KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN
2.1 Kajian Pustaka
2.2.2 Upacara Gendang Kematian
Upacara berasal dari kata Sanskerta, yaitu terdiri atas kata upa artinya dekat dan kata acara yang berarti kebiasaan. Jadi, upacara mengandung arti kebiasaan yang dekat atau kebiasaan yang mendekatkan. Maksudnya adalah suatu kebiasaan untuk mendekatkan diri terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau kebiasaan yang tersusun dengan urutan-urutan tertentu (Donder, 2007: 280).
Pengertian gendang secara umum adalah sebuah alat musik yang terbuat dari kulit dan dipukul atau ditabuh sehingga menghasilkan bunyi sebagai
pengiring dalam ensambel musik. Akan tetapi, bagi masyarakat Karo pengertian gendang tersebut bukan alat musik semata sebagaimana dalam pengertian secara umum diatas. Kata gendang pada masyarakat Karo memiliki beberapa pengertian. Selain sebagai sebuah ensambel musik, gendang bisa juga berarti nama repertoar sebuah lagu ataupun alat musik tertentu. Biasanya pengertian kata gendang tergantung dari kata yang mengikutinya. Misalnya (1) gendang lima sendalanen, kata gendang di sini mengandung arti ensambel musik tertentu, (2) gendang
simalungun rayat, kata gendang mengandung arti nama sebuah lagu, (3) gendang
indung, kata gendang menunjukkan salah satu jenis alat musik, (4) gendang
guro-goro atau gendang kematian kata gendang menjadi suatu upacara.
Kematian berasal dari kata ‖mati‖ atau ‖maut‖ yang artinya tidak ada, gersang, tandus, kosong, berhenti, padam, buruk, kehilangan akal dan hati nurani, serta lepasnya roh dari jasad. Dalam KBBI terbitan Balai Pustaka, kata ‖mati‖ memiliki arti sudah tidak hidup lagi hilang nyawanya. Di pihak lain pengertian mati yang sering dijumpai sehari-hari adalah (1) kemusnahan dan kehilangan total roh dari jasad; (2) terputusnya antara roh dan badan, dan (3) terhentinya budi daya manusia secara total (Yusuf, 2005: 55--56).
Kematian bagi manusia suatu hal biasa, tetapi bagi etnik Karo yang ada di Sumatera Utara, kematian merupakan peristiwa penting. Manusia yang masih hidup memiliki hubungan yang tak terpisahkan dengan roh orang yang sudah meninggal dunia. Kematian bagi etnik Karo mendapat perhatian yang istimewa dibandingkan dengan peristiwa lainnya. Etnik Karo sangat percaya pada
kehidupan baru pascakematian seseorang, bahkan roh orang yang meninggal dunia diyakini masih berada di sekitar kehidupan mereka sampai ke anak cucu. Hubungan dengan roh (pertendin) orang yang sudah meninggal dunia tersebut terus dilestarikan dan diimplementasikan dalam berbagai ritual agar tidak mengganggu kehidupan keluarga yang ditinggalkan. Bahkan, ritual yang dilaksanakan diharapkan dapat membawa kebaikan bagi keluarga yang masih hidup.
Upacara gendang kematian adalah salah satu kebiasaan yang tersusun dengan urutan-urutan tertentu sebagai suatu ritual kematian yang terdapat pada etnik Karo yang terdiri atas berbagai unsur (peristiwa) yang merupakan satu kesatuan. Gendang kematian dalam hal ini terdiri atas lima unsur (peristiwa) yang merupakan satu kesatuan, yaitu (1) gendang lima sendalanen (musik), (2) landek (tari), (3) nuri-nuri (petuah), (4) ngandung (tangisan), dan (5) rende (nyanyian).
Gendang Lima Sendalanen (sering juga disebut gendang telu sedalanen
lima sada perarih) merupakan ensambel musik yang paling dikenal dalam
khazanah musik tradisional Karo. Istilah gendang pada kasus ini dapat diartikan dengan ‖alat musik‖, lima berarti ‖lima‖ dan sendalanen berarti ‖sejalan‖. Dengan demikian, gendang lima sendalanen mengandung pengertian ‖lima buah instrumen musik yang dimainkan secara bersama-sama‖.
Berdasarkan jumlah alat musiknya, gendang lima sedalanen memang terdiri atas lima buah alat musik, yaitu (1) sarunei, (2) gendang singindungi, (3)
oleh seorang pemain dengan sebutan penarunei untuk pemain sarunei, penggual untuk sebutan gendang singindungi dan gendang singanaki. Lebih spesifik lagi, pemain gendang singindungi disebut penggual singindungi dan pemain gendang
singanaki disebut penggual singanaki. Orang yang memainkan penganak disebut
simalu penganak dan orang yang memainkan gung disebut simalu gung. Ketika
mereka bermain musik dalam suatu upacara adat Karo, sebutan mereka menjadi satu, yaitu sierjabaten (yang memiliki jabatan). Sebutan penggual dan penarune tetap melekat pada diri mereka sepanjang masih beraktivitas dalam bidang musik, sementara sebutan sierjabaten biasaya hanya muncul ketika mereka bermain dalam suatu konteks upacara adat Karo.
Landek adalah menari secara berhadapan antara dua kelompok tertentu.
Konsep landek berhadap-hadapan dalam aktivitas menari Karo terbagi atas dua bentuk, yaitu landek adat dan landek hiburan. Dalam landek adat, yang berhadap-hadapan adalah kelompok sukut (kelompok sukut yang meninggal) dengan salah satu pihak kekerabatan yang turut serta dalam upacara tersebut. Dalam landek hiburan, yang landek berhadap-hadapan adalah kelompok sunguda-nguda (wanita) dan kelompok anak perana (pria) yang dilakukan dengan berpasang-pasangan. Tiap-tiap kelompok berjumlah persis sama, sedangkan dalam landek adat (upacara kematian), tidak memperhatikan kesamaan jumlah kedua kelompok.
Nuri-nuri adalah seseorang yang memberikan petuah-petuah, baik dari
kelompok yang mempunyai upacara maupun dari pihak kekerabatan yang turut serta dalam upacara tersebut. Singerunggui (protokol) mengarahkan acara
nuri-nuri dengan sistem kekerabatan yang ada. Konsep nuri-nuri-nuri-nuri dalam konteks
gendang kematian umumnya tidak saja berbicara dengan keluarga yang ditinggal, tetapi justru yang nuri-nuri memosisikan diri pada mayat yang sedang diupacarai.
Ngandung adalah pengungkapan isi hati dengan cara menangis. Ngandung
dalam upacara gendang kematian adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan pihak kelompok yang mempunyai hajatan. Ketika seseorang nuri-nuri atau
ngandung, kemudian pihak keluarga akan datang mendekat sambil ngandung.
Sukut dalam hal ini meratapi dan mengenang perilaku yang meninggal ketika
masih hidup dan terungkap dari keluarga yang ngandung.
Rende adalah bernyanyi, sedangkan perkolong-kolong adalah orang yang bernyanyi. Dalam upacara gendang kematian lagu katoneng-katoneng (teks lagu yang dinyanyikan secara spontan) diiringi gendang lima sedalanen yang dinyanyikan oleh seorang perkolong-kolong. Dalam hal ini perkolong-kolong sebagai media untuk menyampaikan pesan yang meninggal kepada kerabatnya. Sebaliknya, pesan dari kerabat kepada keluarga yang ditinggal.