BAB I PENDAHULUAN
E. Batasan Istilah
Untuk mencegah pemaknaan yang berbeda terhadap istilah yang dipakai pada penelitian ini, maka perlu diberikan batasan istilah. Adapun batasan istilah pada penelitian ini yaitu:
1. Deskripsi yang dimaksud ialah penggambararan atau perincian tentang obyek berdasarkan kesan-kesan dari pengamatan, pengalaman, dan perasaan penulis sehingga dapat memberi pengaruh pada sensivitas dan imajinasi pembaca.
2. Kemampuan yang dimaksud ialah kemampuan berpikir kreatif siswa.
3. Kemampuan berpikir kreatif yang dimaksud adalah kemampuan siswa yang dapat memenuhi tiga komponen yaitu kefasihan, fleksibelitas dan kebaruan.
Kefasihan adalah peserta didik yang mampu menyelesaikan soal dengan lancar dan benar. Fleksibelitas adalah peserta didik yang mampu menyelesaikan soal dengan berbagai cara. Kebaruan adalah peserta didik yang mampu menyelesaikan soal dan membuat bentuk lainnya yang baru/berbeda.
4. Operasi hitung bentuk aljabar yang dimaksud adalah operasi hitung bentuk aljabar meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.
5. Gender yang dimaksud adalah perbedaan yang terdapat antara laki-laki dan perempuan yang terbentuk oleh faktor sosial maupun kultural dan juga secara biologis.
8 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka 1. Deskripsi
Kata deskripsi berasal dari kata bahasa Latin yaitu “decribere” yang berarti menggambarkan atau memberikan penjelasan tentang suatu hal.
Selanjutnya, dari segi istilah deskripsi merupakan suatu bentuk karangan yang melukiskan dan menggambarkan sesuatu yang sesuai dengan sebenarnya. Oleh karena itu, pembaca mampu mencitra (mendengar, melihat, mencium, dan merasakan) apapun yang dilukiskan itu sesuai dengan citra penulisnya.
Maksudnya adalah penulis hendak menyampaikan kesannya mengenai sesuatu termasuk sifat dan gerak-geriknya. Deskripsi adalah satu teknik menulis menggunakan gambar dengan tujuan membuat pembaca seakan-akan berada di tempat kejadian, ikut merasakan, mengalami, melihat dan mendengar mengenai satu peristiwa atau adegan. (Badriyah, 2017)
Adapun beberapa pengertian deskripsi menurut para ahli adalah sebagai berikut:
a. Nursisto (Amandiri, 2015) mengemukakan bahwa deskripsi ialah suatu karangan yang melukiskan sesuatu sesuai dengan keadaan sebenarnya sehingga pembaca dapat mencitrai apa yang dilukiskan sesuai dengan citra penulisnya. Senada dengan hal tersebut.
b. Semi (Amandiri, 2015) mengemukakan bahwa deskripsi ialah tulisan yang bertujuan untuk memberikan perincian atau detail mengenai obyek sehingga
mampu memberi hasil pada sensivitas dan imajinasi pembaca atau pendengar.
c. Pendapat dari Sabarti Akhadiah (Amandiri, 2015) memaparkan bahwa deskripsi pada hakikatnya ialah suatu usaha untuk dilakukan untuk menggambarkan menggunakan kata-kata wujud atau sifat lahiriah suatu objek.
Berdasarkan pada beberapa paparan dari para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa deskripsi adalah penggambararan atau perincian mengenai suatu obyek yang didasarkan pada kesan dari pengamatan, pengalaman serta perasaan seorang penulis sehingga mampu memberikan dampak pada sensivitas maupun imajinasi para pembaca.
2. Kemampuan Berpikir Kreatif
Kemampuan berasal dari kata “mampu”, yang artinya kuasa (bisa, sanggup) melakukan sesuatu. Sedangkan kemampuan adalah suatu kesanggupan seseorang dalam melakukan sesuatu yang harus dilakukan. (Novita, 2017).
Kemampuan (ability) berarti kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. Kemampuan adalah kesanggupan atau kecakapan seorang individu dalam menguasai suatu keahlian dan digunakan untuk mengerjakan beragam tugas dalam suatu pekerjaan (Fitriani & Wardianti, 2014).
Menurut Robbin (Novita, 2017) berpendapat bahwa kemampuan ialah kapasitas seseorang untuk melakukan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Kemudian, Robbin menjelaskan bahwa kemampuan adalah suatu penilaian terkini atas apa yang dapat dikerjakan oleh seseorang.
Lebih lanjut, Stephen dkk. (Fitriani & Wardianti, 2014) menyatakan bahwa kemampuan keseluruhan seorang individu pada dasarnya terdiri atas dua kelompok faktor, yaitu:
a. Kemampuan intelektual (intelectual ability), merupakan kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas mental (berpikir, menalar, dan memecahkan masalah).
b. Kemampuan fisik (physical ability), merupakan kemampuan melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, keterampilan, kekuatan, dan karakteristik serupa.
Berpikir yaitu suatu aktivitas mental yang dapat dialami seseorang apabila seseorang tersebut dihadapkan dengan suatu masalah yang harus segera dipecahkan. Suryabarata (Siswono, 2018) mengemukakan bahwa berpikir adalah suatu proses dinamis yang dapat digambarkan menurut prosesnya. Proses berpikir memuat tiga tahap, yaitu pembentukan pengertian, pembentukan pendapat dan penarikan kesimpulan. Pada pendapat tersebut dapat dipahami, apabila seseorang dihadapkan pada suatu situasi, maka dalam berpikir orang itu akan membuat susunan yang berhubungan antara bagian-bagian informasi yang telah diketahui sebagai pengertian-pengertian. Lalu, orang tersebut akan membuat pendapat yang berdasarkan pada pengetahuannya. Kemudian akan dibuatkan suatu kesimpulan yang gunakan untuk menemukan solusi dari situasi tersebut.
Secara umum berpikir dapat diartikan sebagai proses kognitif yaitu suatu aktivitas mental yang mengutamakan penalaran untuk mendapatkan pengetahuan.
Ashman Conway (Alhabbah, 2015) menjelaskan bahwa kemampuan seseorang dalam berpikir melibatkan enam jenis berpikir yaitu metakognisi, berpikir kritis.,
berpikir kreatif, proses kognitif atau pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, kemampuan berpikir inti seperti representasi dan meringkas dan memahami peran konten pengetahuan.
Berpikir merupakan suatu aspek dari eksistensi manusia. Kemampuan untuk mewujudkan eksistensinya itu ialah dengan jalan proses berpikir. Proses berpikir itu dapat berwujud di dalam dua bentuk,yaitu proses berpikir tingkat rendah dan proses berpikir tingkat tinggi. Salah satu proses berpikir tingkat tinggi adalah berpikir kreatif.
Pehkonen (Albab, 2016) mendeskripsikan berpikir kreatif sebagai suatu kombinasi antara berpikir logis dengan berpikir divergen yang didasari oleh intuisi akan tetapi tetap dalam kesadaran. Apabila seseorang mengaplikasikan berpikir kreatif dalam suatu pemecahan masalah maka pemikiran divergen akan membuat banyak ide yang sangat berguna untuk memecahkan masalah. Dalam berpikir kreatif, terdapat dua komponen pada otak akan sangat dibutuhkan.
Keseimbangan antara logika dengan kreativitas sangat penting. Jika salah satu menempatkan deduksi logis terlalu banyak, maka kreativitas akan terabaikan.
Sehingga untuk memunculkan kreativitas seseorang sangat diperlukan kebebasan berpikir.
Krulik dan Rudnick (Siswono, 2018) menjelaskan bahwa berfikir kreatif merupakan pemikiran yang bersifat asli, reflektif, dan menghasilkan suatu produk yang kompleks. Berpikir rersebut melibatkan sintesis ide-ide, membangun ide-ide baru dan menentukan efektivitasnya.
