Bab III. Ketenagakerjaan
3.3 Angkatan Kerja
3.3.1 Penduduk Bekerja
3.3.1.5 Bekerja Menurut Jam Kerja
Dalam mengukur produktivitas tenaga kerja, variabel jam kerja
seringkali digunakan sebagai tolok ukurnya. Idealnya semakin banyak jam kerja yang digunakan maka diharapkan output (produktivitas) yang dihasilkan juga semakin banyak. Dalam konsep yang dipakai BPS untuk Sakernas, jam kerja juga digunakan sebagai penentu lapangan pekerjaan utama bila seseorang mempunyai lebih dari satu jenis pekerjaan. Maksudnya, bila seseorang bekerja pada lebih dari satu lapangan
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 49
pekerjaan yang berbeda (berlainan kode KBLI), maka yang dianggap sebagai lapangan pekerjaan utama adalah lapangan pekerjaan yang jam kerjanya lebih banyak dari lapangan pekerjaan lainnya. Sedangkan untuk lapangan pekerjaan yang jam kerjanya lebih kecil dianggap sebagai pekerjaan tambahan/pekerjaan sampingan.
Dalam menentukan jam kerja normal, BPS berpatokan pada jumlah jam kerja minimal 35 jam dalam seminggu. Bila seorang pekerja bekerja dibawah jam kerja normal, maka dikategorikan sebagai setengah pengangguran, karena dengan jam kerja yang kurang dari jam kerja normal, produktivitasnya dianggap rendah tidak seperti tenaga kerja yang menggunakan jam kerja secara penuh, kecuali mereka yang tidak memiliki jam kerja disebabkan sementara tidak bekerja, maka tidak dikategorikan sebagai setengah pengangguran atau pengangguran terbuka.
Secara umum, bila dikelompokkan dalam jam kerja, pekerja di Kabupaten Lombok Barat sebagian besar bekerja diatas jam kerja normal (35 jam seminggu), tepatnya sebanyak 71,4 persen memiliki jam kerja diatas 35 jam seminggu. Masih terdapat 28,6 persen yang bekerja di bawah jam kerja normal, yang terdiri dari 22,6 persen berada pada kelompok 15-34 jam per minggu, 4,6 persen pada kelompok 1-14 jam per minggu dan sisanya sebanyak 1,4 persen tidak memiliki jam kerja. Pekerja yang memiliki jam kerja di bawah jam kerja normal di Lombok Barat pada umumnya merupakan pekerja keluarga/pekerja tidak dibayar yang sifatnya hanya membantu pekerjaan kepala keluarga. Sedangkan pekerja yang tidak memiliki jam kerja umumnya mereka yang memiliki pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja dikarenakan alasan tertentu, seperti menunggu panen, cuti, sakit dan sebagainya.
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 50
Jika dibandingkan menurut jenis kelamin, tampak bahwa jam kerja pekerja laki-laki masih lebih banyak berorientasi pada jam kerja normal bila dibandingkan dengan pekerja perempuan. Sebanyak 81,7 persen pekerja laki-laki bekerja dengan jam kerja normal dan 16,9 persen yang bekerja dengan jam kerja antara 1-34 jam per minggu. Tingginya rata-rata jam kerja laki-laki kemungkinan disebabkan oleh peran laki-laki sebagai pencari nafkah bagi keluarga. Sebaliknya untuk pekerja perempuan, 56,5 persen pekerja memiliki jam kerja normal. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh perempuan masih harus mengalokasikan waktunya untuk mengurus anak dan rumah tangganyaa sehingga mereka yang bekerja dengan jam kerja normal lebih sedikit dibandingkan laki-laki.
1.4 4.6
22.6
71.4
0 jam 1 - 14 jam 15 - 34 jam 35 + jam
Gambar 11. Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Jam Kerja, 2015
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 51
Pada tahun 2015 terjadi kenaikan persentase penduduk bekerja perempuan yang bekerja di atas 35 jam dimana pada tahun 2014 sebesar 43,82 persen sedangkan pada tahun 2015 menjadi 56,5 persen. Jam kerja pekerja perempuan masih lebih besar dibandingkan pekerja laki-laki untuk jam kerja 1-34 jam dimana terlihat dari persentase pekerja perempuan mencapai 33,1 persen sedangkan pekerja laki-laki hanya 15,4 persen.
Dilihat menurut sektor/lapangan pekerjaan utama, jam kerja selama seminggu penduduk bekerja di Lombok Barat menunjukkan pola yang berbeda untuk tiap sektor. Tabel 8 memberikan gambaran bahwa pekerja di sektor aggriculture lebih banyak yang masuk kategori setengah pengangguran jika dibandingkan dengan sektor manufacture dan service. Pada sektor manufacture dan service, proporsi yang lebih besar ada pada pekerja dengan jam kerja diatas 35 jam seminggu. Dari kedua sektor tersebut, persentase pekerja dengan jam kerja di atas 35
1.4 9.0 33.1 56.5 1.4 1.5 15.4 81.7 0 jam 1 - 14 jam 15 - 34 jam 35 + jam Laki-Laki Perempuan Gambar 12. Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Jam Kerja dan Jenis Kelamin, 2015
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 52
jam seminggu di sektor Service lebih tinggi dari pada sektor
Manufacture.
