LANDASAN TEORI
A. Belajar dan Hasil Belajar 1.Pengertian Belajar
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Belajar dan Hasil Belajar 1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan kegiatan penting yang harus dilakukuan setiap orang secara maksimal untuk dapat memperoleh sesuatu Belajar adalah syarat mutlak untuk menjadi pintar dalam berbagai hal. Belajar merupakan sebuah proses yang dilakukan individu untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru yang diwujudkan dalam bentuk perubahan tingkah laku yang relatif permanen dan menetap disebabkan adanya interaksi individu dengan lingkungan belajarnya (Irham dan Wiyani, 2013:116).
Belajar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologi
belajar memeiliki arti “ berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”
Definisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dipunyai sebelumnya. Sehingga dengan belajar itu manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu (Fuadyartanto, 2002).
Menurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks, hasil belajar berupa kapabilitas dan setelah belajar orang memiliki
18
pengetahuan, sikap dan nilai (Dimyati, 2006 : 10). Menurut Skinner belajar suatu perilaku pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik dan sebaliknya. (Hamzah.B.Uno, 2007: 54) Menurut Dan menurut Hamzah B.Uno belajar pada hakekatnya merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk menghasilkan suatu perubahan, menyangkut pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan nilai-nilai (Hamzah.B.Uno, 2007: 54).
Morgan dan kawan-kawan menyatakan dalam Soekamto (1997: 23) bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan menjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman. Pernyataan Morgan dan kawan-kawan ini senada dengan apa yang dikemukakan para ahli yang menyatakan bahwa belajar merupakan proses yang dapat menyebabkan perubahan tingkah laku di sebabkan adanya reaksi terhadap suatu situasi tertentu atau adanya proses internal yang terjadi didalam diri seseorang. Perubahan ini tidak terjadi karena adanya warisan genetik atau respon secara ilmiah, kedewasaan, atau keadaan organisme yang bersifat temporer, seperti kelelahan, pengaruh obat-obatan, rasa takut, dan sebagainya. Melainkan perubahan dalam pemahaman, perilaku, presepsi, motivasi, atau gabungan dari semuanya.
Dalam islam telah membuktikan bahwa wahyu Allah yang pertama kali turun adalah perintah membaca, sedang membaca adalah merupakan awal dari kegiatan dari belajar, firman Alloh : (Depag, 1980: 1079)
19
Dalam Al Qur’an Allah juga menyerukan perintah untuk membaca,
sedangkan membaca merupakan awal dari kegiatan belajar yakni dalam surat Al- Alaq ayat 1-5:
Artinya: 1. Bacalah (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakanmu, 2. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah, 3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, 4. Yang mengajar (manusia) dengan pena, 5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dengan demikian dapat disimpulkan belajar adalah adanya proses perubahan perilaku tetap dari belum tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari kurang terampil menjadi terampil, dan dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru, serta bermanfaat bagi lingkungan maupun individu itu sendiri.
2. Pengertian Hasil belajar
Hasil belajar merupakan gambaran tingkat penguasaan siswa terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang dipelajari, yang diukur dengan berdasarkan jumlah skor jawaban benar pada soal yang disusun sesuai dengan sasaran belajar yang dikutip Christiana Demaja dalam Tim Pundi Dikdasmen (2007: 32). Menurut Saodih (2004: 102-103) hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemakaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang, penguasaan hasil belajar seseorang dapat dilihaat dari perilakunya, baik
20
perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, ketrampilan berpikir maupun ketrampilan motorik.
Benjamin S. Bloom dalam Taxonomy of Education Objectives
(Winkel, 1996:274) membagi hasil belajar kedalam tiga ranah:( Sagala, 2007: 34)
a. Ranah Kognitif
Ranah kognitif (berkaitan dengan daya pikir, pengetahuan, dan penalaran) berorientasi pada kemampuan siswa dalam berpikir dan bernalar yang mencakup kemampuan siswa dalam mengingat sampai memecahkan masalah, yang menuntut siswa untuk menggabungkan konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya. Ranah kognitif ini berkenaan dengan prestasi 24 belajar dan dibedakan dalam enam tahapan, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analsisi, sintesis, dan eveluasi. Pada siswa Sekolah Dasar diutamakan pada ranah pengetahuan, pemahaman, dan penerapan.
