• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata Milenial Tentang Bahasa Sampit

N/A
N/A
Gita Anggraini

Academic year: 2022

Membagikan "Kata Milenial Tentang Bahasa Sampit"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Kata Milenial tentang

Bahasa Sampit

(3)

seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

(4)

Kata Milenial tentang

Bahasa Sampit

(5)

Cetakan Pertama: Juli 2019 xvi+110 hlm., 14x21cm.

Tim Penulis: Sandy Ramadhan, Fauzi, Bernianti, Dwi Maulina Permata Sari, Nurfitria Sari, Julita Sari, Anas Wahid Maulana, Rizki Amaliyah, Wida Iswara, Lia Rizky Yulinawati, Gita Anggraini, Sonia, Titi Widia, Aulia Awwalia Rahmah, Kiki Fatmala, Melisa Indrianie Effendi, Rusdianoor, Catur Rahmadani Nuari, Muhammad Noor Fajri Edison, Nurhijjatil Janah, Ayu Oktarizza, Dian Jabar Syabani.

Editor: Gita Anggraini, Dwi Maulina Permata Sari Sampul: Utfa Yunianto

Penata Letak: Agus Teriyana ISBN: 978-623-91116-1-8 Penerbit Cangkir Pustaka Perumahan Taman Amarilis 65A Jl. Pelita, KM 7, Batu Belaman Kumai, Pangkalan Bun, 74181

f Penerbit Cangkir Pustaka l @cangkirpustaka w +62812 5923 349

(6)

SAMBUTAN

WAKIL BUPATI KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya, kita mampu terus berkarya untuk Kabupaten Kotawaringin Timur. Sebagai wakil Bupati Kabupaten Kotawaringin Timur saya mengapresiasi kegiatan mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sampit dalam Program Kreativitas mahasiswa, “Digitalisasi Bahasa Sampit”.

Sebagaimana diketahui di Pulau Kalimantan banyak sekali bahasa daerah yang dipakai oleh masyarakat salah satunya adalah bahasa Sampit. Melalui program ini secara perlahan bahasa Sampit sekarang mulai dilirik anak muda. Untuk menarik anak muda berbahasa daerah, memang diperlukan partisipasi anak muda juga. Melalui kegiatan ini juga, lahir buku yang ditulis oleh anak-anak muda yang terpanggil untuk berkontribusi terhadap daerahnya. Saya sangat bangga dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya, tenyata masih banyak anak muda yang peduli dengan bahasa daerahnya.

Semoga dengan lahirnya buku ini dapat memberikan dampak positif bagi upaya pelestarian Bahasa Sampit.

(7)

sampai di sini saja. Besar harapan saya, akan lahir program- program lanjutan yang diprakarsasi anak muda yang kreatif.

Selain itu, saya berharap buku ini dapat menjadi salah satu bahan masukan pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan untuk pelestarian kekayaan budaya yang dimiliki Kabuapaten Kotawaringin Timur. Buku ini juga sebaiknya didistribusikan ke institusi-institusi yang berkepentingan, sehingga dapat dimanfaatkan dengan optimal.

Akhirnya, semoga buku ini dapat diterima di kalangan masyarakat dan memberikan dampak yang positif untuk pelestarian bahasa Sampit. Sekali lagi, saya ucapkan selamat dan sukses atas terbitnya buku ini. Semoga menjadi amal jariyah bagi para penulisnya. Amiin Ya Rabbal ‘alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sampit, Juni 2019

H.M. Taufik Mukri, SH., MM

Wakil Bupati Kabupaten

Kotawaringin Timur

(8)

SAMBUTAN

KETUA STKIP MUHAMMADIYAH SAMPIT

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya, STKIP Muhammadiyah Sampit, melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang pengabdian masyarakat pada tahun 2019 berhasil menerbitkan buku

“Kata Milenial Tentang Bahasa Sampit“. Sejak tahun 2017 STKIP Muhammadiyah Sampit konsisten mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa. Program-program tersebut cukup mampu memberikan perubahan positif di masyarakat.

Salah satunya adalah program “Digitalisasi Bahasa Sampit”

yang memprakarsai penulisan buku ini. Melalui kreativitas mahasiswa ini, secara perlahan bahasa Sampit mulai digan- drungi anak muda. Dalam buku ini, beberapa anak muda bercerita mengenai pengalaman mereka dalam berbahasa Sampit. Semoga buku ini dapat memberikan dampak positif bagi upaya pelestarian Bahasa Sampit yang berkelanjutan.

Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para generasi milenial yang menuliskan pengalaman mereka tentang bahasa Sampit dan mengirimkannya kepada

(9)

sampaikan kepada dosen pendamping dan mahasiswa/i kami yang tergabung dalam tim “Digitalisasi Bahasa Sampit“ yang berupaya keras agar buku ini dapat diterbitkan. Semoga apa yang dicita-citakan melalui program ini dapat terwujud dan memberikan dampak yang luas.

Tentunya masih banyak kekurangan dalam buku ini, kami berharap ke depannya STKIP Muhammadiyah Sampit dapat terus menghasilkan inovasi untuk pelestarian bahasa Sampit melalui berbagai kegiatan lain baik dalam bentuk penelitian dan pengabdian masyarakat dosen maupun Program Kreativitas Mahasiswa lainnya. Akhir kata saya berharap, buku ini dapat diterima dengan baik di lingkungan masyarakat, serta menjadi salah satu bahan rekomendasi bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur dalam upaya pelestarian bahasa Sampit. Sebagai bahan evaluasi, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak.

Sampit, Juni 2019

Apuannor, M.Pd

(10)

SAMBUTAN

PENGURUS LEMBAGA ADAT DAN BUDAYA SAMPIT

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, didahului dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT yang menguasai sekalian alam. Tak lupa shalawat serta salam kepada Rasulullah Muhammad SAW pembawa rahmat bagi sekalian alam. Ia pemberi petunjuk umat manusia sejagat melalui syariat Islam yang dibawanya menuju ke arah keselamatan dan kebahagian dunia dan akhirat.

Adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami bila dapat turut ambil bagian dalam memasyarakatkan bahasa Sampit di tengah-tengah masyarakat yang mulai awam terhadap bahasa Sampit. Kami berharap dengan hadirnya buku ini dapat mempopulerkan kembali bahasa Sampit yang mulai dilupakan bahkan ditinggalkan oleh anak muda. Padahal bahasa Sampit merupakan identitas orang Sampit. Buku “Kata Milenial Tentang Bahasa Sampit“ ini disusun untuk berbagi pengalaman mengenai bahasa Sampit sehingga diharapkan nantinya anak- anak muda dapat berkomunikasi dengan bahasa Sampit secara lancar. Kami memohon kepada Allah SWT. Semoga buku “Kata

(11)

untuk siapa saja yang punya perhatian terhadap bahasa Sampit.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sampit, Juni 2019

Asyikin Arpan

(12)

KATA PENGANTAR

A

lhamdulillah puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta memberikan banyak kesempatan, sehingga kami dapat menerbitkan Buku “Kata Milenial Tentang Bahasa Sampit“.

Buku ini merupakan salah satu luaran dari Program Kreativitas Mahasiswa tahun 2019 dengan nama program “Digitalisasi Bahasa Sampit”. Adapun tujuan dari pembuatan buku ini adalah untuk menambah dokumentasi tertulis mengenai bahasa Sampit. Kami tidak menyangka, sambutan anak muda untuk menulis bersama cukup baik. Terbukti banyak yang mengirimkan tulisannya hanya dalam waktu satu bulan sejak pengumpulan tulisan diumumkan. Bahkan sampai dengan penutupan masih banyak yang ingin mengirim tulisan, namun keterbatasan anggaran tidak bisa menampung lebih banyak tulisan lagi.

Buku ini berisi 22 tulisan anak muda tentang pengalaman mereka dengan bahasa Sampit. Awalnya kami hanya menetap- kan 20 tulisan saja, namun menjelang akhir penutupan terpilih 22 tulisan yang layak untuk diterbitkan mewakili pandangan

(13)

bertambah dari rencana semula, yang hanya 20 tulisan.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada, Pemerintah Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur, Lembaga Adat dan Budaya Sampit, STKIP Muhammadiyah Sampit, Komunitas Uluh Tabela Paduli Basa Itah, serta para generasi milenial yang telah sudi menuliskan pengalaman mereka. Selanjutnya terimakasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (KEMENRISTEKDIKTI), berkat hibah yang diberikan buku ini dapat terbit dan dibaca oleh orang banyak. Kami berharap, semoga buku ini dapat menjadi salah satu masukan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur dalam upaya melestarikan bahasa Sampit.

Kami menyadari buku ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan penerbitan berikutnya.

Akhirnya, semoga buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua untuk mempertahankan identitas dan kekayaan yang kita punya.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wassalmu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sampit, Juni 2019

Tim PKM M

Digitalisasi Bahasa Sampit

(14)

Daftar Isi

Sambutan Wakil Bupati Kabupaten

Kotawaringin Timur |v Sambutan Ketua STKIP

Muhammadiyah Sampit |vii Sambutan Pengurus Lembaga Adat

\dan Budaya Sampit |ix Kata Pengantar |xi

Bahasaku Identitasku

Oleh: Sandy Ramadhan |3

Aku dan Bahasa Sampit

Oleh: Fauzi |7

Aku Seorang Bawi Dayak Amatir

Oleh: Bernianti |11

Jatuh Cinta dengan Bahasa Sampit

Oleh: Dwi Maulina Permata Sari |15 Mesranya Berbahasa Sampit

Oleh: Kiki Fatmala |19

Melestarikan Bahasa Daerah Kewajiban Kita

Oleh: Sonia |23

Bahasa Daerah yang Pudar di Kalangan Milenial

Oleh: Nurfitria Sari |27

(15)

Bahasa Banjar, Kok Bisa?

