PENGENALAN WUKU
3.2 Hubungan Wariga dan Wuku
Wariga dan wuku pada dasarnya memiliki keterkaitan satu dengan lainnya, wuku merupakan bagian dari wariga. Wariga dikonsepsikan sebagai penanggalan untuk mengetahui perhitungan hari dan bulan sedangkan wuku bagi Masyarakat Bali dikonsepsikan sebagai hari-hari yang memiliki berkah-berkah tertentu. Misalnya, dalam upacara pernikahan, untuk menentukan hari baik dilaksanakan resepsi penikahan tersebut digunakan wuku agar terlihat sifat-sifat harinya,
apakah sifat hari itu baik untuk melakukan acara resepsi pernikahan, dalam arti tidak ada gangguan dari kondisi alam, atau hari itu sama sekai tidak bagus dalam melakukan proses pernikahan tersebut.
Dari hasil wawancara dengan Bapak I Nengah Suamdiase (63) salah satu penduduk di Dusun Harapan II Desa Pegajahan mengatakan bahwa kata wariga berasal dari dua kata, yaitu “wara” yang berarti puncak/istimewa dan “ga” yang berarti terang, sebagai penjelasannya:
“iki uttamaning pati lawan urip, manemu marga wakasing apadadang, ike tegesing wariga”
Dari penjelasan ini jelas bahwa yang dimaksud dengan wariga adalah jalan untuk mendapatkan ke’terang’an dalam usaha untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan hidup matinya hari. Penjelasan yang lain juga dapat dilihat dari lontar ‘keputusan sunari’22 yang banyak menjelaskan tentang kejadian-kejadian alam dan perputaran waktu pada alam semesta serta perhitungan hari baik yang disebut dengan ‘dewasa’23
Setiap wuku memiliki sifat-sifat yang berbeda, misalnya wuku medangsia memiliki sifat cerah dan panas, wuku ini dikonstruksikan sebagai waktu yang tepat untuk mulai membajak sawah tapi belum tepat untuk menanam karena
.
22
Wariga dan dewasa adalah dua istilah yang paling umum diperhatikan oleh umat hindu khususnya di Bali bila ingin mencapai kesempurnaan dan keberhasilan. Kedua ilmu itu merupakan salah satu cabang ilmu agama yang dihubungkan dengan ilmu astronomi atau “Jyotisa Sastra” sebagai salah satu wedangga. Walaupun kedua ilmu tersebut sebagai salah satu cabang ilmu weda, namun pendalamannya tidak banyak diketahui kecuali untuk tujuan praktis pegangan oleh para pendeta dalam memberikan petunjuk baik buruknya hari dalam hubungannya untuk melakukan usaha agar supaya berhasil dengan mengingat hari atau waktu dalam sistim sradha hindu yang dipengaruhi oleh unsur kekuatan tertentu dan planet-planet tertentu pula.
23
Kata “dewasa” terdiri dari kata; “de” yang berarti dewa guru, “wa” yang berarti padang/lapang dan “sa” yang berarti ayu/baik. Dengan demikian jelas bahwa dewasa adalah satu pegangan yang berhubungan dengan pemilihan hari yang tepat agar semua jalan atau perbuatan itu lapang jalannya, baik akibatnya dan tiada aral rintangan, sehingga dewasa tidak lepas dari ilmu
wariga dimana di dalam wariga, urip hari telah terperinci secara baku dan ini harus dipegang
cahaya matahari bersinar terlalu panas dan terang dan hal ini akan merusak bibit padi yang akan ditanam.
Kedua konsep ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain, ada beberapa keterkaitan atau kesamaan yang menjadikan wuku dan wariga sulit untuk dicari perbedaannya, yaitu:
- Wuku dan wariga merupakan satu bagian dalam perhitungan hari pada kalender Bali.
- Wuku dan wariga sama-sama digunakan oleh masyarakat Bali untuk menetukan dan mengetahui hari-hari baik.
- Perhitungan yang dipakai wariga untuk menentukan hari-hari adalah sama dengan perhitungan yang dipakai wuku, yaitu menggunakan konsep shulbasutra.
Walaupun wariga dan wuku mempunyai keterkaitan satu dengan lainnya, tetapai masih tetap ada perbedaan yang dapat dilihat, perbedaannya terletak dalam jumlah hari yaitu, dalam 1 wariga terdapat jumlah hari sebanyak 360 hari. Sedangkan dalam 1 wuku hanya terdapat 7 hari, selain itu dari setiap wuku pasti memiliki keistimewaan tersendiri yang wariga tidak punya, misalnya wuku dungulan yang memiliki sifat yang dingin, maksudnya apaun yang dilakukan orang pada wuku ini dengan niat yang baik dan tulus niscaya usaha yang orang itu perbuat pasti akan berhasil dan mendapatkan berkah.
Bagi masyarakat Bali wuku banyak memiliki fungsi, yaitu dengan melihat wuku mereka dapat menentukan musim-musim tanam yang cocok untuk untuk jenis tanaman yang akan mereka tanam, mereka juga dapat melihat kapan perkembangbiakan berbagai jenis serangga dan hewan yang menjadi hama bagi
tanaman mereka, dengan itu mereka dapat melakukan strategi antisipasi untuk mencegah hama tersebut menyerang tanaman mereka. Selain fungsi di atas wuku juga dapat membaca sifat-sifat manusia yang dilihat dari wuku apa manusia itu lahir.
