Kesehatan, Bidang Sanitasi dan Bidang Air Minum, sedangkan Bidang Pendidikan tidak terlibat dalam program intervensi dimana tidak terdapat kegiatan Sarpras PAUD yang diharapkan support terhadap pembelajaran dini yang berkualitas sebagai upaya pencegahan stunting pada anak. Alokasi dan realisasi masing-masing bidang dalam intervensi stunting secara umum adalah sebagaimana tabel 7.4 di atas.
Di Provinsi Bengkulu terdapat 64,26 persen dari total anggaran DAK Fisik Bidang Kesehatan, Bidang Air Minum dan Bidang Sanitasi dialokasikan untuk mendukung secara langsung maupun tidak langsung program penanggulangan stunting di Provinsi Bengkulu. Hal ini menunjukkan perencanaan dan pengalokasian DAK Fisik di Bengkulu sudah terintegrasi dengan program dari Pemerintah Pusat dalam hal ini Bappenas dan Kementerian Kesehatan selaku leading sektor program ini.
Tabel 7.5 Konvergensi Pendanaan Lintas Bidang Penanggulangan Stunting Provinsi Bengkulu TA 2019
Bidang (Subbidang) Penyaluran (Rp) Distribusi Total Penyaluran (Rp) Output (%) Capaian
Air Minum (Air Minum) 46.230.299.568 45.215.753.835 83,47 Kesehatan (Balai Pelatihan
Kesehatan) 14.981.541.650 11.304.287.554 93,90
Kesehatan (Keluarga Berencana) 8.039.849.513 7.967.367.085 89,82 Kesehatan (Pelayanan Kefarmasian
dan Perbekalan Kesehatan) 20.282.303.394 19.884.903.410 90,78 Kesehatan (Pelayanan Kesehatan
Dasar) 47.940.962.443 45.827.221.861 93,43
Kesehatan (Pelayanan Kesehatan
Rujukan) 141.274.853.092 141.273.123.187 99,02
Kesehatan (Pengendalian Penyakit) 5.744.404.620 3.874.624.637 79,93 Kesehatan (Penguatan Puskesmas
DTPK) 20.939.073.075 20.885.853.415 100,00
Kesehatan (Penurunan Stunting) 8.200.582.251 5.269.413.470 92,90
Sanitasi (Sanitasi) 22.943.112.000 22.849.731.055 93,75
Grand Total 336.576.981.606 324.352.279.509 90,05
sumber : OM SPAN (diolah)
Porsi terbesar dari belanja DAK Fisik digunakan untuk Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit (44 persen), Pelayanan Kesehatan Dasar/Puskemas/DTPK (20 persen), Penyediaan Air Minum sehat (14 persen) dan Sarana dan Prasarana Sanitasi Lingkungan (7 persen) sedangkan belanja yang lain tidak cukup banyak. Belanja untuk pelayanan kesehatan di rumah sakit dan puskesmas menyedot cukup banyak anggaran belanja DAK Fisik. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk memberikan layanan kesehatan yang memadai bagi seluruh masyarakat. Pelayanan kesehatan dasar (primary health care) yang berkualitas merupakan salah satu arah kebijakan kesehatan dalam RPJMN 2015- 2019. Namun, akses dan mutu pelayanan kesehatan
Belanja DAK Fisik dalam rangka konvergensi penanganan stunting sebagian besar dimanfaatkan untuk penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan rujukan (44 persen) dan pelayanan kesehatan dasar/DTPK (20 persen)
Belanja
DAK Fisik
dasar saat ini masih belum menjangkau seluruh penduduk, terutama di daerah tertinggal, terpencil, dan kepulauan terluar. Belanja tersebut antara lain pengadaan alat kesehatan IGD dan pembangunan ruang tindakan medis di RSUD Kota Bengkulu dan Pengadaan alat kesehatan RSUD Hassanuddin Damrah Manna, Instalasi Farmasi RSUD Mukomuko, Pembangunan Ruang Rawat Inap Kelas I/II/III dan pengadaan alat kesehatan RSUD Arga Makmur serta ruang rawat inap kelas I/II/III RSUD Curup.
