d) Penelitian dilakukan pada waktu tidak terjadi gejolak moneter, sosial, politik serta bencana alam yang luar biasa sehingga tidak ada perilaku komponen sistem
ERGONOMICS Praxeologies
2.3 Lingkungan Fisik Tempat Kerja
2.3.2 Suhu dan Kelembaban
Salah satu kondisi lingkungan fisik yang sangat mudah dideteksi adalah temperatur. Keadaan pabrik yang terdiri dari beberapa mesin yang berputar sepanjang hari akan menghasilkan panas yang cukup tinggi di lingkungan sekitar. Suhu kerja adalah suhu lingkungan tempat kerja yang merupakan kombinasi suhu udara, kelembaban udara, kecepatan gerak dan suhu radiasi. Kelembaban adalah banyaknya air yang terkandung dalam udara (dinyatakan dalam %) dan sangat dipengaruhi oleh temperatur udara. Dalam bekerja diperlukan suhu lingkungan yang baik, misalnya di tempat kita bekerja ditanami pohon-pohonan agar memberikan rasa sejuk bagi pekerja.
Seorang pekerja dalam melakukan kegiatannya sebaiknya dalam keadaan suhu badan yang normal agar konsentrasi pekerjaannya tidak terganggu. Suhu badan manusia konstan dengan sedikit fluktuasi di sekitar 37 °C terdapat di bagian dalam otak, jantung, dan organ bagian dalam (= suhu inti). Suhu inti yang konstan diperlukan agar alat-alat itu dapat berfungsi normal, sedang perubahan yang menyolok tidak baik karena tidak akan sesuai dengan kehidupan makhluk yang berdarah panas (Sulistyadi dan Susanty 2003). Berdasarkan penelitian suhu optimum kerja daerah tropis (di Indonesia) antara 24 - 26 °C. Menurut Sulistyadi (2003) kelembaban relatif normal pada saat bekerja antara 50-70%.
2.3.3 Pencahayaan
Menurut Susanti (2003), ada tiga aspek penting tentang pencahayaan yaitu kekuatan, arah datang dan jenis cahaya. Kesalahan sering dilakukan karena pemahaman yang tidak benar yaitu semakin terang berarti semakin baik. Pada kenyataannya kekuatan cahaya yang berlebihan akan cepat melelahkan mata sebagaimana halnya pencahayaan yang kurang: mata akan silau akibat pantulan cahaya yang terlampau kuat, dan bekerja berat bila cahaya tak mencukupi. Jumlah pencahayaan yang dibutuhkan pada berbagai aktivitas terdapat pada Tabel di bawah ini.
Kadar cahaya didefinsikan sebagai “kepadatan (density) sinar yang mengalir dari sebuah sumber cahaya (sumber energi radian)”. Satuan internasional
yang dipakai adalah ‘lux” ialah banyaknya cahaya yang menerpa sebuah bidang. Selain itu sering dipakai satuan lumen (lm) dan candela (Cd).
Tabel 6 . Pemandu Untuk Kadar Cahaya
Kebutuhan kadar cahaya Hasil pekerjaan Jenis pekerjaan
80- 170 170 – 350 350 – 700 1000 - 10 000 Tidak cermat Agak cermat Cermat/Teliti Amat Teliti Melihat Memasang Mambaca, menggambar Mencocokkan Sumber : Susanti (2003)
Kecerahan (luminance) merupakan ukuran dari sebuah permukaan yang memancarkan sinar atau yang memantulkan sinar dan surnber cahaya. Pencahayaan sangat mempengaruhi kemampuan manusia untuk melihat obyek secara jelas, cepat, tanpa menimbulkan kesalahan. Kebutuhan akan pencahayaan yang baik akan makin diperlukan pada saat mengerjakan suatu pekerjaan yang memerlukan ketelitian pada penglihatan. Kemampuan mata untuk dapat melihat obyek dengan jelas ditentukan olch ukuran obyek, derajat kontras diantara obyek dan sekelilingnya, luminensi (brigntness) dan lama kegiatan melihat.
Arah yang salah dari datangnya cahaya dapat menyebabkan silau sehingga menimbulkan bayangan pada permukaan pandang. Keadaan bayangan dapat ditentukan oleh jenis cahaya. Cahaya lampu pijar menimbulkan bayangan yang tajam, berbeda dengan lampu neon, sementara itu jenis lampu dapat berperan dalam mencitrakan warna
2.3.4 Getaran
Getaran mekanis merupakan getaran yang ditimbulkan oleh alat mekanis. Besarnya getaran sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu intensitas, frekuensi, dan lamanya paparan terhadap getaran tersebut.
Getaran tersebut dapat menyebabkan terganggunya konsentrasi kerja, mempercepat proses kelelahan dan menyebabkan gangguan pada anggota tubuh seperti: mata, telinga, saraf, otot dan lain-lain (Sulistyadi 2003). Menurut Bridger (1995), getaran dengan frekwensi antara 4-8 Hz sangat berbahaya. Menurut ISO (ISO 2631-1, 1985), getaran dengan percepatan lebih besar dari 0.32 m/s2 dapat
menimbulkan efek yang sangat serius bagi kesehatan seperti kesulitan dalam menulis atau minum, sulit bicara dan pandangan mata kabur.
