• Tidak ada hasil yang ditemukan

BALI DAN KEARIFAN LOKAL

4.5. Jenis Banten yang digunakan dalam upacara-upacara secara umum Bagi Umat Hindu khususnya Hindu Bali, penyelenggaraan suatu upacara

4.5.9. Banten Jotan

Banten jotan (saiban) disebut juga yadnya-sesa, yang merupakan yadnya sehari-hari masyarakat Hindu Bali. Banten Jotan terdiri dari nasi, garam, sambel dan lauk pauknya yang baru di masak dan merupakan hidangan pada waktu makan yang beralaskan daun pisang atau piring-piring kecil.

Banten ini memiliki 4 fungsi yaitu :

1) Sebagai pernyataan maaf (penebusan dosa) atas pemakaian lima macam tempat pembunuhan yang dilakukan setiap hari oleh kepala keluarga. Kelima tempat tersebut adalah tempat memasak (dapur/kompor), batu pengasah (sangian), sapu, lesung dan tempat penyimpanan air. Fungsi dijelaskan lebih lanjut dalam kitab Weda Samarti yang berbunyi:

Panca suna grhasthasya, culli pesanyu paskarah, kandani codakumbhacca badhyate yastu wahayan. Tasam kramena sarwasam niskrtyasham maharsibhih panca kirpta mahayajnah pratyaham grhamedhinan. Adhyapanan brahma yajna pitr yajnastu tarpanam homodaiwo balibhaurto nryajno tithi pujanam. (Weda Samarti III, 68-70)

Artinya: seorang kepala keluarga mempunyai lima macam tempat penembelihan yaitu tempat masak , batu pengasah, sapu, lesung dan tempayan tempat air denngan pemakaian mana ia diikat oleh belenggu dosa. Untuk menembus dosa yang ditimbulkan oleh pemakaian kelima alat itu para Maha Resi telah menggariskan untuk para kepala keluarga agar setiap hari melakukan panca-yadnya. Mengejar dan belajar adalah yadnya bagi para Brahmana, upacara menghaturkan terpana dan air adalah kurban untuk para leluhur, upacara dengan minyak dan susu adalah kurban untuk para dewa,

upacara bali adlah kurban utnuk para Bhuta dan menerima tamu dengan ramah tamah adalah kurban untuk manusia.

2) Sebagai pernyataan bahwa orang yang bersangkutan tidak meneydiakan makanan untuk kepentingannya sendiri, melainkan lebih mengutamakan yadnya, hal ini didorong oleh adanya rasa berhutang kehadapan Ida Sanghyang Widhi, dan para leluhur. Banten ini diletakkan di merajan (tempat memuja para dewa-dewi), di halaman rumah dan di depan pintu rumah.

3) Sebagai pernyataan cinta kasih kepada sesama ciptaan Tuhan, maka banten ini diberikan kepa semua makhluk hidup seperti makhluk-makhluk halus dan binatang yang dianggap perlu dan telah membantu dalam pekerjaan sehari-hari. Dalam Weda Samariti dijelaskan:

Cunam ca patitanam ca cwapacam paparoginam wayasanam krminam ca canakairnirwapedbhuwi. (Weda Samarti III, 92)

Artinya: hendaknya ia juga perlahan-lahan meletakkan diatas tanah sedikit makanan untuk anjing, untuk orang tak berharta, untuk orang cendala untuk orang yang berpenyakit, sebagai hukuman atas dosa-dosanya terdahulu. Untuk gagak dan untuk serangga.

4) Untuk menolong meningkatkan tumbuh-tumbuhan serta binatang yang dibunuh, sebab telah dipergunakan untuk upacara. Dalam kitab Weda dikatakan:

Osadhyah pacawo wriksastir yancah paksinastatha yajnartham naidhanam praptah prapnu wantyutsritih punah. (Weda Samarti V, 40)

Artinya: tumbuh-tumbuhan semak, pohon-pohonan, ternak, burung-burung lainnya yang telah dipakai untuk upacara akan lahir dalam tingkatan yang lebih tinggi pada kelahiran yang akan datang.

