• Tidak ada hasil yang ditemukan

BALI DAN KEARIFAN LOKAL

4.5. Jenis Banten yang digunakan dalam upacara-upacara secara umum Bagi Umat Hindu khususnya Hindu Bali, penyelenggaraan suatu upacara

4.5.4. Canang Sari

Bentuk banten ini agak berbeda dengan banten yang telah diurai sebelumnya, banten ini terdiri dari 2 bagian. Bagian bawah berbentuk bulat dan diisi dengan pelawa, porosan, tebu, kekeping (jajanan yang terbuat dari tepung beras), pisang emas dan beras kuning. Bagian atas diisi dengan berbagai macam bunga yang ditata seindah mungkindan dialasi dengan sebuah uras-sari. Bentuk uras-sari ini terkadang sangat indah bahkan bisa Dibuat bersusun.

Tebu, keping dan pisang emas tersebut disebut juga dengan raka-raka dan melambangkan Hyang Widiadara-widiadari. Pisang emasnya sendiri dapat dilambangkan sebagai Hyang Kumara sedangkan tebu melambangkan Dewa Brahma.

Canang sari dapat digunakan sebagai persembahan tersendiri pada upacara-upacara piodalan di Pura, atau dipakai untuk melengkapi sesajen lainnya.

Gambar 4.4 Canang Sari

Keterangan Gambar

1. isi sesajen yang terdiri dari tebu, pisang mas, pelawa, kekeping dan beras kuning.

2. Lidi dari janur kelapa

3. Trikono yaitu hiasan yang berupa untaian anyaman yang terbuat dari janur kelapa

4. Alasnya diberi nama ceper yaitu anyaman janur kelapa yang dibuat segi empat

4.5.5. Cane

Bentuk banten ini hampir sama dengan janur yang dipakai untuk pesta perkawinan, bentuknya bulat yang dihiasi janur disekelilingnya dengan batang pisang ditengahnya untuk menempelkan helaian-helaian janur. Di dalam cane diisi bija30

30 Bija disebut pula dengan ‘gandaksata’ yaitu biji padi-padian yang utuh serta berbau

wangi. Cara pembuatan bija adalah dengan menggunakan biji beras yagn tidak patah (galih), sedangkan untuk memperoleh aroma wangi maka setelah dicuci dengan air bersih lalu dicampur dengan air cendana atau bunga yang wangi seperti bunga sandat, dan bunga melati.

, air cendana dan Buratwangi, masing-masing dialasi dengan mangkuk kecil, selain itu terdapat pula kojong 4 buah yang berisi

1

4 3

tembakau, pinang dan lekesan, yaitu 2 lembar sirih dilengkapi dengan gambir dan kapur, kemudian digulung serta diikat dengan benang atau dapat diganti dengan rokok dan korek api sebanyak 4 batang/bungkus.

Cane digunakan untuk melengkapi sesajen yang agak besar, terutama pada waktu upacara Melasti. Dalam kehidupan sehari-hari, cane digunakan dalam rapat-rapat (persengkepan) adat desa. Cane diletakkan di tempat khusus atau ditengah-tengah rapat, untuk memohon agar pertemuan berjalan lancer, mendapatkan hasil yang diharapkan dan segala keputusan yang diambil dapat ditaati dengan penuh kesadaran.

Kemudian setelah pertemuan selesai, maka isi cane akan dibagi-bagikan kepada peserta rapat. Bija dan bunga memiliki makna anugerah berarti dengan membagi-bagikan bija dan bungan yang ada di dalan cane tersebut berarti juga akan membagikan anugrah kepada peserta dan rapat itu sendiri.

4.5.6. Daksina

Banten ini berisi tampak31, beras, kelapa yang sudah dikupas kulit dan batoknya sampai bersih tetapi masih tetap utuh (makelasan), serta beberapa bahan lain yang letakkan dalam kojong seperti telur itik yang mentah, bija-ratus32, gantusan33, pelawa-peselan34

31

Tampak adalah sejenis anyaman yang berbentuk silang

32 Bija-ratus adalah beberapa jenis biji-bijian yang dibungkus dengan daun pisang yang

sudah tua/keras.

33 Gantusan adalah camPuran dari beberapa jenis bumbu dengan garan dan ikan teri serta

semuanya dibungkus dengan daun pisang tua.

, pisang kayu yang mentah dan uang logam.