2.4 Kelelahan
Menurut Grandjean (1988), kelelahan adalah berkurangnya sebagian kemampuan fisik maupun non fisik manusia. Kelelahan merupakan fenomena dimana seseorang akan mengalami penurunan produktivitas dalam bekerja. Tarwaka et al.(2004) mengatakan definisi kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Kelelahan adalah aneka keadaan yang disertai penurunan efisiensi dan ketahanan dalam bekerja (Sedarmayanti 1996). Ramadhani (2003) mengatakan definisi kelelahan kerja adalah suatu pola yang timbul pada suatu keadaan yang secara umum terjadi pada setiap orang, yang telah tidak sanggup lagi untuk melakukan kegiatan. Kelelahan adalah suatu kondisi yang telah dikenal dalam kehidupan sehari hari yang mengarah pada kondisi melemahnya tenaga untuk melakukan suatu kegiatan (Suma'mur 1989).
Menurut Sritomo Wignjosoebroto (2008), jenis kelelahan terbagi menjadi 2 yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum. Kelelahan Otot (Muscular Fatique) adalah kelelahan yang disebabkan karena aktifitas otot yang berlebihan. Kelelahan otot ditunjukkan melalui gejala sakit nyeri yang luar biasa, seperti ketegangan otot pada daerah sendi. Kelelahan otot adalah gejala nyeri atau sakit mendadak yang terjadi pada otot yang mengalami pembebanan berlebihan yang terlokalisir ditempat tersebut. Tanda-tandanya: kekuatan kontraksinya melemah, kontraksi dan relaksasi melamban serta fase laten memanjang. Otot yang lelah akan menyebabkan gangguan koordinasi, sehingga dapat meningkatkan resiko atau kemungkinan terjadinya kesalahan dan kecelakaan kerja, di samping itu pada otot yang lelah kandungan asam laktat dan karbondioksidanya akan meningkat (Kurniawan 2000). Secara fisiologi dan gejala yang ditunjukkan tidak hanya berupa berkurangnya tekanan fisik namun juga pada makin rendahnya gerakan. Kelelahan fisik ini dapat menyebabkan sejumlah hal yang kurang menguntungkan seperti melemahnya kemampuan tenaga kerja dalam melakukan pekerjaannya dan meningkatnya kesalahan dalam melakukan kegiatan dan akibat fatalnya adalah terjadinya kecelakaan kerja.
Kelelahan Umum (General fatique) adalah suatu perasaan letih yang luar biasa dan terasa aneh yang berupa perasaan lamban dan keengganan untuk melakukan aktifitas. Beberapa jenis kelelahan fisik secara umum dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a) Kelelahan penglihatan muncul dari terlalu letihnya mata.
b) Kelelahan seluruh tubuh sebagai akibat terlampau besarnya beban fisik bagi seluruh organ tubuh.
c) Kelelahan mental yang disebabkan oleh pekerjaan yang bersifat mental dan intelektual.
d) Kelelahan saraf yang disebabkan oleh karena terlalu tertekannya salah satu bagian dari sistem psikomotorik.
e) Terlalu monotonnya pekerjaan dan suasana sekitarnya.
f) Kelelahan kronis sebagai akibat terjadinya akumulasi efek kelelahan pada jangka waktu panjang.
g) Kelelahan siklus hidup sebagai bagian dari irama hidup siang dan malam serta pertukaran periode tidur
Gambaran mengenai gejala kelelahan (Fatique Symptom) secara subjektif dan objektif menurut Rama (2003), antara lain:
a) Perasaan lesu, ngantuk dan pusing b) Tidak atau kurang mampu berkonsentrasi c) Berkurangnya tingkat kewaspadaan d) Persepsi yang buruk dan lambat
e) Tidak atau berkurangnya gairah untuk kerja f) Menurunnya kinerja jasmani maupun rohani
Bila kelelahan telah merupakan keadaan penyakit, kelelahan tersebut telah bersifat medis dan gejala-gejala yang ditemukan pada tenaga kerja menurut Suma'mur (1989), adalah:
a) Pusing kepala
b) Jantung berdebar-debar c) Nafas sesak
d) Hilang nafsu makan e) Gangguan pencernaan
f) Tidak bisa tidur
Nurmianto (1996) mengatakan bahwa kelelahan dapat ditandai dengan kondisi yang cenderung untuk mengantuk, gejala-gejalanya adalah:
a) Rasa letih, lelah, lesu dan lemah b) Mengantuk
c) Motivasi kerja menurun d) Rasa pesimis
Terdapat 5 kelompok sebab kelelahan menurut Suma'mur (1989), yaitu: a) Keadaan monoton
b) Beban dan lamanya pekerjaan baik fisik maupun mental
c) Keadaan lingkungan seperti: cuaca kerja, penerangan dan kebisingan d) Keadaan kejiwaan seperti: tanggung jawab, kekhawatiran dan konflik e) Penyakit, perasaan sakit dan keadaan gizi
Grandjean (1988) menjelaskan bahwa faktor penyebab terjadinya kelelahan di industri sangat bervariasi, dan untuk memelihara/mempertahankan kesehatan dan efisiensi, proses penyegaran harus dilakukan di luar tekanan (cancel out the stress). Penyegaran terjadi terutama selama waktu tidur malam, tetapi periode istirahat dan waktu-waktu berhenti kerja juga dapat memberikan penyegaran.