b. Ranah Psikomotorik
Ranah psikomotor berorientasi kepada ketrampilan fisik, ketrampilan motorik, atau ketrampilan tangan yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan koordinasi (dalam Winkel, 1996:278) menyatakan bahwa ranah psikomotor terdiri dari tujuh jenis perilaku yaitu: persepsi, kesiapan, gerakan
21
terbimbing, gerakan yang terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan, dan kreativitas.
c. Ranah Afektif
Ranah afektif (berkaitan dengan perasaan/kesadaran, seperti perasaan senang atau tidak senang yang memotivasi seseorang untuk memilih apa yang disenangi) berorientasi pada kemampuan siswa dalam belajar menghayati nilai objek-objek yang dihadapi melalui perasaan, baik objek itu berupa orang, benda maupun peristiwa. Ciri lain terletak dalam belajar mengungkapkan perasaan dalam bentuk ekspresi yang wajar. Menurut Krochwall Bloom (dalam Winkel 1996:276) ranah afektif terdiri dari penerimaan, partisipasi, penilaian, dan penentuan sikap, organisasi, dan pembentukan pola hidup.Untuk ranah kognitif, guru menilai kemampuan kognitif siswa berdasarkan hasil tes yang diberikan kepada siswa pada akhir pelaksanaan siklus 1 dan 2.
Rumini, dkk yang dikutip oleh Tim Pudi Dikdasmen (2007: 33-34) menyebutkan bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh dua kelompok faktor, yaitu:
a. Faktor yang berasal dari individu yang sedang belajar
Faktor yang terdapat di dalam diri individu dikelompokan menjadi:
22
1) Faktor psikis, antara lain kognitif, afektif, psikomotor, campuran, kepribadian.
2) Faktor fisik, antara lain indera, anggota badan, tubuh, kelenjar, syarat, syaraf, dan organ-organ dalam tubuh. Faktor psikis dan fisik ini, keadaannya ada yang ditentukan oleh faktor keturunan, ada yang faktor lingkungan, dan ada pula yang ditentukan oleh faktor keturunan maupun lingkungan. b. Faktor yang berasal dari luar diri individu
Dengan demikian guru harus memperhatikan perbedaan individu dalam memberi pelajaran kepada mereka, supaya dapat menangani sesuai dengan kondisi peserta didiknya untuk menunjang keberhasilan belajar, karena faktor-faktor yang mempengaruhi belajar peserta didik, satu dengan yang lainnya sangat berbeda. B. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalam program pendidikan agama Islam sebagai suatu mata pelajaran yang wajib secara nasional wajib diberikan di sekolah atau perguruan tinggi umum. Agar, peserta didik menjadi orang yang memiliki kepribadian muslim secara utuh, yakni selalu taat menjalankan perintah agamanya, bukan menjadikan mereka sebagai ahli dalam bidang agama islam ( Wahyudin, 2009: 3)
Menurut Majid (2011: 11) Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal,
23
memahami, menghayati, hingga mengimami, bertakwa, dan berakhlakul karimah dalam mengamalkan ajaran agama islam dari sumber utamanya kitab suci AL-Qur’an dan AL-Hadist, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunan pengalaman.
Tayar Yusuf (1986: 35), mengartikan Pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan, dan ketrampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, dan berkepribadian yang memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Agama Islam dalam kehidupannya, sedangkan menurut A Tafsir, pendidikan Agama Islam adalah bimbingan yang diberikan seseorang agar individu mampu berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran islam. (Majid.2012: 12)
Muhammad Hamid an- Nashir dan Kulah Abd al- Qodir Darwis mendefinisikan pendidikan islam sebagai proses pengarahan perkembangan manusia (ri’ayah) pada sisi jasmani, akal, bahasa tingkah-laku dan kehidupan sosial dan keagamaan yang diarahkan pada kebaikan menuju kesempurnaan. Sementara itu Omar Muhammad at- Toumi asy- Syaibani sebagaimana disitir oleh Arif dalam Roqib (2009:17-18) menyatakan bahwa pendidikan islam adalah usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadi atau kehidupan bermasyarakat dan kehidupan di alam sekitarnya.
24 2. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan Pendidikan Agama Islam di sekolah dapat dirumuskan sebagai berikut (Nazarudin, 2007:17):
a. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SAW.
b. Mewujudkan manusia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi, menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.