Pada hakikatnya, pengertian berpikir kreatif berhubungan dengan penemuan sesuatu, tentang hal yang dapat menciptakan sesuatu yang baru dengan
menggunakan sesuatu yang telah ada. Berbicara mengenai berpikir kreatif tentu tidak akan terlepas dari sesuatu yang disebut dengan kreativitas. Downing (Novita, 2017) menjelaskan bahwa kreativitas bisa diartikan sebagai “proses”
untuk menghasilkan sesuatu yang baru dari unsur-unsur yang ada dengan menata kembali unsur-unsusr tersebut. Moreno (Novita, 2017) berpendapat bahwa hal yang terpenting dalam kreativitas itu bukanlah penemuan sesuatu yang belum pernah diketahui oleh orang lain sebelumnya, namun produk kreativitas itu ialah sesuatu yang baru untuk diri sendiri dan tidak harus merupakan sesuatu yang baru untuk orang lain atau dunia pada umumnya. Kemampuan berpikir kreatif ialah kemampuan untuk menelaah sesuatu yang didasarkan pada informasi yang ada juga menemukan banyak jawaban mengenai suatu masalah yang pemfokusannya ada pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban.
Merancang pembelajaran yang mampu memberi siswa peluang yang lebih untuk mendalami permasalahan yang memberikan banyak solusi dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk bepikir kreatif. Berpikir kreatif sangat dibutuhkan setiap orang karena merupakan dasar untuk menjawab respon yang diterima dalam mencari solusi atas permasalahan yang telah dihadapinya.
(Rasnawati et al., 2019)
Manusia yang kreatif selalu berusaha untuk memberi makna pada proses belajarnya. Salah satu hal yang mendorong manusia untuk belajar adalah adanya sifat kreatif dalam dirinya dan keinginan untuk maju.Ia tidak pernah merasa takut pada kesalahan dan kegagalan akan mendorongnya pada pencapaian prestasi yang memuaskan.
Berpikir kreatif ialah berpikir yang ditujukan untuk menemukan hasil lainnya ataupun cara yang berbeda dari suatu masalah matematika. (Mairing, 2018:7). Berpikir kreatif pada matematika mengarah kepada pengertian berpikir kreatif secara umumnya. Bishop (Siswono, 2018) berpendapat bahwa seseorang membutuhkan 2 jenis berpikir berbeda yang komplementer pada matematika, diantaranya berpikir kreatif yang sifatnya intuitif dan juga berpikir analitik yang sifatnya logis. Pendapat ini lebih melihat ke suatu pemikiran yang intuitif dibandingkan dengan pemikiran yang logis. Pada pengertrian ini terlihat bahwa berpikir kreatif tidak didasari oleh pemikiran yang logis tetapi lebih kepada pemikiran yang secara tiba-tiba ada, tidak dapat terduga, serta di luar dari kebiasaan seseorang.
Berpikir kreatif dalam matematika dapat dipandang sebagai orientasi atau disposisi tentang instruksi matematika, termasuk tugas penemuan dan pemecahan masalah. Aktivitas tersebut dapat membawa siswa mengembangkan pendekatan yang lebih kreatif dalam matematika. Tugas aktivitas tersebut dapat digunakan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam hal yang berkaitan dengan dimensi kreativitas.
Silver (Siswono, 2018) menjelaskan bahwa untuk menilai kemampuan berfikir kreatif anak-anak dan orang dewasa sering digunakan “The Torrance Test of Creative Thinking (TTCT)”. Tiga komponen/indikator kunci yang dinilai dalam kreativitas menggunakan TTCT adalah:
a. Kefasihan (fluency), mengacu pada kelancaran dalam membuat ide – ide untuk merespon sebuah perintah.
b. Fleksibilitas (flexibility), mengacu pada kemampuan merspon perintah dengan sudut pandang yang berbeda.
c. Kebaruan (originality), mengacu pada keaslian ide yang dibuat dalam merespon perintah untuk memecahkan masalah dan mengajukan masalah.
Dalam penelitian Novita Ullil Albab (Albab, 2016) menjelaskan 3 indikator berpikir kreatif yaitu kefasihan, fleksibelitas, dan kebaruan, jika siswa menyelesaikan suatu soal sudah sesuai dan tepat dengan perintah soal yang diinginkan, maka indikator kelayakan sudah dipenuhi. Jadi indikator atau komponen berpikir kreatif itu dapat meliputi kefasihan, fleksibelitas dan kebaruan.
