• Tidak ada hasil yang ditemukan

Batasan Penelitian

Dalam dokumen PENGARUH NON PERFORMING LOAN (Halaman 31-0)

BAB I PENDAHULUAN

1.6. Batasan Penelitian

Agar tujuan penelitian dapat tercapai, maka penulis membuat batasan dalam penelitian ini, batasan penelitiannya antara lain adalah

1. Objek penelitian ini adalah laporan keuangan tahunan perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010 sampai 2019.

2. Variabel-variabel yang diteliti diperkirakan dapat mempengaruhi pemberian kredit yaitu, Non Performing Loan (NPL), Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequacy Ratio (CAR), Return On Asset (ROA), LDR (Loan to Deposit Ratio), dan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO).

BAB II

LANDASAN TEORI DAN TELAAH LITERATUR 2.1 LandasanTeori

2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan (agency theory) menurut Jensen dan Meckling (1976) pada penelitian Tantri (2018) merupakan hubungan keagenan antara pemilik sumber daya ekonomis (principal) dan manajer (agent) yang mengurus penggunaan dan pengendalian sumber daya tersebut. Oleh karena itu, teori ini mengacu pada hubungan kontrak antara pemegang saham/pemilik dan manajemen/manajer.

Hubungan keagenan ini mengakibatkan dua permasalahan yaitu: (a) terjadinya informasi asimetris (asymmetry information); dan (b) terjadinya konflik kepentingan (conflict of interest).

Berhubungan dengan teori ini, Watts dan Zimmerman, (1986) dalam Positif Accounting Theory mengajukan tiga hipotesis, yaitu : i) bonus plan hypothesis, ii) debt/equity hypothesis, dan iii) political cost hypothesis, yang secara implisit menyatakan 3 bentuk keagenan, yaitu antara pemilik dengan manajemen, antara kreditur dengan manajemen, dan antara pemerintah dengan manajemen. Sehingga secara umum, principal bukan hanya pemilik perusahaan, tetapi juga bisa berupa pemegang saham, kreditur, maupun pemerintah.

Dalam aktivitas operasional perbankan, sumber dana utama berasal dari dana yang dihimpun dari masyarakat, modal para pemegang saham dan pinjaman yang diberikan oleh pihak lain (kreditur). Dalam hubungannya dengan pemilik dana, seringkali nasabah penyimpan maupun pemegang saham tidak memiliki

15

informasi yang memadai terkait dengan kondisi keuangan bank yang seharusnya diperlukan sebelum melakukan penanaman modal untuk meyakinkan kreditur dana yang disimpannya akan terjamin dan memberikan pengembalian yang baik.

Penggunaan dana kepada beberapa hal yang memiliki risiko tinggi akan berdampak pada peningkatan risiko tingkat pengembalian. Oleh karena itu pihak manajer harus bekerja lebih berhati-hati guna menghindari ancaman risiko kebangkrutan dan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap bank tersebut.

2.1.2 Teori Sinyal (Signalling Theory)

Teori sinyal membahas bagaimana seharusnya signal-signal keberhasilan atau kegagalan manajemen (agen) disampaikan kepada pemilik (prinsipal). Teori signal menjelaskan bahwa pemberian signal dilakukan oleh manajemen untuk mengurangi informasi asimetris. Hal positif dalam signalling theory dimana perusahaan yang memberikan informasi yang bagus akan membedakan mereka dengan perusahaan yang tidak memiliki “berita bagus” dengan menginformasikan kepada pasar tentang keadaan mereka, sinyal tentang bagusnya kinerja masa depan yang diberikan oleh perusahaan yang kinerja keuangan masa lalunya tidak bagus tidak akan dipercaya oleh pasar (Wolk dan Tearney dalam Dwiyanti, 2010).

