BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Skizofrenia adalah penyakit kronis yang membawa beban berat bagi masyarakat, keluarga, dan pasien.1 Skizofrenia merupakan suatu sindroma klinis yang bervariasi, tetapi sangat mengganggu, psikopatologinya melibatkan kognisi, emosi, persepsi, dan aspek lain dari tingkah laku. Manifestasi ekspresi ini bervariasi pada seluruh pasien dan dari waktu ke waktu, tetapi efek dari penyakit ini selalu berat dan biasanya memiliki jangka waktu yang lama. Gangguan ini biasanya dimulai sebelum usia 25 tahun, berlangsung seumur hidup, dan mempengaruhi orang-orang dari semua kelas sosial. Baik pasien dan keluarganya sering mengalami perawatan yang buruk dan pengucilan sosial karena ketidaktahuan yang luas tentang gangguan tersebut.2
Skizofrenia merupakan gangguan otak berat yang dapat berlangsung seumur hidup. Gangguan ini menimbulkan kesulitan bagi orang tersebut untuk memahami perbedaan antara pengalaman nyata dan tidak nyata., berfikir logis, memiliki respons emosional yang sesuai dengan budaya, dan untuk berperilaku tepat dalam situasi sosial. Tidak hanya pasien dengan skizofrenia yang sangat menderita karena penyakit ini, tetapi juga anggota keluarga mereka.3 Meskipun fenomenologinya menarik, patofisiologi dan etiologi skizofrenia masih belum jelas, dan orang dengan penyakit ini mengalami penderitaan yang berat. Kurangnya pengetahuan yang kritis tentang fungsi otak mendasari ketidakmampuan kita untuk menjelaskan target molekul untuk perawatan definitif atau strategi pencegahan yang rasional.4
Skizofrenia adalah penyakit mental yang serius yang membebani secara individu, keluarga mereka, dan masyarakat. Meskipun faktor biologis sangat penting untuk pemahaman skizofrenia, faktor sosial juga memainkan peran dalam menentukan hasil pada gangguan ini.5
18
Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan seseorang. Hingga saat ini penanganan pasien ini masih belum memuaskan. Hal ini terutama terjadi di negara-negara yang sedang berkembang, penyebabnya antara lain masih terdapatnya stigma dalam keluarga dan masyarakat. Pasien skizofrenia banyak yang mengalami perlakuan diskriminatif, isolasi sosial dan keterbatasan aktivitas.6
Dampak dari skizofrenia bagi individu yang terkena, keluarga, dan masyarakat pada umumnya adalah sangat besar. Beban keluarga di antaranya hilangnya produktivitas keluarga, gangguan ritme aktivitas keluarga, stigma yang dibebankan masyarakat pada keluarga dan pasien.
Stigma ini kadangkala menimbulkan reaksi emosional keluarga yang merawat pasien skizofrenik dapat memperburuk komunikasi antar anggota keluarga yang pada akhirnya meningkatkan expressed emotion keluarga pasien. Sebuah penelitian yang dilakukan di Malaysia tahun 2010, menyatakan bahwa 80% dari caregiver yang menyediakan perawatan rutin merasa terbeban hubungannya dengan keluarga, 71% melaporkan sering terjadi ketegangan komunikasi di antara anggota keluarga. Stigma terhadap gangguan mental tersebut seringkali merupakan barrier besar.
Keluarga yang memiliki anggota dengan gangguan mental sering mengalami berbagai emosi seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa marah, frustasi, rasa malu, dan perasaan tidak berguna. Stigma terhadap penderita juga kerap membuat keluarga menyembunyikan anggota keluarga tersebut, atau bahkan mengasingkan mereka. 7
Di Indonesia belum ada angka prevalensi yang pasti tentang stigmatisasi, namun berdasarkan data masih banyak keluarga dan masyarakat yang menganggap skizofrenia sebagai penyakit yang memalukan dan membawa aib bagi keluarga. Keberadaan pasien di masyarakat dianggap sering meresahkan, dengan perilaku yang cenderung mengakibatkan tindak kekerasan dan mengganggu tetangga.6
Penelitian yang dilakukan di Etiopia memperlihatkan 75%
responden mengalami stigma akibat adanya anggota keluarga yang
19
menderita skizofrenia. Penelitian tersebut juga memperlihatkan 42%
responden gelisah akibat diperlakukan berbeda. Masyarakat Etiopia sendiri sangat percaya bahwa skizofrenia terjadi akibat dirasuki oleh roh jahat atau roh nenek moyang.6,8 Sitgmatisasi juga terjadi di Hongkong, dimana pasien gangguan jiwa sering disalahartikan, mereka dianggap suka kekerasan, bunuh diri, tidak dapat diterka dan tidak mampu membuat keputusan rasional. Pearson tahun 1998 melaporkan, hasil penelitiannya di Cina menunjukkan bahwa stigma sangat tinggi di Negara tersebut, terlihat 80% orang yang menderita gangguan jiwa tidak mendapat pengobatan. Sing Lee pada tahun 2000, melaporkan hasil penelitiannya di Jepang bahwa pada masyarakat tersebut juga memperlihatkan stigmatisasi yang kuat terhadap skizofrenia.6
Pada onset awal skizofrenia, anggota keluarga dari penderita gangguan ini sering mengalami reaksi syok, distress, penolakan, kemarahan atau ketakutan. Diagnosis awal dapat menjadi dampak besar pada anggota keluarga karena mereka sadar akan stigma dan pandangan negatif yang akan melekat pada mereka. Keluarga juga mungkin menyadari kemungkinan bahwa skizofrenia dapat mengubah kehidupan mereka yang menderita penyakit itu. Suatu studi telah menunjukkan bahwa proporsi yang signifikan dari pasien skizofrenia yang kembali ke rumah keluarga. Keluarga-keluarga ini selalu melanjutkan perawatan ini dan dukungan dari mereka sangat penting, walaupun pasien yang tidak tinggal dengan keluarga mereka. Anggota keluarga dapat menjadi sumber penting dari umpan balik untuk individu dengan skizofrenia. Faktor sosial dan lingkungan seperti stigma, beban perawatan dan expressed emotion diantara anggota keluarga akan berdampak pada pasien dan ini menjadi dasar keberhasilan mereka ketika dirawat jalan. Intinya, hubungan keluarga tetap penting dimana keluarga dapat menjadi efek negatif atau positif untuk kesejahteraan penderita dengan skizofrenia, tergantung pada kualitas hubungan.9
Pasien skizofrenik yang dirawat inap, yang kembali pada lingkungan keluarga yang ditandai dengan tingginya tingkat kritikan,
20
keterlibatan emosional yang berlebihan, atau permusuhan (disebut sebagai expressed emotion yang tinggi) lebih cenderung mengalami kekambuhan dibandingkan dengan pasien skizofrenik yang kembali pada keluarga yang ditandai dengan expressed emotion yang rendah.5,10,11 Ekspresi ditetapkan sebagai pengukuran empiris yang dapat dipercaya sebagai beberapa aspek emosional kehidupan keluarga. Konsep expressed emotion didasarkan pada bagaimana keluarga pasien psikiatri secara spontan berbicara tentang pasien. Dalam dekade terakhir, studi tentang expressed emotion telah dilakukan pada berbagai sampel pasien, dan status ekspresi emosi pada umumnya telah terbukti menjadi prediktor yang baik bagi kekambuhan gangguan psikiatri. Misalnya, risiko terjadinya kekambuhan pada pasien skizofrenik setelah dirawat pada keluarga yang memiliki expressed emotion yang tinggi dua kali lebih besar dibandingkan pada pasien dengan expressed emotion keluarga yang rendah.11
Berbagai penelitian telah melaporkan bahwa expressed emotion memprediksikan hasil antara pasien dengan skizofrenia. Para peneliti Inggris melaporkan bahwa gaya keluarga tertentu dikarakteristikkan dengan tingginya pengaruh expressed emotion pada perjalanan penyakit skizofrenia. Expressed emotion tinggi, menurut para penulis ini, menyebabkan peningkatan probabilitas eksaserbasi gejala atau kekambuhan. Intervensi keluarga dengan fokus pada expressed emotion telah menunjukkan dampak positif pada perjalanan penyakit skizofrenia.
Mengingat bahwa penelitian stres relatif sebagai konsekuensi dari penyakit, masalah dan beban hidup dengan penderita skizofrenia yang cukup besar, penelitian masalah kerabat sendiri masih terbatas.9
Pada penelitian Michael dan kawan-kawan di Cina pada tahun 2002 menunjukkan bahwa anggota keluarga dengan stigma sedang sampai berat efeknya terhadap kehidupan pasien diatas 3 bulan sebanyak 60% responden, dan pada kehidupan dari anggota keluarga 28% dari responden. Efek stigma pada pasien dan anggota keluarga signifikan lebih besar jika responden dengan expressed emotion pada tingkat yang tinggi.12
21
Saat ini di Sumatera Utara belum pernah ada yang melakukan penelitian tentang stigma keluarga terhadap anggota keluarga yang keluarganya menderita skizofrenia.
Berdasarkan hal tersebut maka melalui penelitian ini ingin diketahui apakah terdapat hubungan antara stigma dengan expressed emotion pada keluarga pasien skizofrenik yang datang berobat jalan pada di BLUD RSJ Prof. Dr. M. Ildrem Propinsi Sumatera Utara, yang pada akhirnya diharapkan dapat memberikan informasi terhadap klinisi dan keluarga pasien skizofrenik.
I.2. Rumusan masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
Apakah terdapat hubungan antara stigma dengan expressed emotion pada keluarga pasien skizofrenik ?
I.3. Hipotesis
Terdapat hubungan antara stigma dengan expressed emotion pada keluarga pasien skizofrenik
I.4. Tujuan penelitian I.4.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara stigma dengan expressed emotion pada keluarga pasien skizofrenik
I.4.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui karakteristik demografik subjek penelitian 2. Untuk mengetahui stigma keluarga pasien skizofrenik.
3. Untuk mengetahui distribusi karakteristik demografik berdasarkan stigma.
4. Untuk mengetahui expressed emotion keluarga pasien skizofrenik.
22
5. Untuk mengetahui perbandingan dimensi expressed emotion berdasarkan karakteristik demografik pada keluarga yang mengalami stigma.
6. Untuk mengetahui perbedaan Critical comment (CC) berdasarkan karakteristik demografik pada stigma ringan
7. Perbedaan Critical comment (CC) berdasarkan karakteristik demografik pada stigma berat
8. Untuk mengetahui perbedaan Emotional Over Involvement (EOI) berdasarkan karakteristik demografik pada stigma berat
9. Untuk mengetahui perbedaan Emotional Over Involvement (EOI) berdasarkan karakteristik demografik pada stigma ringan.
I.5. Manfaat penelitian 1. Bidang pendidikan
Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai hubungan antara stigma dengan expressed emotion keluarga pada pasien skizofrenik.
2. Bidang penelitian
Hasil studi ini juga dapat dilanjutkan untuk bahan studi selanjutnya yang sejenis atau penelitian ini dijadikan sebagai bahan acuan.
3. Bidang pelayanan kesehatan
Dengan mengetahui adanya hubungan antara stigma dengan expressed emotion keluarga pasien skizofrenik dapat membantu klinisi untuk memberikan informasi dan masukan terhadap keluarga pasien skizofrenik.
