Penyelesaian sengketa konsumen dilakukan dengan 3 (tiga) cara yaitu :
a. Konsiliasi, ditempuh atas insiatif salah satu pihak atau para pihak, sedangkan Majelis BPSK bersikap pasif. Majelis BPSK bertugas sebagai pemerantara antara para pihak yang bersengketa. Didalam konsiliasi, seorang konsiliator akan mengklarifikasikan masalah-
masalah yang terjadi dan bergabung
di tengah-tengah para pihak, tetapi kurang aktif (lebih banyak mendengar). Berbeda dengan seorang mediator yang berperan aktif dalam menawarkan pilihan-pilihan (options) penyelesaian suatu sengketa. Konsiliasi menyatakan secara tidak langsung suatu kebersamaan para pihak, dimana pada akhirnya kepentingan-kepentingan bergerak mendekat (moving closer) dan selanjutnya dicapai suatu penyelesaian yang memuaskan kedua belah pihak (a measure of goodwill). Pasal 28 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 menjelaskan tugas dari Majelis BPSK adalah sebagai berikut :
a. Memanggil konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa;
b. Memanggil saksi dan saksi ahli bila diperlukan;
c. Menyediakan forum bagi konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa;
d. Menjawab pertanyaaan konsumen dan pelaku usaha, perihal peraturan perundang- undangan di bidang perlindungan konsumen.
Prinsip tata cara Penyelesaian Sengketa Konsumen (PSK) dengan cara konsiliasi ada 2 (dua). (Pasal 29 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001). Pertama, proses
penyelesaian sengketa konsumen menyangkut bentuk maupun jumlah ganti rugi diserahkan sepenuhnya kepada para pihak, sedangkan majelis BPSK bertindak pasif sebagai konsiliator. Kedua, hasil musyawarah konsumen dan pelaku usaha dikeluarkan dalam bentuk keputusan BPSK.
b. Mediasi, ditempuh atas insiatif salah satu pihak atau para pihak. Bedanya dengan konsiliasi, pada Majelis BPSK bersikap aktif sebagai pemerantara dan penasehat. Pada dasarnya mediasi adalah suatu proses dimana pihak ketiga (a third party), suatu pihak luar yang netral (a neutral outsider) terhadap sengketa, mengajak pihak yang bersengketa pada suatu penyelesaian sengketa yang disepakati. Sesuai dengan batasan tersebut, mediator berada di tengah-tengah dan tidak memihak pada salah satu pihak. Sesuai dengan sifatnya, mediasi tidak dapat diwajibkan (compulsory), tetapi hanya dapat terjadi jika kedua belah pihak secara sukarela (voluntary) berpartisipasi. Peran utama mediator adalah memantapkan garis-garis komunikasi dan dialog (lines of communication and dialogue) diantara kedua belah pihak, yang akan mengantarkan pemahaman kebersamaan yang lebih besar (greater mutual understanding). Pada akhirnya suatu kesepakatan akan tercipta tanpa cara-cara merugikan (nonviolent means), setidaknya suatu hubungan baik (relationship) tercipta tanpa konflik. Secara ringkas tugas Majelis BPSK dalam penyelesaian sengketa konsumen dengan cara mediasi adalah sebagai berikut :
a. Memanggil konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa;
c. Menyediakan forum bagi konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa;
d. Secara aktif mendamaikan konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa;
e. Secara aktif memberikan saran atau anjuran penyelesaian sengketa konsumen sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan konsumen.