Grafik 7.3 Komposisi Belanja DAK Fisik untuk Penanggulangan Stunting
sumber : OM SPAN (diolah)
Pelayanan Kesehatan Dasar dilaksanakan merata di seluruh Pemerintah Daerah. Pelayanan kesehatan adalah hak dasar masyarakat. Setiap orang berhak mendapatkan pelayanan dan perawatan kesehatan.. Tantangan utama untuk mewujudkan hal itu adalah menyediakan pelayanan kesehatan dasar atau primary health care. Layanan dengan ujung tombak puskesmas ini adalah penyediaan pelayanan terdepan kesehatan dasar, yakni pelayanan kesehatan yang menjamin pelayanan kesehatan minimal masyarakat. Primary health care menjadi dasar untuk membangun sistem kesehatan nasional yang memayungi semua upaya kesehatan. Dalam bentuk layanan ini, puskesmas berperan memberikan pertolongan pertama kepada masyarakat sesuai dengan standar pelayanan kesehatan. Dari 180 unit puskesmas di seluruh Provinsi Bengkulu, hanya 46 unit yang dapat menyelenggarakan layanan rawat inap. Selebihnya lebih banyak puskesmas yang tidak memadai karena keterbatasan sarana, tenaga medis, dan anggaran untuk menunjang kegiatan.
Belanja layanan dasar di puskesmas umumnya digunakan untuk penyediaan alat kesehatan serta sarana penunjang lainnya, yang cukup signifikan adalah pembangunan puskesmas baru di Beringin Tiga dan Sindang Dataran (di Kab. Rejang Lebong masing-masing senilai Rp552 juta dan Rp479 juta) serta penyelenggaraan layanan dasar di yang termasuk dalam kategori daerah tertinggal yaitu pembangunan puskesmas Renah Gajah Mati dan Gunung Kembang (Kab. Seluma), beserta pembelian kendaraan
Air Minum 14%
Balai Pelatihan Kesehatan…
Keluarga Berencana 2% Pelayanan Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan… Pelayanan Kesehatan Dasar 14% Pelayanan Kesehatan Rujukan 44% Pengendalian Penyakit 1% Penguatan Puskesmas DTPK 6% Penurunan Stunting 2% Sanitasi7%
operasional, instalasi pengolahan limbah serta alat kesehatan dan prasarana pendukung di daerah tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa belanja DAK Fisik di Provinsi Bengkulu sudah sesuai dengan data permasalahan dari Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, dimana DAK Fisik digunakan untuk mengatasi permasalahan terkait dengan keterbatasan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi serta keterbatasan akses layanan kesehatan. Artinya peranan DAK Fisik dalam penangggulangan stunting lebih banyak digunakan untuk langkah-langkah intervensi sensitif yaitu menciptakan lingkungan yang mendukung serta ketersediaan sarana dan prasarana fisik sanitasi serta sarana dan prasarana layanan kesehatan bagi masyarakat.
Tabel 7.6 Pagu dan Realisasi DAK Penugasan Kesehatan TA 2019 Subbidang Penanggulangan Stunting
Pemerintah Daerah Pagu (Rp) Penyaluran (Rp) Capaian Output (%)
Prov. Bengkulu 1.696.950.000 710.029.250 99,7
Kab. Bengkulu Selatan 198.014.000 197.913.920 100
Kab. Bengkulu Tengah 149.036.000 149.036.000 100
Kab. Bengkulu Utara 2.428.338.901 2.407.141.800 99,28
Kab. Kaur 2.647.273.750 724.399.500 30
Kab. Kepahiang 158.580.000 158.503.400 100
Kab. Lebong 140.132.600 140.132.600 100
Kab. Mukomuko 263.194.000 263.194.000 100
Kab. Rejang Lebong 304.999.684 304.999.684 100
Kab. Seluma 214.063.316 214.063.316 100
Grand Total 8.200.582.251 5.269.413.470 92,90
sumber : OM SPAN (diolah)
Sebagai upaya konvergensi lintas bidang, DAK Fisik diarahkan pada intervensi spesifik penanggulangan stunting di seluruh Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota. Anggaran yang disediakan sebesar Rp8,2 miliar dalam Subbidang Penanggulangan
Stunting pada DAK Penugasan Bidang Kesehatan Provinsi/Kabupaten. Pada 2019 total
telah direalisasikan sebesar Rp5,27 miliar atau 64,26 persen dan capaian output rata-rata 92,90 persen. Anggaran tersebut digunakan untuk intervensi gizi spesifik berupa Penyediaan obat gizi (Vitamin A Merah, Vitamin A Biru, Tablet Penambah Darah Ibu Hamil, Tablet Penambah Darah Remaja Putri dan Mineral MIX) di seluruh Kabupaten/Kota. Keseriusan pemerintah Daerah dalam mensukseskan program prioritas nasional terlihat dari capaian output di setiap pemerintah daerah yang mampu mencapai 100 persen bahkan dengan efisiensi belanja sebesar 35,74 persen.
