GAMBARAN UMUM ETNIK KARO DAN UPACARA GENDANG KEMATIAN
4.1 Gambaran Umum Etnik Karo
4.1.4 Sistem Kekerabatan
4.1.4 Sistem Kekerabatan
Etnik Karo mengenal sistem kemasyarakatan merga silima, rakut sitelu,
tutur siwaluh, dan perkade-kaden sepuluh sada tambah sada. Masyarakat Karo
mempunyai sistem merga (klan), dalam hal ini merga untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan disebut beru. Merga atau beru disandang di belakang nama
seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri atas lima kelompok yang disebut
merga silima, yang berarti ada lima merga yang dikenal pada masyarakat Karo.
Kelima merga tersebut adalah (1) Karo-Karo, (2) Tarigan, (3) Ginting, (4) Sembiring, dan (5) Perangin-angin. Kelima merga ini masih mempunyai submerga masing-masing (Kabupaten Karo dalam Angka, 2008; Woollams, 2004: 3). Merga dan beru diperoleh secara otomatis dari ayah. Setiap orang Karo akan memiliki
merga tersebut. Merga ayah menjadi merga anak, tetapi ada kalanya merga
diberikan kepada seseorang yang disahkan secara adat. Hal tersebut banyak dilakukan suku Karo yang melakukan perkawinan antaretnis atau sebagai sebuah penghargaan adat, seperti pemberian merga kepada Megawati Br Perangin-angin.
Bagi etnik Karo, merga sangat penting dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat. Merga berguna untuk mengekspresikan identitas diri serta hubungannya dalam mencari hubungan kerabat atau garis keturunan. Di samping itu, masyarakat Karo tidak hanya mempunyai merga atau beru, tetapi sekaligus mewarisi beru dari ibu kandungnya yang disebut bere-bere. Jadi, setiap pribadi mempunyai merga atau beru dan bere-bere, kecuali orang Karo yang kawin campur atau kawin dengan etnik lain. Namun, dalam praktik sehari-hari bere-bere tidak pernah dicantumkan sebagai identitas diri. Bere-bere akan ditanya dalam kegiatan berkenalan (ertutur), yakni untuk mendekatkan hubungan kekerabatan. Walaupun etnik Karo mempunyai sistem parental, yang paling penting adalah
merga atau beru. Hal ini terbukti dari merga dan beru tetap dicantumkan pada
lazim bagi etnik Karo. Setiap orang Karo mencantumkan merga dan beru untuk membuktikan jati dirinya sebagai orang Karo.
Orang yang mempunyai merga atau beru yang sama dianggap bersaudara dalam arti mempunyai garis keturunan yang sama. Kalau laki-laki ber-merga sama, maka mereka disebut ersenina. Demikian juga antara perempuan yang mempunyai beru yang sama akan disebut ersenina juga. Namun, antara seorang laki-laki dan seorang perempuan ber-merga yang sama disebut erturang sehingga dilarang melakukan perkawinan, kecuali pada merga Sembiring dan Perangin-angin. Begitu pula sistem perkawinan dalam masyarakat Karo selain dilakukan secara agama juga dilakukan secara adat Karo. Hal ini tetap terjadi meskipun mereka melakukan kawin campur antar etnik. Dahulu sebelum suku Karo mengenal agama Kristen dan Islam, sistem perkawinan hanya dilakukan dengan adat istiadat. Akan tetapi, saat ini merujuk pada kebalikannya, yakni masyarakat Karo lebih mengutamakan atau melakukan perkawinan secara agama.