Oleh: Julita Sari |31

Hilangnya Bahasa Ibu yang Sirna di Makan Waktu

Oleh: Anas Wahid Maulana |35 Peningkatan Berbahasa Sampit

Untuk Anak Muda

Oleh: Rizki Amaliyah |41

Bahasa Daerahku Budayaku

Oleh: Wida Iswara |43

Bahasa Sampit di Kota Rantauan Mahasiswa Oleh: Lia Rizky Yulinawati |49 Solusi untuk Menjaga Bahasa Daerah Sampit

Oleh: Titi Widia |51

Upaya Pelestarian

Bukan Sebuah Ketertinggalan

Oleh: Aulia Awwallia Rahmah |55 Mileya dalam Milennial Era

Oleh:Melisa Indriani |61

Bahasa Sampit di Era Milenial

Oleh: Rusdianor |69

Aplikasi Pembelajaran Bahasa Dayak Ngaju Berbasis Smartphone Android

Oleh: Catur Rahmadani Nuari |75 Eksistensi Bahasa Daerah Sampit

di Tangan Generasi Milenial

Oleh: Muhammad Noor Fazri Edison |79 Saatnya Orang Sampit Bicara Bahasa Sampit Oleh: Nur Hijjatil Janah |83 Bahasa Dayak Sampit dan Kaum Milenial

Oleh: Ayu Oktarizza |87

(16)

Setetes Konservasi di Tengah Lautan Modernisasi

Oleh Dian Jabar Syabani |91

Konservasi Bahasa Melalui Program Kreativitas Mahasiswa

Oleh: Gita Anggraini |97

Biodata Penulis |105

(17)
(18)

Untuk semua yang punya cerita…

Untuk semua nama yang membuat cerita ini ada..

Untuk semua memori yang membuat cerita ini indah…

Untuk Bahasa Sampit yang kita berjanji, “Tak Kubiarkan Engkau Punah”

TERIMAKASIH.

(19)
(20)

Bahasaku Identitasku

Oleh: Sandy Ramadhan

N

ama saya Sandy Ramadhan, lahir di Sampit 13 Desember 1999 dan saat ini sedang di perjalanan menuju usia 20 tahun. Ya… saya lahir di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, biasanya diistilahkan dengan sebutan “Orang asli Sampit” tapi lucunya saya tidak mengerti, bicara atau tahu sedikitpun tentang bahasa Sampit. Sejak kecil yang saya tahu hanya bahasa Dayak Ngaju karena ketika duduk di sekolah dasar, pelajaran muatan lokal di sekolah mempelajari bahasa Dayak Ngaju. Lucu memang “uluh Sampit, tapi bare tau basa Sampit”.

Pada saat lulus SMA saya memutuskan untuk berkuliah di salah satu perguruan tinggi yang ada di Sampit, yaitu STKIP Muhammadiyah Sampit dan menempuh pendidikan di program studi pendidikan matematika. Ketika semester kedua saya mengikuti ajang pemilihan Duta Pariwisata Kabupaten Kotawaringin Timur 2018. Menjadi seorang role model pemuda di bidang pariwisata itu mengharuskan saya memiliki pengetahuan tentang kekayaan dan keberagaman budaya yang ada di Kotawaringin Timur (KOTIM). Berawal dari sini saya

(21)

mulai belajar tentang budaya-budaya yang ada di KOTIM, termasuk mempelajari bahasa daerah asli saya, yaitu Sampit.

Singkat cerita saya berhasil mendapatkan gelar Wakil IV Putra Pariwisata Kabupaten Kotawaringin Timur tahun 2018.

Di waktu yang bersamaan teman saya semasa SMP dan SMA yang saat ini juga berkuliah di perguruan tinggi yang sama, berhasil meloloskan proposal dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Program mereka bernama “Uluh Tabela Paduli Basa Itah”. Program ini bertujuan untuk mengangkat kembali isu-isu tentang bahasa Sampit yang memang sudah sangat jarang diketahui oleh masyarakat kebanyakan. Pada saat mereka melaksaan program, saya mendapatkan tantangan untuk membuat sebuah video berisi 7 kosa kata dalam bahasa Sampit. Saya awalnya tidak tahu tentang kosa kata dalam bahasa Sampit akhirnya harus mencari tahu dan belajar sedikit tentang bahasa Sampit. Dari sinilah awal mula saya mendengar beberapa orang mulai mengkritisi tentang bahasa Sampit ini.

Pada semester keempat saya mengajukan dua proposal dalam Program Kreativitas Mahasiswa. Proposal pertama bertujuan untuk mempopulerkan kembali bahasa Sampit di kalangan milenial dan yang kedua, penelitian tentang nilai-nilai karakter dalam bahasa Dayak Sampit.

(22)

Kata Milenial tentang Bahasa Sampit

Banyak hal baru yang saya pelajari saat melakukan penelitian tentang bahasa Sampit, banyak juga tokoh-tokoh yang kami datangi untuk diwawancarai tentang bahasa Sampit, termasuk tentang sejarah, dan karakter masyarakatnya. Kunjungan yang cukup berkesan bagi saya adalah ketika mengunjungi kediaman Pak Haitami. Dia merupakan salah satu tokoh budaya dan bahasa Sampit. Ada banyak sekali hal yang diceritakannya kepada kami. Salah satunya adalah kekeliruan yang selama dilakukan sebagian orang Sampit, yaitu dalam menyebut/

menuliskan “Seranau”. Seranau sendiri adalah nama salah satu kecamatan yang ada di kelurahan Mentaya Seberang. Banyak orang yang menyebut/menuliskan kecamatan ini dengan

“Seranau” padahal seharusnya “Saranau”. Saranau berasal dari kata “Saran” yang berarti pinggir. Dikatakan demikian karena masyarakatnya hidup di pinggiran sungai mentaya. Sedangkan kata Seranau tidak mempunyai arti.

Dari kegiatan ini juga, saya mengetahui bahwa bahasa Sampit sendiri punya ciri khas jika dibandingkan dengan bahasa Dayak lainnya. Beberapa tokoh yang kami wawancarai mengatakan bahwa “bahasa Sampit ini ibaratnya bahasa Dayak yang halus, ada bahasa Jawa kasar dan Jawa halus, begitu juga bahasa Dayak, ada bahasa Dayak kasar dan Dayak halus”.

Mengapa begitu? Karena dalam bahasa Sampit ketika berbicara kepada orang yang lebih tua, terdapat kosa kata khusus untuk menekankan sopan santun, contohnya kula yang artinya saya, dan dika yang artinya kamu. Berbeda dengan bahasa Dayak lainnya yang menggunakan kata ikau, aku tanpa membeda- bedakan umur. Persebaran bahasa Sampit sendiri punya ciri khas yang unik. Saat ini kebanyakan masyarakat yang masih menggunakan bahasa Sampit sebagai bahasa sehari-hari adalah masyarakat yang tinggal di pesisir Sungai Mentaya, mulai dari masyarakat di Kecamatan Saranau, kemudian masyarakat di pesisir Sungai Mentaya dari Baamang Hilir sampai Baamang Hulu, juga di Desa Tanah Mas dan Tinduk.

(23)

Lalu mengapa banyak masyarakat yang aktif menggunakan bahasa Sampit berada di pesisir sungai dan desa saja?

menurut saya ini karena interaksi antar masyarakatnya.

Ketika melakukan observasi ke Desa Tinduk dan Tanah Mas, masyarakat di sana masih memiliki rasa kekeluargaan yang sangat kuat, bahkan terhadap pendatang sekalipun mereka sangat ramah dan menyambut dengan baik. Masyarakat yang tinggal di pesisir sungai menjaga interaksi melalui kegiatan yang mereka lakukan di sungai seperti mandi, mencuci, dan lainnya.

Saat berkomunikasi mereka masih menggunakan bahasa Sampit. Berbeda dengan saya yang tinggal di daerah Baamang bagian tengah dimana masyarakatnya jarang berinteraksi. Kami lebih banyak sibuk dengan urusan pribadi dan bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Banjar, karena sudah banyak pendatang dari berbagai pulau yang menyebabkan penggunaan bahasa Sampit sangat jarang ditemukan.

Menurut saya, cara yang efektif untuk memperkenalkan lagi bahasa Sampit adalah dengan menyediakan literatur/

sumber belajar bahasa Sampit yang kekinian, modern, searah dengan perkembangan zaman. Media tersebut adalah media digital seperti media sosial yang bisa diakses dengan mudah dimana saja, agar para anak-anak, remaja, atau para penggiat media sosial dapat belajar bahasa Sampit kapanpun dan dimanapun. Solusi berikutnya adalah dengan dibuatnya kurikulum untuk belajar bahasa Sampit sedari sekolah dasar agar anak-anak sedari kecil sudah diajarkan untuk mengenali bahasa daerahnya.

(24)

Aku dan Bahasa Sampit

Oleh: Fauzi

S

ampit merupakan kota yang terletak di Kalimantan Tengah, Kabupaten Kotawaringin Timur. Tidak semua orang tahu tentang Sampit, bahkan apabila kita searching di Google dengan kata Sampit yang muncul adalah konflik yang terjadi antar suku pada tahun 2001. Namun itu kisah 18 tahun yang lalu, kini Sampit merupakan kota yang aman, damai bahkan modern.

Sampit merupakan kota tercinta bagiku, banyak penggalan kisah yang sudah kualami di sini, dari lahir hingga kuliah aku tetap berada di Sampit. Walaupun dari kecil hingga sekarang aku berada di Sampit namun tidak banyak yang kutahu tentang Sampit khususnya bahasa yang digunakan. Sempat terpikirkan olehku kalau bahasa Sampit ini adalah bahasa Banjar. Hal ini dikarenakan sejak kecil bahasa yang diajarkan oleh kedua orangtuaku adalah bahasa Banjar. Bahkan untuk berkomunikasi dengan orang lain semua menggunakan bahasa Banjar. Oleh sebab itu, aku selalu menggunakan bahasa Banjar untuk berkomunikasi setiap hari.

