AKUNTABILITAS KINERJA
12 KOMUNIKASI PUBLIK YANG EFEKTIF DAN
4. Belanja Negara yang berkualitas Belanja negara yang berkualitas
adalah kemampuan Kementerian Keuangan untuk merumuskan formulasi belanja pada Kementerian Negara/Lembaga agar mengelola belanja secara efektif dan efisien dengan fokus untuk meningkatkan pemerataan keuangan antardaerah, meningkatkan kualitas dan
mengurangi ketimpangan layanan publik daerah, menciptakan lapangan kerja dan mengentaskan kemiskinan.
Pada Direktorat Jenderal Anggaran, Sasaran Strategis Belanja Negara yang berkualitas ini dihitung melalui 2 (dua) IKU yaitu Tingkat efektivitas pengendalian risiko keuangan negara dan Indeks implementasi
penganggaran berbasis kinerja.
Tabel 3. 32 Capaian Sasaran Strategis Penerimaan Negara yang Optimal Kode SS/
IKU Sasaran Strategis/IKU (Bobot) Target Realisasi Indeks
4 Belanja negara yang berkualitas 101,17
4a-CP Tingkat efektivitas pengendalian risiko keuangan negara 100 100 100,00
4b-N Indeks implementasi penganggaran
berbasis kinerja 85 87,34 102,75
4a-CP Tingkat efektivitas pengendalian risiko keuangan negara a. Penjelasan Rincian IKU
Tabel 3. 33 Capaian IKU Tingkat efektivitas pengendalian risiko keuangan negara K-One
DJA
4. Belanja negara yang berkualitas
4a-CP Tingkat efektivitas pengendalian risiko keuangan negara
T/R Q1 Q2 s.d. Q2 Q3 s.d. