• Tidak ada hasil yang ditemukan

Batasan Masalah

Dalam dokumen BUKU HUKUM PERBANKAN SYARIAH Baru (Halaman 101-112)

PENDAHULUAN 1 Latar Belakang

2. Batasan Masalah

Agar penulisan makalah tidak meluas, dan mengindari kesalah pahaman terhadap persepsi makalah yang hendak ditulis, maka perlu pembatasan objek yang akan dikaji. Adapun penulisan makalah ini dibatasi pada hal berikut :

a. Terdapat banyak sekali tindak pidana dalam perbangkan salah satunya adalah Tindak Pidana yang berkaitan dengan rahasia bank.

BAB II PEMBAHASAN

1. Rahasia Bank sebagai Perlindungan Hukum Baik dari ketentuan dalam UU No 7 Tahun 1992 dan dengan perubahan dalam UU No 10 tahun

1998, telah memberi perlindungan hukum kepada data keuangan dan keterangan lain dari nasabah bangk. Hanya saja dalam UU No 10 tahun 1998, perlindungan hukum itu diberikan kepada pihak nasabah penyimpan saja, tidak lagi diberi perlindungan kepada data keuangan dan hal lainnya nasabah debitur.

Lebih lanjut sehubungan dengan perlindungan hukum ini adalah ancaman pidana yang tercantum dalam Pasal 47 dan 47A UUP 1998. Pasal 47 ayat (1) memberi ancaman dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 2 tahun dan paling lama 4 tahun dengan denda sekurang- kurangnya Rp 10 Milyar dan paling banyak Rp 200 milyar, terhadap orang yang tanpa membawa perintah tertulis atau izin dari Bank Indonesia sebagaimana yang dimaksud atau pihak terafiliasi untuk memberikan keterangan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 40.

Pasal 40 ayat (2) mengancam dengan pidana denda sekurang kurangnya Rp 4 milyar dan

paling banyak 8 milyar terhadap Anggota Dewan Komisaris, Direksi, pegawai bank atau pihak terafiliasi lainnya dengan sengaja memberikan keterangan yang wajib dirahasiakan menurut Pasal 40.

Dari ketentuan, di atas terlihat bahwa perlindungan hukum yang diberikan oleh undang- undang cukup kuat untuk menjaga agar tidak terjadi pembocoran rahasia bank tersebut.

Dilihat dari segi hakekat rahasia bank Taufik EL Rahim menulis bahwa adanya kewajiban bank untuk menyimpan rahasia dari nasabah didasarkan kepada 4 hal:

1. Hak setiap orang atau badan untuk tidak mencampuri dalam masalah yang bersifat pribadi (personal privacy)

2. Hak yang timbul dari hubungan perikatan antara bank dan nasabahnya wajib dan dengan itikat baik wajib untuk melindungi kepentingan nasabahnya.

3. Bank dalam menghimpun dana dari masyarakat bekerja berdasarkan kepercayaan masyarakat dengan demikian pengetahuan bank mengenai keuangan nasabah tidak disalahkan dan wajib dijaga oleh bank.

4. Kebiasaan dan kelaziman dalam dunia perbankan (Taufik EL Rahim, 1998:61)

Jika dikaitkan antara rahasia bank yang diatur dalam UUP, tidak terlepas dari dasar permahaman dari hakekat rahasia bank itu sendir. Oleh karena itu perlindungan hukum yang diatur dalam UUP tersebut merupakan suatu kepatutan, yang pengecualian hanya dapat dilakukan dalam hal- hal yang sangat diperlukan.

Ditilik dari sudut sifat kerahasian bank ada 2 teori sebagaimana dikemukakan oleh Djumhana yaitu teori rahasia bank yang bersifat mutlak dan yang bersifat nisbi54.

54 Djumhana, M, Hukum Perbankan Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993

Teori yang bersifat mutlak menghendaki bahwa bank berkewajiban menyimpan rahasia nasabah karena kegiatan usahanya dalam keadaan apapun baik dalam keadaan biasa maupun luar biasa, sedangkan teori yang bersifat nisbi memperolehkan bank membuka rahasia nasabahnya untuk kepentingan yang mendesak seperti kepentingan negara (Djumhana, 1993,111)55.

UU No.10 tahun 1998 jelas menganut teori nisbi (sholehuddin,1997,74) yang membenarkan tindakan bank untuk membuka rahasia dalam beberapa kepentingan sebagaimana yang telah dibahas terdahulu.