Seiring berjalannya waktu aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kota Sampit. Aku merupakan

(25)

salah satu siswa yang aktif di sekolah terutama di bidang Pramuka. Bahkan sempat tergabung dengan Dewan Kerja Ranting (DKR) Kecamatan Baamang kala itu. Banyak sudah program kerja yang dilaksanakan oleh DKR Baamang salah satunya adalah pembelajaran bahasa Sampit yang menarik perhatianku. “Untuk apa belajar bahasa Sampit, kan semua orang sudah bisa?” pikirku kala itu. Ternyata dugaanku selama ini salah, bahasa Sampit dan bahasa Banjar sangatlah berbeda begitu juga dengan peserta lain, yang juga baru tahu. Aku sangat beruntung mengikut pelatihan bahasa Sampit, sehingga mengetahui bahwa Sampit juga memiliki bahasa yang khas.

Pelatihan bahasa Sampit kala itu hanya berlangsung satu minggu saja, sehingga kurang memberikan efek bagi peserta yang mengikuti pelatihan bahasa Sampit. Sejak lulus dari SMP hingga lulus SMA gaung tentang bahasa Sampit sudah tidak terdengar di telingaku. Bahkan tidak ada lagi program-program yang mengajarkan tentang bahasa Sampit, baik yang diselenggarakan oleh sekolah maupun organisasi kemasyarakatan.

Setelah lulus dari SMA aku masuk ke salah satu perguruan tinggi yang ada di Kota Sampit, yaitu STKIP Muhammadiyah Sampit. Banyak pengalaman-pengalaman yang aku dapat saat kuliah. Mulai dari organisai, diskusi, melaksanakan kegiatan dan lain-lain. Hingga pada saat semester dua, aku diajak oleh salah satu kakak tingkat untuk bergabung dengan timnya yang bernama Uluh Tabela Paduli Basa Itah (Orang Muda Peduli Bahasa Kita) untuk mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Awalnya aku bingung apa itu PKM, namun setelah dijelaskan aku baru paham dan langsung aku tanya kepada kakak tingkat tentang program yang akan dilaksanakan nantinya. Mereka langsung menceritakan programnya yaitu tentang konservasi bahasa Sampit yang hampir punah.

Tanpa pikir-pikir lagi langsung kuterima tawaran tersebut.

Alasan mereka mengajakku untuk bergabung dengan timnya

(26)

Kata Milenial tentang Bahasa Sampit

karena mereka tahu bahwa aku pernah mengikuti pelatihan bahasa Sampit dan kebetulan program yang digagas hampir sama seperti pelatihan yang aku ikuti kala itu. Program ini mengutamakan pendidikan dan pelatihan secara tatap muka.

Program kami diawali dengan mencari tokoh-tokoh Sampit yang menguasai bahasa Sampit untuk dijadikan tutor atau guru dalam pelatihan bahasa Sampit nantinya, ternyata tidak semudah yang dibayangkan sebab saat ini sudah sulit untuk mencari orang yang fasih menggunakan bahasa Sampit. Setelah bertanya ke beberapa orang akhirnya kami menemukan lima orang tutor yang bersedia untuk mengajarkan bahasa Sampit dan memiliki tujuan yang sama dengan kami yaitu menjaga agar bahasa Sampit tidak punah. Setelah selesai mencari tutor, kami melanjutkan pencarian peserta yang berminat untuk mengikuti pelatihan bahasa Sampit. Kami melakukan sosialisasi dengan mendatangi tempat-tempat ramai dan mengajak orang untuk ikut pelatihan bahasa Sampit yang kami laksanakan.

Sama seperti halnya mencari tutor, mencari peserta untuk ikut pelatihan juga sangat sulit. Sebagian ada yang acuh namun ada juga yang bersemangat mengikuti pelatihan ini. Sekitar kurang lebih satu minggu kami mencari peserta ada sekitar 30 orang yang memiliki semangat untuk ikut melestarikan bahasa Sampit. Program pelatihan bahasa Sampit ini dilaksanakan selama tiga bulan.

Seiring dengan berjalannya pelatihan ternyata semangat peserta mulai memudar, bahkan ada yang tidak pernah lagi terlihat untuk mengikuti pelatihan bahasa Sampit. Hal ini menjadi bahan evaluasi tim dan mencari tahu apa alasan mereka tidak mengikuti pelatihan lagi. Setelah evaluasi tim ternyata rata-rata alasan mereka adalah bosan dengan pembelajaran tatap muka yang monoton seperti di sekolah. Oleh sebab itu kami melakukan pendekatan bahasa Sampit melalui media sosial yang dekat dengan anak muda yaitu Instagram. Secara berkala kami selalu update kata-kata tentang bahasa Sampit,

(27)

namun pelatihan secara langsung tatap muka tetap kami laksanakan hingga selesai tiga bulan. Selain membuat pelatihan bahasa Sampit kami juga membentuk komunitas yang disebut Uluh Tabela Paduli Basa Itah. Komunitas ini dibentuk agar dapat menyebarluaskan dan memperkenalkan bahasa Sampit kepada orang lain. Siapapun boleh bergabung di komunitas ini asal mempunyai keinginan untuk belajar bahasa Sampit.

Melestarikan bahasa daerah yang hampir punah memang tidak mudah, kita harus memiliki rasa peduli yang kuat. Sebab bahasa daerah merupakan kekayaan suatu daerah, apabila bahasa daerah di suatu tempat punah maka kekayaan daerah tersebut akan berkurang. Peran anak muda memang penting untuk melestarikan bahasa daerah. Namun sayangnya, sebagian anak muda cenderung malu dengan bahasa daerahnya sendiri dengan berbagai alasan. Diantaranya adalah bahasa daerah tidak keren, dianggap tidak kekinian, dan kuno. Oleh sebab itu, pada tahun 2019, kami kembali meluncurkan sebuah program yang membuat bahasa daerah menjadi lebih kekinian dan dekat dengan anak muda. Program ini kami beri nama

“Digitalisasi Bahasa Sampit”. Harapannya melalui program ini, dapat menyadarkan kaum milenial bahwa bahasa daerah tidak lagi kuno dan usang.

(28)

Aku Seorang Bawi Dayak Amatir

Oleh: Bernianti

H

ai, perkenalkan aku adalah seorang anak dari kedua orang tua yang berasal dari suku Dayak. Aku memiliki lima orang saudara kandung yaitu empat orang anak perempuan dan satu orang anak laki-laki. Ayahku adalah seorang anak yang berasal dari Sampit tepatnya di Baamang Hulu dan tentunya fasih menggunakan bahasa Sampit. Sedangkan, ibuku adalah seorang anak yang berasal dari Sei Paring, disana menggunakan bahasa Dayak Kahayan. Namun kedua orang tua sama-sama saling menguasai kedua bahasa tersebut, yaitu bahasa Dayak Sampit maupun Dayak Kahayan.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka lebih sering menggunakan bahasa Dayak Sampit daripada bahasa Dayak Kahayan. Hal ini dikarenakan tempat tinggal kami yang berada di Kota Sampit itu sendiri dan mayoritas penduduk disini yang menggunakan bahasa tersebut. Jika sedang berkumpul keluarga atau hanya sekedar berbincang-bincang pada malam hari, mereka semua menggunakan bahasa tersebut. Termasuk kelima saudara kandungku juga menggunakan bahasa Dayak Sampit, bahkan cukup fasih menggunakannya. Terkecuali

(29)

aku dan saudara laki-lakiku yang hanya bisa memahami bahasanya tanpa tahu bagaimana caranya berbicara dengan menggunakan bahasa Dayak Sampit. Kami hanya ikut tertawa jika sedang ada lelucon dengan menggunakan bahasa Sampit, tanpa ikut memberikan lelucon dikarenakan kami yang tidak fasih menggunakan bahasa Sampit bahkan hampir tidak bisa menggunakannya.

Sebagai seorang anak perempuan yang di darahnya mengalir suku Dayak, aku merasa malu karena tidak bisa menggunakan bahasa tersebut. Aku merasa sangat terkucilkan jika sedang berkumpul dengan semua keluarga dikarenakan yang tak bisa menggunakan bahasa Dayak khususnya bahasa Dayak Sampit itu sendiri. Padahal di kota ini akau dilahirkan.

Sungguh sangat memalukan jika ada orang bertanya dari mana kamu berasal dan apakah kamu bisa berbicara menggunakan bahasa daerah tempat kamu berasal, aku hanya menjawab“Aku berasal dari Kota Sampit, dan aku adalah orang asli kota ini.

Namun aku hanya bisa memahami bahasanya, tetapi tidak bisa menggunakannya dalam pembicaraan.”

Hingga beberapa waktu lalu, tepatnya tahun 2018, beberapa teman yang berasal dari tempatku menimba ilmu, membuat sebuah program tentang bahasa daerah yaitu bahasa Dayak Sampit. Program tersebut sangat cocok dengan problem yang sedang kuhadapi saat itu.

Setelah mengikuti program itu untuk beberapa kali aku mulai bisa menggunakan bahasa Sampit sedikit demi sedikit.

Ternyata ada beberapa perbedaan dalam bahasa Dayak Sampit dengan bahasa Dayak lainnya. Di dalam bahasa Dayak Sampit penggunaan kata kepada orang yang lebih tua atau yang seumuran ternyata berbeda. Dibanding dengan bahasa Dayak lainnya yang tidak memiliki penggunaan kata khusus kepada orang yang lebih tua maupun yang lebih muda serta pada yang seumuran. Bahasa Dayak Sampit ini sendiri juga sering dikenal dengan bahasa Dayak yang halus atau tidak kasar.

