• Tidak ada hasil yang ditemukan

PM.16 BEBERAPA ALASAN PENYEBAB TIMBULNYA KESULITAN GURU SMA DALAM MELAKSANAKAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI DI KOTA JAMB

Dalam dokumen Prosiding Semnas Pembejaran Mat 6 Des 09 (Halaman 180-183)

Oleh : Drs. Syaiful, M.Pd

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam FKIP Universitas Jambi

E-mail: [email protected] Abstrak

Penelitian ini merupakan penelitian desriptif yaitu penelitian untuk mengumpulkan data atau informasi mengenai suatu gejala apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Data penelitian dikumpulkan melalui angket. Jenis angket yang digunakan adalah angket tertutup dan terbuka. Angket dibagikan kepada guru bidang studi matematika di SMA di Kota Jambi yang sudah melaksanakan KBK dan data diolah dengan menggunakan bantuan computer program SPSS for windows.

Berdasarkan hasil analisis data dan hasil pembahasan bahwa kesulitan yang dialami guru bidang studi matematika dalam merencanakan pengajaran, dalam melaksanakan pengajaran dan melaksanakan evaluasi tergolong jarang mengalami kesulitan hal ini disebabkan karena perencanaan pengajaran bisa dibuat untuk satu atau dua kali pertemuan.

Kesulitan yang dialami guru bidang studi matematika SMA Negeri di Kota Jambi dalam melaksanakan kerangka penilaian berbasis kelas dalam KBK juga tergolong jarang mengalami kesulitan, hal ini disebabkan karena sistem penilaian yang berbeda dengan sistem penilaian kurikulum sebelumnya kurikulum 1994. Pada kurikulum 1994 yang cenderungan membuat penilaian hanya dari sisi kognitif, kurikulum berbasis kompetensi juga menekankan kewajiban guru mengevaluasi aspek afektif dan psikomotor, model penilaian seperti ini masih menjadi kendala bagi guru dalam mengevaluasi terutama dalam kelas besar.

Kesulitan lain yang dialami guru bidang studi matematika dalam menentukan siswa yang akan mengikuti remedial dan dalam menentukan bentuk kegiatan remedial, guru tergolong sering mengalami kesulitan, hal ini disebabkan karena kurangnya persiapan siswa untuk mengikuti pelajaran. Pada hal didalam kurikulum KBK siswa dituntut untuk dapat lebih aktif dalam proses belajar mengajar di kelas

Berdasarkan kesimpulan di atas maka secaca umum dapat ditarik kesimpulan bahwa guru bidang studi matematika SMA Negeri Kota Jambi mengalami kesulitan dalam melaksanakan pengajaran matematika yang mengacu pada kurikulum berbasis kompetensi (KBK) tapi dengan tingkat kesulitan yang rendah. Rendahnya tingkat kesulitan yang dialami guru dalam melaksanakan KBK juga disebabkan karena adanya kebebasan guru dalam menentukan pendekatan, metode, serta teknik-teknik pengajaran yang akan digunakan dan kendala utama dalam melaksanakan KBK

disebabkan juga adalah kurang tersedianya peralatan dan sarana penunjang untuk

1. PENDAHULUAN

Permasalahan pendidikan begitu kompleks, pada hal pendidikan begitu penting dalam menyiapkan manusia untuk mampu mempertahankan dan meningkatkan kualitas kehidupan sebagai bangsa yang bermatabat. Tantangan yang berarti dihadapi disegala bidang, terlihat dari berbagai jenis laporan seperti hasil belajar siswa, ketidakmampuan masyarakat agar anaknya tetap belajar dilembaga pendidikan sampai usia wajib belajar, system evaluasi, manajemen pendidikan, dan yang paling disorot adalah masalah guru, kurikulum dan buku pelajaran.

