Bab III. Ketenagakerjaan
3.3 Angkatan Kerja
3.3.1 Penduduk Bekerja
3.3.1.6 Bekerja di Sektor Informal
Tercatat persentase pekerja pada status ini yang bekerja di atas 35 jam perminggu sebesar 82,3 persen, meningkat jika dibandingkan pada tahun 2014 yang tercatat sebanyak 72,7 persen.
3.3.1.6 Bekerja di Sektor Informal
Salah satu dimensi penting terkait dengan hal ketenagakerjaan adalah kebutuhan akan lapangan pekerjaan yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja. Namun, kesempatan kerja di sektor formal dirasakan tidak sesuai jumlah yang diharapkan, dimana jumlah tenaga kerja yang ada di pasar tenaga kerja biasanya lebih besar dibandingkan ketersediaan lapangan pekerjaan.
Akibatnya, sektor informal dianggap sebagai pilihan yang tepat dan murah untuk mereka yang tidak memperoleh pekerjaan di sektor informal. Sektor informal tampaknya memainkan peranan cukup penting di dunia, meskipun terkesan diabaikan atau kurang diperhatikan. Di beberapa kota besar di negara berkembang peranan sektor informal dalam menyerap angkatan kerja cukup besar (www.unchs.org), yaitu di New Delhi, India, 61,4 persen; di Dhaka, Bangladesh, 60 persen. Di Surabaya sektor informal diperkirakan menyerap tidak kurang dari 35 persen jumlah angkatan kerja yang ada (www.undp.org).
Fakta menarik dari sektor informal adalah sektor ini terbukti memiliki kemampuan menyerap banyak tenaga kerja. Sektor ini juga menjadi saluran yang paling mudah, murah serta bersifat massal bagi penduduk yang bermigrasi ke kota. Sektor ini berperan cukup besar dalam menyangga sektor formal. Studi menunjukkan bahwa
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 55
keberadaan sektor informal memberikan peran cukup berarti bagi distribusi produk pertanian, pabrik maupun rumah tangga. Kegiatan ini mendukung semangat kewirausahaan dan merupakan potensi sumber pemasukan bagi pemerintah lokal.
Sektor informal bahkan dapat menjadi katup penyeimbang perekonomian bangsa ketika Indonesia diterpa krisis moneter 1997/1998. Sektor ini terbukti fleksibel dengan tidak terlalu terpengaruh oleh krisis tersebut. Bahkan pasca krisis sektor ini menjadi semakin berkembang karena untuk terjun ke sektor informal tidak membutuhkan modal yang besar dan tidak melalui prosedur yang berbelit-belit sehingga mudah dalam memulainya.
Di Kabupaten Lombok Barat, jumlah pekerja informal juga masih tinggi dan bisa dikatakan masih menjadi primadona. Pada tahun 2015, persentase pekerja informal di Lombok Barat mencapai 50,7 persen. Akan tetapi jika dibandingkan dengan tahun 2014, persentase tersebut mengalami penurunan. Sebaliknya pekerja di sektor informal mengalami peningkatan. 45.71 49.43 54.29 50.57 2014 2015 Formal Informal Gambar 13. Persentase Penduduk Kabupaten Lombok Barat yang Bekerja di Sektor Formal Informal, 2014-2015
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 56
Peningkatan jumlah penduduk yang bekerja di sektor formal menjadi indikasi bahwa kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Barat untuk menciptakan lapangan pekerjaan formal di Kabupaten Lombok Barat menampakkan hasil. Pemerintah Kabupaten Lombok Barat menggulirkan beberapa program “pro job” diantaranya adalah: program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja, program peningkatan kesempatan kerja, program perlindungan dan pengembangan lembaga ketenagakerjaan dan program perluasan dan pengembangan kesempatan kerja. Dan agaknya cukup berdasar apabila dikatakan program tersebut telah berjalan dan membuahkan hasil karena tampak bahwa pekerja di sektor formal mengalami peningkatan.
Menelisik penduduk bekerja di sektor formal - informal menurut jenis kelamin, penduduk laki-laki yang bekerja di sektor formal lebih banyak dibandingkan dengan penduduk perempuan. Pada sektor informal, penduduk bekerja dengan jenis kelamin laki-laki masih lebih banyak dibandingkan perempuan walaupun selisihnya relatif kecil dimana laki-laki sebesar 50,96 persen sedangkan perempuan sebanyak 49,04 persen.
Tabel 10. Perbandingan Pekerja Laki-laki dan Perempuan pada Sektor Formal - Informal, 2015
Jenis Kelamin Formal Sektor Informal Total
(1) (2) (3) (4)
Laki-Laki 67,35 50,96 59,06
Perempuan 32,65 49,04 40,94
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 57
Jika melihat pada komposisi di masing-masing jenis kelamin, secara umum laki-laki memiliki kecenderungan untuk bekerja di sektor formal. Hal ini terlihat dari perbandingan antara pekerja laki-laki di sektor formal yang lebih tinggi dibandingkan yang bekerja pada sektor informal, dengan perbandingan 56,4 persen berbanding 43,6 persen. Berbeda dengan laki-laki, perempuan di Lombok Barat cenderung untuk memilih bekerja di sektor informal, yaitu mencapai 60,6 persen. Hal ini kemungkinan disebabkan karena sektor informal memberikan keleluasaan waktu dalam bekerja, sehingga dapat mengurus keluarga.