Lebih jauh dijelaskan oleh Minawati (2010: 91) bahwa kekerabatan dalam masyarakat Karo disebut perkadekaden dan kerabat disebut kade-kade. Pengertian kekerabatan dalam masyarakat Karo sangat luas. Dalam hal ini jika diabstraksikan pada masyarakat Karo akan terbentang suatu jaringan kekerabatan yang menyangkut semua orang Karo, dalam arti bahwa setiap orang Karo jika dicari silsilahnya, maka akan terjalin hubungan kekerabatan. Dalam kaitan ini, pentingnya merga tersebut sebagai identitas diri di samping mengetahui asal usul nenek moyangnya. Pada intinya kekerabatan masyarakat Karo berdasarkan merga,
tetapi ada dua hal penting yang memengaruhi kekeluargaan, yaitu kelahiran dan perkawinan. Dua hubungan tersebut akan menimbulkan hubungan darah. Berdasarkan hubungan darah dapat diketahui jauh dekatnya hubungan kekerabatan di dalam masyarakat. Apabila dilihat secara sepintas diketahui bahwa dalam menarik garis keturunan pada masyarakat Karo dilakukan secara patrilineal. Akan tetapi, kalau diteliti lebih mendalam, dapat dimengerti letak kekhasan masyarakat Karo dalam menarik garis keturunannya. Dalam hal ini, Bangun (1990: 18) menyatakan bahwa masyarakat Karo tidak menarik garis keturunan secara patrilineal, tetapi parental (bilateral) dengan menarik garis keturunan dari ayah dan ibu sekaligus.
Gambar 4.5
Skema Rakut Sitelu dalam sistem kekerabatan masyarakat Karo (Dokumen: Fuad Erdansyah 2010)
Senina Anakberu SEMBUYAK / TUAN RUMAH Kalimbubu
Hal lain yang penting dalam masyarakat Karo adalah (gambar 4.5) rakut
sitelu, yaitu berarti ikatan yang tiga. Arti rakut sitelu tersebut adalah sangkep
nggeluh (kelengkapan hidup) bagi orang Karo. Kelengkapan yang dimaksud
adalah lembaga sosial yang terdapat dalam masyarakat Karo yang terdiri atas tiga kelompok, yaitu (1) senina, (2) kalimbubu, dan (3) anak beru. Senina adalah keluarga satu jalur keturunan merga atau keluarga inti. Kalimbubu dapat didefinisikan sebagai keluarga pemberi istri dan anak beru keluarga yang mengambil atau menerima istri.
Tutur siwaluh merupakan konsep kekerabatan masyarakat Karo yang terdiri atas delapan golongan, yaitu (1) puang kalimbubu, (2) kalimbubu, (3)
sembuyak, (4) senina, (5) senina sipemeren, (6) senina sipengalon/sendalenen, (7)
anak beru, dan (8) anak beru mentri. Dalam upacara adat, tutur siwaluh ini masih
dapat dibagi lagi dalam kelompok-kelompok yang lebih khusus sesuai dengan keperluan dalam pelaksanan adat, yakni sebagai berikut.
1) Puang kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu seseorang baik dari pihak ibu maupun ayah.
2) Kalimbubu adalah kelompok pemberi istri kepada keluarga tertentu. Kalimbubu ini dapat dikelompokkan lagi menjadi dua. Pertama, kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua, yaitu kelompok pemberi istri kepada kelompok tertentu yang dianggap sebagai kelompok pemberi istri asal dari keluarga tersebut. Misalnya, A ber-merga Sembiring bere-bere Tarigan, maka Tarigan adalah
kalimbubu bena-bena/kalimbubu tua adalah kalimbubu dari anak A. Jadi,
kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua adalah kalimbubu dari ayah
kandung. Kedua, kalimbubu simada dareh, yaitu berasal dari ibu kandung seseorang. Kalimbubu simada dareh adalah saudara laki-laki ibu kandung seseorang. Dalam hal ini disebut kalimbubu simada dareh karena dianggap bahwa darah merekalah yang terdapat dalam diri keponakannya.
3) Sembuyak, secara harfiah se artinya ‘satu‘ dan mbuyak artinya ‘kandungan‘. Jadi, artinya adalah orang-orang yang lahir dari kandungan atau rahim yang sama. Namun, dalam masyarakat Karo istilah ini digunakan untuk senina yang berlainan submerga juga, dalam bahasa Karo disebut sindauh sipedeher (yang jauh menjadi dekat).