(30)

Kata Milenial tentang Bahasa Sampit

Padahal selama ini saya selalu berpikiran bahwasanya semua bahasa Dayak itu sama saja tanpa ada perbedaan. Tapi nyatanya setelah mengikuti program tersebut banyak hal yang baru saya ketahui tentang bahasa Dayak Sampit. Salah satunya tadi adalah perbedaan penggunaan kata untuk orang yang lebih tua atau untuk yang seumuran.

Sadar akan pentingnya pelestarian bahasa Dayak Sampit bagi semua kalangan, pada tahun ini saya bergabung dengan beberapa teman untuk membuat program yang berkaitan dengan pelestarian bahasa Dayak Sampit. Banyaknya anak muda yang tidak bisa menggunakan bahasa Sampit, termasuk saya sendiri membuat kami merasa perlu untuk melestarikan bahasa ini di kalangan muda. Karena anak muda yang akan menjadi penerus dari budaya-budaya yang ada di daerah tempatnya berasal. Jika tidak kita lestarikan maka tidak menutup kemungkinan bahwa budaya ini akan punah termasuk bahasa Dayak Sampit. Padahal bahasa menjadi ciri khas dari sebuah kota atau daerah.

Sebelum kegiatan berlangsung kami melakukan observasi pada beberapa anak muda yang berada di kota Sampit. Data yang kami dapat, banyak dari mereka yang tidak mengetahui keberadaan bahasa ini. Kami juga menangkap ekspresi mereka yang merasa gengsi atau malu dengan bahasa daerahnya. Bagi mereka menggunakan bahasa Dayak Sampit untuk berbicara kepada teman-temannya bukanlah sesuatu yang “gaul”. Gaul menurut kebanyakan anak muda adalah jika mengikuti trend yang sedang booming pada saat ini. Sedangkan bahasa Sampit sendiri masih belum booming di kalangan mereka. Kondisi ini menyebabkan mereka gengsi jika menggunakan dalam pembicaraan kepada teman-teman atau sedang berkumpul bersama teman.

Nah, untuk menarik minat anak muda dalam mempelajari atau melestarikan bahasa Dayak Sampit, kami membuat sebuah program yang tentunya sangat akrab dengan anak muda

(31)

pada saat ini, yaitu melalui media sosial. Kita semua tahu itu bahkan menggunakannya hampir setiap saat. Berdasarkan latar belakang tersebut kami mengambil keuntungan ini untuk melestarikan bahasa Dayak Sampit melalui media sosial yang dekat dengan anak muda saat ini. Program ini dilakukan dengan membuat beberapa konten menarik yang akan disukai oleh anak muda. Pembuatan kontennya mengikuti beberapa trend yang sedang booming di kalangan anak muda.

Menurut kami, program ini adalah salah satu cara terbaik yang bisa dilakukan untuk melestarikan bahasa Dayak Sampit.

Belajar bahasa Sampit dimana saja, kapan saja, dan pada siapa saja, itu yang ingin kami wujudkan. Sebagai seorang anak yang di darahnya mengalir suku Dayak, aku harus bangga mengakui budayanya sendiri, termasuk bahasanya sendiri. Tak perlu malu jika tidak bisa, karena masih ada banyak cara untuk bisa belajar.

Mari lestarikan bahasa Dayak Sampit, melalui dirimu sendiri terlebih dahulu.

Banggalah dengan bahasamu! Banggalah dengan darah yang mengalir di tubuhmu! Jangan biarkan waktu memusnahkan semua kebanggaanmu!

(32)

Jatuh Cinta dengan Bahasa Sampit

Oleh: Dwi Maulina Permata Sari

B

ahasa Sampit merupakan bahasa masyarakat suku Dayak Sampit yang selama ini kurang diketahui oleh generasi muda. Saya termasuk salah satunya, yang sangat buta akan bahasa Sampit, bagaimana kata-katanya, aturannya semua tak kutahu. Bahkan, saya sama sekali tidak mengetahui apa itu bahasa Sampit, saya mengira bahasa Sampit, ya… bahasa Banjar yang sering saya gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya dilahirkan di kota wallet, ya.. Samuda. Jarak nya sekitar 40 km dari kota Sampit. Dari kecil saya menghabiskan masa kanak-kanak sampai saya lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Samuda. Ibu saya merupakan orang Samuda asli sedangkan ayah seorang mualaf dari Dayak Kaharingan.

Walaupun saya keturunan orang Dayak tapi saya tidak pernah tahu apa itu bahasa Dayak dan tidak tertarik untuk mempelajarinya. Saya pernah ditegur oleh salah seorang guru waktu bersekolah di Sekolah Menegah Atas (SMA). Dia berkata,

“Dwi kamu kan punya orang tua asli Dayak kenapa kamu tidak tahu dan tidak mengerti bahasa Dayak?” saat itu langsung saya jawab, “saya tidak diajarkan bahasa Dayak Pak di rumah, karena

(33)

dari kecil saya diajarkan bahasa Banjar. Itulah bahasa yang saya gunakan dari kecil sampai beranjak dewasa.” Kemudian guru saya hanya terdiam saja.

Setelah itu, saya lulus di Sekolah Menengah Atas dan melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi, tepatnya STKIP Muhammadiyah Sampit sampai sekarang. Saat tulisan ini dibuat, saya masih menjadi mahasiswa di semester 8 program studi pendidikan ekonomi. Selama berkuliah saya sama seperti mahasiswa lain, mahasiswa biasa. Hingga pada suatu ketika saya mendengar ada beberapa mahasiswa yang berasal dari Kuayan yang setiap bertemu dengan orang-orang satu kampungnya selalu menggunakan bahasa daerah (bahasa Dayak Ngaju).

Awalnya saya bersikap biasa saja, tidak terlalu menghiraukan dan hanya mendengarkan saja.

Seiring Berjalannya waktu, saya mulai terbiasa mendengar- kan mereka berbicara hingga hapal dengan nadanya. Hal ini, membuat saya senang dan sedikit iri karena tidak bisa berbahasa seperti itu. Suatu hari, ada salah seseorang teman yang mengajak bergabung untuk mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa. Tanpa pikir panjang, saya langsung menerima ajakan mereka. Teman saya langsung menjelaskan program apa yang dia tawarkan, ternyata tentang pelestarian bahasa daerah. Saya langsung menyambut dengan antusias, karena saya kira itu bahasa yang sering saya dengar biasanya.

Semua proses kami lewati dengan bersungguh-sungguh agar kami bisa lolos dalam kegiatan tersebut. Alhamdulillah tim kami yang bernama “Uluh Tabela Paduli Bahasa Itah“ menjadi salah sa- tu kelompok yang lolos dan dibiayai oleh KEMENRISTEKDIKTI pada tahun 2018. Kami harus melakasanakan program yang telah direncanakan di proposal dengan turun lapangan. Program yang kami usung itu adalah melestarikan lagi bahasa daerah yaitu bahasa Sampit di kalangan anak muda, sasarannya adalah Kampung Bengkirai. Kampung ini dipilih karena masih banyak generasi tua yang menggunakan bahasa Sampit.

(34)

Kata Milenial tentang Bahasa Sampit

Singkat cerita, kami pun turun ke lapangan untuk melakukan sosialisasi. Awalnya, kami mengira jika ayah dan ibunya masih kental menggunakan bahasa daerah seperti bahasa Sampit anaknya pun diajarkan. Ternyata setelah melakukan sosialisasi hampir tidak ada generasi muda di kampung tersebut bisa berbahasa Sampit. Mereka mengatakan jika bahasa daerah itu kampungan dan malu menggunakannya. Saya merasa tertampar, mengingat beberapa tahun lalu memiliki pemikiran yang sama, tidak peduli akan bahasa daerah.

Setelah melakukan sosialisasi kami pun memulai pem- belajaran. Selama proses ini kami juga ikut menjadi peserta, karena diantara kami berempat di tim ini tidak ada yang bisa berbahasa Sampit. Mendengarkan penjelasan demi penjelasan yang disampaikan saya semakin tertarik dengan bahasa yang diajarkan, karena bahasanya berbeda dengan yang sering saya dengar dari teman.

Proses belajar mengajar pun terus berlangsung setiap minggu, dengan frekuensi seminggu sekali. Ketigatan ini membuka wawasan saya, bahwa bahasa Sampit merupakan bahasa yang berbeda dengan bahasa Dayak lainnya serta memiliki ciri khas sendiri. Sejak itu saya jatuh cinta bukan hanya sekedar penasaran saja tapi sudah jatuh cinta. Dari awalnya saya kira bahasa daerah Sampit ini adalah Banjar ternyata memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Sampit. Saya bangga ternyata memiliki identitas yang selama ini tidak saya ketahui. Seperti orang yang tiba-tiba bertemu dengan harta yang selama ini tidak diketahui keberadaannya.

Bahasa daerah merupakan kekayaan yang kita miliki.

Masing-masing daerah mempunyainya, berbanggalah bahwa kita pun memilikinya. Sekarang, bila saya bertemu orang-orang yang berbahasa daerah saya sangat senang mendengarnya. Saya juga bangga karena saya memilki bahasa daerah yang harus dilestarikan.

(35)

Dari sepenggal pengalaman berbahasa Sampit saya di atas semoga ada sisi positif yang dapat saya bagikan untuk teman- teman yang baru belajar berbahasa Sampit. Semoga dengan program Uluh Tabela Paduli Basa Itah mampu membangunkan bahasa Sampit yang mati suri di kalangan milenial. Sekarang juga, untuk menjangkau kaum milenial saya tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa lanjutan, yaitu “Digitalisasi Bahasa Sampit“ yang bergerak di media sosial yang dekat dengan generasi milenial. Baik melalui Instagram, Website, dan kanal Youtube.

