Oleh: Aulia Awwallia Rahmah
J
ika kita berbicara tentang Sampit. Apa yang terlintas di benak kamu pertama kali? Hal ini pernah saya tanyakan dengan teman literasi saya dari pulau paling timur di Indonesia, iya Papua. Sri, si gadis manis kelahiran Papua tetapi memiliki darah keturunan Jawa, yang kala itu menemani saya menikmati indahnya sore sembari memandang laut dari jendela kamar hotel Grand Puri Manado. Dengan wajah penasaran ia berkata,“Aku pernah membaca suatu artikel tentang kotamu. Bukan hal yang bagus untuk diingat bukan? Lalu kamu, apakah kamu asli dari Sampit itu? Apakah Sampit termasuk suku Dayak?” Dan dengan bangga saya tersenyum, “Jelas, abahku orang asli Dayak.
Tapi bukan Dayak Sampit, abahku Dayak Kuayan. Sedangkan mamaku asli Sampit tetapi keturunan pendatang dari Banjar.”
Dari pembicaraan sore hari itu, saya belajar banyak hal dari Sri. Ia dengan kagumnya berkata bahwa baru mengetahui jika suku Dayak sendiri memiliki banyak jenis dengan budaya serta bahasa yang berbeda-beda. Ia juga meminta saya mengajarkannya sedikit bahasa Dayak. Waktu itu saya hanya bisa tersenyum malu dan berkata bahwa saya tidak menguasai
bahasa suku yang saya bangga-banggakan itu. Sebuah tamparan yang meyakitkan. Begitu juga ketika saya dan teman-teman literasi dari 34 provinsi di Indonesia berkumpul dan saling memperkenalkan budaya serta bahasa daerah masing-masing.
Ketika giliran saya tiba, sebagai satu-satunya perwakilan Kalimantan Tengah dengan bangga saya menceritakan bagaimana kekayaan yang dimiliki provinsi kita khususnya daerah Sampit. Tentang bentangan alam nan hijau, keramahan dan rasa persaudaraan yang erat, tentang keelokan rupa flora dan fauna, tentang kekayaan bahari yang mudah didapatkan.
Tentang magis dan gemulainya tarian yang diiringi gaungan gong. Tak lupa ditemani petikan kecapi yang menawan atau tentang karungut yang suka ditembangkan sebagai sebuah doa dan pengharapan.
Tetapi, saya melupakan satu hal. Saya lupa bagaimana seharusnya saya juga harus bangga dengan bahasa suku saya.
Saya merasa sangat malu ketika teman-teman literasi meminta saya berbicara bahasa Dayak dan saya hanya bisa mengatakan jika kuman adalah makan dan mandoi adalah mandi. Untung saja mereka tidak meminta saya berbicara bahasa Dayak dalam kalimat yang panjang.
Saya boleh saja berbangga karena memiliki darah Dayak yang mengalir sepanjang pembuluh nadi. Boleh saja saya bangga saat orang-orang yang melihat saya akan mengatakan,
“kamu pasti suku Dayak, sangat nampak terlihat dari warna kulit dan kontur wajahmu”. Tapi, seharusnya saya malu. Sebagai anak keturunan suku Dayak asli, saya sangat kurang dalam berbicara menggunakan bahasa ibu. Meskipun terkadang saya dapat memahami jika mendengar orang berbicara bahasa Dayak kepada saya.
Saya sungguh menyesal mengapa ketika kecil atau ketika berlibur ke kampung tambi di Santilik, Kuayan. tidak minta dengan keras kepala untuk diajarkan bahasa Dayak oleh tambi.
Kemudian saya menyadari bahwa jika saya terus-menerus
Kata Milenial tentang Bahasa Sampit
tidak mempelajari bahasa daerah sendiri, siapa yang akan mempertahankan keberadaannya? Siapa yang akan mewariskan buah pikiran para leluhur kita? Akankah anak cucu kita mengetahui dan mengenal bahasa daerah nenek moyangnya?
Akankah bahasa Dayak tetap lestari? Jangan sampai sepuluh atau dua puluh tahun lagi anak cucu kita tidak mengenal identitas bahasa ibu mereka sendiri.
Sehingga saya pun dengan sadar mulai menyisipkan beberapa kata dalam bahasa daerah saya pada karya sastra yang saya buat. Menurut saya, melalui karya sastra yang merealisasikan gagasan, pikiran, dan perasaan, bahasa akan diolah serta disajikannya sedemikian rupa melalui proses kreativitas sukma hingga tercipta hasil yang imajinatif dengan unsur estetis dan magis yang dominan. Dan dari situ pula eksistensi bahasa Dayak akan tetap terjaga karena sebuah karya sastra bersifat abadi, meski nanti sang penulis akan pergi. Dan semoga saja suatu saat saya dapat menjadi seorang penulis yang karya sastranya akan terkenal ke seantero negeri. Sehingga saya juga dapat mengenalkan dan mempertahankan warisan budaya kita tersebut. Seperti Korrie Layun Rampan penulis buku Upacara asal Kalimantan Tengah. Ia dengan cantik memadukan sebuah cerita tentang seorang anak manusia yang hidupnya melakukan beberapa upacara adat serta penggunan beberapa bahasa Dayak dalam tulisannya.
