Oleh:Melisa Indriani
P
erkenalkan nih, aku Mel. Aku ingin sedikit berbagi cerita dan pendapatku di tulisan kali ini khusus untuk sobat Mileya, “Generasi Milenial Pelestari Budaya”. Sebutan dariku untuk kalian para pemuda dan pemudi sebaya yang sudah tentu jago teknologi. Generasi yang lahir zaman TV sudah berwarna, angkatan SD yang sudah bukan lagi main kelereng tapi upgrade ke Mobile Legend dan tentunya generasi seleb lokal yang hits di media sosial.Pastinya juga nih, ruang lingkup pergaulannya juga bukan sekadar anak-anak ujung gang kan? Karena sobat Mileya pasti sudah merambah dunia nasional dan internasional lewat arus globalisasi teknologi bergelar internet dan media sosial. Zaman milenial ini teknologi telah memiliki berbagai ‘trade mark’ yang semakin memudahkan para milennials untuk terjun ke lajur modernisasi. Secara perlahan menggeser corak tradisional kita menuju layar vektor yang lebih modern. Maka, bukan hal yang sulit lagi untuk terhubung dengan dunia luar baik nasional maupun internasional. Contohnya saja ada Facebook,
Instagram, Twitter, Youtube dan lain lain. Melalui trade marks tersebut sobat Mileya akan sangat mudah untuk eksis dan akses.
Ya, sekarang media sosial tersebut bukan hanya untuk sarana komunikasi lho. Tapi, dominannya digunakan untuk penanda eksistensi sobat Mileya di dunia maya. Seperti ketika sobat Mileya sangat selektif dalam memilah dan memilih foto atau video yang akan di-post di akun media sosial pribadi sobat Mileya. Karena, sejatinya ibarat kata bijak yang berbunyi “kata-katamu adalah kualitas dirimu” yang artinya kata-kata kita menunjukkan kepribadian kita. Sama halnya dengan “posting-anmu adalah personal brand-mu”. Artinya apapun yang kita post di akun sosial media adalah bagaimana kita mencitrakan, menggambarkan dan memperkenalkan siapa diri kita serta bagaimana sudut yang kita ciptakan untuk dipandang terlihat ataupun untuk diingat oleh orang lain yaitu followers kita nih, sobat. Eh, mungkin sekaligus dikenang kali ya. Siapa tahu ada doi dari masa lalu yang sedang stalking-stalking ria diberanda kita, hehehe. Tidak lupa juga medsos (media sosial) ini juga bisa kita gunakan untuk akses berbagai macam berita atau informasi darimana saja di seluruh dunia. Bahkan kita juga dapat menjadi content creator berita ataupun informasi tersebut. Suatu hal yang luar biasa tapi sudah biasa tentunya untuk sobat Mileya kan?
Kemajuan-kemajuan tersebut juga akan membuat kita kaya raya akan referensi budaya dari tiap daerah di mana saja dan juga jejaring sosial yang sangat luas di seluruh dunia.
Kita tidak lagi terkungkung dengan kebudayaan ‘endemik’
saja atau hanya dengan lingkup pergaulan lokal. Tapi, tunggu dulu nih sobat Mileya. Selain dengan segudang fungsi tadi kemajuan teknologi, kecepatan arus globalisasi serta pengaruh modernisasi juga membawa sejumlah argumen kontra untuk bangsa maupun budaya kita. Seperti, munculnya budaya hibrida, akulturasi budaya dan semakin marak budaya modern yang populer. Hal-hal tersebut dapat mengancam kelestarian budaya lokal.
Kata Milenial tentang Bahasa Sampit
Globalisasi yang semakin mendominasi di setiap daerah negeri kita akan melahirkan generasi hybrid. Yaitu, generasi yang hadir atas percampuran budaya lokal dan global.
Contoh sederhana versi aku mengenai hibridisasi budaya di kalangan milennials sendiri seperti adab dalam berpakaian para milennials kita. Masa kini para remaja kita sangat marak mengikuti trend atau style berpakaian ala kebarat-baratan.
Seperti hot pants, mini skirt, t-shirt atau busana yang minim bahan. Adapula tren mewarnai rambut dengan berbagai warna. Pirang, putih, merah, jingga dan warna lainnya. Atau barangkali ada yang berani tampil nyentrik dengan rambut berwarna rainbow, ya? Selanjutnya adalah mengenai akulturasi budaya yang salah satunya telah dijelaskan yaitu tentang etika berbusana kita. Pada zaman dulu busana para wanita Indonesia sangat anggun seperti yang dilukiskan dalam perpaduan kebaya yang sederhana dan halus. Selain itu norma kesopanan dalam berbusana juga sangat dijunjung tinggi karena ini merupakan budaya luhur bangsa kita. Sedangkan saat ini tidak semua wanita Indonesia dapat dianugerahi dengan predikat wanita anggun. Zaman sekarang ada beragam tipe wanita dari yang bergaya feminim, kasual bahkan tomboi yaitu tipe wanita yang berpotret laki-laki. Sobat Mileya juga pasti tidak asing dengan western entertainment, Korean Pop (K-Pop) atau Japanese Pop (J-Pop) yang banyak digandrungi sobat milennials kita. Hal tersebut sangat mengancam eksistensi budaya lokal di kalangan generasi muda bangsa.