Tabel 11. Perbandingan Sektor Formal – Informal pada Setiap Kelompok Jenis Kelamin, 2015
Jenis Kelamin Sektor Total
Formal Informal
(1) (2) (3) (4)
Laki-Laki 56,37 43,63 100,00
Perempuan 39,42 60,58 100,00
Total 49,43 50,57 100,00
Sektor informal merupakan sektor yang terbukti paling mampu bertahan dari gejolak inflasi, krisis moneter bahkan krisis global selain paling mudah menyerap tenaga kerja bahkan dapat mengurangi angka pengangguran. Pada tingkat nasional sumbangan sektor informal cukup berpengaruh pada perekonomian bangsa.
Komposisi pekerja informal menurut lapangan pekerjaan utama/sektor dapat memperlihatkan sektor-sektor yang potensial dalam menampung tenaga kerja informal. Sektor aggriculture masih menjadi sektor yang paling banyak menampung pekerja informal. Pada
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 58
tahun 2015, pekerja informal di sektor aggriculture mencapai 44,65 persen. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan tahun 2014 yang mencapai 61,21 persen. Pekerja informal pada sektor manufacture meningkat dari 10,78 persen pada tahun 2014 menjadi 21,02 persen pada tahun 2015. Demikian juga dengan sektor service mengalami peningkatan dari 28 persen menjadi 34,33 persen. Hal tersebut menunjukkan adanya pergeseran pekerja informal dari sektor
aggriculture menuju sektor manufacture dan service. Pergeseran ini
kemungkinan disebabkan tawaran upah atau pendapatan yang lebih baik di sektor manufacture dan service.
Kemudian jika dilihat menurut status pekerjaan, persentase pekerja informal dengan status pekerjaan berusaha sendiri yang tertinggi pada lapangan usaha Service yaitu sebesar 69,28 persen. Untuk status berusaha dibantu buruh tidak tetap/tidak dibayar, seluruhnya (100 persen) ada pada lapangan pekerjaan Aggriculture, artinya pekerja
61.21 44.65 10.78 21.02 28.01 34.33 2014 2015
Aggriculture Manufacture Service
Gambar 14. Persentase Pekerja Informal Menurut Lapangan Pekerjaan, 2014-2015
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 59
dengan status berusaha dibantu buruh tidak tetap/tidak dibayar pada sector Agricuture di Lombok Barat seluruhnya merupakan tenaga usaha pertanian (petani penggarap, pemilik lahan).
Untuk status pekerja bebas di non pertanian sektor informal, lebih banyak (83,98 persen) ada pada lapangan pekerjaan manufacture. Sedangkan status pekerja keluarga/pekerja tak dibayar lebih banyak (48,75 persen) ada pada lapangan usaha Aggriculture. Tabel berikut akan memberikan gambaran lebih rinci mengenai hal tersebut.
Tabel 12. Persentase Pekerja Informal Menurut Status Pekerjaan Utama dan Lapangan Pekerjaan, 2015
Status Pekerjaan Utama Agg Sektor utama Man Ser Total (1) (2) (3) (4) (5) Berusaha Sendiri 22,92 7,80 69,28 100,00
Berusaha dibantu buruh tidak tetap/tidak dibayar
100,00 0,00 0,00 100,00
Pekerja bebas di
pertanian 100,00 0,00 0,00 100,00 Pekerja bebas di non
pertanian 0,00 83,98 16,02 100,00 Pekerja keluarga/tidak
dibayar 48,75 8,58 42,67 100,00 Total 44,65 21,02 34,33 100,00
Kemudian dari sisi pendidikan, pekerja di sektor informal didominasi oleh mereka yang berpendidikan rendah dan hanya sedikit yang berpendidikan SLTA ke atas. Hal ini disebabkan pekerjaan di sektor informal tidak membutuhkan kualifikasi pendidikan yang tinggi.
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 60
Bahkan semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk, maka kecenderungan untuk bekerja di sektor informal semakin rendah.
Tenaga kerja yang berpendidikan tinggi cenderung memilih pekerjaan di sektor formal di samping sektor formal juga lebih mengutamakan tenaga kerja dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Selain itu juga diduga tenaga kerja yang berpendidikan tinggi yang tidak terserap pada lapangan pekerjaan formal, merasa gengsi untuk bekerja di sektor informal, dan lebih memilih menjadi pengangguran.
Dari sisi jam kerja, di Kabupaten Lombok Barat, lebih dari separuh pekerja di sektor informal atau 61,79 persen bekerja di atas 35 jam seminggu. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2014 dimana hanya 45,77 persen pekerja informal yang memiliki jama kerja di atas 35 jam seminggu. Dengan demikian persentase setengah pengangguran untuk pekerja informal mengalami penurunan dari 54,04 persen menjadi 38,21 persen.
49.3 25.2
13.9
11.2 0.4
Tidak punya ijazah SD sederajat SMP sederajat SMA sederajat Perguruan Tinggi Gambar 15. Penduduk Bekerja di Sektor Informal Kabupaten Lombok Barat Menurut Tingkat Pendidikan Terakhir, 2015
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 61