• Tidak ada hasil yang ditemukan

d) Penelitian dilakukan pada waktu tidak terjadi gejolak moneter, sosial, politik serta bencana alam yang luar biasa sehingga tidak ada perilaku komponen sistem

ERGONOMICS Praxeologies

4.4. Beban Kerja Buruh Tebang Angkut

Pengukuran beban kerja buruh tebang angkut dilakukan dengan metode IRHR seperti yang dilakukan untuk operator boiler. Responden dibagi menjadi dua kelompok yaitu pekerja berpengalaman (P - lebih dari tahun ke-6 bekerja), serta tenaga kerja tidak berpengalaman (TP - kurang dari tahun ke-6 bekerja). Responden tebang di PG Jatitujuh adalah juga responden angkut. Jumlah responden PG Jatitujuh sebanyak 6 pekerja, terdiri dari 3 pekerja berpengalaman dan 3 pekerja tidak berpengalaman. Spesifikasi subyek penelitian tebang angkut PG Jatitujuh disampaikan pada Tabel 17 dan 18.

Tabel 17 Spesifikasi subyek pekerja berpengalaman tebang angkut PG Jatitujuh Subyek Umur (tahun) Berat badan (kg) Tinggi badan (cm) Pengalaman kerja (tahun) P1 41 54.7 163 20.2 P2 32 59.2 162 16.2 P3 50 48.7 152 20.2

Tabel 18 Spesifikasi subyek pekerja tidak berpengalaman tebang angkut PG Jatitujuh Subyek Umur (tahun) Berat badan (kg) Tinggi badan (cm) Pengalaman kerja (tahun) TP1 17 48.5 153 1.2 TP2 19 53.1 172 1.2 TP3 21 45.4 169 3.4

Responden tebang Bungamayang hanya melakukan 1 pekerjaan yaitu tebang atau angkut. Jumlah responden tebang sebanyak 7 pekerja terdiri dari 4 reponden pekerja berpengalaman dan 3 responden pekerja tidak

berpengalaman. Responden angkut PG Bungamayang sebanyak 3 orang terdiri dari 2 responden berpengalaman dan 1 responden tidak berpengalaman. Spesifikasi subyek penelitian pekerja tebang angkut PG Jatitujuh disampaikan pada Tabel 19 sampai 22.

Tabel 19 Spesifikasi subyek pekerja berpengalaman tebang PG Bungamayang Subyek Umur (tahun) Berat badan (kg) Tinggi badan (cm) Pengalaman kerja (tahun) P4 29 42.1 159 10.3 P5 32 51 162 11.3 P6 46 59.2 169 18.3 P7 40 56.2 160 24.3

Tabel 20 Spesifikasi subyek pekerja tidak berpengalaman tebang PG Bungamayang Subyek Umur (tahun) Berat badan (kg) Tinggi badan (cm) Pengalaman kerja (tahun) TP4 18 54.1 164 0.3 TP5 22 52.1 168 0.3 TP6 22 52.2 167 0.3

Tabel 21 Spesifikasi subyek pekerja berpengalaman angkut PG Bungamayang Subyek Umur (tahun) Berat badan (kg) Tinggi badan (cm) Pengalaman kerja (tahun) P7 25 58.8 158 5.3 P8 32 58.5 169 10.3

Tabel 22 Spesifikasi subyek pekerja tidak berpengalaman angkut PG Bungamayang Subyek Umur (tahun) Berat badan (kg) Tinggi badan (cm) Pengalaman kerja (tahun) TP7 18 52.1 156 2.3

Kondisi lingkungan fisik lapangan dominan yang terukur adalah temperatur, di mana untuk pekerjaan pagi hari rata-rata temperatur 30 – 32 0C,

sedangkan untuk pekerjaan siang rata-rata berkisar antara 31 – 38 0C. Secara umum kondisi tempertaur tersebut kurang ergonomis karena berada di luar ambang batas, yaitu 30 0C.

Contoh grafik hasil pengukuran denyut jantung pekerja tebang angkut disajikan pada Gambar 30 sampai 32 yang menunjukkan hubungan antara denyut jantung dan waktu.