23
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Skizofrenia
Skizofrenia didefinisikan sebagai abnormalitas pada satu atau lebih dari lima domain berikut: waham, halusinasi, pikiran yang kacau (berbicara), perilaku yang abnormal atau sangat tidak teratur (termasuk katatonia), dan simtom negatif. Skizofrenia berlangsung selama minimal 6 bulan dan mencakup setidaknya 1 bulan dari simtom fase aktif.13 Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang paling berat. Risiko seumur hidup sekitar 0,5-1%, dan karena onsetnya dini dan kecenderungan untuk kronik menyebabkan prevalensi penyakit ini relative tinggi.
Ketidakmampuan terutama disebabkan gejala negatif dan defisit kognitif, yang merupakan gambaran yang memiliki dampak yang lebih besar pada fungsi jangka panjang dibandingkan dari delusi dan halusinasi yang dramatis serta sering menyebabkan kekambuhan. Dampak sosial dan ekonomi dari penyakit tersebut cukup besar, dan dampak pada penderita dan keluarga mereka cukup buruk.14
Prevalensi skizofrenia adalah sama pada laki-laki dan perempuan.
Tetapi, awitan dan perjalanan penyakit berbeda berdasarkan jenis kelamin. Awitan terjadi lebih cepat pada laki-laki daripada perempuan.
Lebih dari setengah dari semua pasien skizofrenik laki-laki, tetapi hanya sepertiga dari semua pasien skizofrenik perempuan, yang pertama kali dirawat di rumah sakit jiwa sebelum usia 25 tahun. Usia puncak awitan adalah 10 sampai 25 tahun untuk laki-laki, dan 25 sampai 35 tahun untuk perempuan. Awitan skizofrenia sebelum usia 10 tahun atau setelah usia 60 tahun sangatlah jarang. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa laki-laki lebih cenderung mengalami gangguan gejala negatif daripada perempuan, dan perempuan lebih cenderung memiliki fungsi sosial yang lebih baik dibandingkan laki-laki. Secara umum, hasil akhir terhadap pasien skizofrenik perempuan lebih baik daripada pasien skizofrenik laki-laki. Ketika awitan terjadi setelah usia 45 tahun, gangguan ini disebut sebagai awitan lambat.2 Prevalensi penderita skizofrenia di Indonesia
24
adalah 0.3-1% dan biasanya timbul pada usia sekitar 18-45 tahun, namun ada juga yang baru berusia 11-12 tahun sudah mengalami skizofrenia.15
II.2. Pengasuh dalam keluarga
Pengasuh dapat didefinisikan dalam berbagai cara. Pengasuh bervariasi dalam hubungan mereka kepada penerima pelayanan (bisa pasangan, anak, profesional), mereka mungkin pengasuh primer atau sekunder dimana mereka dapat tinggal bersama dengan penerima pelayanan atau terpisah. Namun, satu hal yang umum adalah bahwa pengasuhan meliputi pemberian dukungan dan bantuan untuk anggota keluarga yang memiliki kebutuhan khusus. Dalam penelitian ini , pengasuhan termasuk memberikan dukungan dan bantuan untuk keluarga anggota dengan skizofrenia.9
Pada studi lima Negara di Eropa melaporkan bahwa keluarga untuk pengasuh pasien skizofrenia menghabiskan waktu rata-rata antara 6 sampai 9 jam per hari dalam memberikan dukungan. Sebuah studi dari 408 keluarga di Amerika Serikat pada anggota keluarga dengan gangguan mental (80% dengan skizofrenia) menunjukkan bahwa pemberian perawatan menghabiskan sebagian waktu luang mereka selama 67 jam per bulan.9
II.3. Stigma
Kata stigma berasal dari bahasa Inggris yang artinya label atau tanda. Dalam kaitannya dengan skizofrenia, yang dimaksud dengan stigma adalah label dari masyarakat yang memandang negatif penyakit skizofrenia. Mereka menganggap apabila salah seorang anggota keluarganya menderita skizofrenia, hal ini merupakan aib bagi keluarga.
Seringkali keberadaan pasien skizofrenik sering dirahasiakan dan disembunyikan, bahkan dikucilkan dan tidak dibawa berobat ke dokter.