Sedangkan menurut Omar Muhammad atau Umy Asy-Syaebani tujuan Pendidikan Islam memiliki empat ciri pokok:
a. Sifat yang bercorak agama atau akhlak.
b. Sifat menyeluruh yang menyangkut/ mencakup segala aspek pribadi pelajar atau (subjek didik) dan semua aspek perkembangan dalam masyarakat.
c. Sifat keseimbangan, kejelasan, tidak adanya perkembangan antara unsur-unsur dan cara pelaksanaan.
d. Sifat realistik dan dapat dilaksanakan, penekanan pada perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku, dan pada
25
kehidupan, memperhitungkan perbedaan-perbedaan, perseorangan diantara individu-individu, (Achmadi:1992:59). Dari tujuan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan PAI adalah terbentuknya peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi pekerti yang luhur (berakhlak mulia), memiliki pengetahuan tentang ajaran pokok Agama Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
C. Salat Sunnah
1. Pengertian Salat Sunnah
Menurut bahasa salat berarti do’a, sedangkan menurut syara’
salatartinya bentuk perbuatan yang terdiri atas perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. (Moh Suyono.1998:67).
Menurut Rifa’I (2011: 32) salat ialah berhadap hati kepada Allah sebagai ibadat, dalam bentuk beberapa perkataan dan perbuatan, yang dimolai dari takbir dan diakhiri dengan salam serta menurut syarat-syarat yang telah
ditentukan syara’.
Sedangkan sunnah adalah adalah hukum jika dilaksanakan maka akan mendapat pahala dan apabila tidak dilaksanakan tidak berdosa. Salat sunah merupakan salat yang dianjurkan untuk dikerjakan artinya apabila dikerjakan mendapatkan pahala namun apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa (tidak disiksa). Menurut Arfin (2014: 119) sunnah diartikan sebagai perbuatan, ucapan dan ketetapan Nabi Muhammad SAW.
26
Jadi, salat Sunnah adalah salat yang apabila dilaksanakan akan mendapat pahala dan jika tidak dilaksanakan atau ditinggalkan tidak berdosa. Disamping kita diwajibkan menjalankan salat fardlu kita juga dianjurkan untuk menjalankan salat sunah.
2. Macam-macam Salat Sunnah a. Salat Id
Salat Id atau salat hari raya ada dua, yaitu hari raya fitrah tanggal tanggal 1 Syawal dan pada hari raya Adha tangal 10 Dzulhijah. Waktu salat Id dimolai dari terbit matahari sampai tergelincirnya. Hukum melaksanakan salat sunah hari raya adalah sunah muakad
karena Rasulullah SAW.tetap melakukan salat hari raya selama
hidupnya (Rifa’I, 2011: 118). Allah berfirman dalam Al-Qur’an
surat Al Kautsar ayat 2:
Artinya: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan
berkorbanlah”.
Salat dalam ayat tersebut Ayat tersebut ditafsirkan sebagai perintah salat sunnah Idul adha. Menurut Sulaiman Rasyid (2003: 136), ada beberapa ketentuan tentang salat Id, diantaranya sebagai berikut:
27
1) Mengucapkan takbir sebelum membaca Al-Fatihah, tujuh kali pada rakaat pertama setelah takbiratul ikhram dan lima kali pada rakaat kedua setelah takbir bangkit dari sujud rakaat pertama. 2) Membaca tahlil, takbir, dan tahmid diantara takbir-takbir
tambahan.
3) Kebanyakan ulama mengatakan sunnah membaca surat Qaf pada rakaat pertama dan surat Qamar pada rakaat kedua, atau surat Al-A’la pada rakaat pertama dan Al-Ghasiyah pada rakaat kedua.
4) Takbir,Al-Fatihah dan surat dibaca dengan jahar (keras).
5) Disunahkan menyampaikan dua khutbah, seperti halnya dengan salat jumat.
6) Isi khutbah hendaknya berkenaan dengan hukum-hukum mengenai zakat fitrah pada idul fitri dan hukum-hukum kurban pada idul adha.