Gambar 30 Grafik denyut jantung pekerja P3 saat tebang pagi

Gambar 32 Grafik denyut jantung pekerja P3 saat kerja angkut pagi Nilai perbandingan antara HRwork dan HRrest (IRHR) disajikan pada Tabel 23 sampai 24 yang menunjukkan kategori dari pekerjaan tebang dan angkut untuk masing-masing pekerja. Pekerja angkut PG Jatitujuh sekaligus melaksanakan tugas tebang. Namun tidak semua pekerja tebang menjadi pekerja angkut. Responden yang dipilih dalam penelitian ini adalah pekerja tebang yang sekaligus sebaga pekerja angkut.

Tabel 23 Kategori pekerjaan berdasarkan IRHR pekerja berpengalaman PG Jatitujuh

Subyek

Tebang Pagi Tebang Siang Angkut Pagi Angkut Siang

IRHR Kategori IRHR Kategori IRHR Kategori IRHR Kategori

P1 1.30 sedang 1.44 sedang 1.64 berat 1.44 sedang

P2 1.45 sedang 1.66 berat 1.33 sedang 1.58 berat

P3 1.27 sedang 1.28 sedang 1.43 berat 1.61 berat

Rata-rata

1.34 sedang 1.46 sedang 1.47 sedang 1.54 berat

Dari ketiga responden pekerja berpengalaman tebang angkut PG Jatitujuh, nilai IRHR rata-rata tebang pagi, tebang siang dan angkut pagi termasuk kategori sedang. Nilai IRHR rata-rata angkut siang terkategori berat dengan nilai rata-rata di dekat ambang bawah yaitu 1.54 (ambang batas bawah beban kategori berat adalah 1.5). Keadaan ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tingkat beban kerja angkut pada siang hari. Karena beban fisik

yang diangkut yaitu berupa ikatan tebu antara pagi dan siang tetap, peningkatan ini terjadi karena beban akibat kondisi temperatur lingkungan yang cukup panas pada siang hari. Secara fisiologis tubuh manusia harus mengeluarkan sejumlah energi lebih karena kondisi lingkungan sekitar di luar ambang batas ketahanan terhadap panas yang menurut Depnaker adalah 25-30 0C.

Tabel 24 Kategori pekerjaan berdasarkan IRHR pekerja tidak berpengalaman PG Jatitujuh

Subyek

Tebang Pagi Tebang Siang Angkut Pagi Angkut Siang

IRHR Kategori IRHR Kategori IRHR Kategori IRHR Kategori

TP1 1.5 berat 1.57 berat 1.73 berat 1.93 sangat berat

TP2 1.4 sedang 1.52 berat 1.5 berat 1.65 berat

TP3 1.36 sedang 1.59 sedang 1.61 berat 1.63 berat

Rata-rata

1.42 sedang 1.56 berat 1.61 berat 1.74 berat

Kondisi beban kerja pekerja tidak berpengalaman PG Jatitujuh berbeda dengan pekerja yang berpengalaman. Sebagian besar nilai IRHR rata-rata berada dalam kategori berat bahkan hampir sangat berat (1.74). Hanya terdapat satu nilai rata-rata sedang yaitu pada saat tebang pagi. Nilai ini menunjukkan bahwa untuk pekerja yang masih belum berpengalaman, keadaan fisik dan psikisnya masih belum dapat merespon dengan baik beban eksternal, sehingga nilai IRHRnya cukup tinggi. Pekerja tidak berpengalaman sedang dalam proses adaptasi dengan kondisi kerja yang dihadapi baik terhadap beban fisik maupun beban psikis yaitu harus memiliki keterampilan/skill seperti yang dikehendaki dalam proses tebang angkut.

Secara umum untuk pekerjaan tebang angkut PG Jatitujuh, nilai IRHR pekerjaan tebang lebih rendah dari angkut baik pada pagi maupun siang hari. Nilai IRHR pagi dan siang juga berbeda yakni, pekerjaan siang nilai IRHR lebih tinggi yang mengindikasikan beban kerja lebih berat. Hal ini dapat diterima sebab kondisi lingkungan kerja yang semakin panas bahkan mencapai 380C, ditambah pekerja sudah mengalami kelelahan kumulatif akibat kerja dari pagi hari.