Prinsip tata cara Penyelesaian Sengketa Konsumen (PSK) dengan cara mediasi ada 2 (dua) (Pasal 31 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001). Pertama, proses penyelesaian sengketa konsumen menyangkut bentuk maupun jumlah ganti rugi diserahkan sepenuhnya kepada para pihak, sedangkan Majelis BPSK bertindak aktif sebagai mediator, dengan memberikan nasihat, petunjuk, saran dan upaya-upaya lain dalam menyelesaikan sengketa. Kedua, hasil musyawarah konsumen dan pelaku usaha dikeluarkan dalam bentuk Keputusan BPSK.
c. Arbitrase111
111
Pasal 1 butir 1, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 (disebut Undang-Undang
Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Umum (APSU) menentukan, “Arbitrase adalah cara
penyelesaian suatu sengketa perdata di luar pengadilan umum yang didasarkan pada perjanjian
arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa” Lembaga Arbitrase adalah
badan yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu; lembaga tersebut juga dapat memberikan pendapat yang mengikat suatu hubungan hukum tertentu dalam hal belum timbul sengketa” (Pasal 1 butir 8 Undang-Undang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Serngketa Umum (APSU).
, ditempuh dengan cara para pihak menyerahkan sepenuhnya kepada Majelis BPSK untuk menyelesaikan dan memutuskan sengketa konsumen yang terjadi.
Arbitrase merupakan suatu metode penyelesaian sengketa konsumen dalam masalah- masalah perdata (civil matters) yang dapat disetujui oleh kedua belah pihak, yang dapat
mengikat (binding) dan dapat dilaksanakan/ditegakkan.112
Prinsip tata cara penyelesaian sengketa konsumen (PSK) dengan cara arbitrase dilakukan dengan 2 (dua) persidangan, yaitu persidangan pertama dan persidangan kedua. Pertama,
prinsip-prinsip pada persidangan pertama, yaitu :
1. Kewajiban Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)
memberikan petunjuk tentang upaya hukum bagi kedua belah pihak (Pasal 33 ayat
(1) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001);
Para pihak diwajibkan untuk pergi ke arbitrase atas suatu masalah tertentu sebagai bagian dari suatu perjanjian tentang prosedur penyelesaian sengketa (dispute resolution procedures), yang telah disepakati para pihak terdahulu. Sebelum para pihak terlibat dalam proses, hasil keputusan arbitrase (the status of the outcome ofarbitration) harus disetujui oleh para pihak tersebut. Proses pemilihan Majelis BPSK dengan cara arbitrase ditempuh melalui 2
(dua) tahap,
(Pasal 32 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001). Pertama, para pihak memilih arbitor dari anggota BPSK, yang berasal dari unsur pelaku usaha dan konsumen sebagai anggota Majelis BPSK. Kedua, arbitor yang dipilih oleh para pihak tersebut kemudian memilih arbitor ketiga dari anggota BPSK dari unsur pemerintah, sebagai Ketua Majelis BPSK. Dengan demikian unsur pemerintah selalu dipilih untuk menjadi Ketua Majelis.
2. Kewajiban Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) untuk
mendamaikan kedua belah pihak (Pasal 34 ayat (1) SK Menperindag Nomor
112
350/MPP/Kep/12/2001), dalam hal tercapai perdamaian, maka Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) (Pasal 35 ayat (3) SK Menperindag
Nomor 350/MPP/Kep/12/2001;
3. Pencabutan gugatan konsumen dilakukan sebelum pelaku usaha memberikan jawaban, dituangkan dengan surat pernyataan, disertai kewajiban Majelis BPSK mengumumkan pencabutan gugatan tersebut dalam persidangan (Pasal 35 ayat (1) dan ayat (2) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001;
4. Kewajiban Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) untuk memberikan kesempatan yang sama bagi para pihak (asas audi et alteram pertem) (Pasal 34 ayat (2) SK Menperindag Nomor350/MPP/Kep/12/2001 yaitu ;
Kesempatan yang sama untuk mempelajari berkas yang berkaitan dengan persidangan dan membuat kutipan seperlunya (Pasal 33 ayat (2) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001);
a. Pembacaan isi gugatan konsumen dan surat jawaban pelaku usaha, jika tidak tercapai perdamaian (Pasal 34 ayat (1) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001);
b. Pembacaan isi gugatan konsumen dan surat jawaban pelaku usaha, jika tidak tercapai perdamaian (Pasal 34 ayat (1) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001).