Menurut Siswono (Siswono, 2018) tingkatan kemampuan berpikir kreatif seseorang dapat dibagi menjadi 5 tingkatan yaitu:
a. Tingkat ke-4 (sangat kreatif) ialah siswa yang mampu mencapai indikator kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan dalam menyelesaikan suatu masalah/soal.
b. Tingkat ke-3 (kreatif) ialah siswa yang mampu mencapai indikator kefasihan dan fleksibilitas atau indikator kefasihan dan kebaruan dalam menyelesaikan suatu masalah/soal.
c. Tingkat ke-2 (cukup kreatif) ialah siswa yang hanya mampu mencapai indikator fleksibilitas atau kebaruan kebaruan dalam menyelesaikan suatu masalah/soal.
d. Tingkat ke-1 (kurang kreatif) ialah siswa yang hanya mampu mencapai indikator kefasihan dalam menyelesaikan suatu masalah/soal.
e. Tingkat ke-0 (tidak kreatif) ialah siswa yang tidak mampu mencapai indikator seluruh berpikir kreatif dalam menyelesaikan suatu masalah/ soal.
Seseorang pada tingkat ke-4 bisa menyelesaikan suatu masalah/soal dengan menggunakan lebih dari satu jawaban atau mampu juga membuat cara baru untuk menemukan jawaban dengan fasih dan fleksibel. Apabila hanya mampu mendapatkan satu jawaban yang baru namun mampu menyelesaikannya dengan berbagai cara, maka masih termasuk pada tingkatan 4.
Seseorang pada tingkat ke-3 bisa mendapatkan jawaban baru dengan fasih, namun tidak bisa membuat lebih dari satu jawaban ataupun tidak bisa membuat beberapa cara baru. Apabila siswa dapat membuat cara yang berbeda untuk mendapatkan jawaban yang bermacam-macam, walaupun jawaban tersebut tidak baru, maka masih termasuk pada tingkatan 3.
Seseorang pada tingkat ke-2 bisa membuat suatu jawaban yang baru, walaupun tidak fleksibel ataupun fasih. Jika siswa mampu membuat beragam cara penyelesaian yang berbeda walaupun tidak fasih dalam menjawab dan jawaban yang didapatkan tidak baru, maka masih termasuk pada tingkatan 2.
Seseorang pada tingkat ke-1 fasih dalam menjawab masalah/soal yang beragam, namun tidak mampu membuat jawaban yang baru dan juga tidak mampu menyelesaikan dengan cara yang berbeda.
Seseorang pada tingkat ke-0 tidak bisa membuat jawaban ataupun penyelesaian yang berbeda dengan fasih dan fleksibel. Hal ini terjadi karena siswa biasanya masih belum memahami dan tidak mampu mengingat dengan benar.
Berdasarkan penjenjangan tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa, maka penentuan tingkat berpikir kreatif dapat diringkat dan disajikan pada tabel 2.1 yaitu sebagai berikut:
Tabel 2.1 Penetuan Tingkat Berpikir Kreatif Siswa Hasil Tes Berdasarkan Indikator Pencapaian
Kemampuan Berpikir Kreatif
Tingkat Berpikir Kreatif Kefasihan Fleksibilitas Kebaruan
Dipenuhi Dipenuhi Dipenuhi 4
Tidak Dipenuhi Dipenuhi Dipenuhi Dipenuhi Tidak Dipenuhi Dipenuhi
Dipenuhi Dipenuhi Tidak Dipenuhi 3
Tidak Dipenuhi Dipenuhi Tidak Dipenuhi
Tidak Dipenuhi Tidak Dipenuhi Dipenuhi 2
Dipenuhi Tidak Dipenuhi Tidak Dipenuhi 1
Tidak Dipenuhi Tidak Dipenuhi Tidak Dipenuhi 0
Jadi pada penelitian ini, kemampuan berpikir kreatif yang akan dinilai oleh peneliti adalah kemampuan berpikir kreatif yang digunakan “The Torrance Test of Creative Thinking (TTCT)” memenuhi indikator 3 indikator yaitu kefasihan, fleksibelitas dan kebaruan.
Pada penilaian kemampuan berpikir kreatif, penyelesaian peserta didik harus benar dan dilanjutkan untuk menyelesaikan pertanyaan lain yang mengarah pada indikator berpikir kreatif. Adapun penilaian kategori dari 3 indikator kemampuan berpikir kreatif yaitu sebagai berikut:
Tabel 2.2 Kategori Penilaian Indiktor Kemampuan Berpikir Kreatif
Indikator Penilaian Kategori
Kefasihan Jawaban benar, sesuai prosedur matematis yang sesuai dengan memberikan alasan yang lengkap.
