BAB II LANDASAN TEORI DAN TELAAH LITERATUR
2.2. Telaah Literatur
2.2.4. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva. Capital Adequacy Ratio memperlihatkan kemampuan bank dalam memenuhi kecukupan modalnya. Pengelolaan modal yang baik akan membantu memperlancar aktivitas utama bank yaitu dalam pemberian kredit. modal juga dapat mempengaruhi kepercayaan masyarakat, apabila tingkat modal bank yang ideal maka hal tersebut akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam menginvestasikan dananya (Ariwidanta, 2016).
Modal terdiri dari jumlah modal inti dan modal pelengkap, sedangkan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) adalah nilai total masing-masing aktiva bank setelah dikalikan dengan masing masing bobot risiko aktiva tertimbang
tersebut. Yang dimaksud dengan aktiva dalam perhitungan ini mencakup baik aktiva yang tercantum dalam neraca maupun aktiva yang bersifat administratif sebagaimana tercermin dalam kewajiban yang masih bersifat kontingen dan/atau komitmen yang disediakan bagi pihak ketiga. Terhadap masing-masing jenis aktiva tersebut ditetapkan bobot risiko yang besarnya didasarkan pada kadar risiko yang terkandung dalam aktiva itu sendiri atau yang didasarkan atas penggolongan nasabah, penjamin atau sifat barang jaminan.
Apabila persentase CAR terlalu kecil (lebih rendah dari standar BI) maka bank tersebut termasuk ke dalam kategori bank tidak sehat namun apabila persentase CAR terlalu besar berarti terlalu besar dana bank yang menganggur (Faishol, 2007). Adapaun tingkat persetase dari CAR dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.1. Predikat Kesehatan Berdasarkan CAR
Rasio Predikat
“12% < CAR” “Sangat Sehat”
“9% < CAR ≤ 12%” “Sehat”
“8% < CAR ≤ 9%” “Cukup Sehat”
“6% < CAR ≤ 8%” “Kurang Sehat”
“CAR ≤ 6%” “Tidak Sehat”
Sumber: Lampiran SE BI 13/24/DPNP/2011 2.2.5 Return On Asset (ROA)
Kegiatan operasional perbankan tentu saja berorientasi pada laba, oleh karena itu bank perlu memperhatikan aspek profitabilitas atau tingkat keuntungan yang dimiliki. Karena Profitabilitas sebagai acuan dalam mengukur laba dan laba yang diraih oleh bank merupakan refleksi dari kinerja bank dalam mengelola dana yang dihimpunnya. Laba merupakan tujuan utama yang ingin dicapai dalam sebuah
23
usaha, termasuk juga bagi usaha perbankan. Alasan dari pencapaian laba perbankan tersebut dapat berupa kecukupan dalam memenuhi kewajiban terhadap pemegang saham, penilaian atas kinerja pmpinan, dan meningkatkan daya tarik investor untuk menawarkan modalnya. Laba yang tinggi membuat bank mendapat kepercayaan dari masyarakat yang memungkinkan bank untuk menghimpun modal yang lebih banyak sehingga bank memperoleh kesempatan meminjamkan dengan lebih luas (Simorangkir, 2004).
Return On Asset (ROA) merupakan rasio yang paling baik digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi bank, karena Return On Asset (ROA) menggambarkan kemampuan manajemen bank dalam mengalokasikan asetnya untuk menghasilkan laba. Bank Indonesia menetapkan pentingnya penilaian besarnya Return On Asset (ROA), karena Bank Indonesia sebagai Pembina dan pengawas perbankan lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank yang diukur dengan asset. Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset yang mana sebagaian besar dananya berasal dari masyarakat dan nantinya oleh bank juga harus disalurkan kembali kepada masyarakat (Kasmir, 2012). Adapun predikat Bank berdasarkan ROA dapat ditunjukkan pada tabel 2.2 dibawah ini.