Menurut Jogiyanto (2014), informasi yang dipublikasikan sebagai suatu pengumuman akan memberikan signal bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi. Pada saat informasi diumumkan, pelaku pasar terlebih dahulu menginterpretasikan dan menganalisis informasi tersebut sebagai signal baik atau buruk.

17

Teori ini memiliki hubungan yang erat dengan industri perbankan yang terdapat pemegang saham, kreditur dan debitur. Melihat sumber dana terbesar penyaluran kredit adalah dana masyarakat yang harus dijaga keamanannya, maka Otoritas Jasa Keuangan sebagai regulator mewajibkan kepada perbankan untuk melakukan publikasi laporan keuangan yang memuat informasi penting terkait kondisi keuangan bank dimaksud. Laporan publikasi dan laporan tahunan merupakan salah satu bentuk sinyal yang dapat digunakan oleh masyarakat maupun pihak ketiga lainnya untuk menentukan melakukan penempatan dananya atau memberikan pinjaman dana. Kondisi keuangan yang baik akan memberikan sinyal baik kepada para pemilik dana untuk melakukan penempatan dananya pada bank tersebut dan sebaliknya.

Mengenai penyaluran kredit, sebelumnya bank harus meyakini bahwa calon debitur merupakan debitur yang memiliki kemampuan untuk melakukan pengembalian dana dengan baik melalui laporan keuangan yang disampaikan debitur terkait dengan usaha yang dijalankannya dan selanjutnya dianalisa oleh pihak bank. Oleh karena itu, perusahaan perbankan harus terus berusaha untuk memberikan sinyal positif kepada nasabah dan masyarakat karena fungsi bank sebagai intermediasi dan merupakan lembaga kepercayaan.

2.2 Telaah Literatur 2.2.1 Kredit

Kredit berasal dari bahasa Yunani, yaitu “credere, yang berarti kepercayaan (Wahjono, 2013). Menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998, kredit merupakan penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,

berdasar persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibakn untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Perkreditan di perbankan memiliki beberapa jenis pembebanan suku bunga yaitu suku bunga tetap (Flat Rate), suku bunga yang mengalikan persentase suku bunga per periode dengan sisa pinjaman (Sliding Rate), dan suku bunga yang dilakukan sesuai dengan tingkat suku bunga pada bulan yang bersangkutan (Floating Rate) (Kasmir, 2012).

Setiap kredit memiliki risiko, salah satu upaya yang dilakukan bank untuk mengantisipasi atau untuk meminimalisir risiko kredit dimulai sejak nasabah mengajukan permohonan kredit, yaitu pada tahap awal pengambilan keputusan pemberian kredit. Hal ini dilakukan dengan cara menganalisa berbagai informasi yang diperoleh dari calon debitur . Dalam kaidah umum yang berlaku, terdapat prinsip-prinsip yang menjadi acuan bagi perbankan untuk menilai calon debiturnya dan selalu menjadi faktor yang dipertimbangkan dalam pemberian kredit.

Perusahaan juga dapat melakukan analisis kredit yang yaitu suatu proses analisis yang dilakukan oleh bank untuk menilai suatu permohonan kredit yang telah diajukan oleh calon debitur. Analisis kredit ini bertujuan untuk mencegah secara dini kemungkinan terjadinya default oleh nasabah (Ismail, 2010).Selain itu, bank harus melihat berdasarkan kriteria penilaian yang umum untuk mendapatkan nasabah yang benar- benar layak untuk diberikan, dilakukan dengan analisis 6C, yaitu watak/sifat dari nasabah (Character), kemampuan yang dimiliki calon nasabah dalam menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan

19

(Capacity), jumlah dana / modal sendiri yang dimiliki oleh calon nasabah (Capital), situasi dan kondisi perekonomian (Condition of Economy), Agunan/Jaminan (Collateral), serta batasan dan hambatan (Constraint) (Sugiharto, 2006)

Sementara itu, penilaian dengan 7P kredit juga wajib dipertimbangkan, antara lain kepribadian peminjam modal (Personality), klasifikasi berdasarkan golongan tertentu (Party), tujuan pengambilan kredit (Perpose), tujuan nasabah dimasa depan (Prospect), kemampuan nasabah dalam melakukan pembayaran (Payment), serta kemampuan nasabah dalam mendapatkan keuntungan (Profitability), perlindungan/jaminan asuransi (Protection).