Fasih Jawaban benar, tidak sesuai dengan prosedur
matematis yang dan tidak memberikan alasan yang lengkap.
Kurang Fasih Jawaban salah/Tidak ada jawaban Tidak Fasih Fleksibelitas Menemukan lebih dari satu cara dalam
menyelesaikan masalah dan menggunakan prosedur matematis yang sesuai, serta dengan
Fleksibel
alasan lengkap.
Menemukan lebih dari satu cara dalam menyelesaikan masalah, namun belum tepat dan tidak disertai dengan alasan lengkap.
Kurang Fleksibel Jawaban salah/Tidak ada jawaban. Tidak
Fleksibel Kebaruan Dapat menyelesaikan soal dengan benar dan
mampu membuat bentuk lain yang baru. Baru Dapat menyelesaikan soal dengan benar dan
mampu membuat bentuk lain yang baru namun belum tepat dan tanpa disertai alasan.
Kurang Baru Jawaban salah/Tidak ada jawaban. Tidak
Baru
3. Operasi Hitung Bentuk Aljabar
Salah satu materi dalam matematika yang diajarkan di sekolah adalah aljabar. Aljabar ialah sebuah cabang ilmu matematika yang telah ditemukan oleh Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi. Penamaan aljabar berasal dari bahasa arab "al-jabr" yang artinya hubungan atau penyelesaian. Aljabar dapat diartikan sebagai suatu cabang ilmu matematika yang mempelajari tentang konsep atau prinsip penyederhanaan serta pemecahan masalah dengan menggunakan simbol atau huruf tertentu. contohnya, simbol yang biasa dipakai adalah huruf/simbol x yang mewakili nilai dari suatu bilangan yang ingin dicari.(Muhtar, 2014).
Pembelajaran aljabar merupakan hal yang sangat penting karena aljabar sangat mendukung banyak pembahasan lain dalam matematika, serta mampu mengembangkan kemampuan penalaran seseorang. Seperti bidang matematika lainnya, aljabar terdiri dari beberapa konsep dan prinsip dimana sebuah konsep aljabar diperlukan sebagai dasar untuk konsep pembelajaran aljabar berikutnya.
Bentuk aljabar adalah kalimat matematika yang memuat variabel yang mewakili bilangan yang belum diketahui. Suatu bentuk aljabar memuat huruf dan bilangan. Huruf disebut variabel. Bilangan yang mengandung huruf disebut koefisien, sedangkan bilangan yang tidak mengandung huruf disebut konstanta.
Suku adalah banyaknya variabel beserta koefisiennya dan konstanta menjadi satu kesatuan yang dipisahkan oleh operasi jumlah atau selisih pada bentuk aljabar.
(Indonesia, 2019).
a. Suku tunggal dan suku banyak
1) Bentuk 2x, y2 merupakan suku tunggal.
2) Bentuk (12x + 5) merupakan suku dua.
3) Bentuk aljabar yang terdiri dari 3 suku atau lebih disebut suku banyak.
b. Suku-suku sejenis
Bentuk aljabar x2 + 5y – 6 + 6y + 7x2 terdiri dari 5 suku, dengan suku-suku yang sejenis yaitu:
1) x2 dan 7x2 2) 5y dan 6y Contoh:
1) 3p - 3q
p dan q adalah variabel; 2 dan -3 merupakan koefisien; dan bentuk aljabar diatas merupakan aljabar suku dua.
2) 5x + 3y – 8
x dan y merupakan variabel; 5 dan 3 merupakan koefisien; -8 merupakan konstanta; dan aljabar tersebut merupakan suku tiga.
Santoso (Santoso, 2014) menjelaskan beberapa operasi hitung bentuk aljabar meliputi :
a. Penjumlahan dan pengurangan
1) Hanya dapat dilakukan pada suku yang sejenis.
2) Yang dijumlahkan atau dikurangi hanya koefisiennya, serta konstanta dengan konstanta.
Dalam penjumlahan dan pengurangan bentuk aljabar adapun sifa yang berlaku yaitu:
1) Sifat Komutatif a + b = b + a 2) Sifat Assosiatif
(a + b) + c = a + (b + c)
Contoh:
Hasil dari 7x – 3 + 2x + 8 adalah….