Tabel 25 Kategori pekerjaan berdasarkan IRHR pekerja tebang berpengalaman PG Bungamayang

Subyek

Tebang Pagi Tebang Siang

IRHR Kategori IRHR Kategori

P4 1.25 sedang 1.46 sedang

P5 1.46 sedang 1.47 sedang

P6 1.39 sedang 1.51 berat

P7 1.50 berat 1.78 sangat berat

Rata-rata 1.40 sedang 1.56 sedang

Pekerjaan tebang angkut di PG Bungamayang dilakukan oleh pekerja yang berbeda, artinya seorang pekerja hanya melaksanakan tugas 1 macam saja, yaitu menebang atau mengangkut. Kategori beban kerja rata-rata pekerja tebang berpengalaman PG Bungamayang adalah sedang, baik untuk proses tebang pagi maupun siang. Fenomena ini sama dengan di PG Jatitujuh, di mana pekerja yang sudah berpengalaman memiliki IRHR yang rendah yang berarti sudah dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaannya.

Tabel 26 Kategori pekerjaan berdasarkan IRHR pekerja tebang tidak berpengalaman PG Bungamayang

Subyek

Tebang Pagi Tebang Siang

IRHR Kategori IRHR Kategori

TP4 1,74 sangat berat 2,10 luar biasa berat

TP5 1,68 berat 1,99 sangat berat

TP6 1,63 berat 1,81 sangat berat

Rata-rata 1.68 berat 1.96 sangat berat

Untuk pekerja tidak berpengalaman, nilai IRHR tebang pagi rata-rata termasuk kategori berat dan IRHR tebang siang termasuk kategori sangat berat. Fenomena ini dapat difahami sebagai kondisi di mana pekerja tidak berpengalaman masih harus menyesuaikan diri dengan kondisi kerja. Penyesuaian mencakup kemampuan fisik, keterampilan dan motivasi kerja.

Nilai IRHR rata-rata pekerja angkut PG Bungamayang berpengalaman dan tidak berpengalaman disajikan pada Tabel 27 dan 28.

Tabel 27 Kategori pekerjaan berdasarkan IRHR pekerja angkut berpengalaman PG Bungamayang

Subyek

Angkut Pagi Angkut Siang

IRHR Kategori IRHR Kategori

P8 1.50 berat 1.56 berat

P9 1.61 berat 1.76 sangat berat

Rata-rata 1.56 berat 1.66 berat

Tabel 28 Kategori pekerjaan berdasarkan IRHR pekerja angkut tidak berpengalaman PG Bungamayang

Subyek

Angkut Pagi Angkut Siang

IRHR Kategori IRHR Kategori

TP7 1.57 berat 1.815 sangat berat

Nilai IRHR rata-rata pekerja angkut PG Bungamayang berpengalaman termasuk kategori berat baik untuk angkut pagi maupun siang .Untuk pekerja tidak berpengalaman kategori IRHR adalah berat untuk angkut pagi dan sangat berat untuk angkut siang. Fenomena ini sesuai dengan analisis biomekanika. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk pekerjaan angkut PG Bungamayang, nilai IRHR sesuai dengan konsep ergonomi. Namun demikian, salah satu dapat dicatat bahwa untuk pekerja tidak berpengalaman, nilai IRHR sangat tinggi sebesar 1.82 pada proses angkut siang. Jika dibandingkan dengan pekerja berpengalaman, nilai ini cukup jauh yakni hanya 1.56 untuk tebang siang. Dengan kata lain walaupun beban dikategorikan berat, namun tetap terjadi proses adaptasi pada pekerja tersebut.

Untuk mengetahui perbedaan antara hasil pengukuran setiap pekerja yang diukur, maka dilakukan sidik statistik dengan metode uji nilai tengah (uji-t). Untuk membandingkan perbedaan antara pekerja pengalaman dan pemula terhadap nilai IRHR digunakan uji-t tidak berpasangan, karena kedua data didapat dari dua populasi yang berbeda (tingkat pengalamannya berbeda). Sementara untuk membandingkan perbedaan nilai IRHR pada kerja pagi dan siang hari digunakan uji-t berpasangan, karena kedua data diperoleh dari dua populasi yang sama hanya dikondisikan pada keadaan yang berbeda (kondisi pagi dan siang hari). Pada uji-t selang kepercayaan yang digunakan adalah

95%. Di mana 0.95 merupakan daerah penerimaan hipotesis, dan 0.05 daerah penolakan hipotesis. Apabila probabilitasnya lebih besar dari 0.05 maka hipotesis diterima, artinya nilai IRHR kedua populasi tidak berbeda nyata. Sedangkan apabila probabilitas lebih kecil dari 0.05 maka hipotesis ditolak, artinya nilai IRHR kedua populasi berbeda nyata (Sugiyono 2011).