4) Senina, yaitu mereka yang bersaudara karena mempunyai merga atau submerga yang sama. Senina ibas runggun adat, yaitu saudara yang telah diangkat di dalam suatu musyawarah adat. Sekalipun mungkin tidak satu merga, tetapi biasanya masih dalam satu induk merga. Misalnya merga Sitepu dengan Barus atau Ginting munte dengan Ginting suka.
5) Senina sipemeren, yaitu orang-orang yang ibu mereka bersaudara kandung. Bagian ini didukung lagi oleh pihak siparibanen, yaitu orang-orang yang mempunyai istri yang bersaudara. Jadi, seseorang menjadi ersenina (bersaudara) karena hubungan perkawinan di samping istri mereka bersaudara. 6) Senina sipengalon/sendalanen, yaitu saudara karena anaknya diambil menjadi
diambil menjadi istri dari anak X, maka A, B, C jadi kalimbubu X dan anak-anaknya.
7) Anak beru, berarti pihak yang mengambil istri dari suatu keluarga tertentu untuk diperistri. Anak beru dapat terjadi secara langsung karena mengawini wanita keluarga tertentu dan secara tidak langsung melalui perantara orang lain, seperti anak beru menteri dan anak beru singikuri. Anak beru ini terdiri atas dua jenis. Pertama, anak beru tua, yakni anak beru dalam keluarga turun-temurun. Paling tidak tiga generasi telah mengambil istri dari keluarga tertentu
(kalimbubunya). Anak beru tua adalah anak beru yang utama karena tanpa
kehadirannya dalam suatu upacara adat yang dibuat oleh pihak kalimbubu, maka upacara tersebut tidak dapat dimulai. Anak beru tua juga berfungsi sebagai singerana (sebagai pembicara) karena fungsinya dalam upacara adat sebagai pembicara dan pemimpin dalam keluarga kalimbubu dalam konteks adat. Kedua, anak beru cekoh baka tutup, yaitu anak beru yang secara langsung dapat mengetahui segala sesuatu di dalam keluarga kalimbubu. Anak
beru cekoh baka tutup adalah anak saudara perempuan dari seorang kepala
keluarga. Misalnya, si A seorang laki-laki mempunyai saudara perempuan si B, maka anak si B adalah anak beru cekoh baka tutup dari si A. Dalam panggilan sehari-hari anak beru disebut juga bere-bere mama.
8) Anak beru minteri, yaitu anak beru (nya) anak beru. Asal kata minteri adalah dari kata pinteri yang berarti meluruskan. Anak beru minteri mempunyai pengertian yang lebih luas, yakni sebagai petunjuk, mengawasi, dan membantu
tugas kalimbubunya pada suatu kewajiban dalam upacara adat. Dalam hal ini ada pula yang disebut anak beru singukuri, yaitu anak beru (nya) anak beru
minteri. Anak beru ini mempersiapkan hidangan dalam konteks upacara adat.
Anak beru singukuri juga bertanggung jawab penuh atas jalannya upacara adat
karena hubungan yang relatif jauh sehingga mereka ditempatkan dalam membantu kalimbubunya sebagai anak beru minteri (Minawati, 2010: 95).