2. Rahasia Bank Sebagai Faktor Kriminogen

Ada berbagai tindak pidana yang terdapat terjadi karena berlindung pada rahasia bang, seperti pencurian uang (money laundering), penggelapan pajak, korupsi.

55 Djumhana, M, Hukum Perbankan Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993

Sumarkoco menulis bahwa dengan adanya kerahasiaan bank, oleh oknum-oknum tertentu dapat digunakan sebagai payung pelindung untuk melakukan berbagai kejahatan yang sulit diungkapkan karena modus operandinya sangat canggih seiring dengan kemajuan informasi dan teknologi dewasa ini.

Bentuk kejahatan dibidang perbankan yang sering dilakukan oleh oknum-oknum tertentu (negarawan, politikus, pengusaha, dan para koruptor lainnya) adalah apa yang disebut

money laundering” (Sumarkoco S, 1990:1)

Sumitro R menulis tentang praktek Bank Swiss yang disebut dengan “mumbered account” yang merahasiakan surat-surat, penunjukkan orang- orang yang fiktif dan lain-lain sebagainya (simitro, 1977;193). Keadaan ini telah digunakan oleh oknum-oknum seperti koruptor, penyelundup pajak, bank digunakan sebagai tempat untuk

menyimpan uang agar terhidar dari pengejaran oleh petugas56.

Rahasia bank bukan suatu faktor yang berdiri sendiri di mana orang termotivasi untuk melakukan kejahatan, masih ada faktor lain yang mendahuluinya. Dilihat dari sudur teori kriminologi, rahasia bank ini telah meniadakan kontrol sosial, terhadap terjadinya perbuatan- perbuatan yang menyimpan.

Reiss, membedakan dua macam kontrol yaitu personal control dan social control (Romli Atmasasmita, 1992;32). Personal Control adalah kemampuan seorang untuk menahan diri untuk tidak mencapai kebutuhannya dengan melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat, sedangkan social control atau eksternal kontrol adalah kemampuan kelompok sosial atau lembaga-lembaga dalam masyarakat untuk

56 Sumitro, R, Hukum Pajak International Indonesia,

melaksanakan norma-norma atau peraturan menjadi efektif57.

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan

Dari bahasan diatas dapat disimpulkan bahwa UUP 1998 telah mempersempit ruang lingkup rahasia bank, yaitu hanya rahasia nasabah penyimpan. Rahasia bank perlindungan hukum kepada nasabah penyimpanan tetap diakui eksestensinya namun diperlukan adanya peraturan hukum yang dapat memperkecil kemungkinan bank digunakan sebagai terminal untuk melegalkan uang yang diperoleh dari tindak pidana.

57 Romli Atmasasmita, Teori Dan Kapita Selekta Kriminologi, PT Eresco Bandung, 1992

Daftar Pustaka

Djumhana, M, Hukum Perbankan Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993

Pardede, Marulak, Hukum Pidana Bank, pustaka Harapan, Jakarta, 1995.

Romli Atmasasmita, Teori Dan Kapita Selekta

Kriminologi, PT Eresco Bandung, 1992

Sholehuddin M, Tindak Pidana Perbankan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997

Sumitro, R, Hukum Pajak International

Indonesia, Perkembangan Serta

Pengaruhnya, PT Eresco Bandung, 1997.

UU RI No 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU No 7 tahun 1992 tentang

perbankan, BP Panca Usaha, Jakarta, 2000.

MATERI VII

Pelayanan bank (penghimpunan, penyaluran, produk dan jasa)

OLEH : Nama NIM Ai Siti Wasilah 1111044100067 Muhammad Rivai 1111044100092 Robiatul Adawiyah 1111044100071 BAB I PENDAHULUAN

Bank sebagai lembaga intermediasi keuangan (financial intermediary instution) selain melakukan kegiatan penghimpunan dana dari masyarakat, ia juga akan menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau pembiayaan.

Prinsip bank syariah diartikan sebagai aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan

dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah. Dalam praktiknya bank syariah tidak menggunakan bunga melainkan bagi hasil.

Pada masa sekarang ini kebanyakan orang lebih memilih bank konvensional dibandingkan bank syariah untuk menyimpan uang, meminjam uang dan lain sebagainya. Padahal jika kita ketahui penghimpunan, penyaluran, produk dan jasa di bank syariah lebih tepat dibanding bank konvensional.

BAB II PEMBAHASAN

A. Penghimpunan Dana Bank Syariah

Dalam dokumen BUKU HUKUM PERBANKAN SYARIAH Baru (Halaman 101-112)