Tabel 29 Hasil uji-t nilai IRHR

No Parameter yang dibandingkan Nilai uji t Keterangan

1 Tebang pagi dan siang untuk

pekerja berpengalaman

0.0113 Beda nyata

2 Angkut pagi dan siang untuk

pekerja berpengalaman

0.323 Tidak beda nyata

3 Tebang pagi dan siang untuk

pekerja tidak berpengalaman

0.0054 Beda nyata

4 Angkut pagi dan siang untuk

pekerja tidak berpengalaman

0.051 Tidak beda nyata

5 Tebang pagi untuk pekerja

berpengalaman dan tidak berpengalaman

0.070 Tidak beda nyata 6 Tebang siang untuk pekerja

berpengalaman dan tidak berpengalaman

0.074 Tidak beda nyata 7 Angkut pagi untuk pekerja

berpengalaman dan tidak berpengalaman

0.235 Tidak beda nyata 8 Angkut siang untuk pekerja

berpengalaman dan tidak berpengalaman

0.091 Tidak beda nyata

Hasil uji-t nilai IRHR disajikan dalam Tabel 29 meliputi; uji-t untuk seluruh pekerja pada pekerjaan tebang pagi dan siang, angkut pagi dan siang; uji-t pekerja berpengalaman pada pekerjaan tebang pagi dan siang, angkut pagi dan siang; uji-t pekerjaan tebang pagi antara pekerja berpengalaman dan tidak berpengalaman; uji-t pekerjaan tebang siang antara pekerja berpengalaman dan tidak berpengalaman; uji-t pekerjaan angkut pagi antara pekerja berpengalaman dan tidak berpengalaman; uji-t pekerjaan angkut siang antara pekerja berpengalaman dan tidak berpengalaman.

Dari hasil uji-t dapat disimpulkan bahwa beban kerja untuk tebang pagi dan siang baik untuk pekerja berpengalaman maupun tidak berpengalaman berbeda nyata. Artinya tingkat kejerihan pekerja pada pagi dan siang berbeda. Karena kondisi beban kerja fisik dan sama, pengaruh kondisi lingkungan (temperatur) dan ritme biologi pekerja yang berubah pada siang hari (denyut jantung, temperatur tubuh meningkat) akan meningkatkan kejerihan pekerja. Hasil uji-t untuk beban angkut pekerja berpengalaman dan tidak berpengalaman pagi dan siang menunjukkan kondisi kejerihan yang tidak beda nyata. Hal ini dapat disimpulkan bahwa dengan kondisi beban kerja yang sama, namun keadaan lingkungan yang berbeda, pekerja mengalami kejerihan yang sama. Jika dibandingkan dengan pekerjaan tebang, di mana tebang pagi dan siang berbeda, hal ini disebabkan karena pekerjaan tebang selain memerlukan kemampuan fisik, diperlukan juga kemampuan psikis berupa keterampilan/skill untuk dapat melaksanakan proses tebang dengan baik. Pekerja harus senantiasa menggunakan keterampilan sebab untuk masing-masing kondisi tebu memerlukan metode penebangan yang berbeda mulai dari cara memotong, menarik batang tebu potongan, membersihkan daun dan mengatur di atas guludan sampai mengikat batang. Dengan pekerjaan yang memerlukan banyak keterampilan tersebut, kejerihan pekerja akan berubah lebih tinggi jika kondisi beban eksternal berubah. Dalam kasus ini kondisi eksternal adalah perubahan temparatur. Sementara untuk proses angkut, pekerja lebih banyak menggunakan kemampuan fisik karena proses kerja yang sederhana, sehingga perubahan eksternal tidak terlalu mempengaruhi kejerihan pekerja.