Dari merga silima, rakut sitelu, dan tutur siwaluh terbentuklah kemudian
perkade-kaden sepuluh sada tambah sada (hubungan persaudaraan sebelas
ditambah satu), yaitu; (1) sembuyak, (2) senina, (3) senina sipemeren, (4) senina
siparibanen, (5) senina sipengalon/sendalanen, (6) kalimbubu, (7) puang
kalimbubu, (8) puang ni puang, (9) anak beru, (10) anak beru minteri, (11) anak
beru singukuri, dan ditambah satu, yaitu teman meriah, kenalan atau orang lain di
luar hubungan kekeluargaan. (Wawancara Jekmen Sinulingga, 20 April 2012). Etnik Karo selalu menjunjung tinggi sistem kekerabatan yang disebut
merga silima, rakut si telu, tutur si waluh, dan perkade-kaden sepuluh sada
tambah sada. Dalam hal ini pandangan masyarakat Karo adalah bahwa sebagai
manusia harus beradat menunjukkan bahwa aturan adat harus dipatuhi dan dituruti. Menurut filosopi etnis Karo, mereka yang tidak menjalankan adat dianggap lebih buruk daripada orang yang tidak beragama, bahkan menurut Njenap Ginting masyarakat Karo yang tidak beradat sama dengan rubia-rubia (jenis makhluk yang bergerak di luar manusia) (wawancara, 27 Februari 2012).
Hal yang tidak dapat dimungkiri bahwa saat ini sistem budaya etnik Karo sudah mengalami perubahan, baik yang berada di wilayah Karo Jahe (Deli Serdang, Langkat), Karo Gugung (Kabupaten Karo), maupun etnik Karo yang tersebar di wilayah Indonesia. Budaya instan seperti gendang lima sendalanen dipinggirkan oleh sebuah keyboard sebagai pengaruh budaya global membuka toleransi yang kebablasan dalam pelaksanaan adat istiadat, terutama pada upacara gendang kematian etnik Karo sehingga berbagai kegiatan peradatan dipangkas, bahkan ditiadakan.
Menurut Putro penduduk asli Sumatera Utara adalah orang-orang dari suku Karo, tetapi saat ini telah menjadi kota multietnis. Atas dasar itu, Sumatera, khususnya Kabupaten Karo menjadi sebuah kota dengan tingkat penduduk yang pluralisme budayanya tinggi. Bangsa (suku) Karo yang memiliki bahasa sendiri (Karo), aksara sendiri, seni tari dan musik, adat istiadat, serta sistem merga yang turun temurun menunjukkan asal atau trombo (Putro, 1981: 31). Bahasa Karo memiliki keterkaitan dengan tiga bahasa masyarakat di sekitarnya, seperti bahasa Alas di sebelah barat, bahasa Pakpak di sebelah selatan, dan bahasa Simalungun di sebelah timur (Woollams, 2004: 5,7). Kerajaan Haru sebagai cikal bakal Kabupaten Karo, dahulunya telah mengenal huruf dan bahasa. Hal ini terbukti dari negaranya sudah melakukan surat-menyurat dalam pemerintahannya. Surat Haru secara umum dikenal dan digunakan oleh guru (dukun), kaum politisi, dan cendekiawan. Surat Haru terdiri atas sembilan belas huruf besar yang disebut indung surat dan lima disebut anak surat.
Aksara Karo merupakan aksara kuno yang digunakan oleh masyarakat
Karo, tetapi pada saat ini penggunaannya sangat terbatas, bahkan hampir tidak
digunakan. Aksara Karo memiliki persamaan dengan aksara Bali sebagaimana
terlihat pada Gambar 4.6 brikut ini.
Gambar 4.6 Aksara Karo (Dokumen: Minawati 2010: 96)
Pada Gambar 4.6 dapat dilihat aksara Karo. Selanjutnya, jika ditelusuri, aksara Jawa, Bali, Karo, dan Jambi (Melayu) berasal dari sumber yang sama. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa apabila merujuk ke belakang terdapat pengaruh peradaban Hindu, Kerajaan Majapahit, dan Kerajaan Sriwijaya (Minawati, 2010: 96; Ginting, 2002: 181).
Sebagai suku yang memiliki peradaban tinggi, etnik Karo juga memiliki budaya yang mencerminkan jiwa estetik, yaitu berupa seni musik. Kegiatan budaya yang sampai sekarang dilakukan pada masyarakat Karo, seperti merdang
merdem atau kerja tahun (pesta tahunan) dan dimeriahkan oleh gendang
guro-guro aron. Budaya dan sistem kekerabatan Karo saat ini tampak mulai melemah