Rasio-rasio keuangan juga dicari untuk mengetahui kondisi keuangan dan perkembangan suatu perusahaan yang akan melakukan pemberian kredit. Dalam mengabulkan suatu permohonan kredit, kreditur perlu mengetahui kondisi dan perkembangan perusahaan debitur yang diberi kredit. Untuk menilainya, bank menggunakan penilaian aman dan tidak aman. Hasil penilaian diperoleh berdasarkan rasio-rasio keuangan yang tercantum dalam neraca ataupun laporan laba rugi.

2.2.2 Non Performing Loan (NPL)

Non Performing Loan (NPL) merupakan kredit bermasalah. Kredit bermasalah ini disebabkan karena perputaran kas yang tidak lancar, sehingga bank dapat mengalami kerugian. Menurut Mahmoeddin (2010) non performing loan (NPL) merupakan kredit bermasalah dapat diartikan sebagai pinjaman yang mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor kesengajaan dan atau karena faktor eksternal di luar kemampuan kendali debitur. Pemberian kredit tentunya

mengandung risiko yang dapat mengurangi keuntungan optimal dan dapat menghambat aktivitas bank. Besarnya NPL menjadi salah satu penyebab sulitnya perbankan dalam menyalurkan kredit. Menurut Golin (2001), non performing loan menggambarkan tingkat kualitas asset sebuah bank, yang mana indicator NPL yang baik dapat dibandingkan dengan rata-rata nilai NPL industry bank, jika nilai NPL sebuah bank lebih rendah dari nilai NPL industry maka dapat dikatakan asset bank tersebut berkualitas rendah.

Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/2/PBI/2013 pasal 5 tentang Penetapan status dan tindak lanjut pengawasan Bank Umum Konvensional mendefinisikan bahwa kredit bermasalah yaitu salah satu indikator kunci untuk menilai kinerja yang disalurkan. Dalam hal ini bank Indonesia selaku bank utama menetapkan bahwa tingkat atau kriteria rasio NPL yang wajar adalah di bawah 5%.Berdasarkan pengertian dari beberapa sumber dapat disimpulkan bahwa kredit bermasalah (Non Performing Loan) menggambarkan situasi dimana persetujuan pengembalian kredit mengalami resiko kegagalan, bahkan cenderung menuju atau mengalami kerugian potensial. Perlu diketahui bahwa anggapan kredit bermasalah dikarenakan kesalahan debitur merupakan hal yang salah. Kredit bermasalah dapat dikarenakan oleh berbagai hal yang berasal dari nasabah, kondisi internal bank dan kondisi eksternal. Non Performing Loan (NPL) termasuk didalamnya adalah kredit kurang lancar, kredit diragukan dan kredit macet.

21

2.2.3 Dana Pihak Ketiga (DPK)

Dana Pihak Ketiga (DPK) merupakan dana yang dihimpun oleh bank yang berasal dari masyarakat. Pentingnya sumber dana dari masyarakat luas disebabkan karena sumber dana tersebut merupakan sumber dana yang paling utama bagi bank.

Sumber dana yang berasal dari pihak ketiga ini antara lain Simpanan Giro (demand deposit), Tabungan, Deposito (Ismail, 2010).

Semakin tinggi jumlah DPK yang dihimpun bank, bank cenderung akan menyalurkan kredit yang tinggi. Semakin besar DPK yang dihimpun oleh bank akan menyebabkan semakin besar pula sumber dana (loanable fund) yang dihimpun bank dan berdampak kepada kenaikan penawaran dana kepada masyarakat sehingga semakin tingginya jumlah penyaluran kredit oleh bank (Panggalih, 2015).