Penyelesaian:
7x – 3 + 2x + 8 = 7x + 2x – 3 + 8
= (7 + 2)x – 3 + 8 = 9x + 5
b. Perkalian
Apabila a ≠ 0 dengan a, m dan n merupakan bilangan bulat, maka akan berlaku:
am x an = am+n
Perlu diingat kembali, bahwa perkalian memiliki sifat distributif terhadap penjumlahan dan pengurangan yaitu a(b + c) = (a x b) + (a x c). Hal ini juga berlaku untuk perkalian bentuk aljabar.
1) Perkalian suku satu dengan suku dua : a ( x ± y ) = ax ± ay
Contoh:
9(-2x + 7) = 9 x (-2x) + 9 x 7)
= -18x + 63
2) Perkalian suku dua dengan suku dua :
( x + y )( a + b ) = ( x.a ) + ( x.b ) + ( y.a ) + ( x.b ) ( x + y )2 = x2 + 2xy + y2
( x + y ) ( x - y ) = x2 - y2 ( x - y )2 = x2 - 2xy + y2
Beberapa perkalian suku dua yang penting:
a) (a + b)2 = (a + b)(a + b) = a2 + 2ab + b2 b) (a – b)2 = (a – b)(a – b) = a2 – 2ab + b2 c) (a + b)(a – b) = a2 – b2
3) Perkalian suku tiga dengan suku tiga
(x + y + z)(a + b + c) = ax + bx + cx + ay + by+ cy+ az + bz + cz
= (a + b + c)x + (a + b + c)y + (a + b + c)z c. Pembagian
Apabila a ≠ 0 dengan a, m dan n merupakan bilangan bulat, maka akan berlaku:
am : an = am-n Contoh:
Tuliskan hasil dari 18p3 : 6p2 Penyelesaian:
18p3 : 6p2 = 18𝑝3
6𝑝2
= 18
6 p3-2
= 3p
4. Gender
Kata gender berasal dari bahasa latin, yaitu “genus” berarti tipe atau jenis. Gender adalah sifat dan perilaku yang diletakkan pada laki – laki dan perempuan. (Firawati, 2019). Secara Terminologis, gender dapat diartikan sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Gender dipandang sebagai suatu konsep kultural yang dipakai untuk membedakan antara peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Dapat dipahami bahwa gender adalah suatu sifat yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk melihat perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dilihat dari kondisi sosial dan budaya maupun faktor-faktor nonbiologis lainnya. (Rokhmansyah, 2016).
Kata gender didefinisikan juga sebagai perbedaan peran, kedudukan dan tanggungjawab pada laki-laki maupun perempuan sebagai hasil dari konstruksi sosial budaya yang tertanam lmelalui proses sosialisasi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sehingga, gender ialah hasil dari kesepakatan antar manusia
yang sifatnya tidak kodrati sehingga gender bervariasi dari satu tempat ke tempat lainnya dan dari satu waktu ke waktu berikutnya. Gender bersifatnya tidak kodrati karena bisa berubah dan dipertukarkan dari manusia satu ke manusia lainnya, hal ini tergantung pada waktu dan budaya di masayarakat setempat. Konsep gender menjadi permasalahan sehingga mengakibatkan pro dan kontra baik di kalangan masyarakat, akademisi, maupun pemerintahan sejak dahulu dan bahkan sampai sekarang.
Gender merupakan konstruksi sosio-kultural yang prinsipnya merupakan penjelasan kultural atas perbedaan jenis kelamin. Seperti yang telah diketahui, gender sangat berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin, namun tidak selalu berkaitan dengan fisiologis seperti yang biasa banyak dijumpai di dalam masyarakat. Gender yang ada dalam suatu masyarakat ditetapkan oleh pandangan masyarakat setempat mengenai hubungan laki-laki dan kelaki-lakian juga antara perempuan dan keperempuanannya. Jenis kelamin laki-laki umumnya berhubungan dengan gender maskulin, sedangkan jenis kelamin perempuan berkaitan dengan gender feminim. Namun, hubungan itu bukan termasuk korelsi absolut. (Firawati, 2019). Kemudian, (Husniati et al., 2019) mengemukakan:
“Gender is a distinguishing characteristic between men and women formed by sociocultural factors and biologically formed”.