Ada beberapa solusi yang dapat saya tawarkan untuk pengembangan berbahasa Sampit selanjutnya, yaitu:

1. Follow up komunitas dengan melakukan pertemuan mingguan untuk belajar bahasa Sampit secara berkelan- jutan;

2. Membuat kawasan wajib berbahasa Sampit di kampus dan institusi pendidikan, dapat dimulai dari STIKIP Muhammadiyah Sampit;

3. Membuat lomba-lomba berkenaan dengan bahasa Sampit;

4. Membuat aturan wajib berbahasa Sampit satu hari dalam seminggu;

5. Melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah-daerah yang masih kental menggunakan bahasa Sampit.

Sebagai Generasi Milenial kita harus menjaga kekayaan daerah kita sendiri salah satunya yaitu bahasa Sampit. Kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau tidak kita siapa lagi?

(36)

Mesranya Berbahasa Sampit

Oleh: Kiki Fatmala

B

ahasa Sampit merupakan salah satu dari keanekaragaman bahasa daerah yang dimiliki oleh negara Indonesia. Bahasa Sampit adalah bahasa yang menjadi pemersatu masyarakat salah satunya di Desa Terantang, Kecamatan Seranau Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Berbicara tentang bahasa Sampit tentunya tidak lepas dari tangan-tangan dingin para pendahulu yang sudah berbicara menggunakan bahasa Sampit dari masa ke masa, begitu kira-kira.

Bahasa Sampit sebenarnya bukan hal asing lagi bagi saya, mengapa? Karena bahasa Sampit sendiri sering terdengar di lingkungan tempat tinggal saya. Saya merupakan putri dari pasangan sejoli yang menikah 22 tahun silam, ayah saya bernama Anang seorang pria yang berasal dari suku Dayak tulen dan ibu bernama Rusmi seorang wanita dari suku Jawa.

Saya dilahirkan di Kota Sampit. Namun, menghabiskan masa kanak-kanak di Desa Terantang tempat asli ayah. Di usia belia 4,5 tahun saya sudah mengenyam pendidikan sekolah dasar tepatnya di SDN 1 Terantang. Semasa tinggal dan bersekolah di sana setiap harinya, bapak/ibu guru dan teman-

(37)

teman sekolah semua berbicara menggunakan bahasa Sampit.

Bukan hanya di sekolah saja tetapi juga ketika di rumah dan bermain, semua berbahasa Sampit.

Hidup di lingkungan desa tentu sangat erat kaitannya dengan bahasa daerah dan adat istiadatnya. Desa Terantang sendiri sangat kental sekali bahasa daerahnya yaitu bahasa Dayak Sampit. Hal itu terlihat jelas pada proses sosialisasi dan interaksi masyarakat setempat. Saya ingat betul ketika berada di Desa Terantang, setiap detik dan menitnya orang-orang berkomunikasi menggunakan bahasa Sampit. Mulai dari lingkungan pendidikan, perdagangan dan lainnya. Ini sudah menjadi sebuah kebiasaan yang melekat pada masyarakat Desa Terantang dari dulu hingga sekarang.

Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi saya dapat hidup berdampingan dengan masyarakat di Desa Terantang, sebelum akhirnya ayah memboyong kami untuk tinggal menetap di Kota Sampit hingga kini. Sesampainya di Kota Sampit, kali pertama saya melihat indahnya kota ini. Dimana pepohonan terhampar menghijau, debu-debu jalanan yang sunyi dan bertambahnya keanekaragaman ras dan suku yang saya ketahui.

Cerita ini berawal ketika ayah memasukkan saya di salah satu sekolah dasar yang ada di Kota Sampit yaitu di SDN 2 Baamang Hilir. Hari pertama sekolah merupakan hari perkenalan diri bagi saya, kalimat pertama yang saya ucapkan kala itu ”Assalamualaikum. kula kiki, kula barasal tumat Terantang” sederhananya “Assalamualaikum. Saya kiki, saya berasal dari Terantang”. Awalnya saya mengira bahwa mereka bisa berbahasa Sampit dan ternyata hanya ada beberapa orang anak yang mengerti bahasa saya. Hal ini tentu menjadi salah satu kesulitan awal yang saya rasakan dikarenakan lidah ini sudah terbiasa berbicara menggunakan bahasa Dayak Sampit.

Tahun demi tahun saya tinggal di Sampit, berteman dengan orang-orang yang berbeda dan tentunya dari ras, suku dan

(38)

Kata Milenial tentang Bahasa Sampit

bahasa yang berbeda pula. Hal ini membuat saya menjadi tahu bahwa ternyata Negara Indonesia itu sangat kaya raya dalam kebninekaanya. Hidup di Kota Sampit sangat berbeda dengan kehidupan di Desa Terantang. Saat itu, di Kota Sampit sendiri sudah mulai banyak bahasa yang digunakan. Hal ini terjadi dalam proses pendidikan, sosialisasi dan interaksi sesama masyarakat yang ada di kota Sampit. Berada di kota Sampit perlahan-lahan membuat saya belajar beberapa bahasa daerah lainnya serta bahasa Indonesia yang baik dan benar ketika berada di masyarakat.

Selama bersekolah di Kota Sampit, pada saat sekolah dasar saya masih menemukan teman-teman yang bisa diajak berbicara berbahasa Sampit. Di jenjang Madrasah Tsanawiyah saya sudah tidak menemukan teman-teman yang bisa diajak berbahasa sampit. Selanjutnya di jenjang Madrasah Aliyah saya juga tidak menemukan teman yang bisa diajak untuk berbicara dengan bahasa Sampit. Akhirnya ketika di jenjang perkuliahan saya menemukan kembali teman-teman yang bisa berbahasa Dayak Sampit. Mereka adalah Kak Gia dan Kak Rahmadi yang ternyata berasal dari Desa Terantang juga. Betapa bahagianya saya waktu itu ketika mengetahui bahwa mereka berdua berasal dari tanah kelahiran ayah. Kami sering bertemu di berbagai kegiatan mahasiswa dan selalu bercerita tentang kehidupan di Desa Terantang. Terlihat dunia ini begitu sempit, dipertemukan dengan orang-orang yang berbicara dengan bahasa yang sama.

Walaupun tinggal di Kota Sampit, saya masih sering mengunjungi Desa Terantang, karena keluarga dari ayah semua masih menetap di sana. Ketika berada di sana saya merasa kembali ke masa kanak-kanak dimana bahasa Dayak Sampit berkumandang dari mulut ke mulut masyarakat setempat.

Jatuh cinta pada bahasa ini, bahasa yang membuat masyarakat di Desa Terantang terlihat begitu mesra.

Saat tinggal di Kota Sampit, apakah saya melupakan bahasa daerah saya? Tentu tidak. Saya dan ayah masih menggunakan

(39)

bahasa Sampit ketika di rumah dan saat pulang kampung ke Desa Terantang. Ingatkah kamu akan pepatah “Pengalaman adalah guru terbaik?” tidak ada pengalaman yang sia-sia. Hal ini berati bahwa kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang terjadi. Dari sepenggal pengalaman berbahasa Sampit saya di atas semoga ada banyak hal yang dapat saya bagikan untuk teman-teman yang baru belajar berbahasa Sampit.

Untuk pengembangan bahasa Sampit sendiri saya sangat berterimakasih kepada kawan-kawan mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sampit melalui Program Kreativitas Maha- siswa (Uluh Tabela Paduli Basa Itah dan Digitalisasi Bahasa Sampit) mampu membangunkan bahasa Sampit yang mati suri di kalangan milenial saat ini.

Ada beberapa solusi yang dapat saya tawarkan untuk pengembangan berbahasa Sampit, yaitu:

1. Mari bentuk sekolah atau komunitas dan adakan pembinaan mingguan berbahasa Sampit yang ber- kelanjutan;

2. STKIP Muhammadiyah Sampit sebagai pelopor kembali, buatlah kawasan wajib berbahasa Dayak Sampit di area lingkungan kampus;

3. Terbitkan tulisan-tulisan berbahasa Sampit;

4. Safari atau study tour mahasiswa ke desa-desa yang masih berbahasa Sampit.

Ayo pemuda-pemudi lestarikan bahasa daerah Sampit, kalau bukan kita siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi! Ela mangaku uluh Sampit, mun bare katawan basa Sampit!1

1 Jangan mengaku Orang Sampit, jika tidak bisa berbahasa Sampit.

(40)

Melestarikan Bahasa Daerah Kewajiban Kita

Oleh: Sonia

P

erkenalkan aran kula Sonia, kula lahir si Desa Tangar, kula sakula si STKIP Muhammadiyah Sampit. Ya, begitulah kira-kira perkenalan singkat saya menggunakan bahasa Sampit.

Saat ini saya sedang duduk dalam keadaan kepanasan di sebuah tempat di Kota Sampit pada hari senin tanggal 20 Mei 2019.

Saya akan bercerita tentang pengalaman saya mengenai bahasa Sampit. Berbicara tentang bahasa Sampit mungkin masih banyak kawula muda yang hanya sekedar tahu tanpa bisa atau mau menggunakan bahasa daerahnya sendiri, sama seperti saya.

Saat kecil saya tinggal di lingkungan yang masih lekat dengan hal-hal yang bersentuhan dengan budaya lokal khususnya bahasa. Namun, seiring berjalanya waktu dan perkembangan zaman membuat apa yang saya temui semasa kecil terkikis dengan hal-hal yang berbau modern termasuk bahasa. Tadinya orang-orang di sekitar saya masih menggunakan bahasa lokal, sekarang berubah dengan menggunakan bahasa-bahasa yang disebut dengan istilah bahasa gaul.

Dalam keluarga kami, baik itu ayah, ibu, abang maupun kakak adalah orang-orang yang masih membudayakan atau

(41)

menggunakan bahasa sampit. Namun berbeda halnya dengan saya, di keluarga hanya saya satu-satunya orang yang tidak bisa menggunakan bahasa daerah saya sendiri. Bukan karena tidak pernah diajarkan namun lingkungan sekitar membawa saya jauh dari budaya. Kemodernan zaman yang kian hari kian berkembang membuat para generasi muda seperti saya lebih mencintai budaya-budaya barat, lebih berkreasi dengan bahasa- bahasa antah berantah sehingga lupa untuk melestarikan budaya dan bahasa daerah sendiri.