Pada beberapa daerah di Indonesia, sebagian pasien skizofrenik bahkan sampai dipasung. Selain dari hal tersebut, sebagian keluarga dan masyarakat masih menganggap bahwa skizofrenia merupakan gangguan
25
atau penyakit yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak rasional atau supranatural. Sebagai contoh, ada anggapan bahwa orang yang menderita skizofrenia ini dianggap sebagai orang gila yang disebabkan oleh guna-guna, teluh, kemasukan setan, kemasukan roh jahat, melanggar larangan atau tabu dan lain-lain.6
Keluarga dari pasien skizofrenik mengalami pengalaman negatif oleh efek dari stigma yang terkait dengan penyakit mental. Dalam masyarakat kita, penyakit mental kadang-kadang ditafsirkan sebagai tanda kelemahan. Beberapa orang masih percaya skizofrenia disebabkan oleh pengasuhan anak yang buruk dan merupakan kesalahan keluarga.
Lainnya berfikir bahwa sakit mental hanya perlu untuk “mendapatkan lebih” dan melanjutkan hidup mereka. Ini sangat sulit bagi seseorang yang peduli pada penderita skizofrenia. Penyakit mental berbeda dari penyakit fisik. Ketika anda melihat orang-orang yang sakit secara fisik, anda akan menawarkan untuk membantu mereka dengan membuka pintu atau membawa belanjaan mereka. Anda berasumsi bahwa penyakit mereka bukan karena kesalahan mereka. Penyakit mental, terutama skizofrenia, biasanya akan menjadi jelas bagi orang lain karena seseorang bertindak
“ganjil”. Bukannya mencoba untuk membantu, kebanyakan orang malah menjaga jarak dan ingin mengabaikan orang dengan skizofrenia.
Akibatnya, perawat penderita skizofrenia dapat diasingkan dan dibuat merasa bersalah dan sendirian.16
Faktor-faktor yang mempengaruhi stigma skizofrenia, yaitu:6 1. Sikap keluarga dan masyarakat yang menghindar
Kebanyakan orang tidak bias menerima penyimpangan perilaku seperti tertawa dan bicara tanpa sebab, mengumpulkan benda-benda aneh.
Penyimpangan persepsi dan pikir seperti halusinasi, depersonalisasi, derealisasi, waham. Penyimpangan emosi seperti marah tanpa sebab, labil, apatis, dan sebagainya. Penyimpangan-penyimpangan seperti ini dianggap aneh dan label negatif serta tidak dianggap sebagai tanda atau gejala suatu penyakit. Masyarakat umumnya baru melihat penyimpangan fisik sebagai penyakit.
26 2. Kekambuhan
Sering terjadinya kekambuhan pada pasien skizofrenia yang diakibatkan oleh ketidakteraturan berobat menyebabkan masyarakat mempunyai anggapan bahwa skizofrenia memang tidak dapat disembuhkan, sehingga sekali orang melabelnya maka seterusnya label tersebut melekat. Mereka beranggapan bahwa pasien skizofrenia memang tidak perlu dibawa ke rumah sakit untuk diobati karena akan sia-sia padahal untuk berobat memerlukan biaya yang besar.
3. Aktivitas pasien
Pasien skizofrenik sering mengalami permasalahan yang mengganggu hidupnya, diantaranya :
- Aktivitas hidup sehari-hari (activity daily living) - Hubungan interpersonal
- Harga diri yang rendah - Motivasi
4. Faktor budaya
Masalah stigma terhadap mereka yang menderita skizofrenia sebenarnya adalah sangat umum, dan sudah lama diakui mempengaruhi pengobatan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lee pada tahun 2002, tentang stigma skizofrenia dan problem antar kebudayaan pada Negara Timur, ditemukan kenyataan bahwa pasien skizofrenik masih banyak yang tidak mendapatkan perawatan formal karena mahalnya biaya perawatan. Banyak diantaranya dirantai di tiang listrik di jalanan, di kandangkan, dipukul bahkan pada lokakarya Asia Pasifik yang ke-III di Thailand tahun 2001 dikatakan bahwa di sebuah pulau di Asia pasien skizofrenik dilemparkan dari rumah dengan harapan akan dimakan harimau.