1. Kewajiban Majelis BPSK untuk memberikan kesempatan terakhir sampai
persidangan kedua disertai kewajiban para pihak membawa alat bukti yang
diperlukan, bila salah satu pihak tidak hadir pada persidangan pertama (Pasal 36
ayat (2), SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001;
2. Persidangan kedua dilakukan selambat-lambatnya dalam waktu 5 (lima) hari
kerja sejak hari persidangan pertama (Pasal 36 ayat (2) SK Menperindag Nomor
350/MPP/Kep/12/2001);
3. Kewajiban sekretariat BPSK untuk memberikan persidangan kedua dengan surat
panggilan kepada para pihak (Pasal 36 ayat (2) SK Menperindag Nomor
350/MPP/Kep/12/2001);
4. Pengabulan gugatan konsumen jika pelaku usaha tidak datang pada
persidangan kedua (Verstek), sebaliknya gugatan digugurkan, jika
konsumen tidak datang (Pasal 36 ayat (3) SK Menperindag Nomor
350/MPP/Kep/12/2001).
Ketiga cara penyelesaian sengketa tersebut dilakukan atas dasar pilihan dan persetujuan para pihak dan bukan proses penyelesaian sengketa secara berjenjang.113
113
Lihat Pasal 2 dan Pasal 4, SK Memperindag nomor 350/MPP/Kep/12/2001.
Instrumen hukum lain dapat ditempuh konsumen tanpa terlebih dahulu melalui instrumen hukum BPSK. Ke depan ketiga cara penyelesaian sengketa tersebut di atas dapat berdaya guna (efisien) dan berhasil guna (efektif).
Secara garis besar jangka waktu proses penyelesaian sengketa konsumen tahap demi tahap adalah sebagai berikut :
Pasal 55 UUPK menyatakan bahwa, BPSK wajib mengeluarkan putusan paling lambat 21 (duapuluh satu) hari kerja setelah gugatan diterima.
Pasal 56 ayat (1) UUPK menyatakan bahwa, dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak menerima putusan BPSK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55, pelaku usaha wajib melaksanakan putusan tersebut.
Pasal 56 ayat (2) UUPK menyatakan bahwa, para pihak dapat mengajukan keberatan kepada pengadilan paling lambat 14 (empatbelas) hari kerja setelah menerima pemberitahuan putusan tersebut.
Pasal 56 ayat (3) menyatakan bahwa, pelaku usaha yang tidak mengajukan keberatan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada Pasal 56 ayat (2), dianggap menerima putusan BPSK.
Pasal 56 ayat (4) menyatakan bahwa, apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal 56 ayat (1) sampai dengan ayat (3), tidak dijalankan oleh pelaku usaha, BPSK menyerahkan putusan tersebut kepada penyidik untuk melakukan penyidikan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 56 ayat (5) menyatakan bahwa, putusan BPSK sebagaimana dimaksud pada Pasal 56 ayat (3) merupakan bukti permulaan yang cukup bagi penyidik untuk melakukan penyidikan.
Secara lebih terperinci Pasal 56 ayat (1) sampai dengan (5) UUPK di atas dijabarkan oleh Peraturan Pelaksananya yaitu, Keputusan Menperindag Republik Indionesia Nomor 350/MPP/Kep/12/2001, pada Pasal 41 yang menyatakan sebagai berikut :
(1). Ketua BPSK memberitahukan putusan majelis secara tertulis kepada alamat
konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa, selambat-lambatnya 7 (tujuh
hari kerja sejak putusan dibacakan.
(2). Dalam waktu 14 (empatbelas hari) kerja terhitung sejak putusan BPSK
diberitahukan, konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa wajib
menyatakan menerima atau menolak putusan BPSK.
(3). Konsumen atau pelaku usaha yang menolak putusan BPSK, dapat
mengajukan keberatan kepada pengadilan negeri selambat-lambatnya
14 (empatbelas) hari terhitung sejak keputusan BPSK diberitahukan.