Melalui tulisan ini, saya ingin sedikit bercerita tentang bagaimana pengalaman saya hingga bisa menggunakan bahas Sampit. Suatu ketika, saat saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya bertemu dengan mata pelajaran muatan lokal. Pembelajaran dari pelajaran ini menggunakan bahasa daerah. Saat ujian tertulis salah satu soal memerintahkan untuk bercerita tentang keluarga dengan menggunakan bahasa daerah tempat tinggal saat itu. Saya yang biasa menggunakan “bahasa gaul” bingung dan tidak bisa mengerjakan soal tersebut. Alhasil ketika hasil ujian keluar, saya menjadi salah satu anak yang mendapatkan nilai terendah yaitu 45. Bayangkan begitu memalukanya saya sebagai generasi muda yang seharusnya melestarikan, mempertahankan bahasa daerah agar tidak hilang digerogot zaman tetapi malah sebaliknya.

Jika tadi saya menceritakan kejadian memalukan ketika berada di bangku SMP, berbeda halnya saat saya sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Ya, bukan Sekolah Menengah Atas (SMA) karena saya sekolah di sekolah kejuruan (hehe… sudah tidak penting). Baiklah akan saya lanjutkan.

Jika saat di SMP permasalahan saya dengan ujian, namun saat sudah menginjak remaja menjelang dewasa, berkaitan dengan ibu saya. Saat itu saya sedang berada di dapur bersama ibu yang sedang memasak. Ya… biasalah ibu-ibu sambil ngomel-ngomel,

(42)

Kata Milenial tentang Bahasa Sampit

tiba-tiba dengan menggunakan bahasa Sampit berkata “bare mahamen lah nak2”. Saya pelanga-plongo tidak mengerti.

“Duan am danum si balikat mu te…” Ibu saya kembali berbicara.

Saya hanya diam sampai akhirnya ibu berteriak “dengar ngga?”

“Ha?? Apa” Ujarku menimpali.

“Ya Allah, Ambilkan Ibu air yang ada di belakangmu itu lo…” akhirnya nada bicara ibu sedikit lebih meninggi.

“Ngomong pake bahasa itu sih ya mana ngerti..” langsung saya jawab seperti ini. Saya ingat sekali setelah saya berbicara seperti itu…

“Ini kesalahan sejak kecil anak tidak dibiasakan meng- gunakan bahasa daerah akhirnya ketika diajak berbicara dia cuman planga-plongo. Benar kata Bu Fani anak itu harus dibiasakan dari kecil berbahasa daerah, untuk bahasa Indonesia dan sebagainya dia bisa saja mengikuti teman-temanya di sekolah.” Ibuku ngomel-ngomel. Saat dengar ibu berbicara seperti itu rasanya seperti mendengarkan nyanyian dengan music rock, Pusiiing...

Tentang Bu Fani, beliau adalah guru SD yang mengajarkan tentang bahasa daerah. Saya merasa beruntung ia tidak membocorkan buruknya nilai pelajaran muatan lokal saya kepada ibu, hehe.

Semenjak kejadian hari itu, ibu berkomunikasi dengan saya menggunakan bahasa Sampit. Tidak hanya itu, ia juga mengajak serta ayah dan saudara-saudara untuk melakukan hal yang sama. Hingga pada akhirnya saya bisa berbicara bahasa Sampit karena bahasa sehari-hari yang saya gunakan diganti dengan menggunakan bahasa Sampit.

Dari cerita saya di atas dapat disimpulkan bahwasa bahasa daerah masih digunakan menjadi bahasa sehari-hari

2 Jangan malu ya nak.

(43)

masyarakat namun yang menggunakan bahasa daerah adalah orang-orang dewasa yang sudah lanjut usia. Solusi untuk hal ini adalah dengan cara menggunkan bahasa daerah dalam keseharian. Terlebih, terutama dan terkhusus untuk kaum muda. Menurut saya, ini merupakan cara yang paling efektif untuk melestarikan bahasa daerah

Semoga para generasi muda mencintai kembali bahasa daerah dan bangga ketika berbicara dengan menggunakan bahasa daerahnya. Bahasa daerah menunjukan keberadaban masyarakat dan merupakan warisan atau aset yang sangat berharga, tidak ternilai harganya. Anak-anak muda Sampit lestarikan bahasa daerah kita agar terus terjaga karena

“menggunakan bahasa merupakan hak asasi manusia, tetapi melestarikan bahasa daerah adalah tanggung jawab setiap bangsa.” (Kompasiana_Beyond Blogging).”

(44)

Bahasa Daerah yang Pudar di Kalangan Milenial

Oleh: Nurfitria Sari

S

eiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan IPTEK membuat generasi muda yang disebut dengan generasi milenial banyak mengalami perubahan gaya hidup termasuk cara berkomunikasi. Bahasa daerah yang harusnya menjadi bahasa sehari-hari, kini sudah jarang digunakan terutama di kalangan para milenial. Bahkan mirisnya banyak generasi milenial tidak tahu dan tidak dapat membedakan bahasa daerah sendiri dan bahasa daerah orang lain.

Hal ini tak jauh berbeda dengan pengalaman pribadi saya. Saya lahir dan besar di Kota Sampit, namun tak berarti saya fasih berbahasa sampit. Saya sendiri merupakan anak keturunan Jawa, jadi tentu bahasa yang pertama kali saya tahu ialah bahasa orang tua saya yaitu bahasa Jawa. Ketika saya mulai bersekolah, saya banyak mengenal teman dari berbagai daerah.

Akan tetapi kebanyakan dari mereka juga berdomisili dan lahir di Sampit. Bahasa sehari-hari yang sering kami gunakan ialah bahasa Banjar. Dulu saat saya di bangku sekolah dasar tepatnya saat berada di kelas satu, saya pernah mempelajari bahasa Dayak Ngaju, tapi tidak berlangsung lama. Ketika sudah naik

(45)

ke kelas dua pelajaran bahasa Dayak Ngaju tersebut sudah tidak lagi dipelajari dan digantikan oleh mata pelajaran seni lainnya.

Menurut saya pribadi ada beberapa faktor yang meyebabkan generasi milenial kurang atau bahkan tidak menguasai bahasa Sampit, diantaranya adalah faktor lingkungan, kurikulum pendidikan, kesadaran dari para generasi muda atau milenial sendiri serta globalisasi.

1. Faktor lingkungan

Lingkungan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam perkembangan bahasa daerah termasuk bahasa Sampit. Terutama lingkungan keluarga yaitu orang tua. Sadar atau tidak orang tua zaman sekarang sudah sangat sedikit yang mengajarkan pada anaknya bahasa daerah dari kota kelahirannya, terutama yang tinggal di perkotaan. Selama ini saya pribadi dan generasi milenial lain yang ada di Sampit, sudah terbiasa dengan bahasa Banjar-Sampit.

Bahasa ini sering didengar dan dilontarkan baik itu di lingkungan rumah ataupun sekolah. Sehingga banyak yang salah kaprah beranggapan bahwa bahasa Banjar yang sering diucapkan sehari-hari itulah yang merupakan bahasa Sampit. Selain itu, sejauh yang saya tahu kebanyakan orang tua saat ini juga sudah jarang dalam menggunakan bahasa Sampit sebagai bahasa primer ketika berkomunikasi di rumah. Mereka lebih cenderung menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa Banjar yang umumnya diucapkan oleh masyarakat Sampit. Walaupun masih ada sebagian masyarakat yang juga menggunakan bahasa Dayak Ngaju dalam berkomunikasi. Pada awalnya saya pun berpikir bahwa bahasa Dayak Ngaju merupakan bahasa Dayak yang sama dengan bahasa Dayak Sampit. Akan tetapi setelah saya pelajari dan tanya pada teman-teman yang tahu, ternyata ada sedikit perbedaan antara bahasa

(46)

Kata Milenial tentang Bahasa Sampit

Dayak Ngaju dengan bahasa Dayak Sampit. Mulai dari intonasi pengucapannya serta beberapa kosa kata bahasanya.

2. Kurikulum pendidikan

Menurut saya pribadi, kurikulum pendidikan sekarang memang lebih mengutamakan para siswanya untuk lebih pandai dalam menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam berkomunikasi.

Tetapi kurang mendukung bahasa daerah. Hal ini benar untuk menunjang pendidikan ke depannya.

Sayangnya kurikulum pendidikan yang diterapkan zaman sekarang tidak lagi mengajarkan mata pelajaran bahasa daerah terutama bahasa Dayak Sampit. Maka tak heran membuat masyarakat khususnya generasi milenial banyak yang tidak tahu, atau bahkan yang tahupun jadi melupakannya. Ini diakibatkan dari kurangnya penerapan dan penekanan pelajaran bahasa daerah di sekolah. Berdasarkan pengalaman saya saat sekolah, bahasa Dayak Sampit itu sendiri belum pernah diajarkan. Sehingga tidak heran jika sekarang banyak anak muda atau generasi milenial kurang mengetahui bahasa daerah yang berasal dari kota kelahirannya sendiri.

3. Kesadaran dari generasi muda (milenial)

Saat ini kesadaran generasi muda dalam melestari- kan bahasanya sendiri sangat minim, telebih bahasa Dayak Sampit tak lagi banyak digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari oleh kaum milenial. Banyak dari kaum milenial yang cenderung menggunakan bahasa-bahasa gaul serta bahasa daerah yang lain.

Sehingga mengesampingkan bahasa daerahnya.

Kesadaran generasi milenial dalam melestarikan bahasa Sampit, perlu ditumbuhkan kembali, agar timbul rasa cintanya pada bahasa daerah sendiri.