Tabel 2.2. Predikat Kesehatan Berdasarkan ROA
Rasio Predikat
“2% < ROA” “Sangat Sehat”
“1,25% < ROA ≤ 2%” “Sehat”
“0,5% < ROA ≤ 1,25%” “Cukup Sehat”
“0% < ROA ≤ 0,5%” “Kurang Sehat”
“ROA ≤ 0%” “Tidak Sehat”
Sumber: Lampiran SE BI 13/24/DPNP/2011
2.2.6 Loan to Deposit Ratio (LDR)
Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakan rasio yang mengukur perbandingan antara seluruh jumlah kredit yang diberikan oleh bank dengan dana yang dihimpun oleh bank. Besarnya kredit yang disalurkan oleh bank dipengaruhi oleh dana yang dihimpun oleh bank yang dijadikan bank sebagai sumber likuiditas, sehingga nantinya akan mempengaruhi besar kecilnya rasio LDR (Dendawijaya, 2005).
Loan to deposit ratio (LDR) adalah suatu pengukuran tradisional yang menunjukkan deposito berjangka, giro, tabungan dan lain-lain yang digunakan dalam memenuhi permohonan pinjaman (loan request) nasabahnya (Latumaerissa, 2014). Rasio ini menggambarkan sejauh mana simpanan digunakan untuk pemberian pinjaman. Rasio ini juga dapat untuk memberi isyarat apakah suatu pinjaman masih dapat mengalami ekspansi atau sebaliknya harus dibatasi. Jika bank mempunyai LDR yang sangat tinggi, maka bank akan mempunyai resiko tidak tertagihnya pinjaman yang tinggi pada titik tertentu bank akan mengalami kerugian.
Oleh karena itu menurut peraturan Bank Indonesia No. 18/14/PBI/2016 telah memberikan standar untuk rasio LDR perbankan di Indonesia, yaitu pada kisaran antara 80% sampai dengan 92%.
Tingginya tingkat LDR akan menunjukkan besarnya dana kredit yang disalurkan oleh bank dalam hal membayar kewajiban jangka pendeknya, dan sebaliknya jika semakin rendah LDR maka menunjukkan semakin rendahnya kemampuan kredit yang disalurkan oleh bank dalam membayar kewajiban jangka
25
pendeknya. LDR difungsikan sebagai suatu indikator dalam mengetahui seberapa besar tingkat kerawanan dalam suatu bank.
2.2.7 Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)
BOPO merupakan perbandingan antara beban operasional dan pembiayan operasional yang diperoleh bank. Beban operasional dihitung dengan menjumlahkan beban bunga dan beban operasional bank lainnya, sedangkan pendapatan operasional dihitung dengan menjumlahkan pendapatan bunga dan pendapatan operasional lainnya. BOPO adalah rasio biaya operasi dibandingkan pendapatan operasi. Bank yang memiliki tingkat BOPO yang tinggi menunjukkan bahwa bank tersebut tidak menjalankan kegiatan operasionalnya dengan efisien.
Beban operasional merupakan pengorbanan yang diterbitkan untuk membiayai kegiatan operasional seperti beban bunga dan beban gaji. Sementara, pendapatan operasional adalah pendapatan yang diperoleh bank selama melakukan kegiatan operasional seperti pendapatan bunga yang diperoleh dari penyaluran kredit.
Rasio BOPO digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Rasio BOPO juga digunakan untuk mengatur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional dan pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank ada dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Oleh karena itu, dapat dikatakan semakin besar rasio BOPO, maka bank dalam mengeluarkan biaya guna mendapatkan pendapatan yang semakin besar pula, sehingga kemungkinan
penyaluran kredit akan terhambat (Malahayati dan Sukmawati, 2015). Predikat dari nilai BOPO dapat dilihat pada tabel 2.3 berikut.
Tabel 2.3. Predikat Kesehatan Berdasarkan BOPO
Rasio Predikat
“BOPO ≤ 94%” “Sangat Sehat”
“94% < BOPO≤ 95%” “Sehat”
“95% < BOPO ≤ 96%” “Cukup Sehat”
“96% < BOPO≤ 97%” “Kurang Sehat”
“BOPO > 97%” “Tidak Sehat”
Sumber: Lampiran SE BI 13/24/DPNP/2011
BOPO (X6) LDR (X5) ROA
(X4)
Pemberian Kredit (Y)
CAR (X3) DPK
(X2) NPL (Xı)
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Konsep
Untuk menggambarkan konsep pengaruh NPL, DPK, CAR, ROA, dan BOPO terhadap Pemberian Kredit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.