7) Disunahkan pula mengawali khutbah denga takbir, sembilan kali pada khutbah pertama dan tujuh kali pada khutbah kedua.
b. Salat Sunnah Tarawih
Salat tarawih ialah salat sunnah yang dikerjakan setelah salat
isya’ yang tepat pada malambulan Ramadhan (Nasrul Umam, 2007:
39). Jumlah rakaatnya ada yang melaksanakan delapan rakaat ditambah dengan tiga rakaat salat witir, dan ada pula yang
28
melaksanakan dua puluh rakaat ditambah dengan tiga rakaat salat witir.
Berkaitan dengan hal tersebut Sulaiman Rasyid (2003:150)
menyatakan,”Menurut riwayat ahli hadits, selama hidupnya
Rasulullah SAW. Tiga kali salat tarawih di masjid bersama-sama dengan orang banyak, yaitu pada malam tanggal 23,25 dan 27 Ramadan. Sesudah itu beliau tidak salat berjamaah lagi karena beliau takut salat itu dijadikan wajib atas mereka dikemudian hari. Jumlah rakaat yang beliau kerjakan bersama-sama dengan orang-orang itu
ialah delapan rakaat”.
Ketika Sahabat Umar bin khattab r.a menjadi khalifah,ia mengumpulkan khalayak untuk mengerjakan salat tarawih secara berjamaah, yaitu setelah tidak ada lagi kekhawatiran akan diwajibkannya, mengingat wahyu yang diturunkan telah berhenti. Karena itu sebagian orang mengatakan bahwa mengerjakan salat sunnah tarawih berjamaah lebih afdhol, daripada salat sendirian. Hal ininsesuai dengan hadis Nabi saw., “salat berjamaah itu lebih baik
(afdhol) dari pada salat sendirian. Dan salat inipun disunnahkan pada laki-laki dan perempuan (Umam, 2007: 39-40)
c. Salat Witir
Salat witir ialah hukumnya sunnah, yakni salat sunnah yang diutamakan. Waktunya sesudah salat isya’ sampai terbit fajar, dan
29
biasanya salat witir itu dirang kaikan dengan salat tarawih (rifa’I,
2011: 115)
Menurut Abdurrahman (2006: 188) salat witir merupakan sebagian salat rawatib yang paling muakkadah (dianjurkan). Hukumnya sunnah maakkadah dan waktu pelaksanaannya setelah
mengerjakan salat isya’ sampai sebelum terbitnya fajar sadik walaupun salat isyak’nya dikerjakan dengan jamak taqdim. Bilangan rakaat nya paling sedikit satu rakaat dan palng banya adalah sebelas rakaat.
Terkait dengan salat witir Rasulullah saw bersabda “Siapa saja
yang senang megerjakan salat witir lima rakaat, maka kerjakanlah. Siapa saja yang senang witir tiga rakaat, maka kerjakanlah. Siapa
saja yang senang witir satu rakaat maka kerjakanlah”,(H.R. Abu
Dawud). Rusulullah juga bersabda:
“Rusulullah juga bersabda: Janganlah berwitir dengan tiga rakaat menyerupai shalat Maghrib, namun berwitirlah dengan salat witir
lima rakaat atau tujuh atau Sembilan atau sebelas rakaat”
(Abdurrahman, 2006: 188). d. Salat Rawatib
Rawatib berasal dari kata ratbah, yang artinya tetap, menyertai, atau terus menerus. Dengan demikian salat sunnah
30
salat fardhu, baik sebelum maupun sesudahnya (Ahsan dan Sumiyati, 2014: 33).
Menurut Suyono (1998: 67) Salat rawatib adalah salat sunah yang dilakukan beriringan dengan salat fardhu (wajib), dilakukan sebelum atau sesudahnya.
Ditinjau dari segi hukumnya, salat rawatib ini terbagi menjadi dua macam, yaitu: salat rawātib mu`akkadah dan salat rawātib gairu mu`akkad (Ahsan dan Sumiyati, 2014: 33).
1) Salat rawātib mu`akadah (salat rawātib yang sangat dianjurkan). Adapun yang merupakan salat rawātib mu`akkadah
yaitu:
o Dua rakaat sebelum śalat Zuhur
o Dua rakaat sesudah śalat Zuhur
o Dua rakaat sesudah śalat Magrib
o Dua rakaat sesudah śalat Isya’
o Dua rakaat sebelum śalat Subuh.