Saya juga berharap, semua elemen masyarakat yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur dapat juga menumbuhkan sikap sadar dan peduli terhadap kehadiran bahasa Dayak sebagai sebuah peninggalan budaya yang wajib dipertahankan.
Dalam hal ini, peran masyarakat sangat diperlukan dalam menjaga kelestarian bahasa daerah. Karena, apapun hal yang ada dan menyebar di masyarakat memiliki progresif yang sangat cepat dan baik dalam penyebarannya. Apalagi melihat fakta lapangan telah terjadi akulturasi kebudayaan, Malah sebagian masyarakat mengganggap penggunaan bahasa Dayak
merupakan wujud dari ketertinggalan peradaban. Hal tersebut mempengaruhi kurangnya minat belajar bahasa Dayak bagi generasi muda. Khusus bagi saya, anda dan kita sebagai kaum milenial yang memiliki daya kritis dan peduli yang sangat tinggi, mari kita menjadi agent of change, menjadi duta dan pelopor untuk bahasa daerah kita sendiri. Bahwasannya belajar dan menggunakan bahasa Dayak bukan berarti kita adalah manusia tertinggal. Salah satu cara mempelajari bahasa Daerah ialah dengan membuat sebuah klub atau kelompok pemerhati bahasa daerah yang aktif mengkampanyekan pengunaan bahasa Dayak dalam kehidupan sehari-hari. Untungnya, saat ini hal ini sudah terealisasikan oleh kelompok Paduli Basa Itah yang dalam kesehariannya selalu konsisten dan aktif menyebarkan bahasa Dayak melalui media sosial. Kita juga selaku kaum milenial dapat menyebarkan penggunaan bahasa Dayak melalui karya sastra yang dituliskan dalam bahasa Dayak dan disebarluaskan melalui jejaring sosial. Baik dalam bentuk puisi, novel, cerita pendek, esai maupun pantun.
Pemerintah kabupaten juga harus ambil peran dan bersinergi membantu penumbuhan kembali rasa cinta dalam penggunaan bahasa daerah. Seperti membuat kebijakan baru pada sistem pendidikan dengan menerapkan pembelajaran dan penggunaan bahasa daerah lebih aktif sama seperti penggunaan bahasa asing. Misalnya dengan membuat satu hari khusus untuk penggunaan bahasa daerah dalam proses belajar mengajar. Sehingga generasi muda tidak hanya belajar bahasa daerah dalam mata pelajaran tetapi juga menerapkan dalam percakapan sehari-hari. Sekaligus penanaman pendidikan karakter terkait rasa cinta tanah air.
Peran sekolah juga diperlukan dalam aksi ini. Sekolah sebagai wadah pembinaan dan penempaan anak didik dalam mempersiapkan diri menjadi manusia yang nantinya berguna bagi lingkungan bermasyarakat dan bernegara. Sehingga sekolah harus memiliki inovasi dalam kebijakannya terkait mata
Kata Milenial tentang Bahasa Sampit
pelajaran muatan lokal yang mengajarkan bahasa Dayak Sampit sebagai upaya pelestarian bahasa Dayak Sampit. Saya berharap sekolah tidak hanya mengajarkan kosakata bahasa Dayak Sampit saja pada anak didik, tetapi juga mengajarkan tentang sejarah kebudayaan dan kebahasaan yang dimiliki daerah kita. Sekolah juga bisa melakukan perlombaan kebahasaan dan memberikan penghargaan atas usaha anak didik untuk berpartisipasi. Dalam hal ini sekolah dapat bekerjasama dengan pemerintah untuk mengadakan event kebahasaan agar memilik cakupan lebih luas.
Melalui upaya-upaya tersebut, saya berharap kita sebagai anak daerah yang tinggal dan besar di Sampit memiliki jiwa dan rasa kepedulian tinggi akan sebuah maha karya peninggalan leluhur kita, bahasa Dayak. Meskipun seandainya kita tidak memiliki darah asli Dayak, tetapi ingatlah, “dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Maka dari itu, jadilah agent of change yang mendobrak sebuah paradigma tak berdasar jika penggunaan bahasa daerah adalah sebuah ketertinggalan peradaban. Jika bukan saya, anda dan kita. Maka siapa lagi yang akan mempertahankan bahasa kita? Atau akankah ia hilang ditelan jaring era modern? Bukankah kita harusnya merasa keren dan bangga dapat mempertahankan sebuah warisan yang berharga?