Bentuk kerangka konseptual dapat digambarkan sebagai berikut:
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 3.1 Kerangka Konsep
Non Performing Loan (NPL), Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequacy Ratio (CAR), Return On Asset (ROA), Loan Deposit Ratio (LDR) dan Biaya
27
Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) merupakan variabel independen, sedangkan Pemberian Kredit merupakan variabel dependen.
3.2 Hipotesis
3.2.1 Pengaruh Non Performing Loan (NPL) Terhadap Pemberian Kredit Non Performing Loan (NPL) merupakan kredit bermasalah. Kredit bermasalah ini disebabkan karena perputaran kas yang tidak lancar, sehingga bank dapat mengalami kerugian. Pemberian kredit tentunya mengandung risiko yang dapat mengurangi keuntungan optimal dan dapat menghambat aktivitas bank. Non Performing Loan (NPL) diukur melalui perbandingan jumlah kredit bermasalah dengan kredit yang disalurkan oleh bank. Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian Mulyawati (2015) dan Hasyim (2014) yang menyatakan bahwa Non Performing Loan mempunyai berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyaluran kredit.
Hipotesis 1 :Non Performing Loan (NPL) berpengaruh negatif terhadap Pemberian Kredit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.
3.2.2 Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK) Terhadap Pemberian Kredit Dana Pihak Ketiga (DPK) merupakan dana yang dihimpun oleh bank yang berasal dari masyarakat. Semakin tinggi jumlah DPK yang dihimpun bank, bank cenderung akan menyalurkan kredit yang tinggi. Semakin besar DPK yang dihimpun oleh bank akan menyebabkan semakin besar pula sumber dana (loanable fund) yang dihimpun bank dan berdampak kepada kenaikan penawaran dana kepada masyarakat sehingga semakin tingginya jumlah penyaluran kredit oleh bank.
Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian Yoga (2013) dan Trimulyanti (2014)
29
yang memberikan hasil bahwa dana pihak ketiga (DPK) berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyaluran kredit.
Hipotesis 2 : Dana Pihak Ketiga (DPK) berpengaruh positif terhadap Pemberian Kredit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.
3.2.3 Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) Terhadap Pemberian Kredit Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko (kredit penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank disamping memperoleh dana dari sumber-sumber di luar bank, seperti dana dari masyarakat dan pinjaman. Dengan kata lain rasio ini menunjukkan tingkat kecukupan modal suatu bank. Agar bank dapat menyalurkan kreditnya dengan lancar, bank harus memiliki modal yang cukup untuk menunjang aktiva yang mungkin mengandung atau menghasilkan risiko. Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian Maharani (2011) dan Arifati (2016) yang menunjukkan bahwa CAR berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyaluran kredit.
Hipotesis 3 : Capital Adequacy Ratio (CAR) Ratio berpengaruh positif terhadap Pemberian Kredit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.
3.2.4 Pengaruh Return on assets (ROA) Terhadap Pemberian Kredit
Return on assets (ROA) merupakan rasio rentabilitas dihitung dengan cara membandingkan laba sebelum pajak dan rata-rata total aset, hasil dari pengukuran tersebut menunjukkan seberapa besar bank dalam memaksimalkan aset-aset yang dimiliki perbankan dan untuk mengetahui kemampuan manajemen dalam meningkatkan laba. Laba yang tinggi membuat bank mendapat kepercayaan dari
masyarakat yang memungkinkan bank untuk menghimpun modal yang lebih banyak sehingga bank memperoleh kesempatan meminjamkan dengan lebih luas.
Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Malahayati dkk (2015) yang menyatakan bahwa semakin besar ROA yang diperoleh bank maka semakin besar pula jumlah kredit yang disalurkan oleh bank tersebut.
Hipotesis 4 : Return on assets (ROA) berpengaruh positif terhadap Pemberian Kredit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.