2.2.4 Capital Adequacy Ratio (CAR)

Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva. Capital Adequacy Ratio memperlihatkan kemampuan bank dalam memenuhi kecukupan modalnya. Pengelolaan modal yang baik akan membantu memperlancar aktivitas utama bank yaitu dalam pemberian kredit. modal juga dapat mempengaruhi kepercayaan masyarakat, apabila tingkat modal bank yang ideal maka hal tersebut akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam menginvestasikan dananya (Ariwidanta, 2016).

Modal terdiri dari jumlah modal inti dan modal pelengkap, sedangkan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) adalah nilai total masing-masing aktiva bank setelah dikalikan dengan masing masing bobot risiko aktiva tertimbang

tersebut. Yang dimaksud dengan aktiva dalam perhitungan ini mencakup baik aktiva yang tercantum dalam neraca maupun aktiva yang bersifat administratif sebagaimana tercermin dalam kewajiban yang masih bersifat kontingen dan/atau komitmen yang disediakan bagi pihak ketiga. Terhadap masing-masing jenis aktiva tersebut ditetapkan bobot risiko yang besarnya didasarkan pada kadar risiko yang terkandung dalam aktiva itu sendiri atau yang didasarkan atas penggolongan nasabah, penjamin atau sifat barang jaminan.

Apabila persentase CAR terlalu kecil (lebih rendah dari standar BI) maka bank tersebut termasuk ke dalam kategori bank tidak sehat namun apabila persentase CAR terlalu besar berarti terlalu besar dana bank yang menganggur (Faishol, 2007). Adapaun tingkat persetase dari CAR dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.1. Predikat Kesehatan Berdasarkan CAR

Rasio Predikat

“12% < CAR” “Sangat Sehat”

“9% < CAR ≤ 12%” “Sehat”

“8% < CAR ≤ 9%” “Cukup Sehat”

“6% < CAR ≤ 8%” “Kurang Sehat”

“CAR ≤ 6%” “Tidak Sehat”

Sumber: Lampiran SE BI 13/24/DPNP/2011 2.2.5 Return On Asset (ROA)

Kegiatan operasional perbankan tentu saja berorientasi pada laba, oleh karena itu bank perlu memperhatikan aspek profitabilitas atau tingkat keuntungan yang dimiliki. Karena Profitabilitas sebagai acuan dalam mengukur laba dan laba yang diraih oleh bank merupakan refleksi dari kinerja bank dalam mengelola dana yang dihimpunnya. Laba merupakan tujuan utama yang ingin dicapai dalam sebuah

23

usaha, termasuk juga bagi usaha perbankan. Alasan dari pencapaian laba perbankan tersebut dapat berupa kecukupan dalam memenuhi kewajiban terhadap pemegang saham, penilaian atas kinerja pmpinan, dan meningkatkan daya tarik investor untuk menawarkan modalnya. Laba yang tinggi membuat bank mendapat kepercayaan dari masyarakat yang memungkinkan bank untuk menghimpun modal yang lebih banyak sehingga bank memperoleh kesempatan meminjamkan dengan lebih luas (Simorangkir, 2004).

Return On Asset (ROA) merupakan rasio yang paling baik digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi bank, karena Return On Asset (ROA) menggambarkan kemampuan manajemen bank dalam mengalokasikan asetnya untuk menghasilkan laba. Bank Indonesia menetapkan pentingnya penilaian besarnya Return On Asset (ROA), karena Bank Indonesia sebagai Pembina dan pengawas perbankan lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank yang diukur dengan asset. Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset yang mana sebagaian besar dananya berasal dari masyarakat dan nantinya oleh bank juga harus disalurkan kembali kepada masyarakat (Kasmir, 2012). Adapun predikat Bank berdasarkan ROA dapat ditunjukkan pada tabel 2.2 dibawah ini.