Konsep gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural. Misalnya, perempuan dikenal lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional dan perkasa. (Rokhmansyah, 2016).
Adapun beberapa pengertian gender menurut para ahli adalah sebagai berikut:
a. Baron dan Byrne (Hodiyanto, 2014) mendefinisikan bahwa gender lebih mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan jenis kelamin individu, tingkah laku, dan atribut lain yang mendefinisikan arti seorang laki-laki dan perempuan dalam kebudayaan yang ada.
b. Menurut Fakih (Abrori & Qurbaniah, 2017) konsep gender adalah perubahan ciri dan sifat-sifat laki-laki maupun perempuan yang terjadi dari waktu ke waktu dan dan dari tempat ke tempat lainnya.
c. Menurut John M. Echols & Hassan Sadhily (Abrori & Qurbaniah, 2017) mengemukakan gender berasal dari bahasa inggris yang berati jenis kelamin.
Secara umum gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku.
d. Oakley Stoller (Utaminingsih, 2017), gender adalah perbedaan yang bukan bersifat biologis dan bukan Kodrat Tuhan. Stoller mendifinisikan bahwa gender ialah kontruksi sosial atribut yang dipakai oleh manusia yang dibangun dari kebudayaan manusia.
Dari beberapa pengertian gender yang telah dipaparkan, maka dapat disimpulkan bahwa gender adalah perbedaan yang terdapat antara laki-laki dan perempuan yang terbentuk oleh faktor sosial maupun kultural dan juga secara biologis.
Krutetszky (Imamuddin & Isnaniah, 2017) menggeneralisasi dari pendapat beberapa ahli tentang keterampilan laki-laki dan perempuan adalah sebagai berikut :
1. Laki – laki lebih unggul dalam penalaran logis, perempuan lebih unggul dalam ketepatan, ketelitian, kecernaan, dan keseksamaan berpikir.
2. Laki – laki mempunyai kemampuan matematika dan mekanika lebih baik daripada perempuan. Perbedaan ini tidak nyata pada tingkat sekolah dasar namun pada tingkat lebih tinggi mulai tampak.
Wood (Hodiyanto, 2014) mengungkapkan bahwa perkembangan gender juga bisa dilihat melalui perkembangan otak. Kemudian, Wood mengemukakan bahwa bahwa pada laki-laki lebih berkembang pada otak kirinya, oleh karena itu dia mampu berpikir logis, abstrak dan analitis. Namun berbeda dengan perempuan karena perempuan lebih berkembang otak kanannya, oleh karena itu dia cenderung beraktifitas secara artistik, holistik, imajinatif, berpikir intutif, dan beberapa kemampuan visual lainnya.
Wycoff (Hodiyanto, 2014) juga memaparkan bahwa kreativitas datang dari interaksi antara kedua belahan otak dan otak kiri. Berdasarkan dari teori yang telah dipaparkan, peneliti menyimpulkan bahwa gender mengacu pada semua yang berkaitan dengan jenis kelamin, baik itu psikologis maupun perkembangan otak dari laki-laki dan perempuan. Perbedaan gender pastinya menimbulkan perbedaan fisiologi dan berpengaruh terhadap perbedaan psikologis dalam belajar, oleh karena itu siswa laki-laki maupun perempuan mempunyai perbedaan dalam mempelajari matematika yang dapat menimbulkan perbedaan cara, hasil belajar
Wycoff (Hodiyanto, 2014) juga memaparkan bahwa kreativitas datang dari interaksi antara kedua belahan otak dan otak kiri. Berdasarkan dari teori yang telah dipaparkan, peneliti menyimpulkan bahwa gender mengacu pada semua yang berkaitan dengan jenis kelamin, baik itu psikologis maupun perkembangan otak dari laki-laki dan perempuan. Perbedaan gender pastinya menimbulkan perbedaan fisiologi dan berpengaruh terhadap perbedaan psikologis dalam belajar, oleh karena itu siswa laki-laki maupun perempuan mempunyai perbedaan dalam mempelajari matematika yang dapat menimbulkan perbedaan cara, hasil belajar