4.5.10. Byakala

Dalam membuat banten ini diperlukan beberapa jenis perlengkapan yaitu: (1) ayakan yang dibuat dari bambu, ayakan ini juga nantinya akan menjadi alas atau tempat dari perlengkapan lainnya. (2) kulit-sesayut, yaitu jenis anyaman berbentuk bundar dengan potongan yang khusus yang dibuat dari daun kelapa yang sudah hijau. (3) kulit peras pandan, yaitu anyaman yang dibuat dari daun pandan. (4) nasi dan garam atau lauk pauk lainnya dibungkus dengan daun pisang sedemikian rupa sehingga ada yang berbentuk segi empat dan segi tiga. (5) rerasmen, adalah sejenis lauk-pauk yang terdiri dari kacang-kacangan (digoreng), sayur mayur (serundeng kelapa), ikan teri, telur, garam dan sambal; dapat juga dilengkapi denga timun, terung, kecai (kacang hijau yang baru tumbuh) dan bulung (sejenis rumput laut). (6) pembersihan, yaitu alat-alat yang berfungsi sebagai penyucian seperti: kesosok35, bahan keramas, sisig36, tepung tawar, kapas yang dilumuri dengan minyak kelapa atau minyak wangi, bija. (7) soroan alit yaitu, gabungan dari peras alit, tulung37, sesayut38

35 Makanan yang dibuat dari tepung beras yang ditumbuk

36 Alat yang dipakai untuk membersihkan gigi yang dibuat dari sejenis jajanan yang di

bakar sampai gosong

37 Sebuah tangkih berbentuk segitiga, ditempeli sebuah anyaman yang berisi nasi dan

rerasmen, dan kemudian di sela-selanya dilengkapi dengan jajanan buah-buahan.

38 Sebuah kulit yang diisi dengan nasi, rerasmen, jajanan, buah-buahan dan nagasari yang

kecil

yang diikat sehingga menjadi satu bagian. (8) Isuh-isuh. (9) Penyeneng, yaitu sejenis anyaman yang bentuknya sedemikian rupa sehingga ditengah-tengahnya terbagi menjadi tiga petak; petak pertama berisi nasi segau (nasi yang dicampur dengan abu), petak kedua berisi tepung tawar, petak ketiga berisi bija dan sedikit benang. (10) Sampian-nagasari. (11) Lisamu-amuan, yaitu

beberapa jenis anyaman yang dibuat dari janur atau daun kelapa yang agak tua. (12) Tetimpung, yaitu beberapa ruas bambu yang agak mentah, sehingga bila dibakar akan menimbulkan letusan. (13) Amel-amel adalah sebuah anyaman yang diisi tiga lembar daun dadap, ujung daun dadap, padang-lepas (sejenis rumput) dan seet mingmang (sejenis anyaman yang terbuat dari daun lalang yang masih muda), kesemua perlengkapan tersebut diikat dengan benang merah. (14) sasak-mentah, adalah tiga pulung nasi disirami darah mentah, dan dilengkapi dengan terasi mentah, bumbu-bumbu dirajang, kemudian dialasi dengan limas atau tempurung kelapa.

Mengenai pemakai ayakan dan kekeb, kemungkinan mempunyai arti simbolis pemisahan antara yang berfaedah dengan yang tidak diperlukan, serta melindungi dari pengaruh-pengaruh luar yang akan merugikan, sebagaimana halnya ayakan adalah merupakan alat untuk memisahkan beras dari dedak, dan kekeb merupakan alat untuk menutupi nasi agar bisa masak dengan baik, sedangkan pemakaian tetimpung, rupanya mempunyai makna memanggil atau mengeluarkan para Bhuta-kala, agar pergi meninggalkan tempat atau orang yang bersangkutan sebab upacara akan segera dimulai.

Banten ini disebut juga dengan ‘bya-kaonan’ dan merupakan salah satu banten yang berfungsi sebagai penyucian dalam arti menghilangkan para Bhuta-kala yang tidak sewajarnya berada pada suatu tempat atau diri sendiri.

4.5.11 Prayascita

Banten ini digunakan sebagai penyucian, baik untuk melengkapi banten byakala, banten pemujaan yang ditaruh di depan pendeta memuja atau dipergunakan tersendiri untuk menyucikan bangunan-bangunan yang baru selesai, baru diperbaiki, sehabis kemalangan karena adanya anggota keluarga kampung yang meninggal dan kekeruhan pikiran serta perasaan.