(4). Pelaku usaha yang menyatakan menerima keputusan BPSK, wajib
melaksanakan putusan tersebut selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja
terhitung sejak menyatakan menerima putusan BPSK.
(5). Pelaku usaha yang menolak putusan BPSK, tetapi tidak mengajukan
keberatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), setelah batas waktu dalam
ayat (4) dilampui, maka dianggap menerima putusan dan wajib melaksanakan
putusan selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja setelah batas waktu mengajukan
keberatan dilampaui.
(6). Apabila pelaku usaha tidak menjalankan kewajiban sebagaimana dimaksud
dalam ayat (5), maka BPSK menyerahkan putusan tersebut kepada penyidik
untuk melakukan penyidikan sesua dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Pasal 57 UUPK menyatakan bahwa, Putusan Majelis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (3) UUPK, dimintakan penetapan eksekusinya kepada Pengadilan Negeri di tempat konsumen yang dirugikan.
Pasal 58 ayat (1) UUPK menyatakan bahwa, Pengadilan negeri wajib mengeluarkan putusan atas keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (2), dalam waktu paling lambat 21 (duapuluh satu) hari sejak diterimanya keberatan.
Pasal 58 ayat (2) UUPK menyatakan bahwa, terhadap putusan pengadilan negeri sebagaimana dimaksud pada Pasal 58 ayat (1), para pihak dalam waktu paling lambat 14 (empatbelas) hari dapat mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung Republik Indonesia. Mahkamah Agung Republik Indonesia wajib mengeluarkan putusan dalam waktu paling lambat 30 (tigapuluh) hari sejak menerima permohonan kasasi.
Pasal 21 SK Memperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001, menyatakan tentang alat- alat bukti yang sah digunakan di BPSK yaitu :
1. Barang dan/atau jasa 2. Keterangan para pihak
3. Keterangan saksi dan/atau saksi ahli 4. Surat dan/atau dokumen
5. Bukti-bukti lain yang mendukung.
Sistem pembuktian yang digunakan dalam gugatan ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, Pasal 22 dan Pasal 23 UUPK, yaitu sistem pembuktian terbalik (Pasal 28 UUPK juncto Pasal 22 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001). Dengan menggunakan pendekatan sistem UUPK, maka sistem pembuktian yang digunakan di BPSK juga sistem pembuktian terbalik.
Di dalam melakukan pemeriksaan dan penelitian sengketa konsumen (Pasal 52 butir f UUPK, juncto Pasal 3 butir f SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001, terdapat dua hal yang harus diperhatikan Majelis BPSK, sesuai Pasal 10 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001, yaitu :
1. Penelitian dan pemeriksaan terhadap bukti surat, dokumen, bukti barang, hasil uji laboratorium, dan alat bukti lain yang diajukan baik oleh konsumen maupun oleh pelaku usaha.
2. Pemeriksaan terhadap konsumen, pelaku usaha, saksi dan saksi ahli atau terhadap orang lain yang mengetahui adanya pelanggaran terhadap ketentuan UUPK.
Pasal 11 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001, menyatakan bahwa kedua hal tersebut di atas wajib diperhatikan oleh Majelis BPSK dalam rangka penyelesaian sengketa konsumen.
Proses dikeluarkannya putusan BPSK dilakukan dengan tahapan sesuai Pasal 39 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 yaitu :
2. Didasarkan atas musyawarah untuk mencapai mufakat ;
3. Maksimal jika hal itu telah diusahakan dengan sungguh-sungguh ternyata tidak tercapai kata mufakat, maka putusan dilakukan dengan cara voting/suara terbanyak.
