tujuan spesifik yang tengah diupayakan untuk dicapai oleh tokoh utama. Kalaupun ada “semacam” tujuan,
86
bentuknya adalah keinginan abstrak dan universal yang tidak secara langsung terkait dengan berbagai karakteristik maupun latar belakang tokoh utama.
Alasan ketiga saya gunakan pula untuk membaca dua judul pertama yang sebelumnya saya sebut memiliki plot, namun tetap problematis. Aspek penting tersebut adalah konflik. Dalam delapan cerita selain jaksa dan pengacara, hampir-hampir tidak terjadi climax yang menandai tumbuhnya suatu konflik. Delapan pelaku profesi tersebut tidak pernah mengalami kendala berarti dalam perjalanan pekerjaan mereka. Semua tugas dapat terselesaikan dengan baik, keberhasilan selalu tercapai, tidak ada perselisihan maupun gesekan kontra dengan pihak lain, dan setiap hari kerja selalu berakhir bahagia. Sementara itu, dalam kisah jaksa dan pengacara, konflik sebenarnya tidak terjadi pada diri mereka sebagai tokoh utama. Pihak yang mengalami masalah adalah Nenek Ara (dalam kisah Pengacara) dan terdakwa kasus penggelapan uang (dalam kisah Jaksa). Pak Haris sebagai jaksa dan Bu Hana sebagai pengacara tidak menjadi pusat dalam pusaran konflik kasus hukum tersebut. Keduanya berfungsi sebagai pendamping bagi pihak yang berperkara. Itu artinya, sebenarnya konflik utama terjadi di luar diri mereka; dan hal ini mungkin merupakan konsekuensi dari pilihan konten cerita yang berfokus pada rutinitas kerja tiap profesi.
* * *
Upaya mendalami sepuluh judul seri pengenalan profesi melalui elemen intrinsiknya sebagai narasi merupakan langkah awal untuk membaca bentuk dan kecenderungan makna yang mungkin lahir dari narasi semacam ini. Kategorisasinya sebagai fiksi menemukan kerumitannya karena satu elemen penting ternyata tidak sepenuhnya berfungsi dalam semua cerita. Plot, yang menjadi instrumen penggerak
87
jalannya cerita, tidak hadir dalam delapan kisah (Ilmuwan, Dokter Gigi, Akuntan,
Astronaut, Sutradara, Presiden, Perawat, dan Tentara).
Melalui pendalaman lewat tiga elemen di atas (tokoh, latar, dan plot), saya mencatat beberapa poin penting yang memberi gambaran bagaimana dunia kerja orang dewasa dipersepsikan dalam buku-buku ini. Pertama, tokoh dalam cerita adalah bentuk idealisasi pelaku profesi. Mereka digambarkan memiliki sifat-sifat tertentu yang diidentikkan dengan sifat pekerjaannya. Deskripsi semacam ini berpotensi menjadi acuan bagi pembaca untuk memahami bahwa tiap-tiap profesi menuntut sifat khas yang perlu dimiliki orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Kedua, bekerja digambarkan sebagai aktivitas inividual. Meskipun memiliki rekan
kerja di kantor atau sepanjang proses kerja, para tokoh “seakan-akan” mencapai keberhasilan dengan kerja keras yang dilakukannya sendiri. Ketiga, latar kantor berfungsi sebagai penanda adanya pemisahan antara aktivitas kerja dan nonkerja, sekaligus penanda modernitas yang membedakan suatu profesi dari jenis-jenis pekerjaan tradisional lainnya. Keempat, profesi dalam ranah kerja kreatif belum menjadi preferensi pekerjaan dalam lingkungan orang-orang yang diasumsikan sebagai pembaca. Kelima, aktivitas kerja seakan-akan menyamaratakan visi tiap-tiap orang dan hampir meniadakan tujuan pribadi tiap individu. Terakhir, sebagian besar cerita meniadakan problematisasi yang dalam realitanya cenderung tidak hitam-putih. Demikian pula dengan berbagai tantangan dan proses jatuh-bangun yang sewajarnya dialami semua orang dalam proses bekerja; semua tokoh selalu berhasil dengan gemilang.
88