(47)

4. Globalisasi

Banyaknya budaya-budaya asing yang masuk ke Indonesia khususnya pada kalangan milenial mengakibatkan terjadinya pertarungan antara budaya lokal dan global termasuk bahasa. Anak muda zaman sekarang merasa jauh lebih keren dan bangga ketika dapat mengucapkan dan menguasai bahasa asing ketimbang bahasa daerahnya sendiri. Tak dapat dipungkiri, bahwa memang bahasa asing telah ada di Indonesia sejak zaman kolonial. Kemudian semakin berkembang lebih pesat lagi sejak adanya globalisasi dan modernasasi. Masyarakat dituntut untuk bisa menguasai bahasa asing agar dapat bersaing di dunia internasional. Pada dasarnya penguasaan bahasa asing baik jika digunakan untuk mengharumkan nama bangsa. Akan tetapi menjadi tidak baik jika pandai berbahasa asing namun mengacuhkan dan melupakan bahasa daerahnya sendiri.

Terlepas dari banyaknya faktor yang menyebabkan kurang berkembangnya bahasa Sampit di kalangan milenial. Saya sangat mendukung dan mengapresiasi adanya progam yang dilakukan oleh teman-teman saya, yaitu progam peduli basa itah dan digitalisasi bahasa Sampit. Dengan adanya progam ini sedikit banyak telah membantu masyarakat terutama generasi milenial dalam mempelajari bahasa Sampit. Sebelumnya banyak yang salah kaprah tentang bahasa Sampit dengan bahasa Dayak Ngaju dan bahasa Banjar. Diharapkan melalui progam ini masyarakat Sampit dapat kembali mengetahui serta mempelajari bahasa Sampit yang memang seharusnya dapat terus dilestarikan sebagai warisan budaya.

(48)

Asli Sampit tapi Menggunakan Bahasa Banjar, Kok Bisa?

Oleh: Julita Sari

D

ua puluh dua tahun tahun saya lahir dan dibesarkan oleh kedua orang tua yang tinggal di Kabupaten KotawaringinTimur. Dalam kehidupan sehari-hari saya menggunakan bahasa yang saya serap dari orang tua yaitu bahasa Banjar. Begitupun di lingkungan saya tinggal maupun di sekolah, semua menggunakan bahasa Banjar. Akan tetapi, kedua orang tua saya dengan kerabatnya menggunakan bahasa Dayak Sampit. Tidak hanya kerabat dengan tetangga yang mengerti bahasa Sampit pun mereka menggunakan bahasa tersebut. Sedikit banyak saya mulai menyerap apa yang orang tua saya bicarakan kepada orang lain menggunakan bahasa Sampit. Walaupun begitu, saya hanya menyerap bukan menggunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Saat usia 18 tahun saya berkuliah di Palangka Raya, kota tersebut merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah.

Sebagian besar masyarakatnya menggunakan bahasa Dayak Ngaju. Setelah saya berkuliah 3,5 tahun, saya baru menyadari bahwa saya orang Sampit tapi tidak menguasai bahasa Sampit. Kesadaran ini berawal dari bertemu dengan teman

(49)

dari berbagai daerah di Kalimantan Tengah. Mereka dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa Dayak yang berasal dari daerah mereka. Suku Dayak sendiri memiliki 100- an lebih jenis bahasa. Dari situlah saya memiliki kesadaran untuk mulai memperkenalkan bahasa Dayak Sampit kepada teman-teman di kampus.

Saya masih penasaran, mengapa orang Kalimantan Tengah menggunakan bahasa Banjar sebagai pengantar komunikasi.

Tidak hanya suku Dayak tetapi suku lainnya. Begitu juga dengan mereka yang 5-6 tahun tinggal di Kalimantan menggunakan bahasa Banjar, jika berkomunikasi dengan orang Dayak.

Kenapa tidak menggunakan bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa pengantar? Saya menemukan fakta yang mengejutkan, bahasa Banjar yang berasal dari Kalimantan Selatan tidak hanya tersebar di Kalimantan Tengah akan tetapi tersebar hampir di seluruh Indonesia. Salah satu faktornya adalah zaman dahulu bahasa Melayu merupakan bahasa nasional dimana ciri khas dari bahasa Melayu itu mirip dengan bahasa Banjar.

Pedagang Banjar di Kalimantan Tengah melakukan jual beli menggunakan bahasa Banjar mereka tersebar merata di seluruh penjuru Kalimantan.

Suatu hari saya memberanikan diri untuk bertanya kepada orang tua saya, kenapa sedari kecil diajarkan bahasa Banjar kenapa tidak menggunakan bahasa Sampit? Orang tua saya menjawab dengan santai, karena ayah saya bukan asli Sampit melainkan campuran dari suku Banjar dan bahasa yang mereka gunakan dengan kerabat tidak murni bahasa Sampit melainkan bahasa Kahayan. Setelah saya mendengar pernyataan seperti itu, ternyata selama ini orang tua saya tidak menggunakan bahasa Sampit dengan baik. Selama ini saya menggunakan bahasa Sampit campuran Dayak Kahayan. Dari Wikipedia saya ketahui bahwa Bahasa Sampit atau bahasa Mentaya Tengah adalah sebuah bahasa Dayak yang dituturkan di Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Baamang, Seranau, Kota Besi dan

(50)

Kata Milenial tentang Bahasa Sampit

Cempaga Kabupaten Kotawaringin Timur provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia. Bahasa Sampit salah satu dari 9 bahasa dominan yang terdapat di Kalimantan Tengah. Terdapat sedikit perbedaan dengan bahasa Dayak Ngaju, seperti penyebutan kata saya kepada orang tua, karena bahasa Sampit adalah bahasa keratonnya Dayak Ngaju.

Saya kecewa dengan diri saya kenapa saya tidak dilahirkan oleh orang yang berbahasa Sampit? Namun, akhirnya saya menyadari bahwa semua sudah rencana Tuhan. Mungkin ini cara saya untuk lebih giat belajar bahasa Sampit salah satunya melalui program “Digitalisasi Bahasa Sampit” dan komunitas “Paduli Basa Itah”. Saya berharap bisa bergabung dan berkontribusi dengan komunitas yang perduli dengan bahasa daerahnya.

Segala sesuatu di dunia memerlukan komunikasi, baik manusia dan manusia, juga dengan Tuhan. Berkomunikasi memerlukan sebuah pengantar, diantaranya adalah dengan bahasa. Program mahasiswa Digitalisasi Bahasa Sampit menyadarkan saya bahwa penting untuk melestarikan bahasa di Bumi Habaring Hurung yaitu bahasa Sampit. Dengan menguasai bahasa Sampit berarti kita menjaga aset daerah dan bangga menjadi putra dan putri daerah Kabupaten Kotawaringin Timur.

Saya berharap Digitalisasi Bahasa Sampit dapat menjaring semua kalangan, agar sadar berbahasa daerah. Tidak hanya kaum milenial tetapi juga kaum lainnya. Tidak berhenti untuk menebar semangat berbahasa daerah Sampit di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat, sehingga bahasa daerah tidak lekang oleh zaman. Jangan lupa menggunakan bahasa daerah Sampit, karena kita adalah generasi muda yang harus menjaga kelestarian budaya termasuk bahasa.

(51)
(52)

Hilangnya Bahasa Ibu

yang Sirna di Makan Waktu

Oleh: Anas Wahid Maulana

B

angsa Indonesia memiliki beraneka ragam perbedaan seperti suku, ras, agama, adat istiadat, dan bahasa pengantar tiap daerah. Perbedaan tersebut bukan hanya sebagai pemisah, tetapi harus dipandang sebagai kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Keanekaragaman yang ada merupakan sebuah cerminan identitas budaya yang beraneka ragam dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bangsa Indonesia merupakan sebuah bangsa yang berdaulat. Kebhinekaan yang ada menjadikannya sebagai negara yang heterogen namun tetap memiliki tekad membangun masa depan bersama untuk mewujudkan cita-cita menuju masyarakat yang berbudaya, berbahasa, beraneka dan bersatu menuju masyarakat yang makmur dan sejahtera.

Bahasa Ibu yang lebih dikenal dengan bahasa daerah lahir di muka bumi sebagai wujud simbolis sebuah bangsa hadir dalam retorika kehidupan sebagai perwujudan pengenal sebuah identitas bangsa. Identitas budaya yang hadir melalui bahasa daerah memberikan warna dalam kehidupan masyarakat. Warna itulah yang hadir memberikan kejelasan

(53)

dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Ingat bahasa Indonesia hadir sebagai pemersatu budaya dan bahasa dari masing-masing daerah bukan sebagai penghancur bahasa daerah. Identitas merupakan sebuah jati diri, apabila suatu daerah hilang identitasnya maka sudah dipastikan kebudayaanya juga akan hilang. Bahasa Ibu lahir dengan harapan sebagai perwujudan identitas budaya suatu suku dan budaya tertentu di Indonesia memberikan secercah harapan sebagai penyambung lidah dalam melestarikan budaya daerah di Indonesia.

Keberadaan bahasa merupakan sebuah perjalanan panjang dalam kehidupan sebuah bangsa dan budaya. Setiap daerah memiliki kebudayaan dan bahasa daerah sendiri yang layak untuk dipertahankan. Ketika kita masuk dalam era globalisasi seperti saat ini, lawan kita bukan hanya penjajah namun bisa jadi bangsa kita sendiri. Padahal Indonesia memiliki beraneka ragam budaya harus tetap bisa terjaga persatuannya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa para pahlawannya namun bangsa yang makmur dan sejahtera adalah bangsa yang bisa menjaga kearifan budaya lokal yang dimilikinya. Jadi sangat disayangkan apabila kita sebagai generasi muda tidak menjaga dan melestarikan budaya yang sudah ditinggalkan kepada kita. Yuk, tunggu apa lagi kalo bukan sekarang kapan lagi? Kalo bukan kita siapa lagi?

Bahasa Sampit Dengan Ceritanya

Sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Kalimantan Tengah itu bernama Kotawaringin Timur dengan ibukota Sampit. Ia memiliki beraneka ragam budaya dan adat istidat.

