Bab III. Ketenagakerjaan
3.3 Angkatan Kerja
3.3.1 Penduduk Bekerja
3.3.1.4 Bekerja Menurut Pendidikan
Tabel 4. Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin, 2015
Status Pekerjaan Utama Jenis Kelamin Total Laki-laki Perempuan
1. Berusaha sendiri 13,7 21,4 16,9
2. Berusaha dibantu buruh tidak tetap/tak dibayar 17,1 11,9 14,9 3. Berusaha dibantu buruh tetap/dibayar 10,8 3,8 7,9
4. Buruh/karyawan/pegawai 38,2 25,8 33,1
5. Pekerja bebas di pertanian 4,8 8,7 6,4 6. Pekerja bebas di non pertanian 12,6 6,7 10,2 7. Pekerja keluarga/tak dibayar 2,9 21,7 10,6
Lombok Barat 100,0 100,0 100,0
Penduduk bekerja laki-laki juga mendominasi untuk status pekerjaan berusaha dibantu buruh tidak tetap/tidak dibayar, berusaha dibantu buruh tetap/ dibayar dan demikian juga untuk status pekerjaan sebagai buruh/karyawan dan pekerja bebas non pertanian. Kondisi dimana bahwa status pekerjaan sebagai pekerja bebas di pertanian dan pekerja tidak dibayar/pekerja keluarga didominasi oleh perempuan memberikan persepsi bahwa pekerjaan pertanian yang cenderung berat justru lebih banyak digeluti oleh kaum perempuan di Lombok Barat. Selain itu penduduk perempuan cenderung menjadi pekerja keluarga/tidak dibayar untuk membantu usaha dari kepala keluarga.
3.3.1.4 Bekerja Menurut Pendidikan
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 42
untuk melihat kualitas pekerja di Kabupaten Lombok Barat. Tingkat pendidikan berbanding lurus dengan produktifitas dan tingkat upah. Pendidikan yang semakin tinggi berbanding lurus dengan kemampuan dan keterampilan kerja. Namun dibalik itu semua, tingkat pendidikan yang tinggi berpengaruh pada pilihan pekerjaan. Tenaga kerja yang pendidikan tinggi umumnya lebih selektif dalam memilih pekerjaan. Dengan tingkat pendidikannya mereka berharap mendapat pekerjaan dengan tingkat penghasilan yang lebih baik. Akibatnya, semakin tinggi tingkat pendidikan pada umumnya semakin besar pula persentase yang menganggur. Artinya banyak yang masih mencari kerja untuk memperoleh pada pekerjaan yang lebih baik.
Kualitas pendidikan pekerja di Lombok Barat pada tahun 2015 secara umum masih tergolong rendah. Lebih dari dari separuh pekerja atau 56,1 persen pekerja di Lombok Barat berpendidikan SD ke bawah. Meskipun demikian, kondisi tersebut lebih baik jika dibandingkan dengan tahun 2014 dimana 64,5 persen pekerja di Lombok Barat berpendidikan SD ke bawah. Mereka yang berpendidikan rendah umumnya akan bekerja di jenis pekerjaan yang berpenghasilan rendah. Dengan demikian tidak mengherankan jika rata-rata pendapatan penduduk menjadi rendah.
Adapun mereka yang berpendidikan perguruan tinggi hanya sedikit yang terserap di pasar kerja yaitu hanya 5,5 persen. Hal ini dapat dipahami mengingat persentase penduduk yang berpendidikan tinggi juga rendah disamping mereka juga cenderung lebih selektif dalam memilih pekerjaan. Umumnya lulusan perguruan tinggi menginginkan pekerjaan di sektor formal.
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 43
Menelisik lebih lanjut mengenai kualitas penduduk bekerja di Kabupaten Lombok Barat, ada baiknya ditinjau juga dari segi kelompok umur. Apabila mereka yang tingkat pendidikannya rendah berasal dari kelompok umur muda maka masih ada intervensi kebijakan yang dapat diterapkan untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Namun apabila lebih banyak berasal dari kelompok umur tua maka kemungkinan untuk meningkatkan kualitas pendidikan mereka menjadi semakin kecil.