O, iya sobat Mileya. Meskipun kita adalah generasi yang lahir di era digital dan akrab dengan kemajuan teknologi, tumbuh bersama globalisasi serta berkembang dengan modernisasi tapi tentunya sobat Mileya semua tetap cinta dan peduli budaya lokal ‘kan? Ya iyalah, buktinya aja sobat Mileya sudah membaca tulisan ini sampai disini nih. Salut deh !.
Nah, sebenernya budaya apa sih yang sudah diancam eksistensinya oleh si globalisasi c.s.? Beberapa contoh
kebudayaan yang tergerus arus globalisasi adalah kesenian daerah lokal seperti upacara adat, tarian daerah, lagu daerah, sastra lokal dan banyak lagi. Mereka tergantikan dengan budaya modern seperti musik barat, K-Pop, J-Pop, modern dance, style berpakaian ala Korea, Jepang maupun ala kebaratan yang digemari oleh remaja masa kini. Untuk dapat terkoneksi dengan dunia internasional dan mampu bersinkronisasi dengan globalisasi tentunya milennials harus memahami bahasa internasional yaitu bahasa Inggris. Tapi nih sobat Mileya salah satu aset budaya yang juga sangat terancam dengan kebutuhan akan bahasa asing sebagai jembatan menuju globalisasi adalah bahasa daerah. Faktor lainnya juga disebabkan dengan pergeseran life style masyarakat yang jarang menggunakan bahasa daerahnya.
Tentunya tidak sulit untuk mencari tempat les bahasa Inggris di kota sobat Mileya ‘kan ? Ada yang menawarkan program mahir bahasa Inggris dalam satu, dua, atau beberapa bulan saja. Bahkan sekarangpun sudah banyak fasilitas belajar online bahasa Inggris yang bisa sobat Mileya temukan dengan mudah baik melalui aplikasi maupun dengan modal internet.
Misalnya, sobat Mileya dapat dengan mudah belajar bahasa Inggris melalui video di Youtube yang telah dikemas dengan sangat menarik. Kalian juga bisa mengunduh aplikasi belajar bahasa Inggris melalui smartphone. Selain itu juga ada grub chat untuk belajar bahasa Inggris serta ada sangat banyak buku untuk belajar. Baik di perpustakaan, toko buku bahkan ada yang dalam bentuk digital. Begitu lengkap dan mudahnya untuk mengakses si bahasa Inggris ini kan? Tidak sulit untuk dapat mahir berbahasa Inggris dalam jangka waktu yang singkat.
Tetapi, hal serupa tidak kita dapatkan terhadap jati diri kita. Si bahasa daerah yang merupakan identitas kita.
By the way, aku juga adalah salah satu putri daerah di Kalimantan Tengah tepatnya ialah Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Aku lahir dan besar di kota ini. Nah,
Kata Milenial tentang Bahasa Sampit
sobat Mileya daerah inipun juga memiliki bahasa daerahnya.
Yaitu, bahasa Dayak Sampit. Meski putri daerah dan memi-li ki garis keturunan suku Dayak asmemi-li tidak serta merta menjadikanku sebagai penutur asli dan ahli bahasa Dayak Sampit. Kemampuanku dalam berbahasa Dayak pun sangat minim walaupun dapat mengerti ketika orang lain berbincang dalam bahasa Dayak. Hal ini menyebabkan aku tidak terlalu asing dengan bahasa Dayak Sampit dikarenakan cukup sering mendengar para orang tua di keluargaku yang berbincang dalam bahasa Dayak tersebut. Sayangnya, generasi muda keluarga seperti aku dan beberapa sepupuku tidak terbiasa menggunakan bahasa Dayak Sampit dalam keseharian kami.
Saat sudah beranjak remaja hal ini baru menjadi topik dalam kemelut pikiranku. Sangat disayangkan, itulah yang selalu terpikir. Sempat terpikir apakah aku juga salah satu korban perubahan life style masyarakat? Pernah suatu kali aku merasa heran dengan teman-teman sebaya ataupun keluarga yang merupakan keturunan suku Jawa. Mereka selalu dibiasakan untuk berbahasa daerah. Cukup sering terdengar anak-anak, remaja ataupun teman sebayaku yang pandai berbahasa daerah masing-masing. Terkadang bukan hanya bahasa Jawa. Aku juga memiliki seorang teman sebaya yang berdarah Bugis. Diapun juga menguasai bahasa Bugis. Tetapi, menengok diri sendiri dan beberapa teman yang memiliki garis keturunan suku Dayak tidak banyak yang pandai berbahasa Dayak.