Perbandingan hasil uji-t antara pekerja berpengalaman dan tidak berpengalaman pada pekerjaan tebang pagi, tebang siang, angkut pagi dan angkut siang semuanya menunjukkan tidak beda nyata. Hal ini berarti bahwa pada seluruh pekerjaan tersebut kejerihan masing-masing kelompok pekerja tidak berbeda, yang mengindikasikan bahwa baik untuk pekerja berpengalaman maupun tidak berpengalaman keduanya mengalami beban fisik, beban psikis dan beban eksternal yang sama.

Untuk melihat hubungan antara pengalaman kerja dengan tingkat kejerihan pekerja yang dicerminkan dengan besarnya nilai IRHR, dibuat grafik

yang menghubungkan antara pengalaman dan IRHR. Nilai IRHR ini mencerminkan tingkat reaksi operator terhadap beban kerja yang diterima. Perbandingan nilai IRHR untuk pekerjaan tebang angkut berdasarkan pengalaman secara diagramatis ditunjukkan pada Gambar 33 dan 34.

Gambar 33 Hubungan antara pengalaman dan IRHR tebang

Kurva IRHR dalam Gambar 33 mengikuti pola logaritmik. Pada awal bekerja, pekerja masih harus belajar menyesuaikan diri dengan kondisi kerja sehingga mengalami tingkat kejerihan yang tinggi dan akan semakin menurun sebagai fungsi waktu. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa untuk pekerja pemula akan memerlukan waktu belajar untuk dapat melakukan pekerjaan dengan baik mendekati kemampuan pekerja berpengalaman/skillful (Syuaib 2002, 2003, 2007). Pekerja yang memiliki pengalaman kurang dari 5 tahun mengalami penurunan nilai IRHR secara drastis pada pekerjaan tebang baik pada waktu tebang pagi maupun tebang siang. Kemudian pada rentang pengalaman setelah 10 tahun kurva IRHR cenderung mendatar dengan variabilitas nilai yang lebih kecil daripada pekerja dengan pengalaman di bawah 5 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun-tahun awal pekerja mulai melakukan tugas menebang memiliki kemampuan yang sangat bervariatif, kemudian mulai seragam setelah periode 5 - 10 tahun. Variabilitas IRHR pekerja dengan pengalaman kurang dari 5 tahun (pekerja

pemula) cukup besar antara kerja tebang pagi dan siang yaitu sebesar 0.32. Sementara untuk pekerja berpengalaman rentang IRHR terbesar adalah 0.14. Pekerja pemula yang sedang dalam proses belajar memiliki rentang maksimum 2 kali lipat dibandingkan pekerja berpengalaman. Kondisi ini juga mengindikasikan bahwa selain beban fisik dan psikis yang tinggi, pekerja pemula lebih sensitif terhadap beban eksternal yaitu kondisi cuaca yang cukup tinggi pada siang hari. Dengan beban tebang yang cukup berat pekerja pemula memiliki kemampuan menahan variasi beban yang lebih rendah. Untuk pekerja berpengalaman, perbedaan IRHR antara pekerjaan tebang pagi dan siang karena secara fisiologis kondisi perubahan temperatur kerja yang semakin tinggi akan meningkatkan beban kerja. Penyebab lain tingkat kejerihan pekerja pada pekerjaan siang adalah kondisi ritme biologi pekerja secara umum di mana setelah pukul 12.00 sampai 18.00, temperatur tubuh, denyut jantung, tekanan darah dan eksresi jauh lebih tinggi dibandingkan untuk pagi hari pukul 06.00 sampai pukul 12.00 (Kromer, 2001) sehingga beban internal dalam tubuh sudah cukup tinggi

Dari gambar tersebut juga dapat disimpulkan bahwa utuk pekerjaan tebang, secara umum pekerja berpengalaman memiliki nilai IRHR yang lebih rendah daripada pekerja tidak berpengalaman baik untuk pekerjaan tebang baik untuk pagi maupun siang. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan internal dari tubuh pekerja, yaitu adanya penyesuaian diri dari pekerja terhadap beban kerja yang dihadapi. Nilai R2 fungsi cukup rendah artinya korelasi antara data dengan fungsi kurang baik. Hal ini karena dispersi nilai IRHR yang cukup tinggi disebabkan jumlah sampel yang terbatas.