Tabel 8. Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Jam Kerja dan Lapangan Pekerjaan Utama, 2015
Jam Kerja selama seminggu
Sektor Pekerjaan
Total
Aggriculture Manufacture Service
(1) (2) (3) (4) (5) 0 jam 2,8 0,7 1,0 1,4 1 – 14 jam 10,0 1,5 3,4 4,6 15 – 34 jam 35,0 20,4 17,0 22,7 35+ jam 52,2 77,4 78,6 71,4 Total 100,0 100,0 100,0 100,0
Sebelumnya telah disinggung bahwa, jam kerja yang digunakan oleh tenaga kerja berkaitan dengan produktivitas dari output yang dihasilkan. Dari hasil tabulasi silang antara jam kerja dengan lapangan pekerjaan utama/sektor usaha, dengan asumsi bahwa semakin tinggi jam kerja yang digunakan maka semakin tinggi produktivitas kerjanya, diperoleh hasil bahwa jam kerja pada sektor Service merupakan sektor yang tenaga kerjanya memiliki jam kerja yang relatif tinggi dibandingkan dengan sektor lain. Kondisi ini sedikit mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun 2013 dimana justru sektor
Manufacture yang lebih efektif walaupun pergeseran antara sektor Manufacture dan service relative kecil.
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 53
Tabel 9. Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama dan Jam Kerja, 2015
Status Pekerjaan Utama
Jam Kerja Seluruhnya dalam seminggu yll
Total 0 jam 1 – 14 jam 15 – 34 jam 35 + jam
Berusaha 2,4 1,7 23,2 72,7 100,0
Buruh/Karyawan 1,3 1,3 15,1 82,3 100,0 Pekerja Bebas 0,0 6,6 28,1 65,3 100,0 Pekerja Keluarga 0,0 22,4 35,8 41,8 100,0
Total 1,4 4,6 22,7 71,4 100,0
Kemudian pada Tabel 9 memberikan gambaran keterkaitan antara jam kerja dengan status pekerjaan utama. Penggunaan jam kerja menurut status pekerjaan utama dimaksudkan untuk melihat sebaran efektifitas penggunaan jam kerja pada masing-masing status pekerjaan utama, atau untuk mengamati pola pekerja tergolong sebagai setengah pengangguran atau sebagai tenaga kerja yang sepenuhnya produktif menurut status pekerjaan.
Pekerja yang berstatus berusaha, buruh/karyawan dan pekerja bebas, persentase pekerja yang menggunakan waktu kerja 35 jam ke atas per minggu lebih banyak dibandingkan yang kurang dari 35 jam. Status pekerjaan sebagai pekerja keluarga sebagian besar menggunakan jam kerja kurang dari 35 jam per minggu yaitu 58,2 persen. Persentase pekerja yang memiliki jam kerja selama 35 jam ke atas yang tertinggi adalah pekerja yang berstatus buruh/karyawan.
Untuk status sebagai buruh/karyawan secara otomatis persentase pada status ini akan besar karena sektor ini merupakan sektor formal yang secara resmi mengatur jumlah jam kerja minimal pegawai setiap harinya. Aturan resmi masuk kerja minimal 8 jam kerja sehari berdampak pada tingginya jam kerja pekerja berstatus ini.
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 54
Tercatat persentase pekerja pada status ini yang bekerja di atas 35 jam perminggu sebesar 82,3 persen, meningkat jika dibandingkan pada tahun 2014 yang tercatat sebanyak 72,7 persen.
3.3.1.6 Bekerja di Sektor Informal
Salah satu dimensi penting terkait dengan hal ketenagakerjaan adalah kebutuhan akan lapangan pekerjaan yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja. Namun, kesempatan kerja di sektor formal dirasakan tidak sesuai jumlah yang diharapkan, dimana jumlah tenaga kerja yang ada di pasar tenaga kerja biasanya lebih besar dibandingkan ketersediaan lapangan pekerjaan.
Akibatnya, sektor informal dianggap sebagai pilihan yang tepat dan murah untuk mereka yang tidak memperoleh pekerjaan di sektor informal. Sektor informal tampaknya memainkan peranan cukup penting di dunia, meskipun terkesan diabaikan atau kurang diperhatikan. Di beberapa kota besar di negara berkembang peranan sektor informal dalam menyerap angkatan kerja cukup besar (www.unchs.org), yaitu di New Delhi, India, 61,4 persen; di Dhaka, Bangladesh, 60 persen. Di Surabaya sektor informal diperkirakan menyerap tidak kurang dari 35 persen jumlah angkatan kerja yang ada (www.undp.org).
Fakta menarik dari sektor informal adalah sektor ini terbukti memiliki kemampuan menyerap banyak tenaga kerja. Sektor ini juga menjadi saluran yang paling mudah, murah serta bersifat massal bagi penduduk yang bermigrasi ke kota. Sektor ini berperan cukup besar dalam menyangga sektor formal. Studi menunjukkan bahwa