• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGENALAN WUKU

3.3 Penentuan Hari Upacara Umat Hindu Bali

Masyarakat Bali memiliki cara tersendiri dalam menentukan hari-hari upacara adat mereka. Mereka memiliki satu perhitungan khusus dalam menentukan hari upacara tersebut. Dasar perhitungan hari upacara dinamakan

dengan perhitungan sasih atau bulan yaitu memadukan saptawara dan pancawara serta wuku juga dedauhan24.

Tujuan dari perhitungan bulan ini adalah untuk mengetahui kapan terjadinya bulan purnama dan kapan terjadinya bulan mati (tilem). Dengan mengetahui dua gejala alam tersebut, maka mereka (orang Bali di Pegajahan) dapat menentukan juga kegiatan upacara-upacara adat lainnya.

Pelaksanaan upacara merupakan salah satu usaha untuk menjaga kesimbangan dalam sistem agama. Dalam sistem agama terdapat tiga kerangka kehidupan, yaitu tattwa atau filsafat, susila atau etika dan upacara atau yadnya. Pelaksanaan upacara keagamaan merupakan hilir dari tattwa agama yang ada di hulu dan etika agama yang berada di tengah atau madya. Jika salah satu dari ketiga kerangka itu diabaikan, maka akan terjadi ketidakseimbangan pada sistem agama.

Kenyataan yang ada, pelaksanaan upacara hingga kini masih mendominasi kehidupan keseharian orang Bali. Bahkan sering disebut bahwa orang Bali adalah manusia upacara. Orang Bali mengupacarai tidak saja dirinya sendiri, tetapi juga orang lain, lingkungan, alam, pohon, ternak, dan benda-benda mati

Seperti misalnya Upacara Siwaratri untuk memperingati hari Siwaratri dirayakan setiap satu tahun sekali, yaitu pada hari Purwaning Tilem sasih kapitu. Maksudnya adalah hari setelah bulan gelap atau malam tanpa cahaya bulan pada bulan ketujuh penanggalan Bali. Berikut adalah tabel upacara pada orang Bali yang dilaksanakan menurut posisi bulan.

24 Dedauhan ini merupakan pembagian waktu dalam satu hari. Sehingga dedauh ini

berlaku 1 hari atau satu hari dan satu malam. Berdasarkan dedauhan maka pergantian hari secara hindu adalah mulai terbitnya matahari (5.30 WIB)

Tabel 3.3 Identifikasi Upacara Perdasarkan Posisi Bulan

No Nama Upacara

Jenis Upacara Waktu Pelaksanaan

Bukan Pertanian Khusus Pertanian Bulan Purnama Bulan Mati (tilem) 1 Ngendangin 2 Mapag Toya 3 Amaluku 4 Angurit 5 Anandur Pari 6 Bajang colong 7 Ngiseh 8 Manyangseng Tangkluk 9 Siwaratri 10 Tawur Kasanga 11 Odalan 12 Ngaben 13 Oton Bojog 14 Otonan 15 Tutug Kambuhan

Sumber : Hasil wawancara dengan bapak I Nengah Sumadiase, 29 Mei 2010

Apabila ditelisik lebih dalam lagi, masih banyak upacara-upacara yang dilakukan oleh orang Bali secara umum. Upacara diatas adalah upacara yang sering dilakukan oleh orang Bali yang ada di Pegajahan. Ada beberapa upacara yang dilakukan pada saat posisi bulan bulan mencapai titik tertentu yaitu purnama dan tilem. Upacara siwaratri dilakukan pada saat malam hari dimana tidak ada sama sekali cahaya bulan (tilem), upacara tawur kasanga, odalan dan oton bojog dilakukan pada saat posisi bulan mencapai purnama dan upacara lainnya yang di dalam tabel dapat dilakukan kapan saja tanpa harus memperhatikan posisi bulan.

Tidak semua upacara tersebut dilakukan pada malam hari, apabila upacara tersebut dilakukan pada siang hari, tetap dperhatikan letak posisi bulannya

khususnya pada upacara oton bojog, upacara ini dilakukan pada siang hari, upacara ini dilakukan guna memperingati hari ulang tahun kera yang dilaksanakan setiap 210 hari sekali dan pelaksanaan upacara ini dilakukan pada siang setelah malamnya terjadi bulan purnama.

Bapak I Nengah Sumadiase (salah satu informan) memberikan cara menghitung bulan menurut ketentuan yang ada pada wariga yang didasarkan pada perhitungan sasih.

“untuk tau bentuk bulan pada malam hari kita hitung dengan cara 4 angka tahun, lalu dikalikan dengan 11, hasilnya dikurangi dengan angka kelipatan 30 yang mendekati, kemudian tambahkan angka bulan, kalau bulan januari sama februari harus ditambah 1 lagi, hasilnya dikurangi lagi dengan angka kelipatan 30 yang mendekati, kalau hasilnya kurang dari 30 maka di kurangi dengan angka 0, hasilnya ditambahkan lagi dengan angka tanggal, terus hasilnya itu di kurangi lagi dengan angka kelipatan 30 yang mendekati,angka yang didapat dari perhitungan tadi itulah yang menentukan bentuk bulan”

Dari perhitungan di atas, ketepatannya memiliki selisih kurang lebih 2 hari dari hasil yang didapat, sebagai contoh untuk mengetahui posisi bulan pada tanggal 27 Oktober 2010 dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 3.4 Contoh Perhitungan Bulan