Di Kabupaten Kaur, Pemerintah setempat hanya membelanjakan sebesar Rp724,4 juta dari anggaran untuk penanggulangan stunting Rp2,65 miliar atau hanya sekitar 27,36
Belanja DAK Fisik di Bengkulu sudah sesuai dengan hambatan permasalahan yaitu penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi serta akses layanan kesehatan Pemanfaatan DAK Fisik
persen dari pagu yang tersedia dengan capaian output 30 persen. Pemerintah Kabupaten Kaur menyatakan bahwa penetapan Kabupaten Kaur sebagai lokus prioritas nasional penanggulangan stunting tidak tepat karena data-data terkait kondisi fisik dan gizi buruk yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan berbeda dengan kondisi yang ada di Kabupaten Kaur. Menurut Pemerintah setempat, kondisi fisik warga Kabupaten Kaur yang cenderung lebih pendek dari rata-rata warga negara Indonesia pada umumnya bukanlah indikasi stunting, tetapi lebih disebabkan oleh faktor genetik karena walaupun lebih pendek secara fisik namun warga Kaur dinilai memiliki kemampuan berpikir yang baik.
Grafik 7.2 Tingkat Prevalensi Stunting di Provinsi Bengkulu Tahun 2018
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, tingkat balita pendek di Kabupaten Kaur memang mencapai 50,7 persen namun mengacu pada data Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu (per 20 Agustus 2019) tingkat prevalensi stunting di Kabupaten Kaur sudah menurun jauh tercatat sebesar 8,7 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dari Kabupaten Bengkulu Utara yang juga merupakan lokus prioritas penanggulangan
stunting yang berada pada level 24,7 persen.
Meskipun mengklaim data kementerian Kesehatan tidak tepat, namun pemerintah Kabupaten Kaur tetap mengalokasikan dan melaksanakan belanja DAK Fisik untuk intervensi spesifik penanggulangan stunting sebesar Rp729 juta yang digunakan untuk Penyediaan Alat Antropometri, 38 buah cetakan jamban untuk Program Kemitraan Masyarakat di desa-desa lokus stunting, pengadaan 10 unit Bina Keluarga Balita (BKB) kit, 1 unit kit kesehatan lingkungan, dan 16 unit kit sanitasi lingkungan (sanitarian kit). Akurasi ketepatan data indikator stunting dari Kementerian Kesehatan dianggap tidak valid oleh Pemerintah Kabupaten Kaur. Hal ini dikarenakan Kabupaten Kaur ditetapkan sebagai lokus prioritas penanggulangan stunting pada 2018 sedangkan dasar penetapan lokus stunting adalah hasil Riskesdas 2013 dan Susenas 2013 yaitu:
12,00% 13,40% 24,70% 8,70% 13,00% 25,00% 20,40% 28,20% 14,60% 10,70% 17,20% 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% Bengkulu
Selatan LebongRejang BengkuluUtara Kaur Seluma Mukomuko Lebong Kepahiang BengkuluTengah BengkuluKota BengkuluProv. sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu
Penetapan Kabupaten Kaur sebagai lokus prioritas nasional penanggulangan stunting dinilai tidak tepat karena data-data terkait kondisi fisik dan gizi buruk yang menjadi dasar penetapan lokus berbeda dengan kondisi yang ada di Kabupaten Kaur