Indonesia sebagai Negara kepulauan dan beragam kebudayaan, ternyata di beberapa daerah stigma sangat kuat sehingga pasien sering dikucilkan, dikandangkan, dipasung atau dibawa berobat ke dukun dan paranormal. Daerah lain seperti Bali, ternyata stigma skizofrenia ini berbeda, karena masyarakat di Bali punya pandngan yang bias dianggap
27
proporsional terhadap terminilogi “gila”. Kreatifitas berkesenian malahan lebih banyak dilihat dari aspek kegilaannya, yang secara fisik sering dilihat sebagai sosok yang eksentrik, berambut gondrong, pakaian sengaja dibuat compang-camping, mengenakan aksesoris sebanyak-banyaknya dan tingkah laku aneh yang lain dari orang kebanyakan dan lain-lain.
5. Faktor edukasi
Faktor edukasi sangat berpengaruh terhadap keberadaan stigma.
Ketidaktahuan masyarakat tentang skizofrenia menyebabkan menetapnya stigma. Anggapan bahwa penyebab skizofrenia adalah adanya kekuatan supranatural sehingga menyebabkan kesulitan untuk menerima pengobatan modern di Etiopia. Di Cina akibat ketidaktahuan juga menyebabkan pasien skizofrenik sering dikucilkan, dikandangkan, dipasung dan di diskriminasi. Kurangnya edukasi dan informasi menyebabkan keluarga tidak memahami perilaku pasien baik gejala positif atau gejala negatif dan sering mengakibatkan lamanya penderita dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai. Namun sebaliknya, pemberian edukasi seperti di Canada terbukti menurunkan tingkat stigma.
II.4. Pengaruh expressed emotion keluarga terhadap pasien skizofrenik
Banyak faktor yang terlibat dalam kekambuhan skizofrenia. Salah satu faktor kontribusi yang secara konsisten ditemukan berhubungan dengan kekambuhan adalah emosional di dalam lingkungan rumah yang ditunjukkan oleh anggota keluarga pasien skizofrenik yang disebut sebagai expressed emotion. Secara umum, expressed emotion mengukur suasana emosional di dalam lingkungan rumah berdasarkan indeks adanya sikap kritis/ critical comments (CC), perilaku bermusuhan, dan keterlibatan emosional yang berlebihan (emotional over involvement {EOI})/ sikap yang mengganggu ketika keluarga berbicara tentang pasien
28
dalam sebuah wawancara yang dilakukan selama pasien di rawat di rumah sakit jiwa.17
Expressed emotion merupakan pengukuran dari sikap keluarga terhadap pasien psikotik dan juga terhadap emosional lingkungan dari keseluruhan pasien. Konsep expressed emotion diperkenalkan pada studi yang dilakukan oleh Brown dan kawan-kawan, dimana expressed emotion terbukti memiliki pengaruh pada kekambuhan pasien skizofrenik. Nilai prediktif expressed emotion dikonfirmasikan dalam studi replikasi dilakukan oleh Vaughn dan Leff. Beberapa respons emosi negatif diungkapkan oleh keluarga, seperti permusuhan, kritikan dan keterlibatan emosional yang berlebihan, yang mendalam pada kasus penyakit mental yang disebabkan stigma sosial dan prilaku psikotik yang tidak terduga, secara signifikan berhubungan dengan kekambuhan pada pasien psikotik.17
Sejumlah penelitian telah dilakukan yang melibatkan tidak hanya pasien skizofrenik tetapi juga pasien dengan bentuk-bentuk psikosis, seperti gangguan afektif dan gangguan makan. Expressed emotion yang tinggi merupakan faktor risiko untuk kekambuhan dalam berbagai kondisi psikopatologis.18
Expressed emotion ditetapkan sebagai pengukuran empiris yang dapat dipercaya sebagai beberapa aspek emosional kehidupan keluarga.