Salah satunya adalah bahasa daerah yang dikenal dengan bahasa Sampit. Namun seiring dengan berjalannya waktu, bahasa Sampit seakan sirna ditelan waktu. Dulu kita bisa dan

(54)

Kata Milenial tentang Bahasa Sampit

sering mendengar bahasa Sampit di setiap sudut Kota Sampit dengan logat khasnya. Namun sekarang, untuk menemukan orang yang berbicara menggunakan bahasa Sampit sangat jarang. Malah anak-anak muda terkesan acuh, cuek, dan tidak perduli terhadap bahasa daerah mereka sendiri. Seandainya mereka tahu bahwa bahasa ibu yang mereka hilangkan itu membuat identitas budaya daerah sendiri yang hilang.

Apakah durhaka seorang anak yang menghilangkan bahasa ibu mereka sendiri? Kemanakah identitas budaya bahasaku pergi? Kemanakah aku harus mencari orang-orang yang perduli dengan identitas budaya bahasa Sampit? Dimana jati diriku ketika identitas bahasaku sendiri hilang? Apa yang nantinya aku wariskan kepada generasi selanjutnya? Apa ini yang dikatakan generasi milenial yang lekat dengan teknologi namun menghilangkan identitas budaya masing-masing daerah?

Seketika pikiranku menjadi kacau dengan semua ini, namun aku merasa yakin bahwa tidak semua anak muda seperti itu. Pasti ada beberapa orang yang berpikiran sama denganku memiliki satu tujuan, satu impian dan satu keinginan membangun identitas budaya daerahku. Ternyata keyakinanku benar, masih ada sejumlah anak muda yang peduli dengan identitasnya. Bahkan mereka membawa isu ini sampai ke tingkat nasional, sehingga masyarakat daerah lain tahu bahwa kami bangga dengan identitas budaya daerah kami, yaitu bahasa Sampit. Aku tersenyum dan bangga. Bahasa Sampit lahir dari jati diri budaya daerah kami, dengan ceritanya dari masa ke masa memberi kami sebuah bimbingan bahwa budaya terlahir dari kebiasaan masyarakat yang akhirnya membumi dan mendarah daging kepada masyarakatnya. Pada dasarnya budaya daerah tidak akan pernah punah karena sejatinya ia sudah menjadi jati diri masyarakatnya. Budaya tersebut hanya akan hilang apabila kita tidak menerimanya. Maka timbulah penolakan budaya yang akhirnya tidak tersampaikan ke generasi selanjutnya.

(55)

Kita tidak bisa melihat permasalahan ini dari satu sudut pandang saja. Harus kita lihat dari berbagai sudut pandang karena setiap orang memiliki kacamatanya masing-masing yang memberikan pandangan yang berbeda. Peranan bahasa daerah sebagai pemersatu intra-etnis dalam sebuah suku, mempererat keakraban serta sebagai identitas, ciri khas, alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari harus kita bangkitkan kembali agar tidak hilang dimakan waktu.

Ini Aksiku, Mana Aksimu?

Budaya akan hilang apabila kita tidak turut serta dan peduli untuk melestarikan budaya yang kita miliki. Hitung saja berapa jumlah penutur bahasa Sampit sekarang? mereka makin terkikiskan seiring dengan berjalannya waktu. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk ikut berperan agar bahasa sampit populer lagi di kalangan pemuda? Bukankah anak muda dikatakan sebagai agent of change? Tentunya kita juga harus memberikan kontribusi dan solusi untuk masalah ini.

Ini bukanlah tanggung jawab pemerintah, masyarakat, atau lembaga budaya saja namun ini semua tanggung jawab kita semua.

Pemerintah sendiri telah berusaha melestarikan budaya bahasa Sampit melalui pelajaran muatan lokal di pendidikan sekolah dasar. Perlahan tapi pasti paling tidak adik-adik di sekolah dasar mendapatkan pelajaran muatan lokal tentang budaya daerahnya sendiri seperti bahasa daerah. Keluarga juga memiliki peran yang besar terhadap generasi muda. Apabila orang tua membiasakan dirinya menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari di rumah tentunya si anak sedikit demi sedikit akan memahami bahasa daerahnya. Namun yang terjadi sekarang tidak sesuai dengan harapan. Bahkan ada orang tuanya sendiri yang tidak memahami bahasa daerahnya.

Putusnya rantai regenerasi budaya daerah memberikan

(56)

Kata Milenial tentang Bahasa Sampit

dampak yang cukup besar. Menjadi tugas kita bersama untuk menyambungkan rantai tersebut.

Pernah terlintas di pikiran saya kalo ada kampung Inggris, mengapa tidak ada kampung budaya daerah yang khusus menggunakan bahasa budaya daerah setempat? Lalu kalo ada hari khusus menggunakan batik sebagai wujud cinta akan budaya, mengapa tidak ada hari khusus menggunakan budaya bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari? Mungkin ini sulit untuk dilakukan tetapi setiap ada kemauan, pasti ada jalan untuk memudahkannya. Mulailah dari diri anda pribadi karena sebuah aksi tanpa tindakan hanyalah omong kosong belaka. Pertanyaan saya di atas mungkin bisa menjadi renungan kita bersama bahwa pergerakan tidak hanya dimulai dari hal besar namun mulailah dari hal kecil tapi berkelanjutan sehingga memberikan dampak nyata. Satu pesan dari saya, “Indonesia bukan hanya tentang aku, kamu, atau mereka tetapi tentang kita”.

(57)
(58)

Peningkatan Berbahasa Sampit Untuk Anak Muda

Oleh: Rizki Amaliyah

B

ahasa Sampit yang dulunya banyak digunakan masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, terancam dilupakan karena makin jarang digunakan, terlebih oleh kalangan remaja sebagai generasi penerus. Remaja se- karang, khususnya yang memang orangtuanya suku Dayak dan berbahasa Sampit hanya sebagian saja yang masih menggunakan bahasa Sampit. Apalagi kalangan pelajar, mereka lebih kenal dan paham bahasa Banjar, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

Padahal seperti beberapa daerah di Kalimantan Tengah, Sampit juga memiliki bahasa sendiri. Banyak orang menyebut bahasa Sampit merupakan sub bahasa Dayak yang sudah mengalami perpaduan dengan bahasa Banjar dari Kalimantan Selatan. Ada diksi-diksi yang sama, namun ada pula yang berbeda. Hanya sebagian remaja atau anak muda zaman yang menggunakan bahasa Sampit, itupun bercampur dengan bahasa Indonesia (tidak asli bahasa Sampit). Contohnya “kada papa am aku…”

atau “jangan seperti itu kamu”. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Ini terjadi karena mereka biasanya terpengaruh atau terbawa oleh bahasa tempat mereka sedang menuntut ilmu

(59)

atau berkuliah di daerah lainnya. Misalnya seseorang yang kuliah di Kota Palangka Raya yang mayoritas masyarakatnya banyak menggunakan bahasa Dayak Ngaju atau bahasa Banjar campuran.

Fakta di lapangan menunjukan bahwa kebanyakan orang tua di Kota Sampit tidak menggunkana bahasa Sampit sebagai pengantar komunikasi dengan anak-anaknya. Sehingga banyak anak muda yang tidak bisa berbahasa Sampit. Hanya para orang tua yang menggunakan bahasa tersebut. Hanya sebagaian daerah saja yang anak mudanya masih menggunakan bahasa Dayak Sampit. Salah satunya di daerah Tanjung Jariangau.

Bahasa Dayak Sampit berbeda dengan bahasa dayak daerah lainnya, terutama dalam pengucapakan kata ganti. Ada perbedaan kata ganti antara lawan bicara yang lebih tua atau sederajat.

Contohnya:

Handak kakueh dika: Mau kemana kamu Salamat sunsung andau: Selamat pagi

Salamat hasupa, hasundau hindai: Selamat berjumpa lagi Saya sendiri kurang fasih berbahasa Dayak Sampit karena saya lahir di daerah Bagendang Hilir. Walaupun demikian, saya memahami sedikit bahasa Sampit karena orang tua saya berbahasa Dayak Sampit campuran. Orang tua saya sendiri berasal dari Bagendang Hilir (Kecamatan Mentaya Hulu Utara) sedangkan ibu dari Kuala Kapuas yang menggunakan bahasa Dayak Ngaju.

Saya berharap, remaja atau pemuda sekarang mau belajar bahasa Sampit. Bahasa daerah harus dilestarikan. Tanggung jawab pelestarian ada di pundak anak muda. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjadi penerus bahasa Sampit, karena generasi akan terus berganti.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini akan dilakukan di beberapa lokasi dikelurahan kota Gorontalo,Kabuapten Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango.Dilokasi ini akan diambil beberapa

A. Berdasarkan karakteristik demografis di atas karakteristik negara berkembang sesuai angka.... Jarak kedua kota tersebut adalah 50km. Jika antara kedua kota tersebut

Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa selain kepercayaan, kepuasan juga merupakan factor penting dalam menentukan apakah konsumen akan

Setelah semua Anggota KPPS, saksi pasangan calon, dan pemilih dari TPS lain memberikan suaranya, Ketua KPPS mengumumkan kepada yang hadir di TPS bahwa acara

Sistem EBF dapat menggabungkan masing-masing keuntungan dari kedua sistem struktur tersebut, serta memperkecil kelemahan yang dimilikinya. Secara spesifik EBF mempunyai

Posisikan saklar pada posisi OFF, periksa dengan multitester maka seluruh kabel untuk saklar lampu kepala/lampu besar tidak ada yang berhubungan. Posisikan saklar di posis 1

1) Refluks, adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstandengan

22 Kepercayaan orang tua terhadap saya membuat saya selalu berusaha untuk memberikan hasil belajar matematika yang baik. 23 Bila saya kelihatan capek orang tua menyuruh