Oleh: Fauzi
S
ampit merupakan kota yang terletak di Kalimantan Tengah, Kabupaten Kotawaringin Timur. Tidak semua orang tahu tentang Sampit, bahkan apabila kita searching di Google dengan kata Sampit yang muncul adalah konflik yang terjadi antar suku pada tahun 2001. Namun itu kisah 18 tahun yang lalu, kini Sampit merupakan kota yang aman, damai bahkan modern.Sampit merupakan kota tercinta bagiku, banyak penggalan kisah yang sudah kualami di sini, dari lahir hingga kuliah aku tetap berada di Sampit. Walaupun dari kecil hingga sekarang aku berada di Sampit namun tidak banyak yang kutahu tentang Sampit khususnya bahasa yang digunakan. Sempat terpikirkan olehku kalau bahasa Sampit ini adalah bahasa Banjar. Hal ini dikarenakan sejak kecil bahasa yang diajarkan oleh kedua orangtuaku adalah bahasa Banjar. Bahkan untuk berkomunikasi dengan orang lain semua menggunakan bahasa Banjar. Oleh sebab itu, aku selalu menggunakan bahasa Banjar untuk berkomunikasi setiap hari.
Seiring berjalannya waktu aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kota Sampit. Aku merupakan
salah satu siswa yang aktif di sekolah terutama di bidang Pramuka. Bahkan sempat tergabung dengan Dewan Kerja Ranting (DKR) Kecamatan Baamang kala itu. Banyak sudah program kerja yang dilaksanakan oleh DKR Baamang salah satunya adalah pembelajaran bahasa Sampit yang menarik perhatianku. “Untuk apa belajar bahasa Sampit, kan semua orang sudah bisa?” pikirku kala itu. Ternyata dugaanku selama ini salah, bahasa Sampit dan bahasa Banjar sangatlah berbeda begitu juga dengan peserta lain, yang juga baru tahu. Aku sangat beruntung mengikut pelatihan bahasa Sampit, sehingga mengetahui bahwa Sampit juga memiliki bahasa yang khas.
Pelatihan bahasa Sampit kala itu hanya berlangsung satu minggu saja, sehingga kurang memberikan efek bagi peserta yang mengikuti pelatihan bahasa Sampit. Sejak lulus dari SMP hingga lulus SMA gaung tentang bahasa Sampit sudah tidak terdengar di telingaku. Bahkan tidak ada lagi program-program yang mengajarkan tentang bahasa Sampit, baik yang diselenggarakan oleh sekolah maupun organisasi kemasyarakatan.
Setelah lulus dari SMA aku masuk ke salah satu perguruan tinggi yang ada di Kota Sampit, yaitu STKIP Muhammadiyah Sampit. Banyak pengalaman-pengalaman yang aku dapat saat kuliah. Mulai dari organisai, diskusi, melaksanakan kegiatan dan lain-lain. Hingga pada saat semester dua, aku diajak oleh salah satu kakak tingkat untuk bergabung dengan timnya yang bernama Uluh Tabela Paduli Basa Itah (Orang Muda Peduli Bahasa Kita) untuk mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Awalnya aku bingung apa itu PKM, namun setelah dijelaskan aku baru paham dan langsung aku tanya kepada kakak tingkat tentang program yang akan dilaksanakan nantinya. Mereka langsung menceritakan programnya yaitu tentang konservasi bahasa Sampit yang hampir punah.
Tanpa pikir-pikir lagi langsung kuterima tawaran tersebut.
Alasan mereka mengajakku untuk bergabung dengan timnya
Kata Milenial tentang Bahasa Sampit
karena mereka tahu bahwa aku pernah mengikuti pelatihan bahasa Sampit dan kebetulan program yang digagas hampir sama seperti pelatihan yang aku ikuti kala itu. Program ini mengutamakan pendidikan dan pelatihan secara tatap muka.
Program kami diawali dengan mencari tokoh-tokoh Sampit yang menguasai bahasa Sampit untuk dijadikan tutor atau guru dalam pelatihan bahasa Sampit nantinya, ternyata tidak semudah yang dibayangkan sebab saat ini sudah sulit untuk mencari orang yang fasih menggunakan bahasa Sampit. Setelah bertanya ke beberapa orang akhirnya kami menemukan lima orang tutor yang bersedia untuk mengajarkan bahasa Sampit dan memiliki tujuan yang sama dengan kami yaitu menjaga agar bahasa Sampit tidak punah. Setelah selesai mencari tutor, kami melanjutkan pencarian peserta yang berminat untuk mengikuti pelatihan bahasa Sampit. Kami melakukan sosialisasi dengan mendatangi tempat-tempat ramai dan mengajak orang untuk ikut pelatihan bahasa Sampit yang kami laksanakan.
Sama seperti halnya mencari tutor, mencari peserta untuk ikut pelatihan juga sangat sulit. Sebagian ada yang acuh namun ada juga yang bersemangat mengikuti pelatihan ini. Sekitar kurang lebih satu minggu kami mencari peserta ada sekitar 30 orang yang memiliki semangat untuk ikut melestarikan bahasa Sampit. Program pelatihan bahasa Sampit ini dilaksanakan selama tiga bulan.
Seiring dengan berjalannya pelatihan ternyata semangat peserta mulai memudar, bahkan ada yang tidak pernah lagi terlihat untuk mengikuti pelatihan bahasa Sampit. Hal ini menjadi bahan evaluasi tim dan mencari tahu apa alasan mereka tidak mengikuti pelatihan lagi. Setelah evaluasi tim ternyata rata-rata alasan mereka adalah bosan dengan pembelajaran tatap muka yang monoton seperti di sekolah. Oleh sebab itu kami melakukan pendekatan bahasa Sampit melalui media sosial yang dekat dengan anak muda yaitu Instagram. Secara berkala kami selalu update kata-kata tentang bahasa Sampit,
namun pelatihan secara langsung tatap muka tetap kami laksanakan hingga selesai tiga bulan. Selain membuat pelatihan bahasa Sampit kami juga membentuk komunitas yang disebut Uluh Tabela Paduli Basa Itah. Komunitas ini dibentuk agar dapat menyebarluaskan dan memperkenalkan bahasa Sampit kepada orang lain. Siapapun boleh bergabung di komunitas ini asal mempunyai keinginan untuk belajar bahasa Sampit.
Melestarikan bahasa daerah yang hampir punah memang tidak mudah, kita harus memiliki rasa peduli yang kuat. Sebab bahasa daerah merupakan kekayaan suatu daerah, apabila bahasa daerah di suatu tempat punah maka kekayaan daerah tersebut akan berkurang. Peran anak muda memang penting untuk melestarikan bahasa daerah. Namun sayangnya, sebagian anak muda cenderung malu dengan bahasa daerahnya sendiri dengan berbagai alasan. Diantaranya adalah bahasa daerah tidak keren, dianggap tidak kekinian, dan kuno. Oleh sebab itu, pada tahun 2019, kami kembali meluncurkan sebuah program yang membuat bahasa daerah menjadi lebih kekinian dan dekat dengan anak muda. Program ini kami beri nama
“Digitalisasi Bahasa Sampit”. Harapannya melalui program ini, dapat menyadarkan kaum milenial bahwa bahasa daerah tidak lagi kuno dan usang.