• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konservasi Bahasa Melalui Program Kreativitas Mahasiswa

Dalam dokumen Kata Milenial Tentang Bahasa Sampit (Halaman 114-122)

Oleh: Gita Anggraini

Masalah Klasik Sebuah Program

Isu kepunahan bahasa daerah di Indonesia saat ini menjadi salah satu isu penting yang sedang banyak diperbincangkan.

Konservasi bahasa daerah bahkan menjadi salah satu program kerja prioritas Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) Republik Indonesia. Pada kongres bahasa Indonesia tahun 2018, revitalisasi bahasa daerah adalah salah satu tema yang diangkat badan bahasa. Dengan tagline, “utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing” badan bahasa mendorong agar setiap orang menyadari pentingnya kesadaran mempertahankan bahasa daerah.

Bahasa Dayak Sampit merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia yang statusnya saat ini terancam. Jika menggunakan tipologi yang dikemukakan Krauss (1992), bahasa Dayak Sampit dapat dikategorikan dalam endangered languages (bahasa-bahasa yang terancam punah). Krauss menyebutnya juga dengan bahasa yang tidak bugar, dengan ciri:

hanya digunakan oleh penutur yang berusia 25 tahun ke atas.

Sedangkan penutur yang berusia 25 tahun ke bawah tidak lagi menggunakannya secara aktif.

Jika menggunakan tipologi Krauss untuk melihat kondisi bahasa Sampit, maka menjadi “lampu kuning” untuk kita semua. Di daerah-daerah yang masih menuturkan bahasa Sampit (Mentaya Seberang, sebagian Kecamatan Baamang, Kecamatan Kota Besi dan Cempaga) sebenarnya masih banyak anak muda di bawah 25 tahun yang bisa berbahasa Sampit namun tidak aktif. Mereka menggunakan bahasa Sampit hanya ketika berbicara dengan yang orang lebih tua, sedangkan dengan lawan bicara seumuran atau yang lebih muda menggunakan bahasa lainnya. Di dalam Kota Sampit sendiri, sudah sangat jarang mendengar bahasa Sampit dituturkan.

Krauss mengasumsikan, jika tidak ada gerakan penyadaran maka dalam 50 tahun ke depan bahasa ini akan masuk ke level moribund languages (bahasa-bahasa yang punah).

Sebenarnya kondisi ini sudah disadari oleh banyak pihak di Sampit, terutama para tokoh dan budayawan Sampit. Program pelatihan, pembuatan buku pelajaran, dan diskusi bahasa Sampit pernah digelar. Bahkan beberapa tahun lalu sempat ada gerakan pengumpulan kosa kata untuk pembuatan kamus besar bahasa Sampit. Sejumlah tokoh di Sampit juga cukup getol menyuarakan kondisi bahasa Sampit. Salah satunya adalah Ibu Rusnilawati (bahkan penulis mengenal bahasa Sampit dari tokoh ini). Ia cukup sering menyuarakan Bahasa Sampit dalam berbagai forum penting di Kabupaten Kotawaringin Timur yang dihadiri oleh para elit dan pemangku kebijakan. Tak ketinggalan sejumlah organisasi pernah menggelar pelatihan bahasa Sampit, salah satu yang penulis tahu adalah DPD KNPI Kotawaringin Timur.

Namun program-program tersebut belum mampu mem-bangkitkan pamor bahasa Sampit. Bukan saja karena jangkauan program yang tidak luas dan kurang diminati, namun juga dilaksanakan sekilas saja dan tidak masif menjadi bahan

Kata Milenial tentang Bahasa Sampit

evaluasi. Alasan kemudian yang muncul adalah masalah klasik untuk sebuah program, yaitu minimnya pendanaan. Tidak ada alokasi khusus dari daerah untuk program penting ini. Sehingga secara perlahan namun pasti cerita program-program tersebut tenggelam, bersama dengan redupnya semangat para tokoh dan penggiatnya.

Sampit sendiri sebenarnya memiliki sebuah lembaga yang bertujuan untuk menjaga eksistensi budaya Sampit. Lembaga Adat dan Budaya Sampit yang diisi oleh beberapa tokoh penting di Kotawaringin Timur. Salah satu program kerja lembaga ini sebenarnya adalah pelestarian bahasa Sampit. Sayangnya organisasi ini sekarang tidak berjalan dengan baik, sehingga sejumlah program kerja tidak dapat dilaksanakan. Termasuk program pelestarian bahasa Sampit.