3.2.5 Pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) Terhadap Pemberian Kredit Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakan rasio yang mengukur perbandingan antara seluruh jumlah kredit yang diberikan oleh bank dengan dana yang dihimpun oleh bank. Besarnya kredit yang disalurkan oleh bank dipengaruhi oleh dana yang dihimpun oleh bank yang dijadikan bank sebagai sumber likuiditas, sehingga nantinya akan mempengaruhi besar kecilnya rasio LDR (Dendawijaya, 2005).
Tingginya tingkat LDR akan menunjukkan besarnya dana kredit yang disalurkan oleh bank dalam hal membayar kewajiban jangka pendeknya, dan sebaliknya jika semakin rendah LDR maka menunjukkan semakin rendahnya kemampuan kredit yang disalurkan oleh bank dalam membayar kewajiban jangka pendeknya. Pernyataan ini didukung oleh penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Putra dan Wirathi (2014) dan Martin, dkk (2014) yang menyatakan bahwa LDR memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap penyaluran kredit.
Hipotesis 5 : Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh positif terhadap Pemberian Kredit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.
31
3.2.6 Pengaruh Biaya Operasional pada Pendapatan Operasioanal (BOPO) Terhadap Pemberian Kredit
BOPO merupakan perbandingan antara beban operasional dan pembiayaan operasional yang diperoleh bank. Beban operasional dihitung dengan menjumlahkan beban bunga dan beban operasional bank lainnya, sedangkan pendapatan operasional dihitung dengan menjumlahkan pendapatan bunga dan pendapatan operasional lainnya. Semakin kecil rasio biaya (beban) operasionalnya akan lebih baik, karena bank yang bersangkutan dapat menutup biaya (beban) operasional dengan pendapatan operasionalnya (Rivai dkk, 2007). Sehingga, diperkirakan bahwa BOPO memiliki hubungan negatif terhadap penyaluran kredit dimana semakin kecil nilai BOPO maka semakin baik pemaksimalan pendapatan terhadap beban bank yang juga mengindikasikan semakin baik penyaluran kreditbank.Rasio BOPO yang menunjukkan nilai tinggi dapat membuat bank tidak efisisen dalam memberikan kredit. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yulhasnita (2013), Haryanto dan Widyarti (2017) yang menunjukkan BOPO berpengaruh negatif terhadap penyaluran kredit.
Hipotesis 6 : Biaya Operasional pada Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh negatif terhadap Pemberian Kredit pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.
BAB IV
METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian kausalitas yang berguna untuk menganalisis pengaruh antar satu variabel dengan variabel lainnya. Penelitian ini dirancang untuk menguji pengaruh fakta dan fenomena serta mencari keterangan- keterangan secara actual yaitu penelitian yang bersifat menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi. Jadi disini ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan variabel dependen (variabel yang dipengaruhi). Dalam penelitian ini, hubungan tersebut bertujuan untuk melihat bagaimana Non Performing Loan (NPL), Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequacy Ratio (CAR), Return on Assets (ROA), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), sebagai variabel independen mempengaruhi Pemberian Kredit sebagai variabel dependen. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yaitu data yang berbentuk angka.
4.2 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2019, untuk mendapatkan data-data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini maka dilakukan dengan cara mengakses dari situs www.idx.co.id.
32
33
4.3 Populasi Dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan industri jasa yang merupakan semua perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yaitu terdiri dari 45 bank. Tahun pengamatan adalah tahun 2010-2019. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakterisitik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2006). Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sampling jenuh yaitu teknik penentuan sampel dengan sensus dimana keseluruhan populasi dijadikan sampel, tetapi hanya 36 sampel yang dapat diambil dan digunakan, diperoleh 9sampel, sehingga didapat jumlah observasi dalam penelitian ini sebanyak 9 x 10 tahun = 90 observasi data.
Tabel 4.1 Daftar Sampel Penelitian
No Kode Nama Perusahaan
1 AGRO Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk 2 BMRI Bank Mandiri (Persero) Tbk
3 BNGA Bank CIMB Niaga Tbk
4 BNII Bank Maybank Indonesia Tbk
5 BTPN Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk 6 BVIC Bank Victoria International Tbk
7 INPC Bank Artha Graha Internasional Tbk 8 MCOR Bank China Construction Bank Indonesia
9 MEGA Bank Mega Tbk
4.4 Jenis dan sumber data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder, yaitu data kuantitatif yang diperoleh dari situs Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id).