Masa kini, khususnya di daerahku para orang tua yang merupakan penutur asli bahasa Dayak Sampit tidak seluruhnya mewariskan kemampuan berbahasa tersebut. Hal ini disebab-kan masyarakat daerah ini lebih dominan menggunadisebab-kan bahasa Banjar meskipun aslinya adalah suku Dayak. Adapula akulturasi budaya yang terjadi ketika seorang dari suku Dayak menikah dengan seorang dari suku lain seperti Banjar atau Jawa dan menjadi lebih mahir berbahasa Banjar dan Jawa daripada Dayak sendiri. Faktor lainnya juga disebabkan modernisasi
di perkotaan sehingga bahasa yang lebih lazim digunakan adalah bahasa Indonesia ataupun bahasa gaul khas ibukota dan sinetron Indonesia seperti kata ‘gue’, ‘elo’ yang sebenarnya merupakan serapan dari bahasa Cina yaitu Mandarin Hokkien.
Tapi, sobat Mileya aku tidak patah semangat dong. Selagi masih ada kesempatan aku memulai untuk mempelajari bahasa Dayak Sampit dengan metode sederhana yang bisa sobat coba juga.
Metode sederhana yang aku coba untuk mempelajari bahasa Dayak Sampit adalah mengumpulkan kosa kata bahasa Dayak Sampit setiap harinya. Dimulai dari beberapa kata saja dan diingat terus menerus. Nantinya kosa kata ini akan kukumpulkan dalam satu buku catatan khusus kosa kata bahasa Dayak Sampit mari sebut saja ini mini kamus bahasa Dayak Sampit. Kemudian dari kumpulan kosa kata tersebut aku juga belajar untuk membuat kalimat dalam bahasa Dayak Sampit. Hal tersebut apabila dilakukan secara rutin maka akan memperkaya perbendaharaan kosa kata bahasa Dayak Sampit kita dan memudahkan kita untuk mengingatnya. Nah, selanjutnya adalah membuat percakapan singkat berbahasa Dayak Sampit serta berlatih mempraktekkannya bersama penutur asli dan ahli alias para orang tua di keluargaku. Dapat juga searching melalui mbah Google untuk mencari informasi tentang bahasa Dayak yang ada di internet dan menonton beberapa video tentang bahasa Dayak.
Selain dengan metode sederhana tersebut aku juga pernah mengikuti sekolah bahasa Dayak Sampit yang digagas oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Uluh Tabela Paduli Basa Itah yang diusung mahasiswa dan mahasiswi di kampusku yaitu STKIP Muhammadiyah Sampit. Tim PKM tersebut bergerak di bidang pelestarian budaya daerah khususnya bahasa Dayak Sampit. Belajar bahasa Dayak Sampit pun rasanya semakin menyenangkan dan tentunya terfasilitasi. Karena aku tidak lagi belajar sendiri tetapi bersama dengan para remaja Mileya serta dilatih oleh tutor yang sudah pasti menguasai seluk
Kata Milenial tentang Bahasa Sampit
beluk bahasa dayak Sampit. Dalam program ini aku tidak hanya belajar tentang bahasa Dayak Sampit saja tetapi juga mengenai asal muasal bahasa Dayak Sampit.
Nah, sobat Mileya sebenarnya pembiasaan berbahasa daerah di lingkungan keluarga oleh kedua orang tua kepada anaknya yang dimulai sejak usia dini dapat mempermudah anak untuk mengenal bahasa daerahnya. Seiring pertumbuhan anak orang tua dapat mengajak anak untuk bercakap dalam bahasa daerah sehingga ketika seorang anak beranjak dewasa ia akan terbiasa untuk berbahasa daerah.
Selain peran keluarga, aksi kita sebagai generasi pelestari budaya juga diperlukan. Ada berbagai cara untuk turut melestarikan budaya kita khususnya bahasa Dayak Sampit.
Bisa dimulai dengan mempelajari bahasa Dayak Sampit, memperkenalkannya ke lingkungan milenial kita, membiasakan untuk bercakap dalam bahasa Dayak Sampit atau mengadakan kegiatan kreatif bersama para generasi Mileya dan lainnya.
Kalau sobat Mileya punya metode apa nih untuk melestarikan bahasa Dayak Sampit? jangan lupa share ya.
Yuk sama-sama kita mulai mempelajari dan menguasi bahasa daerah kita. Karena bahasa daerah kita adalah identitas dan jati diri kita sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia dan mari kita lestarikan bahasa daerah kita.
Basa Itah Kasugihan Itah!
Salam Pahari.