Secara umum yang digunakan dari kelapa dalam banten ini adalah airnya saja, karena didalam air kelapa terdapat banyak kehidupan, sedangkan telur itik digunakan karena didalam telur itu memang sudah ada kehidupan dan kehidupan itu memiliki getaran, sehingga bila getaran didalam telur itu berhenti berarti telur itu sudah busuk dan tidak akan bisa menetas.

Hal ini dapat diumpamakan sebagai keadaan sifat daripada Ida Sanghyang Widhi yang tidah pernah diam, karena bila Ida Sanghyang Widhi diam atau berhenti bekerja, maka dunia ini akan hancur. Seperti yang dijelaskan dalam kitab Bhagawad Gita yang disebutkan:

Utsideyur inie loka

Na kuryam karma ced aham Samkarasya ca karta syam Upahanyam imah prajah Artinya:

Jika Aku (Ida Sanghyang Widhi) berhenti bekerja maka dunia ini akan hancur lebur dan Aku (Ida Sanghyang Widhi) akan menjadi pencipta dari kehidupan yang tidak teratur dan Aku (Ida Sanghyang Widhi) akan kembali merusak manusia-manusia ini.

Sehingga dalam daksina ini telur yang dipakai selalu telur itik dan bukan telur ayam, karena telur itik atau itiknya sendiri memiliki sifat-sifat satwam yaitu rukun, setia, tidak membeda-bedakan sesame kawan, dapat menyesuaikan diri di air, darat dan udara serta dapat memilih makanan yang sedah tercampur dengan lumpur. Sifat-sifat ini sangat berlwanan dengan sifat yang dimiliki telur ayam yaitu sifat rajas dan tamas.

Sedangkan penggunaan uang dalam daksina ini semata-mata adalah untuk menyempurnakan isi dari daksina itu sendiri, sehingga

34 Pelawa-peselan adalah beberapa jenis daun-daunan seperti : daun salak, daun ceroring,

persembahan yang dilengkapi dengan daksina benar-benar diharapkan dapat member kesuksesan atau hasil yang sudah direncanakan sebelumnya.

4.5.7. Ajuman

Ajuman adalah jenis banten yang terbuat dari nasi yang bisa disebut dengan telompokan, jajanan pasar, buah-buahan, serundeng, kacang-kacangan, ikan teri, telur, lalapan dan sambal serta garam. Ajuman digunakan sebagai sajen pelengkap untuk daksina.

Dalam ajuman ada yang namanya perayuan, yaitu jajanan pasar dan buah-buahan yang dialasi tersendiri, dan setiap lauknya dialasi dengan janur yang dibentu segitiga, kemudian diatur sedemikian rupa mengelilingi ajuman. Sate juga dapat ditambahkan sebagai pelengkap ajuman, banyak sedikitnya bentuk sate tergantung dengan besar kecilnya ajuman yang dibuat.

Gambar 4.5 Ajuman 5 1 2 3 4 6

Keterangan Gambar

1. Alas yang terbuat dari daun pisang 2. Serundeng

3. Nasi putih (telompokan) 4. Sambal dan garam

5. Pisang (dapat diganti dengan buah-buah lain)

6. Aneka jenis lalapan sepeti terong, timun, tauge dan daun kemangi. 4.5.8. Peras

Perlengkapan serta cara menyusunnya hampir sama dengan ajuman, tetapi nasinya berbentuk tumpeng, alasnya ditempeli kulit peras, yaitu sajen yang khusus, sedangkan sampiannya disebut sampian tumpeng. Banten ini boleh dikatakan tidak pernah digunakan sendiri tetapi menyertai banten-banten yang lain.

Dalam beberapa hal, pada alasnya dilengkapi dengan dengan sedikit beras. Jumlahnya disesuaikan dengan penggunannya, dan benang-putih. Untuk menunjukkan upacara telah selesai, maka seseorang umumnya pimpinan upacara akan menarik rekukan pada kulit peras dan menaburkan beras yang ada dibawahnya. Pada lontar Yajna-pakerti disebut bahwa peras adalah Hyang Triguna-sakti.

Kata peras dapat diartikan ‘sah’ atau resmi, sehingga bila suatu kumpulan sajen tidak dilengkapi dengan peras, akan dikatakan penyelenggaraan upacaranya tan perasida, yang mungkin dapat diartikan ‘tidak sah’.