Data tersebut berupa laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Data yang digunakan merupakan gabungan data antara bank (cross section) dan antar waktu (time
series) yang disebut juga dengan polling data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mendownload laporan keuangan perusahaan perbankan pada tahun 2010-2019 melalui website Bursa Efek Indonesia www.idx.co.id.
4.5 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara mendownload laporan keuangan perusahaan perbankan pada tahun 2010-2019 melalui website Bursa Efek Indonesia www.idx.co.id.
4.6 Definisi Operasional Variabel
Penelitian ini dilakukan untuk menguji apakah terdapat pengaruh rasio keuangan terhadap kinerja keuangan perbankan di Bursa Efek Indonesia. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah pemberian kredit, sedangkan variabel independennya adalah Non Performing Loan (NPL), Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequacy Ratio (NPL), Return on Assets (ROA), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO).
Definisi dari masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian, akan dijelaskan sebagai berikut :
a. Pemberian Kredit (Y)
Pemberian kredit adalah dana yang diberikan oleh bank dalam bentuk kredit kepada debitur. Pemberian kredit dalam satuan Miliaran Rupiah.Data jumlah kredit yang disalurkan oleh bank dapat langsung diperoleh dari laporan keuangan masing- masing bank dari tahun 2014-2018.
Pemberian Kredit = Kredit dalam Rupiah + Kredit dalam Valas
35
b. Non Performing Loan (X1)
Non Performing Loan (NPL) merupakan rasio yang dipergunakan untuk mengukur kemampuan dalam menutupi kegagalan debit terhadap pengembalian kredit. NPL merupakan persentase jumlah kredit yang bermasalah (kriteria kurang lancar, diragukan dan macet) terhadap total kredit yang disalurkan bank. Menurut Surat Edaran Bank Indonesia Peraturan Nomor 17/11/PBI/2015 NPL dapat dihitung dengan rumus :
NPL = Kredit Bermasalah x 100%
Total Kredit
c. Dana Pihak Ketiga (X2)
Dana pihak ketiga (DPK) adalah sumber dana yang dihimpun bank dari masyarakat dalam bentuk simpanan giro, tabungan, dan deposito. Pertumbuhan setiap bank sangat dipengaruhi oleh perkembangan kemampuan menghimpun dana masyarakat. Kegiatan bank setelah menghimpun dana dari masyarakat luas adalah menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkannya.
DPK terdiri dari jumlah simpanan giro, tabungan, dan deposito dalam satuan Miliar Rupiah.
DPK = Tabungan + deposito + Giro d. Capital Adequacy Ratio (X3)
Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko (kredit penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) untuk dibiayai dari dana modal bank sendiri, disamping memperoleh dana-dana dari sumber- sumber di luar, seperti dana masyarakat, pinjaman (utang) dan lain-lain. Dengan demikian Capital Adequacy
Ratio (CAR) merupakan rasio permodalan yang menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan usaha dan menampung risiko kerugian dana yang diakibatkan oleh kegiatan operasi bank.Rasio ini dihitung dengan membandingkan antara modal bank dengan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Bank Indonesia menetapkan besarnya rasio CAR yaitu minimum 8 persen. Formula yang digunakan untuk mengukur Capital Adequacy Ratio :
CAR = Modal Bank x 100%
Total ATMR
e. Return on Assets (X4)
Return on Asset (ROA) digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan atau laba secara keseluruhan.
Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari sisi aset (Dendawijaya, 2005:120). Return on Asset (ROA) dapat diukur dengan perbandingan antara laba sebelum pajak terhadap total aset. Menurut Surat Edaran Bank Indonesia No.9/24/DPbS tahun 2007, Rumus Return On Asset (ROA) :
ROA = Laba Sebelum Pajak x 100%
Total Aset
f. Loan to Deposit Ratio (X5 )
Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakan rasio yang mengukur perbandingan antara seluruh jumlah kredit yang diberikan oleh bank dengan dana yang dihimpun oleh bank. Pada penelitian ini, Loan to Deposit Ratio dapat diukur dengan menggunakan rumus :
LDR = Total Kredit
Dana Pihak Ketiga x 100%
37
g. Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (X6)
Beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) merupakan rasio antara biaya yang dikeluarkan oleh bank dalam menjalankan aktivitas utamanya terhadap pendapatan yang diperoleh dari aktivitas tersebut. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
BOPO = Beban Operasional
Pendapatan Operasioanal x 100%
Tabel 4.2 Definisi Operasional
No Nama
Variabel
Definisi Pengukuran Skala
1 Pemberian Kredit (Y)
Pemberian kredit merupakan dana yang diberikan oleh bank dalam bentuk kredit kepada debitur
Pemberian Kredit = Kredit dalam Rupiah + Kredit dalam Valas
Rasio
perbandingan antara total kredit bermasalah (kualitas kurang lancer, diragukan, dan macet) terhadap total kredit yang disalurkan.
DPK merupakan sumber dana yang dihimpun bank dari masyarakat dalam bentuk simpanan giro, tabungan, deposito, dan bentuk lainnya.
DPK = Tabungan +
perbandingan antara modal bank dengan aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR). digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank
dalam memperoleh
keuntungan atau laba secara keseluruhan.
ROA = Laba
Sebelum Pajak/Total Aset x 100%
Rasio
6 Loan to Deposit Ratio (LDR) (X5 )
Rasio yang mengukur perbandingan antara seluruh jumlah kredit yang diberikan oleh bank dengan dana yang
4.7 Metode Analisis Data
Teknik analisis data adalah cara-cara yang digunakan dalam menganalisis data-data untuk mengetahui hasil penelitian. Metode analisis yang digunakan adalah uji statistik deskriptif, uji asumsi klasik, dan analisis regresi linier berganda dengan alat bantusoftware pengolah data statistik yaitu Eviews.
4.7.1 Uji Statistik Deskriptif
Menurut Sugiyono (2012) statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Uji statistik deskriptif dalam penelitian ini meliputi : nilai maksimum, nilai minimum dan nilai rata-rata (mean) dari masing-masing variabel penelitian.
4.7.2 Analisis Regresi Data Panel
Penelitian ini menggunakan model regresi linier berganda dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel independen (bebas) terhadap variabel dependen (terikat). Model persamaan regresi linier berganda antara variabel terikat
39
dan variabel bebas dalam penelitian disusun dalam fungsi atau persamaan sebagai berikut:
Yit = β0 + β1 X1it + β2 X2it + β3 X3it + β4 X34it + β5 X5it+ β6 X6itεit Keterangan:
Y = Pemberian Kredit X1 = Non Performing Loan X2 = Dana Pihak Ketiga X3 = Capital Adequacy Ratio X4 = Return on Assets
X5 = Loan to Deposit Ratio
X6 = Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional β0 = Konstanta
β1 = Koefisien regresi dari Non Performing Loan β2 = Koefisien regresi dari Dana Pihak Ketiga β3 = Koefisien regresi dari Capital Adequacy Ratio β4 = Koefisien regresi dari Return on Assets
β5 = Koefisien Loan to Deposit ratio
β5 = Koefisien regresi dari Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional
ε = Error Term
4.7.2.1 Pemilihan Model Regresi Data Panel
Secara umum terdapat dua pendekatan yang digunakan dalam menduga model dari data panel yaitu model tanpa pengaruh individu (common effect model) dan model dengan pengaruh individu (fixed effect model dan random effect model).
Menurut Widarjono (2007), untuk mengestimasi parameter model dengan data panel, terdapat tiga teknik yang ditawarkan, yaitu Model Efek Common (common effect models), Model Efek Tetap (fixed effect models) dan Model Efek Random (random effect models). Kemudian akan dilakukan tiga uji untuk memilih teknis estimasi data panel, yaitu dengan cara uji Chow, uji Hausman, dan uji Lagrange multiplier (Widarjono, 2007).
4.7.2.2 Uji Asumsi Klasik
4.7.2.2 Uji Asumsi Klasik