• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM ETNIK KARO DAN UPACARA GENDANG KEMATIAN

4.1 Gambaran Umum Etnik Karo

4.1.6 Kepercayaan dan Agama

4.1.6.1 Begu dalam Kepercayaan Etnik Karo

Etnik Karo percaya bahwa setiap orang mempunyai tendi/ roh. Jika seseorang meninggal dunia, maka tendi akan berubah menjadi begu. Begu dipercaya masyarakat Karo sering menganggu manusia yang masih hidup dan sekaligus dipercaya dapat menjaga manusia. Artinya, ada begu yang ditakuti dan ada begu yang dihormati. Berikut dijelaskan beberapa jenis begu yang terdapat pada masyarakat Karo. (1) Begu yang sangat penting adalah begu jabu atau rumah

tangga, yang disebut dibata jabu atau dewa rumah tangga. Begu ini merupakan jenis roh dari kerabat terdekat yang meninggal secara tiba-tiba (si mate sada wari) atau seseorang yang meninggal dalam suatu hari tertentu, baik oleh kecelakaan, pelanggaran, maupun bunuh diri, tetapi tidak melalui perkembangan penyakit. Setelah acara ritus perumah begu, begu ini menjadi roh rumah tangga atau begu

jabu, yang melindungi keluarga mereka dari segala bentuk kekuatan dan penguruh

jahat. ―Begu jabu ngkelini jabuna‖, artinya roh rumah (begu jabu) menyelamatkan keluarganya. Roh-roh atau dewa ini dikatakan menghuni rumah tangga dan sajian khusus disampaikan kepada mereka.

(2) Jenis begu lainnya yang dikenal masyarakat Karo adalah meliputi begu butara

guru, yakni roh anak yang baru lahir atau yang juga disebut begu perkakun

jabu, yakni roh pengaman rumah tangga. Roh tersebut juga memiliki potensi

bahaya. Selama kita tidak belajar untuk berbicara tentang kehidupannya, maka tidak mungkin bagi kita mengomunikasikan kebutuhan dan keinginannya, demikian juga halnya dengan keluarganya. Kecermatan tinggi harus dilakukan pada penguburan tubuh seorang bayi karena guru (dukun) dapat menggunakan tubuh bayi untuk membuat obat atau pupuk yang selanjutnya dipercaya akan menimbulkan nasib sial bagi keluarga bayi itu atau orang lain.

(3) Begu yang dikenal sebagai bicara guru disebut juga begu perkakun jabu adalah roh seorang anak yang meninggal sebelum tumbuh gigi. Apabila roh ini dihormati, akan menjadi roh pelindung bagi keluarga. Tubuh anak-anak yang meninggal jika dicuri orang, dipercaya bahwa rohnya dapat digunakan oleh

dukun untuk menjadi pengikutnya dan bisa berbahaya bagi orang banyak. (4) Begu simate sada wari, yaitu begu yang berasal dari orang-orang yang

meninggal tidak disebabkan oleh penyakit, tetapi meninggal secara mendadak dalam satu hari. Misalnya, orang yang meninggal disambar petir, ditembak, gantung diri, dan lain-lain. Kepada begu simate sada wari perlu dibuat

bere-beren dengan pakaian lengkap. Ada ungkapan kurumah begu simate sada

wari, seluk guru, merawa ia megang sorana, tapi ukurna mehuli nge gelah

mejuah-juah kam (datang ke rumah begu simate sada wari melaui guru/dukun

dengan suara yang keras, tetapi hatinya baik untuk kesehatan) berbicara melalui medium.

(5) Begu tungkup wanita yang meninggal dan belum pernah menikah selama hidupnya. Begu ini juga termasuk begu jabu yang harus dihormati agar tidak mengganggu keluarga yang masih hidup.

(6) Begu kayat-kayaten orang yang meninggal disebabkan penyakit, sedangkan orangnya belum begitu tua. begu ini dianggap sebagai begu biasa.

(7) Begu mentas orang lain yang merupakan begu melintas saja.