Tabel 5. Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Kelompok Umur dan Pendidikan, 2015
Kelompok Umur < SD SD SMP SMA > SMA
(1) (2) (3) (4) (5) (6) 15 - 24 5,9 9,4 25,2 52,6 6,9 25 - 34 17,9 29,2 19,8 25,0 8,1 35 - 44 25,1 35,3 15,5 20,8 3,4 45 - 54 54,7 18,0 7,6 12,5 7,2 55 - 64 70,4 16,7 8,7 2,4 1,8 65 + 80,8 4,5 9,5 5,1 0,0 Total 32,8 23,3 15,7 22,6 5,5 Gambar 9. Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Pendidikan, 2015
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 44
Apabila diperhatikan dengan seksama menurut kelompok umur, penduduk bekerja dengan tingkat pendidikan rendah mayoritas merupakan penduduk dengan kelompok usia di atas 35 tahun. Penduduk pada kelompok usia tersebut merupakan penduduk yang telah lama berkecimpung dalam dunia kerja dan memiliki pengalaman kerja yang lebih lama.
Tingginya persentase pekerja dengan pendidikan rendah perlu diperhatikan keberadaannya pada pasar kerja Lombok Barat. Pekerja ini ada di setiap kelompok umur. Besarannya bervariasi dan meningkat pada kelompok umur 35 tahun ke atas. Dengan demikian jika selama 25 tahun ke depan mereka tetap berada pasar kerja maka mereka ini akan tetap menjadi penyumbang besarnya persentase pekerja Lombok Barat yang berpendidikan rendah. Adapun penduduk bekerja dengan tingkat pendidikan SMA ke atas justru sebaliknya, didominasi oleh penduduk pada kelompok usia di bawah 34 tahun.
Dalam garis besarnya dapat dikatakan bahwa semakin muda kohort kelompok umur semakin sedikit jumlah penduduk bekerja yang berpendidikan rendah. Hal yang sama juga terjadi pada pendidikan SMA ke atas, semakin muda kohort kelompok umur semakin banyak jumlah tamatan SMA ke atas. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan pekerja di Kabupaten Lombok Barat semakin membaik.
Persentase penduduk yang bekerja bila dibandingkan menurut gender, akan diperoleh gambaran perbedaan tingkat pendidikan yang cukup signifikan antara laki-laki dan perempuan. Dengan membandingkan secara gender dari sisi tenaga kerja terdidik dan dari sisi tenaga kerja yang berpendidikan rendah (belum sekolah/tidak
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 45
tamat SD) akan terlihat bahwa penduduk bekerja perempuan kebanyakan merupakan tenaga yang tidak terdidik. Menurut tingkat pendidikan tertentu, kesempatan tenaga kerja perempuan untuk masuk dalam lapangan pekerjaan cenderung tidak sama dengan laki-laki.
Data pada tahun 2015 menggambarkan bahwa persentase pekerja perempuan yang tidak berijazah lebih besar dari laki-laki, yaitu 38,8 persen berbanding 28,7 persen. Sedangkan untuk tingkat pendidikan SD, SMP dan SMA ke atas, komposisi pekerja laki-laki terlihat lebih dominan dibandingkan pekerja perempuan. Kesenjangan tersebut dapat dipahami mengingat penduduk perempuan di Lombok Barat memiliki rata-rata pendidikan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan penduduk laki-laki. Di sisi lain, jenis pekerjaan untuk perempuan relative terbatas menyebab perempuan yang berpendidikan tinggi tidak dapat mengimbangi laki-laki.
38.8 23.7 12.8 19.0 5.7 28.7 23.1 17.8 25.0 5.4
Tidak punya ijazah SD sederajat SMP sederajat SMA sederajat Perguruan Tinggi Laki-Laki Perempuan Gambar 10. Persentase Penduduk Bekerja Menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin, 2015
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 46
Kemudian jika dipilah menurut lapangan pekerjaan utama, pekerja di sektor Aggriculture hampir dua pertiganya (63,6 persen) tidak memiliki ijazah dan 20 persen hanya berijazah SD. Ini berarti hanya sedikit pekerja di sektor Aggriculture yang berpendidikan > SD. Rendahnya tingkat pendidikan pekerja di sektor ini dikarenakan pekerjaan di sektor Aggriculture tidak membutuhkan kualifikasi pendidikan yang tinggi dan keahlian yang khusus sehingga penduduk yang berpendidikan rendah lebih mudah untuk bekerja di sektor ini.
