Bab III. Ketenagakerjaan
3.4 Indikator Ketenagakerjaan
3.4.2 Tingkat Pengangguran Terbuka
Tabel 15. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Menurut Jenis Kelamin Tahun 2014 - 2015
Jenis Kelamin TPAK Tahun
2014 2015
(1) (2) (3)
Laki-Laki 80,38 82,40
Perempuan 49,05 52,51
Total 64,05 66,83
3.4.2 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
Pengangguran akan selalu muncul karena secara alami tidak mungkin ada suatu bangsa yang tidak memiliki pengangguran. Mengapa demikian? Pertama, penduduk senantiasa dituntut pada masalah pemenuhan kebutuhan ekonomi yang kian hari kian meningkat. Kedua, penduduk terus bertambah sehingga otomatis melahirkan para pencari kerja baru yaitu mereka yang telah menuntaskan pendidikan dan memutuskan tidak melanjutkan sekolah dengan alasan ingin berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi yaitu mencari kerja. Ketiga,tingkat UMR yang bervariasi yang mempengaruhi keputusan tenaga kerja untuk terlibat dalam lapangan pekerjaan atau tidak. Tingkat upah yang rendah akan menjadi alasan kuat bagi tenaga kerja untuk tetap mencari kerja hingga mendapatkan upah yang sesuai. Ini berlaku terutama bagi tenaga kerja berpendidikan.
Pengangguran dari sisi ekonomi merupakan produk ketidakmampuan pasar kerja dalam menyerap angkatan kerja yang
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 67
tersedia, antara lain seperti: jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dibandingkan jumlah pencari kerjanya, kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, dan kurang lengkapnya informasi pasar kerja bagi pencari kerja. Selain itu, pengangguran juga dapat disebabkan oleh pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi karena perusahaan menutup/mengurangi bidang usahanya sebagai akibat dari krisis ekonomi, keamanan yang kurang kondusif, peraturan yang menghambat investasi, dan lain-lain.
Ketidakmampuan pasar kerja dalam menyerap para pencari kerja dapat menyebabkan pengangguran terus bertambah. Jumlah pengangguran yang terus tidak hanya akan menimbulkan masalah-masalah ekonomi saja, melainkan juga berbagai masalah-masalah-masalah-masalah sosial seperti kemiskinan dan kerawanan sosial.
Ketidakseimbangan antara demand dan supply tenaga kerja menyebabkan angka pengangguran bergerak fluktuatif. Bila jumlah
demand (permintaan) tenaga kerja lebih besar dari jumlah tenaga kerja
yang tersedia di pasar tenaga kerja, maka yang terjadi adalah tenaga kerja akan memiliki pilihan yang lebih banyak untuk menentukan kemana akan bekerja. Namun pada umumnya ada kecenderungan jumlah demand tenaga kerja lebih kecil daripada ketersediaan tenaga kerja (supply) yang ada di pasar tenaga kerja, dengan kata lain jumlah lapangan pekerjaan yang diperebutkan para pencari kerja kurang sebanding dengan jumlah pencari kerja.
Konsep pengangguran yang digunakan BPS menerangkan bahwa yang termasuk pengangguran adalah mereka yang mencari pekerjaan (looking for work) dan mempersiapkan usaha (establishing a new
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 68
pekerjaan (hopeless of job) dan yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja (have a job in a future start). Bila salah satu dari syarat tersebut terpenuhi maka seorang dapat dikategorikan sebagai pengangguran.
Berdasarkan data Sakernas 2015, jumlah pengangguran di Kabupaten Lombok Barat mencapai 10.381 orang, mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2014 yang tercatat sebesar 12.202 orang. Hal tersebut menunjukkan bahwa bertambahnya jumlah tenaga kerja di Lombok Barat tidak diiringi oleh bertambahnya jumlah pengangguran. Artinya bahwa lapangan pekerjaan yang tersedia mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak sehingga jumlah pengangguran dapat dikurangi. Ini merupakan suatu keberhasilan bagi pemerintah Kabupaten Lombok Barat dan menunjukkan bahwa program ketenagakerjaan yang dijalankan oleh pemerintah Kabupaten Lombok Barat telah membuahkan hasil yang positif.
Dengan berkurangnya jumlah pengangguran di Lombok Barat maka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tentunya akan mengalami penurunan. TPT merupakan salah satu indicator ketenagekerjaan yang menjadi tolok ukur keberhasilan pemerintah dalam mengatasi masalah pengangguran. TPT merupakan ukuran dalam bentuk persentase perbandingan antara jumlah pengangguran dan jumlah angkatan kerja di suatu wilayah. Yang perlu diingat bahwa pengangguran bukanlah didefinsikan sebagai orang yang tidak bekerja semata. Jika demikian anak sekolah, ibu rumah tangga, lansia yang tidak bekerja juga akan termasuk di dalamnya sehingga jumlah pengangguran yang sesungguhnya akan lebih besar. Akan tetapi pengangguran yang dimaksud adalah mereka yang tidak bekerja dan aktif mencari kerja
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 69
atau mempersiapkan usaha.
Hasil penghitungan TPT Kabupaten Lombok Barat menunjukkan bahwa pada tahun 2015, TPT Lombok Barat tercatat sebesar 3,35 persen, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4,19 persen. TPT Lombok Barat tersebut tergolong rendah.