Amar putusan BPSK terbatas pada tiga alternatif sesuai Pasal 40 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep//12/2001) yaitu :
1. Perdamaian, 2. gugatan ditolak, 3. gugatan dikabulkan.
Jika gugatan dikabulkkan, maka dalam amar putusan ditetapkan kewajiban yang harus dilakukan pelaku usaha, yang dapat berupa :
1. Ganti rugi atas kerusakan, pencemaran dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau memanfaatkan jasa yang dapat berupa :
a. Pengembalian uang;
b. Pengembalian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya;
c. Perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan (Pasal 19 ayat 1 dan ayat (2) UUPK, Pasal 12 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001;
2. Sanksi administratif berupa penetapan ganti rugi maksimal dua ratus juta Rupiah (Pasal 60 ayat (2) dan Pasal 52 huruf m UUPK juncto ) Pasal 3 hurup l, Pasal 14 dan Pasal 40 ayat (3) butir b SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001. Pemanfaatan institusi hukum yang berwenang dalam hal ini BPSK oleh konsumen pembeli perumahan untuk meminta pertanggung jawaban pelaku usaha yang lalai/wanprestasi dalam melaksanakan tanggung jawabnya ternyata masih cukup minim. Hal ini terbukti dari data yang diperoleh dalam dua tahun terakhir yaitu tahun 2007 dan 2008. Pada tahun 2007 tidak ada konsumen pembeli perumahan yang menggunakan haknya melakukan gugatan menggunakan haknya untuk tindakan wanprestasi/kelalaian yang dilakukan oleh pengembang yang mengakibatkan kerugian bagi konsumen melalui institusi
BPSK kota Medan. Pada tahun 2008 hanya ada dua orang konsumen pembeli perumahan yang mengalami kerugian akibat tindakan wanprestasi/kelalaian yang dilakukan pengembang menggunakan haknya untuk meminta pertanggung jawaban pelaku usaha yang tersebut melalui institusi hukum yang berwenang dalam hal ini adalah BPSK kota Medan.114 Dari dua kasus pengaduan konsumen tersebut pada tahun 2008, dapat diselesaikan dengan cara perdamaian di luar sidang, setelah BPSK memanggil para pihak yang bersengketa, yaitu konsumen dan pelaku usaha. Oleh BPSK kedua belah pihak yang bersengketa diusulkan untuk melakukan perdamaian di luar sidang. Usul tersebut akhirnya diterima oleh kedua belah pihak, dan kedua kasus tersebut dapat diselesaikan dengan cara perdamaian tanpa harus melalui persidangan.115
Minimnya jumlah pengaduan konsumen perumahan yang mengalami kerugian dalam transaksi jual beli untuk meminta pertanggung jawaban pengembang yang Bentuk perdamaian dari dua kasus pengaduan tersebut di atas adalah bahwa pelaku usaha diwajibkan untuk melakukan ganti rugi terhadap konsumen atas kerugian yang dideritanya sesuai kesepakatan perdamaian yang telah diputuskan antara konsumen dengan pengembang. Ganti rugi tersebut dilaksanakan pengembang dengan cara merenovasi kembali rumah konsumen tersebut sehingga sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya antara pengembang dan konsumen.
114
Data diperoleh dari Buku laporan pengaduan konsumen BPSK kota Medan,Tahun Kerja 2007 dan 2008 (sampai dengan bulan Desember).
115
Hasil wawancara penulis dengan Ibu Dana, Sekretaris BPSK Kota Medan pada tanggal 10 Mei 2009.
lalai/wanprestasi ke BPSK sebagai institusi hukum yang berwenang mengindikasikan beberapa faktor penyebab diantaranya adalah;116
1. Kurangnya sosialisasi tugas, fungsi dan wewenang BPSK kepada masyarakat;
2. Kurangnya sosialisasi peraturan dan informasi yang berkaitan dengan perlindungan konsumen;
3. Paradigma berfikir masyarakat pada umumnya yang menganggap berpekara ke pengadilan/instrumen hukum lainnya yang berwenang akan memakan biaya dalam jumlah yang besar, menyita waktu dan merepotkan.
Hal ini mencerminkan kegagalan tugas dan fungsi institusi hukum yang berwenang dalam melindungi hak dan kepentingan konsumen, khususnya konsumen pembelian perumahan yang mengalami kerugian disebabkan tindakan wanprestasi/kelalaian dari pelaku usaha dalam melaksanakan tanggung jawabnya.