Penyempurnaan kurikulum merupakan usaha yang terus menerus dilakukan pemerintah. Saat ini kurikulum yang diterapkan disekolah-sekolah adalah kurikulum berbeasis kompetensi (KBK). Dibanding dengan kurikulum sebelumnya kurikulum baru ini dipandang lebih baik dan relevan dengan realita kehidupan serta dapat mempersiapkan peserta didik di zaman globalisasi yang ditandai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Proses belajar mengajar di sekolah akan berjalan dengan efektif dan efesien dengan adanya kurikulum pendidikan, karena kurikulum adalah suatu program yang dimaksud untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan yang dijadikan arah atau acuan segala kegiatan yang dijalankan. Berhasil atau tidaknya program pengajaran di sekolah dapat diukur dari seberapa jauh dan banyak pencapaian tujuan- tujuan tersebut. Kedudukan kurikulum sangat penting karena kurikulum tidak hanya menjelaskan bagaimana topic dan pengalaman belajar disusun dan diintegrasikan melainkan juga seperti apa hasilnya. Hasil ini perlu dinilai untuk kepentingan umpan balik kesimpulan tentang kebehasilan atau kegagalan suatu program. Karena itu hasil yang dicapai siswa dan kurikulum itu sendiri merupakan bagian integral dari suatu proses pendidikan.

Menurut Waluyo (2004) fungsi utama guru dalam KBK adalah sebagai fasilitator. Karena itu posisi guru sebagai satu-satunya nara sumber dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, seperti yang berlangsung di banyak sekolah selama ini ditinggalkan. Hal ini menunjukkan pentingnya kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran matematika yang baik, disamping pentingnya

penguasaan guru terhadap matematika itu sendiri. Guru matematika juga harus dapat mengetahui kesiapan belajar yang merupakan tahap perkembangan kognitif siswanya sebelum menyajikan bahan pelajaran. Proses belajar mengajar dikatakan efektif apabila terjadi transfer belajar yaitu materi peljaran yang disajikan oleh guru dapat diserap ke dalam struktur kognitif siswa (Suherman, 1992).

Menurut TIM pusat pengembangan penataran guru matematika (PPPG) Yogyakarta, kurikulum berbasis kompetensi memiliki empat komponen yaitu: kurikulum dan hasil belajar, pengelolaan kurikulum berbasis sekolah, kegiatan belajar mengajar, dan penilaian berbasis kelas.

TIM PPPG matematika Yogyakarta memperkirakan akan ada beberapa permasalahan yang timbul dalam melaksanakan kurikulum berbasis kompetensi yaitu:

1. Beban dan tugas guru makin berat, terutama dalam mengisi format penilaian efektif dan psikomotorik untuk setiap kompetensi masing-masing siswa.

2. Guru merasa cukup berat untuk mengobservasi perkembangan siswa satu per satu , karena memerlukan waktu.

3. Tenaga guru terbatas dalam memberikan remedial dan pengayaan.

4. Siswa merasa berat dengan banyaknya tugas yang harus diselesaikan dan belum terbiasa untuk aktif mencari dan mengolah informasi.

5. Guru belum terbiasa menciptakan strategi belajar mengajar yang menarik dan membuat siswa aktif belajar.

6. Batas kelulusan 75% untuk memberikan remedial kepada siswa.

7. Guru belum bisa memahami yang dimaksud/dikehendaki KBK dalam pengelolaan pembelajarannya.

8. Jadwal pembelajaran dengan system semester, seperti yang terjadwal pada saat ini dikombinasikan dengan penerapan KBK pada mata pelajaran yang membutuhkan ujuk kerja, pratek lapangan menemui kesulitan.

9. Format pengisian nilai raport pada aspek afektif dan psikomotor dengan memberikan komentar, standarnya sulit.

10.Keberhasilan pembelajaran dengan KBK, evaluasi pencapaiannya kurang tegas, sehingga kurang memotivasi guru dan siswa serta sekolah.

11.Mengubah sikap, gaya guru untuk menuju KBK sulit (TIM PPPG matematika, 2003).

Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Beberapa Alasan Penyebab Timbulnya Kesulitan Guru SMA Dalam Melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi di Kota Jambi”

2. PERUMUSAN MASALAH

Adapun permasalahan yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah:

1. Kesulitan-kesulita apakah yang dialami guru dalam melaksanakan kurikulum berbasis kompetensi

2. Alasan-alasan apakah yang menyebabkan timbulnya kesulitan guru dalam melaksanakan kurikulum berbasis kompetensi

Dalam dokumen Prosiding Semnas Pembejaran Mat 6 Des 09 (Halaman 180-183)