Tabel 2.2. Predikat Kesehatan Berdasarkan ROA

Rasio Predikat

“2% < ROA” “Sangat Sehat”

“1,25% < ROA ≤ 2%” “Sehat”

“0,5% < ROA ≤ 1,25%” “Cukup Sehat”

“0% < ROA ≤ 0,5%” “Kurang Sehat”

“ROA ≤ 0%” “Tidak Sehat”

Sumber: Lampiran SE BI 13/24/DPNP/2011

2.2.6 Loan to Deposit Ratio (LDR)

Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakan rasio yang mengukur perbandingan antara seluruh jumlah kredit yang diberikan oleh bank dengan dana yang dihimpun oleh bank. Besarnya kredit yang disalurkan oleh bank dipengaruhi oleh dana yang dihimpun oleh bank yang dijadikan bank sebagai sumber likuiditas, sehingga nantinya akan mempengaruhi besar kecilnya rasio LDR (Dendawijaya, 2005).

Loan to deposit ratio (LDR) adalah suatu pengukuran tradisional yang menunjukkan deposito berjangka, giro, tabungan dan lain-lain yang digunakan dalam memenuhi permohonan pinjaman (loan request) nasabahnya (Latumaerissa, 2014). Rasio ini menggambarkan sejauh mana simpanan digunakan untuk pemberian pinjaman. Rasio ini juga dapat untuk memberi isyarat apakah suatu pinjaman masih dapat mengalami ekspansi atau sebaliknya harus dibatasi. Jika bank mempunyai LDR yang sangat tinggi, maka bank akan mempunyai resiko tidak tertagihnya pinjaman yang tinggi pada titik tertentu bank akan mengalami kerugian.

Oleh karena itu menurut peraturan Bank Indonesia No. 18/14/PBI/2016 telah memberikan standar untuk rasio LDR perbankan di Indonesia, yaitu pada kisaran antara 80% sampai dengan 92%.

Tingginya tingkat LDR akan menunjukkan besarnya dana kredit yang disalurkan oleh bank dalam hal membayar kewajiban jangka pendeknya, dan sebaliknya jika semakin rendah LDR maka menunjukkan semakin rendahnya kemampuan kredit yang disalurkan oleh bank dalam membayar kewajiban jangka

25

pendeknya. LDR difungsikan sebagai suatu indikator dalam mengetahui seberapa besar tingkat kerawanan dalam suatu bank.

2.2.7 Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)

BOPO merupakan perbandingan antara beban operasional dan pembiayan operasional yang diperoleh bank. Beban operasional dihitung dengan menjumlahkan beban bunga dan beban operasional bank lainnya, sedangkan pendapatan operasional dihitung dengan menjumlahkan pendapatan bunga dan pendapatan operasional lainnya. BOPO adalah rasio biaya operasi dibandingkan pendapatan operasi. Bank yang memiliki tingkat BOPO yang tinggi menunjukkan bahwa bank tersebut tidak menjalankan kegiatan operasionalnya dengan efisien.

Beban operasional merupakan pengorbanan yang diterbitkan untuk membiayai kegiatan operasional seperti beban bunga dan beban gaji. Sementara, pendapatan operasional adalah pendapatan yang diperoleh bank selama melakukan kegiatan operasional seperti pendapatan bunga yang diperoleh dari penyaluran kredit.

Rasio BOPO digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Rasio BOPO juga digunakan untuk mengatur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional dan pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank ada dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Oleh karena itu, dapat dikatakan semakin besar rasio BOPO, maka bank dalam mengeluarkan biaya guna mendapatkan pendapatan yang semakin besar pula, sehingga kemungkinan

penyaluran kredit akan terhambat (Malahayati dan Sukmawati, 2015). Predikat dari nilai BOPO dapat dilihat pada tabel 2.3 berikut.