Pada sektor Manufacture, rata-rata pendidikan pekerjanya lebih baik jika dibandingkan dengan pekerja di sektor Aggriculture. Hanya 27,5 persen pekerja di sektor Manufacture yang tidak memiliki ijazah dan sekitar 41 persen pekerja berijazah SMP ke atas. Adapun sektor
Service merupakan lapangan pekerjaan yang mempunyai sumber daya
manusia dengan tingkat pendidikan paling baik diantara kedua sektor lainnya. Pada sektor service, persentase tenaga kerja yang berijazah SMA ke atas mencapai 44,8 persen.
Tabel 6. Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Pendidikan dan Lapangan Pekerjaan Utama, 2015
Tingkat Pendidikan
Sektor Utama Total
Agg Man Serv
(1) (2) (3) (4) (5)
Tidak punya ijazah 63,6 27,5 18,7 32,8
SD sederajat 20,0 31,2 20,5 23,3
SMP sederajat 10,8 20,1 16,0 15,7
SMA sederajat 5,6 20,3 33,4 22,6
Perguruan Tinggi 0,0 0,8 11,4 5,5
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 47
Dari gambaran di atas terlihat adanya kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan pekerja maka semakin kecil persentase pekerja pada sektor Aggriculture. Ini menunjukkan bahwa pertanian semakin ditinggalkan oleh para tenaga kerja terdidik. Pertanian hanya dilirik oleh tenaga kerja berpendidikan rendah. Tingkat penghasilan yang rendah dan pekerjaan yang dianggap kotor dan menguras fisik menjadi penyebab rendahnya persentase pekerja terdidik di sektor ini.
Justru sebaliknya, sektor Manufacture atau Service merupakan sektor yang paling banyak dilirik oleh pekerja terdidik (SMA ke atas). Setara dengan kualifikasi pendidikan yang disyaratkan sektor ini bagi para pekerjanya, maka tidak salah jika ke dua sektor ini memiliki persentase paling besar untuk pekerja dengan tingkat pendidikan tinggi. Apabila membandingkan antara Manufacture atau Service, maka pada tingkat pendidikan tinggi, sektor Service memiliki persentase lebih tinggi dibandingkan sektor Manufacture.
Selain lapangan pekerjaan, tingkat pendidikan pekerja juga berkorelasi dengan status pekerjaannya. Dari Tabel 7, yang menarik untuk dilihat bahwa pekerja yang tidak memiliki ijazah mendominasi hampir di semua status pekerjaan, kecuali pada status sebagai buruh/ karyawan.
Analisis Ketenagakerjaan Kabupaten Lombok Barat 2015 48
Tabel 7. Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Pendidikan dan Status Pekerjaan Utama, 2015
Tingkat Pendidikan Status Pekerjaan Utama Total Berusaha Buruh/Karyawan Pekerja Bebas Keluarga Pekerja
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Tidak punya ijazah 41,7 13,3 45,5 40,9 32,8 SD sederajat 27,5 16,6 25,3 25,9 23,3 SMP sederajat 15,8 14,2 15,8 20,3 15,7 SMA sederajat 13,7 40,8 13,5 12,9 22,6 Perguruan Tinggi 1,3 15,1 0,0 0,0 5,5 Total 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0
Sejalan dengan kualifikasi yang dibutuhkan untuk dapat bekerja sebagai karyawan/pegawai, persentase pekerja dengan pendidikan SLTA dan Perguruan Tinggi merupakan yang tertinggi untuk status ini dibandingkan dengan status pekerjaan lainnya. Untuk status pekerja bebas, baik di pertanian maupun non pertanian hampir tidak ada pekerjanya yang berpendidikan perguruan tinggi.