Minimnya suntikan dana menjadi salah satu penyebab utama mandegnya roda organisasi. Ditambah dengan para pengurus yang sudah tidak lengkap, dan tidak muda lagi. Dana yang minim ditambah Sumber Daya Manusia (SDM) yang terbatas adalah kombinasi yang mematikan (dalam konotasi yang kurang baik) bagi sebuah organisasi. Sehingga, lagi-lagi upaya pelestarian bahasa Sampit hanya menjadi sebuah wacana.

Perguruan Tinggi bisa apa?

Suatu hari dalam sebuah acara diskusi pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Kotawaringin Timur, penulis berkesempatan mendengarkan pemikiran Ibu Rusnilawati.

Sebagai ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Baamang, ia hadir mendampingi Camat Baamang. Dalam salah satu sesi, penulis begitu terpesona melihatnya begitu fasih memaparkan tentang potensi pariwisata yang ada di Kecamatan Baamang.

Potensi alam dan budaya yang dimiliki, menurutnya merupakan kekuatan besar untuk pengembangan sektor pariwisata. Ia juga menyinggung tentang bahasa Sampit yang sudah jarang

dituturkan, namun masih cukup banyak penuturnya di Baamang. Baamang Tengah, Baamang Hulu, Tanah Mas dan Tinduk adalah daerah-daerah yang masih menggunakan bahasa ini. Penulis yang sudah lama tertarik dengan bahasa daerah begitu antusias. Sehingga dalam beberapa kesempatan ketika bertemu, kami selalu berdiskusi tentang isu bahasa Sampit.

Dari diskusi didapatkan beberapa poin penting yang penulis tangkap tentang kondisi bahasa Sampit, yaitu: Pertama, bukan tidak ada usaha untuk pelestarian, ada namun tidak masif.

Kedua, butuh dana dan dukungan pemerintah yang besar.

Ketiga, perlu sumber daya manusia yang mau menggerakan program secara berkelanjutan. Keempat, diperlukan peraturan daerah (PERDA) yang mengikat untuk memasukan bahasa Sampit dalam kurikulum muatan lokal, bahasa wajib para pegawai negeri pada hari tertentu, atau program-program konservasi lainnya. Peraturan daerah juga sangat diperlukan agar bisa mengalokasikan dana untuk program-program tersebut.

Di hari-hari berikutnya, penulis berkesempatan berdiskusi dengan Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah Kab.

Kotawaringin Timur, Dadang H. Samsu. Salah satu yang menjadi pertimbangan pembentukan peraturan daerah adalah masukan dan usulan dari masyarakat bahwa peraturan tersebut benar-benar diperlukan. Perlu landasan yang kuat dalam pembetukan peraturan. Bukan sekedar “katanya…” atau retorika saja, setidaknya ada kajian akademik yang menguatkan usulan tersebut. Begitu juga dengan keinginan agar ada PERDA tentang upaya konservasi bahasa Sampit. Dari sini penulis menyadari civitas akademika perguruan tinggi harusnya dapat berbuat sesuatu.

Perguruan tinggi bisa menjadi jembatan dari permasalahan ini. Selain karena mengemban tri dharma, perguruan tinggi juga mempunyai sumber daya manusia yang diperlukan. Ia mempunyai tenaga peneliti yang bernama dosen serta

anak-Kata Milenial tentang Bahasa Sampit

anak muda yang memiliki idealisme dan kreativas tinggi yang bergelar mahasiswa. Perguruan tinggi bisa menjadi pendorong pembentukan peraturan daerah melalui sumbangan kajian akademik. Bisa menjadi motor gerakan konservasi melalui para anak muda yang masih memiliki tenaga yang powerful.

Akhirnya setelah melalui beberapa proses, pada tahun 2018 sebuah upaya awal konservasi dimulai melalui program kreativitas mahasiswa. Penulis sendiri menjadi pendamping mahasiswa dalam menjalankan program ini.

Konservasi Bahasa Sampit Melalui Program Kreativitas Mahasiswa

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) adalah salah satu pro-gram istimewa yang dimiliki oleh Kementeraian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (KEMENRISTEKDIKTI). Istimewa karena tidak semua perguruan tinggi bisa meng ikuti nya, hanya perguruan tinggi di bawah naungan KEMERNRISTEKDIKTI saja. Salah satu program kemahasiswaan bergengsi dan banyak diminati oleh mahasiswa di Indonesia. Tahun 2019 saja, ada 45 ribu proposal program yang diusulkan. Seleksi ketat dan berjenjang diterapkan pada sebuah proposal untuk sampai pada status didanai. Maka tidak heran, banyak karya hebat yang mampu memberikan perubahan di masyarakat lahir dari program ini.