Masyarakat Bali di Pegajahan masih mengamalkan apa yang mereka ketahui tentang sifat-sifat wuku untuk setiap aktivitas mereka. Walaupun terkadang ada kesalahan perhitungan yang terjadi seperti pada wuku pujut yang seharusnya di wuku itu adalah musim pancaroba (yaitu musim peralihan dari musim hujan ke kemarau) tetapi kenyataannya wuku itu masih masuk dalam musim hujan. Masyarakat Bali di Desa Pegajahan memaklumi penyimpangan itu, mereka menyadari penyimpangan tersebut dan melihatnya sebagai dampak dari perubahan cuaca yang tidak menentu. Untuk mensiasati penyimpangan itu, mereka melakukan sedikit modifikasi perhitungan yang telah ada, dengan memajukan satu sampai dua minggu dari musim pancaroba itu, jadi yang menurut wuku itu sudah masuk musim pancaroba tapi kenyataannya musim itu baru masuk satu atau dua minggu lagi.
Tabel 3.2 Karakteristik Wuku Berdasarkan Pengklasifikasian Sifat dan Kondisi Cuaca
No Wuku
Berdasarkan
Sifat Berdasarkan Kondisi Cuaca
Dingin Panas Hujan Berawan Cerah Pancaroba
1 Shinta √ 2 Landep √ 3 Ukir √ 4 Kulantir √ 5 Tulu √ 6 Gumbreng √ 7 Wariga √ 8 Warigadian √ 9 Julungwangi √ 10 Sungsang √ 11 Dungulan √ 12 Kuningan √ 13 Langkir √ 14 Medangsia √ 15 Pujut √ 16 Pahang √ 17 Krulut √ 18 Merakih √ 19 Tambir √ 20 Medangkungan √ 21 Matal √ 22 Uye √ 23 Manail √ 24 Prangbakat √ 25 Bala √ 26 Ugu √ 27 Wayang √ 28 Klawu √ 29 Dukut √ 30 Watugunung √
Sumber : Hasil wawancara dengan bapak I Nengah Sumadiase, 29 Mei 2010
Dari tabel di atas, dapat dilihat pembagian wuku berdasarkan sifat dan kondisi cuaca yang ada. Wuku yang memiliki sifat ‘dingin’ adalah ukir, dungulan, kuningan, tambir, medangkungan, dan matal. Konsep ‘dingin’ yang dimaksud
disini adalah apapun yang dilakukan oleh manusia dengan niat yang baik, mudah-mudahan akan berhasil, karena di wuku yang memiliki sifat ini akan banyak berkah yang turun dari langit. Pada wuku-wuku ini juga banyak diadakannya upacara-upacara untuk menghaturkan puja-puja dan rasa syukur terhadap Hyang Sang Widhi atas karunia yang diberikan.
Wuku yang memiliki sifat ‘panas’ adalah gumbreng, julungwangi, sungsang, merakih, prangbakat dan bala. Konsep ‘panas’ dapat diartikan sebagai banyaknya bencana yang akan datang, karena masyarakat Bali percaya wuku ini telah dikutuk oleh Hyang Sang Widhi, karena pada zaman dahulu wuku-wuku ini hanya sering membuat keonaran dan kerusuhan. Sehingga masyarakat Bali harus hati-hati melangkah dan mengambil keputusan di wuku-wuku ini, karena apabila mereka sampai salah langkah mereka akan mendapatkan kesialan atau bahkan musibah yang berakhir bencana.
Selain sifat, wuku juga dapat dibagi berdasarkan kondisi cuaca yaitu, hujan, berawan, cerah dan masa peralihan (pancaroba). Wuku yang identik dengan hujan adalah wuku landep, uye, manail, ugu dan wayang. Pada wuku-wuku ini hujan akan sering turun, curah hujannya juga akan lebat, biasanya pada wuku-wuku ini para petani akan memulai aktivitas pertanian mereka, seperti membajak sawah dan menanam benih padi.
Wuku kulantir, tulu, wariga, warigadian, kelawu dan watugunung di kelompokkan ke dalam wuku yang berawan, maksudnya pada wuku-wuku ini cuaca akan sering mendung dan sejuk, tetapi terkadang masih juga turun hujan dengan intensitas yang kecil dengan waktu yang singkat. Wuku-wuku ini dianggap
baik bagi petani untuk merawat tanaman padi mereka karena cuaca tidak terlalu panas dan tidak juga turun hujan.
Wuku langkir, medangsia, pahang, krulut dan dukut adalah wuku yang cerah, dan cuaca akan terasa sangat panas, pada wuku-wuku inilah petani beristirahat mengolah lahan pertanian mereka, aktivitas lebih sering dikerjakan di rumah, seperti membuat anyaman dari janur untuk keperluan ibadah, bagi sebagian petani pada wuku-wuku ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki pematang-pematang sawah yang rusak akibat hujan, karena cuaca yang panas sehingga lumpur yang disusun menjadi pematang sawah akan cepat kering dan mengeras.
Wuku shinta dan wuku pujut adalah dua wuku yang tidak dapat diprediksi kondisi cuacanya, pada dua wuku ini terkadang cuaca bisa menjadi sangat panas dan terkadang cuaca juga bisa menjadi sangat dingin. Pada kedua wuku ini siapa yang tidak memiliki kondisi tubuh yang prima akan lebih rentan terkena penyakit. Dalam hal ini antara sifat dan kondisi cuaca tidak memiliki hubungan satu dengan lainnya, wuku yang memiliki klasifikasi sifat memiliki dampak dari segi religi dan berpengaruh pada jiwa manusia sedangkan wuku yang memiliki klasifikasi kondisi cuaca berpengaruh pada kondisi fisik manusia dan alam sekitarnya secara langsung dan dapat dilihat dengan kasat mata.