Tahapan Keterangan Penjumlahan

Langkah 1 jumlahkan 4 bilangan tahun Masehi 2+0+1+0=3

Langkah 2 kalikan dengan 11 3x11=33

Langkah 3 hitung sisanya dengan angka kelipatan 30 yang

mendekati 33-30=3

Langkah 4 tambahkan angka bulan 3+10=13

Langkah 5 untuk Januari dan Februari tambahkan 1 0 Langkah 6 hitung sisanya dengan angka kelipatan 30 yang

mendekati 13-0=13

Langkah 7 tambahkan tanggal 13+27=40

Langkah 8 hitung sisanya dengan angka kelipatan 30 yang

mendekati 40-30=10

Untuk hasilnya Pak Nengah juga menjelaskannya

“kalau hasilnya 0 artinya malamnya tidak ada bulan atau tilem,kalau 1-3 itu bulan sabit pertama, 4-13 itu bulan paruh pertama, 14-16 itu purnama, 17-22 itu bulan sabit terakhir,23-29 bulan paruh terakhir, 30 itu sama dengan 0 artinya bulan mati atau tilem”

Sehingga bila dihubungkan dengan hasil perhitungan yang telah dibuat sebelumnya, maka pada tanggal 27 Oktober 2010 bulan akan berada pada fase bulan paruh pertama.

Ada hal-hal istimewa yang didapat dari perhitungan sasih ini yaitu tilem kapitu selalu ada di bulan Januari, maksudnya malam yang tidak memiliki cahaya bulan pada sasih kapitu penanggalan Bali selalu berada di bulan Januari, tilem kasanga selalu ada di bulan Maret, tilem katiga dominan di bulan September.

Tilem kapitu selalu ada di bulan Januari terkait dengan upacara Siwaratri, tilem kasanga selalu ada di bulan Maret terkait dengan tutup tahun, upacara Tawur Kasanga, posisi matahari berada pada garis yang menyongsong Purnama kadasa. Tilem katiga dominan di bulan September juga dalam posisi matahari pada garis yang menyongsong Purnama kapat.

Penentuan ketiga upacara tersebut sudah baku dan tidak berubah dari sejak pertama sekali kalender dipergunakan oleh masyarakat Bali. Ada juga upacara-upacara lain yang yang sifat pelaksanaan berubah sama dengan pelaksanaan tiga upacara di atas yaitu kegiatan upacara yang berhubungan dengan pertanian. Penentuan kegiatan upacara pertanian sering kali ditentukan menurut sifat ‘panas’ dan ‘dingin’ hari, misalnya upacara ngiseh yaitu upacara untuk memperingati usia padi telah mencapai lebih dari dua bulan, upacara ditentukan dengan melihat wuku yang cocok akan sifat harinya, upacara ini baiknya dilakukan pada hari yang

memiliki sifat ‘dingin’ karena pada usia padi yang masih berusia dua bulan rentan akan serangan penyakit sehingga permohonan kepada dewa dan sebaiknya upacara ini dilakukan pada hari yang penuh dengan berkah dan kebaikan, maka dari itulah hari yang sifatnya ‘dingin’ dipilih untuk melakukan upacara ini.

Tabel 3.5. Identifikasi Sifat Upacara Adat Khusus Pertanian Masyarakat Bali di Pegajahan

No Nama

Upacara

Sifat Upacara Waktu Upacara Sanksi

Panas Dingin Ada Tidak Lokasi Kelompok Individu Rutin Tidak

Rutin Ada Tidak

1 Ngendangin sawah yang akan ditanami padi

2 Mapag Toya saluran irigasi

3 Amaluku Sawah yang akan

dibajak

4 Angurit tempat benih padi

disemai

5 Anandur Pari Pura

6 Bajang colong Pura

7 Ngiseh Pura

8 Manyangseng

Tangkluk Pura

Sumber: Hasil wawancara dengan bapak I Nengah Sumadiase, 29 Mei 2010

Dari tabel di atas, upacara yang dilakukan khusus pada kegiatan pertanian juga memiliki sifat ‘panas’ dan ‘dingin’. Upacara mapag toya dan upacara amaluku memiliki sifat ‘panas’ yaitu memberikan energi kehidupan bagi benda-benda yang menjadi objek upacara. Upacara mapag toya yang objek upacaranya adalah air, dengan sifat ‘panas’ yang ada dalam upacara tersebut, air yang yang tadinya dingin menjadi sedikit hangat dan hal ini akan sangat berguna bagi tanaman, karena air yang hangat dapat membantu proses pertumbuhan dan penyerapan makan atau nutrisi dari dalam tanah.

Upacara ngedangin, angurit, anandur pari, bajang colong, ngiseh, mayangseng tanglkuk, memiliki sifat yang ‘dingin’, karena pada upacara-upacara tersebut banyak mengandung rahmat dan berkah. Upacara ngedangin dapat diambil sebagai salah satu contohnya, upacara ngedangin merupakan salah satu upacara yang ada dalam masyarakat Bali untuk membuka atau memulai kegiatan bertani, untuk memulai proses ini masyarakat Bali memanjatkan doa-doa yang ditujukan kepada Sang Hyang Widhi atau Sang Pencipta Alam, agar kegiatan bertani mereka akan mendapatkan banyak berkah dan keuntungan saat panen kelak, dijauhkan dari serangan hama yang merusak, dan gangguan-gangguan lain yang akan merugikan tanaman mereka.

BAB IV