Jika dilihat menurut kelompok umur, TPT tertinggi ada di kelompok umur 15-24 tahun yatu sebesar 13,12 persen, diikuti oleh kelompok umur 25-34 tahun. Pada umumnya kelompok usia 15-24 tahun adalah penduduk usia sekolah (SLTP hingga Perguruan Tinggi) dan merupakan kelompok usia muda yang mana umumnya mereka masih mencari pekerjaan yang sesuai. Sehingga mereka umumnya suka berpindah-pindah lapangan pekerjaan. Selain itu karena posisi mereka di pasar kerja sebagai new entrance tanpa kepemilikan pengalaman kerja bisa menjadi penyebab tidak semua bisa langsung terserap dalam lapangan kerja.
Tabel 16. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Kelompok Umur, 2015 Kelompok Umur TPT (1) (2) 15 – 24 13,12 25 – 34 2,60 35 – 44 0,75 45 + 0,86 Lombok Barat 3,35
Pada kelompok usia 25 – 34 tahun merupakan kelompok usia yang sudah cukup matang untuk bekerja. Umumnya penduduk di
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 70
kelompok usia tersebut sudah mulai memikirkan untuk memiliki pekerjaan yang tetap. Adapun masih cukup tingginya pengangguran di kelompok ini karena mereka yang berusia muda di kelompok ini, yaitu usia 25 atau 26 tahun cukup banyak yang baru menyelesaikan studinya di perguruan tinggi sehingga di awal kelulusan mereka aktif mencari kerja atau mempersiapkan usaha.
Kemudian pada kelompok usia di atas 34 tahun, umumnya sudah memiliki pekerjaan tetap dan sedikit di antara mereka yang belum bekerja. Kalaupun ada di antara mereka yang masih mencari kerja, hal itu dikarenakan mereka ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaannya sekarang. Alasan lainnya adalah karena pada kelompok usia tersebut umumnya sudah banyak yang berumah tangga sehingga mereka dituntut untuk memiliki pekerjaan yang tetap.
Jika membandingkan menurut jenis kelamin, TPT laki-laki lebih tinggi dari perempuan baik itu pada tahun 2014 maupun 2015. Namun jika dibandingkan dengan keadaan tahun 2014, TPT laki-laki mengalami penurunan tahun 2015 dari 4,42 persen menjadi 3,36 persen. Demikian juga dengan TPT perempuan yang mengalami penurunan dari 3,84 persen menjadi 3,33 persen. Penurunan TPT laki-laki lebih besar dibandingkan dengan penurunan TPT perempuan, meskipun TPT perempuan masih tetap lebih rendah daripada TPT laki-laki. Hal tersebut mengindikasikan bahwa tenaga kerja laki-laki semakin diterima oleh pasar kerja sehingga jumlah tenaga kerja laki-laki yang terserap ke dalam lapangan kerja yang ada semakin meningkat.
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 71
Tabel 17. TPT Menurut Jenis Kelamin Tahun 2014-2015
Jenis Kelamin TPT Tahun
2014 2015
(1) (2) (3)
Laki-Laki 4,42 3,36
Perempuan 3,84 3,33
Total 4,19 3,35
Lebih rendahnya TPT perempuan dibandingkan TPT laki-laki mengindikasikan bahwa pasar kerja memberikan respon yang positif terhadap tenaga kerja perempuan terlepas dari jenis pekerjaan atau lapangan pekerjaan yang mereka geluti. Meskipun demikian, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan masih rendah dikarenakan banyak di antara mereka yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja.
Ketidak seimbangan antara laju pertumbuhan penduduk usia kerja dengan laju pertumbuhan lapangan pekerjaan perlu diwaspadai. Bila laju pertumbuhan penduduk usia kerja lebih tinggi atau jumlah angkatan kerja lebih besar dari ketersediaan lapangan pekerjaan maka pengangguran akan terjadi dan semakin lama akan terakumulasi seiring dengan pertumbuhan penduduk setiap tahun, sehingga akan menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak yang akan berdampak pada tingkat kemiskinan dan kerawanan sosial.
Penciptaan lapangan kerja yang padat karya masih bisa dijadikan salah satu solusi untuk memecahkan permasalahan terakumulasinya pengangguran. Namun, kalangan terdidik cenderung menghindari pilihan pekerjaan ini karena preferensi mereka terhadap pekerjaan
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 72
kantoran lebih tinggi. Preferensi yang lebih tinggi didasarkan pada perhitungan biaya yang telah mereka keluarkan selama menempuh pendidikan dan mengharapkan tingkat pengembalian (rate of return) yang sebanding. Pilihan status pekerjaan utama para lulusan perguruan tinggi adalah sebagai karyawan atau pegawai, dalam artian bekerja pada orang lain atau instansi atau perusahaan secara tetap dengan menerima upah atau gaji rutin. Karenanya tenaga kerja terdidik cenderung lebih selektif dalam memilih pekerjaan dan mereka lebih memilih untuk menganggur hingga mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Dari gambar di bawah terlihat bahwa semakin tinggi pendidikan, tingkat pengangguran juga cenderung meningkat.
3.4.3 Setengah Pengangguran
Masalah ketenagakerjaan lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah setengah pengangguran. Ini erat kaitannya dengan produktifitas pekerja yang berpengaruh pada output produksi yang
0.57 2.38 2.00 6.45 13.08 3.35 Tidak punya ijazah SD sederajat SMP sederajat SMA sederajat Perguruan Tinggi Total Gambar 17. Tingkat Pengangguran Terbuka menurut Tingkat Pendidikan di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2015