2) Śalat rawātib gairu mu`akkadah (śalat rawātib yang cukup
dianjurkan untuk dikerjakan). Adapun yang merupakan śalat
sunnahrawātib gairu mu`akkadah yaitu:
• Dua rakaat sebelum Zuhur (selain dua rakaat yang mu`akkadah)
• Dua rakaat sesudah Zuhur (selain dua rakaat yang mu`akkadah)
31
• Empat rakaat sebelum Asar • Dua rakaat sebelum Magrib.
Jika ditinjau dari segi pelaksanaannya, śalat rawātib ini terbagi menjadi dua yaitu :
1) Qabliyyah(dikerjakan sebelum śalat fadhu), dan
2) Ba’diyyah(dikerjakan setelah śalat fardhu).
e. Salat Tahajjud
Salat tahajjud ialah salat sunnah yang dikerjakan pada waktu
malam; sedikitnya dua raka’at dan sebanyak-banyaknya tidak
terbatas (Rifa’I, 2010: 88). Ahsan dan Sumiyati (2014: 38) memaparkan salat sunnah tahajjud adalah salat sunnah muakkadah
yang dilaksanakan pada sebagian waktu di malam hari. salat tahajjud
adalah bagian dari qiyāmullail (salat malam) yang langsung diperintahkan oleh Allah Swt. Melalui firmannya sebagai berikut:
Artinya: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah śalat
tahajjud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan
Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”(QS. al-Isra’ :79)
Menurut Ahmad (2010: 11) salat tahajjud (salat malam) itu, adalah suatu bentuk amal yang senantiasa dijadikan amalan wirid oleh Rasulullah saw ., para sahabat, ulma, dan solihin.
32
Jika kita melaksanakan śalat tahajjud, banyak manfaat atau
keutamaan yang dapat kita ambil. Keutamaan-keutamaan śalat
tahajjud adalah:
• Dapat membentuk karakter/kepribadian orang saleh.
• Sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. Untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
• Dapat mencegah diri dari perbuatan dosa.
• Dapat menghapuskan atau menghilangkan dari segala penyakit hati: iri, dendam, tamak, dan lain sebagainya. Mengobati diri dari penyakit jasmani.
3. Hikmah Salat Sunnah
Hikmah melaksanakan śalat sunnah sebagai berikut (Ahsan dan
Sumiati, 2014: 41).
a. Disediakan jalan keluar dari segala permasalahan dan persoalannya dan senantiasa akan diberikan rezeki yang cukup oleh Allah Swt.
b. Menambah kesempurnaan salat fardu. Melaksanakan salat sunnah memberikan manfaat untuk menyempurnakan salat fardu baik dari segi kekurangan dan kesalahan melaksanakan salatfardu.
c. Menghapuskan dosa, meningkatkan derajat keridhoan Allah Swt, Serta menumbuhkan kecintaan kepada Allah Swt. Allah Swt, akan menaikkan derajat kita di sisi-Nya, setahap demi
33
setahap dan setiap satu kali melaksanakan śalat sunnah maka Allah Swt. Akan menghapus satu dari dosa-dosa dan kesalahan kita. Ini merupakan bentuk rida dan cinta Allah Swt. kepada hamba-Nya yang selalu mengupayakan untuk dapat
melaksanakan śalat-śalat sunnah.
d. Sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Allah Swt, atas berbagai karunia besar yang sering kurang kita sadari. Allah Swt. akan mengaruniakan kebaikan dan keberkahan dalam rumah kita. Setiap saat kita bisa bernafas, bisa melihat, bisa mendengar, dan masih dapat merasakan kesemuanya itu adalah anugerah besar yang kita harus syukuri dengan śalat
sunnah.
e. Mendatangkan keberkahan pada rumah yang sering digunakan
untuk śalat sunnah. śalat yang dianjukan dilaksanakan berjamaah diutamakan dilaksanakan di masjid sedangkan śalat
sunnah yang pelaksanakannya secara munfarīd (sendiri)
sebaiknya dilaksanakan di rumah walaupun apabila dilaksanakan di masjid juga diperbolehkan.
f. Hidup menjadi terasa nyaman dan tenteram. Bekal terbaik di dalam menempuh perjalanan ke akhirat adalah dengan ketaqwaan. Sedangkan aspek terpenting dalam mewujudkan
taqwa adalah dengan śalat, terutama śalat sunnah sebagai
34
D. Metode STAD ( Student Team Achievement Devision )