Hubungan pengalaman dengan IRHR pada proses angkut hampir sama dengan proses tebang. Secara grafis hubungan tersebut disajikan pada Gambar 34. Secara umum kejerihan pekerja angkut pada siang hari lebih tinggi dari siang hari karena temperatur siang yang lebih tinggi, beban kumulatif dari pagi serta kondisi intermal badan manusia yaitu ritme biologis meliputi tekanan darah, denyut jantung, temperatur tubuh dan eksresi yang lebih tinggi. Pekerja pemula memiliki nilai IRHR tinggi kemudian akan menurun secara signifikan sampai 5,3 tahun. Setelah masa tersebut nilai IRHR berfluktuasi naik turun,

namun kenaikan maksimum tidak sampai mencapai nilai untuk pekerja awal. Nilai R2 fungsi yang mencermikan korelasi juga rendah, dengan fenomena dan penyebab yang sama seperti pada proses tebang.

Gambar 34 Hubungan antara pengalaman dan IRHR angkut

Variabilitas IRHR pekerja dengan pengalaman kurang dari atau sama dengan 5.3 tahun (pekerja pemula) pada pekerjaan tebang pagi dan siang yaitu sebesar 0.22, nilai ini hampir sama dengan variabilitas IRHR pekerja berpengalaman yaitu sebesar 0.18. Nilai ini mengindikasikan bahwa untuk pekerjaan angkut faktor dominan beban kerja adalah faktor beban fisik, dibandingkan dengan faktor eksternal. Karena beban fisik angkut pagi dan siang tidak berbeda, maka nilai variabilitasnya juga tidak berbeda untuk masing-masing kelompok pekerja.

Secara umum nilai IRHR angkut pagi dan siang pekerja berpengalaman lebih rendah dari pekerja pemula. Hal ini terjadi juga sebagaimana pekerjaan tebang, dan disebabkan karena pekerja pemula masih harus menyesuaikan diri dengan kondisi kerja yang dihadapi. Respon fisik pekerja pemula masih belum sekuat jika dibandingkan dengan pekerja berpengalaman.

Hasil regresi kurva IRHR pekerjaan tebang pagi memiliki kecuraman yang lebih tajam mengikuti fungsi Y = -0.105 ln(X) + 1.7484. dibandingkan

dengan kecuraman IRHR untuk angkut pagi yang mengikuti fungsi Y = -0.046 ln(X) + 1.7323. Pekerjaan tebang siang mengikuti fungsi Y = -0.063 ln(X) + 1.5482, dan untuk pekerjaan angkut siang mengikuti fungsi Y = -0.044 ln(X) + 1.595. Perbedaan kecuraman kurva regresi antara proses

tebang dan angkut menunjukkan bahwa tingkat adaptasi yang diperlukan oleh pekerja pada pekerjaan tebang lebih sulit dibandingkan dengan pekerjaan angkut. Hal ini disebabkan karena pekerjaan tebang selain memerlukan energi fisik yang cukup besar, juga memerlukan kemampuan skill yang baik. Pekerja pemula harus belajar untuk dapat memotong dengan baik batang tebu dengan batas 5-10 cm di atas tanah, dalam kondisi batang tebu yang tegak, rebah atau miring, bahkan saling menyilang dengan batang yang lain. Diperlukan keterampilan khusus untuk dapat melakukan hal tersebut. Pekerjaan lain yang memerlukan keterampilan lebih adalah proses pembersihan kotoran, pembuangan pucuk dan proses mengikat batang tebu. Sementara dalam pekerjaan angkut kemampuan pekerja yang domiman diperlukan adalah kemampuan fisik. Proses angkut lebih sederhana yaitu hanya menaikkan ikatan tebu ke pundak kemudian berjalan membawanya ke truk. Posisi ikatan tebu sudah teratur melintang di atas guludan, sehingga tidak diperlukan kemampuan khusus. Namun demikian pada pekerjaan angkut ada satu komponen kerja yang harus hati-hati yaitu pada saat menaikkan ikatan ke truk dan harus menaiki tangga dari bambu atau kayu.