Tabel 2.3. Predikat Kesehatan Berdasarkan BOPO

Rasio Predikat

“BOPO ≤ 94%” “Sangat Sehat”

“94% < BOPO≤ 95%” “Sehat”

“95% < BOPO ≤ 96%” “Cukup Sehat”

“96% < BOPO≤ 97%” “Kurang Sehat”

“BOPO > 97%” “Tidak Sehat”

Sumber: Lampiran SE BI 13/24/DPNP/2011

BOPO (X6) LDR (X5) ROA

(X4)

Pemberian Kredit (Y)

CAR (X3) DPK

(X2) NPL (Xı)

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Konsep

Untuk menggambarkan konsep pengaruh NPL, DPK, CAR, ROA, dan BOPO terhadap Pemberian Kredit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.

Bentuk kerangka konseptual dapat digambarkan sebagai berikut:

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

Non Performing Loan (NPL), Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequacy Ratio (CAR), Return On Asset (ROA), Loan Deposit Ratio (LDR) dan Biaya

27

Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) merupakan variabel independen, sedangkan Pemberian Kredit merupakan variabel dependen.

3.2 Hipotesis

3.2.1 Pengaruh Non Performing Loan (NPL) Terhadap Pemberian Kredit Non Performing Loan (NPL) merupakan kredit bermasalah. Kredit bermasalah ini disebabkan karena perputaran kas yang tidak lancar, sehingga bank dapat mengalami kerugian. Pemberian kredit tentunya mengandung risiko yang dapat mengurangi keuntungan optimal dan dapat menghambat aktivitas bank. Non Performing Loan (NPL) diukur melalui perbandingan jumlah kredit bermasalah dengan kredit yang disalurkan oleh bank. Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian Mulyawati (2015) dan Hasyim (2014) yang menyatakan bahwa Non Performing Loan mempunyai berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyaluran kredit.

Hipotesis 1 :Non Performing Loan (NPL) berpengaruh negatif terhadap Pemberian Kredit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.

3.2.2 Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK) Terhadap Pemberian Kredit Dana Pihak Ketiga (DPK) merupakan dana yang dihimpun oleh bank yang berasal dari masyarakat. Semakin tinggi jumlah DPK yang dihimpun bank, bank cenderung akan menyalurkan kredit yang tinggi. Semakin besar DPK yang dihimpun oleh bank akan menyebabkan semakin besar pula sumber dana (loanable fund) yang dihimpun bank dan berdampak kepada kenaikan penawaran dana kepada masyarakat sehingga semakin tingginya jumlah penyaluran kredit oleh bank.

Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian Yoga (2013) dan Trimulyanti (2014)

29

yang memberikan hasil bahwa dana pihak ketiga (DPK) berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyaluran kredit.

Hipotesis 2 : Dana Pihak Ketiga (DPK) berpengaruh positif terhadap Pemberian Kredit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.

3.2.3 Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) Terhadap Pemberian Kredit Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko (kredit penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank disamping memperoleh dana dari sumber-sumber di luar bank, seperti dana dari masyarakat dan pinjaman. Dengan kata lain rasio ini menunjukkan tingkat kecukupan modal suatu bank. Agar bank dapat menyalurkan kreditnya dengan lancar, bank harus memiliki modal yang cukup untuk menunjang aktiva yang mungkin mengandung atau menghasilkan risiko. Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian Maharani (2011) dan Arifati (2016) yang menunjukkan bahwa CAR berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyaluran kredit.

Hipotesis 3 : Capital Adequacy Ratio (CAR) Ratio berpengaruh positif terhadap Pemberian Kredit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.