Konsep expressed emotion didasarkan pada bagaimana keluarga pasien psikiatri secara spontan berbicara tentang pasien. Keluarga diklasifikasikan memiliki expressed emotion yang tinggi jika mereka memberikan komentar kritis lebih dari jumlah ambang yang ditentukan atau menunjukkan adanya tanda-tanda permusuhan atau ditandai keterlibatan emosional yang berlebihan.10,11 Dalam dekade terakhir, studi tentang expressed emotion telah dilakukan pada berbagai sampel pasien, dan status expressed emotion pada umumnya telah terbukti menjadi mempercepat kekambuhan gangguan psikiatri. Misalnya, risiko terjadinya kekambuhan pada pasien skizofrenia setelah dirawat pada keluarga yang memiliki expressed emotion yang tinggi dua kali lebih besar dibandingkan
29
pada pasien dengan expressed emotion keluarga yang rendah.11,19 Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Solomon dan kawan-kawan pada tahun 2010 menunjukkan bahwa expressed emotion yang tinggi berhubungan dengan sikap pasien terhadap kepatuhan pengobatan dan kontak sosial.10
Penelitian yang luas terhadap expressed emotion telah mampu menunjukkan dengan baik bahwa fenomena ini sebagai prediktor yang handal dan kuat terhadap berbagai kekambuhan gangguan yang bervariasi selain skizofrenia, termasuk gangguan mood, gangguan makan, alkohol, depresi, serta penyakit fisik. Bagaimanapun juga, sedikitnya pemahaman tentang mekanisme dan proses ini mempunyai hubungan yang konsisten antara expressed emotion dan kekambuhan. Penelitian telah memberikan beberapa bukti dimana expressed emotion merupakan cerminan dari pola perilaku transaksional antara pasien dan gaya koping keluarga, dan menunjukkan hubungan dua arah.10 Sebuah tinjauan pada 13 studi baru-baru ini yang meneliti hubungan antara expressed emotion dan atribusi dari pengasuh tentang perilaku pasien mendukung kesimpulan bahwa keyakinan pengasuh memainkan peran penting dalam proses kekambuhan dalam cara yang bervariasi. Oleh karena itu, informasi yang valid dari pendapat tersebut tampaknya penting untuk mengembangkan intervensi edukasi keluarga tentang seluk beluk dan kesukaran terhadap pengasuhan skizofrenia yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka secara spesifik.19
II.5. Hubungan antara stigma dengan expressed emotion pada pasien skizofrenik12
Bekerja pada expressed emotion mengasumsikan bahwa tentang tingginya expressed emotion pasien di antara anggota keluarga mencerminkan pola interaksi dalam keluarga yang menyebabkan stres pada pasien. Expressed emotion telah diteliti terutama sebagai prediksi terhadap kekambuhan pasien; link untuk konstruksi lainnya seperti stigma, belum dieksplorasi.
30
Stigma, sebagai sikap sosial yang negatif diarahkan terhadap individu dan keluarga, mungkin hubungan stres lebih lanjut dalam sistem keluarga dan dengan demikian memperbesar tingginya tingkat expressed emotion yang diungkapkan oleh keluarga. Sebaliknya, tingkat expressed emotion anggota keluarga dapat mempengaruhi persepsi dan respon mereka terhadap stigma dan diskriminasi. Misalnya, kerabat dengan
Stigma, sebagai sikap sosial yang negatif diarahkan terhadap individu dan keluarga, mungkin hubungan stres lebih lanjut dalam sistem keluarga dan dengan demikian memperbesar tingginya tingkat expressed emotion yang diungkapkan oleh keluarga. Sebaliknya, tingkat expressed emotion anggota keluarga dapat mempengaruhi persepsi dan respon mereka terhadap stigma dan diskriminasi. Misalnya, kerabat dengan