(8) Begu menggep, yaitu sejenis begu yang sangat menakutkan dan selalu mengintip orang untuk mencederainya di bawah kolong atau dibawah tangga rumah atau ke pondok untuk menerkam mangsanya. Jenis begu ini sangat ganas kepada wanita dan anak-anak. Sebagai penangkal dan penolak begu

menggep maka anak-anak dan para wanita diberikan kalung umbi jerangau.

melahirkan. Begu ini sangat marah, benci, dan kejam sekali terhadap wanita hamil dan anak-anak kecil. Begu ini sering menanti korbannya di bagian jahen

tapin (sebelah hilir dari tepian tempat pemandian). Dalam kepercayaan lama

antinya adalah jerangau diselipkan di dalam sanggul orang yang sedang hamil atau dijadikan kalung bagi anak-anak sebagai penangkal.

(10) Begu juma, yaitu begu orang yang meninggal secara umum. Begu ini selalu mengganggu orang yang bekerja di ladang, merasuki orang sehingga orang di ladang boleh berkelahi tanpa sebab.

(11) Begu ganjang adalah begu yang sangat ganas dan senang sekali mencekik leher mangsanya. Begu ini tinggi, setinggi pohon enau atau pohon tualang. Biasa disuruh oleh orang yang memilikinya untuk mencelakai orang lain, mencekik orang sehingga berbekas biru di lehernya. Selain itu, bisa juga membuat lidah orang yang dicekiknya menjulur keluar dan matanya melotot. Bila tidak hati-hati dan segera mendapatkan pertolongan dari seorang

guru/dukun, akan menyebabkan korbannya meninggal. Menurut tradisi Karo,

orang yang memelihara begu ganjang biasanya orang yang sedang mempunyai masalah. Karena ia selalu disertai dengan ketakutan, maka ia perlu dikawal.

(12) Begu sirudang gara, yaitu begu yang bisa disuruh-suruh, misalnya menjaga ladang, kolam ikan, jemuran dan lain-lain. Bila ada pencuri, bisa tiba-tiba meninggal ataupun stroke (Tambun, 1952: 133--134; Tarigan, 1988: 85--89 ; Ginting, 1999: 19--30).

Dalam pandangan etnik Karo, penting diketahui bahwa dalam acara ritus perumah begu/memanggil roh, roh selalu direkonsiliasikan dengan nasibnya, dipaksa untuk menyadari statusnya yang baru, dan cara yang tepat untuk bertindak terhadap keluarganya yang masih hidup. Di samping itu, memberikan peluang untuk mengambil jarak dari keluarganya, mengindikasikan keinginannya yang terakhir, dan menyelesaikan urusan yang belum selesai sesuai dengan keperluannya. Gambar 4.7 menunjukkan bahwa etnik Karo melakukan upacara

perumah begu yang dilaksanakan setelah upacara gendang kematian di kesain

(lapangan rumah adat) dan disaksikan oleh semua kerabat yang tinggal di rumah adat tersebut. Insrumen musik yang digunakan dalam upacara ini adalah kulcapi sebagai pembawa melodi yang biasanya perkulcapi (pemain kulcapi) dapat mengalami kesurupan bersamaan dengan guru sibaso sebagai pimpinan dalam upacara tersebut. Saat ini hal tersebut tidak pernah lagi dilakukan oleh etnik Karo.

Gambar 4.7

Musik dan tari Etnik Karo, dalam upacara ritual ± tahun1900 (Dokumen: K.I. Museum Amsterdam, Capture: Pulumun P. Ginting, 2010)

Perumah begu adalah suatu upacara yang dilakukan pada malam hari untuk

memanggil roh orang yang sudah meninggal dunia dengan perantaraan dukun (guru sibaso). Karena sifat kematiannya yang berlangsung tiba-tiba, maka begu si

mate sada wari adalah roh yang sangat kuat dan berbahaya. Apabila tidak

ditangani secara tepat dalam acara ritus perumah begu, dapat menjadi ancaman besar bagi diri dan orang lain, yang mungkin akan mendapat tempat tinggal menetap. Orang yang diambil dari kehidupannya secara tiba-tiba, sekalipun tidak diinginkannya sehingga tidak ada persiapan untuk mati, maka orang tersebut mungkin menjadi roh liar (begu mentas), yang tidak menentu ke mana perginya dan bagaimana nasibnya kemudian. Setiap upaya yang tidak tepat untuk memasuki kembali roh jahat ke siklus kehidupan keluarganya yang masih hidup akan

menimbulkan penyakit dan kematian bagi mereka sebab akan menimbulkan keterkejutan tiba-tiba bila bertemu dengan anggota keluarga, baik di ladang maupun di jalan. Ritus perumah begu di representasikan melalui medium

guru/dukun.