Sejak tahun 2017, STKIP Muhammadiyah Sampit mulai mengikuti dan lolos PKM. Tahun pertama, berhasil meloloskan satu tim pada bidang kewirausahaan. Selanjutnya pada tahun 2018 satu tim kembali lolos pada bidang pengabdian masyarakat. Sedangkan pada tahun 2019, ada empat tim yang lolos (tiga di bidang pengabdian masyarakat dan satu bidang penelitian sosial humaniora). Melalui program kreativitas mahasiswa inilah, para mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sampit ikut ambil bagian melakukan upaya konservasi bahasa Sampit.

Tahun 2018, lahir program Uluh Tabela Paduli Basa Itah (orang muda yang peduli dengan bahasa kita). Sebuah program konservasi bahasa yang dilakukan dengan membentuk para penutur muda. Diharapkan mereka dapat menjadi penutur baru yang menularkan bahasa Sampit kepada anak muda yang lain. Dari program ini terbentuk komunitas anak muda yang dinamakan sama dengan programnya, yaitu komunitas Uluh Tabela Paduli Basa Itah. Kamus kurik (kecil) bahasa Sampit yang bersumber dari materi pembelajaran juga menjadi salah satu produk luarannya. Tanpa disangka program ini mendapat sambutan cukup baik dari berbagai kalangan, dan menyita perhatian banyak orang. Membahagiakan, saat Ibu Rusnilawati yang telah lama mengimpikan momen ini menangis, sambil berucap syukur yang luar biasa pada peluncuran kamus kurik.

Agar program konservasi bahasa Sampit terus berlanjut, tahun 2019 STKIP Muhammadiyah Sampit melalui PKM kembali meluncurkan 2 program. 1 Program di bidang penelitian dan program lainnya masih di bidang pengabdian masyarakat. Penelitian mengeksplorasi nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam bahasa Sampit. Diharapkan hasil temuannya dapat menjadi bahan rekomendasi bagi pemangku kebijakan untuk merencanakan program berkelanjutan lainnya. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu pendorong agar munculnya PERDA tentang konservasi bahasa Sampit. Sedangkan program lainnya ke ranah yang lebih implementatif dengan berfokus pada pemanfaatan media digital sebagai sarana pembelajaran bahasa yang mudah dan murah. Program ini dinamakan “Digitalisasi Bahasa Sampit”.

Program Kreativitas Mahasiswa sejatinya hanya sebagai pemantik untuk program-program yang lebih besar. Masalah konservasi bahasa, tidak dapat hanya dilaksanakan setahun dua tahun saja. Perlu program berkelanjutan, dengan orang-orang yang berkomitmen penuh untuk melaksanakannya.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, “waktu, dana, tenaga dan

Kata Milenial tentang Bahasa Sampit

komitmen” yang lebih besar adalah sebuah kebutuhan. Dana hibah PKM yang hanya 5-10 juta saja perprogramnya dengan jangka waktu pelaksanaan 4-6 bulan, tidak akan bisa terus diharapkan. Kalau setiap tahun mahasiswa dapat merebutnya maka akan menjadi sangat luar biasa, namun bagaimana jika tidak? Mungkin akan bernasib sama dengan program-program lain yang tinggal cerita dan wacana.

Saat ini, kita bisa sedikit berbangga dan lega. Setidaknya sudah ada jejak-jejak yang dibuat untuk meminimalisir kemungkinan bahasa yang punah. Komunitas anak muda, hasil penelitian, media pembelajaran, aplikasi kamus offline, kamus cetak, artikel dan buku sudah dirintis oleh sekolompok anak muda yang bernama mahasiswa ini. Bahasa Sampit yang mulai tenggelam berlahan, sedikit demi sedikit mendapatkan upaya penyelamatan. Sudah cukup? Tentu masih sangat jauh. Masih banyak yang perlu terlibat untuk bisa memastikan bahwa 50 tahun ke depan bahasa Sampit tidak mengalami nasib seperti yang diramalkan oleh Krauss, punah tinggal cerita. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, pembuat kebijakan, budayawan, para tokoh dan lembaga adat harus duduk bersama untuk mengambil upaya penyelamatan.

~Untuk pejuang bahasa Sampit~

Ibu Rusnilawati

Rujukan:

http://badanbahasa.kemdikbud.go.id https://belmawa.ristekdikti.go.id

Krauss, M. 1992. “The World’s Languages in Crisis.” Dalam:

Language 68.1

Dalam dokumen Kata Milenial Tentang Bahasa Sampit (Halaman 114-122)