3.2.4 Pengaruh Return on assets (ROA) Terhadap Pemberian Kredit

Return on assets (ROA) merupakan rasio rentabilitas dihitung dengan cara membandingkan laba sebelum pajak dan rata-rata total aset, hasil dari pengukuran tersebut menunjukkan seberapa besar bank dalam memaksimalkan aset-aset yang dimiliki perbankan dan untuk mengetahui kemampuan manajemen dalam meningkatkan laba. Laba yang tinggi membuat bank mendapat kepercayaan dari

masyarakat yang memungkinkan bank untuk menghimpun modal yang lebih banyak sehingga bank memperoleh kesempatan meminjamkan dengan lebih luas.

Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Malahayati dkk (2015) yang menyatakan bahwa semakin besar ROA yang diperoleh bank maka semakin besar pula jumlah kredit yang disalurkan oleh bank tersebut.

Hipotesis 4 : Return on assets (ROA) berpengaruh positif terhadap Pemberian Kredit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.

3.2.5 Pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) Terhadap Pemberian Kredit Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakan rasio yang mengukur perbandingan antara seluruh jumlah kredit yang diberikan oleh bank dengan dana yang dihimpun oleh bank. Besarnya kredit yang disalurkan oleh bank dipengaruhi oleh dana yang dihimpun oleh bank yang dijadikan bank sebagai sumber likuiditas, sehingga nantinya akan mempengaruhi besar kecilnya rasio LDR (Dendawijaya, 2005).

Tingginya tingkat LDR akan menunjukkan besarnya dana kredit yang disalurkan oleh bank dalam hal membayar kewajiban jangka pendeknya, dan sebaliknya jika semakin rendah LDR maka menunjukkan semakin rendahnya kemampuan kredit yang disalurkan oleh bank dalam membayar kewajiban jangka pendeknya. Pernyataan ini didukung oleh penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Putra dan Wirathi (2014) dan Martin, dkk (2014) yang menyatakan bahwa LDR memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap penyaluran kredit.

Hipotesis 5 : Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh positif terhadap Pemberian Kredit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.

31

3.2.6 Pengaruh Biaya Operasional pada Pendapatan Operasioanal (BOPO) Terhadap Pemberian Kredit

BOPO merupakan perbandingan antara beban operasional dan pembiayaan operasional yang diperoleh bank. Beban operasional dihitung dengan menjumlahkan beban bunga dan beban operasional bank lainnya, sedangkan pendapatan operasional dihitung dengan menjumlahkan pendapatan bunga dan pendapatan operasional lainnya. Semakin kecil rasio biaya (beban) operasionalnya akan lebih baik, karena bank yang bersangkutan dapat menutup biaya (beban) operasional dengan pendapatan operasionalnya (Rivai dkk, 2007). Sehingga, diperkirakan bahwa BOPO memiliki hubungan negatif terhadap penyaluran kredit dimana semakin kecil nilai BOPO maka semakin baik pemaksimalan pendapatan terhadap beban bank yang juga mengindikasikan semakin baik penyaluran kreditbank.Rasio BOPO yang menunjukkan nilai tinggi dapat membuat bank tidak efisisen dalam memberikan kredit. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yulhasnita (2013), Haryanto dan Widyarti (2017) yang menunjukkan BOPO berpengaruh negatif terhadap penyaluran kredit.

Hipotesis 6 : Biaya Operasional pada Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh negatif terhadap Pemberian Kredit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.

BAB IV

METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian kausalitas yang berguna untuk menganalisis pengaruh antar satu variabel dengan variabel lainnya. Penelitian ini dirancang untuk menguji pengaruh fakta dan fenomena serta mencari keterangan- keterangan secara actual yaitu penelitian yang bersifat menjelaskan mengenai

Penelitian ini menggunakan desain penelitian kausalitas yang berguna untuk menganalisis pengaruh antar satu variabel dengan variabel lainnya. Penelitian ini dirancang untuk menguji pengaruh fakta dan fenomena serta mencari keterangan- keterangan secara actual yaitu penelitian yang bersifat menjelaskan mengenai

Dalam dokumen PENGARUH NON PERFORMING LOAN (Halaman 31-0)

Dokumen terkait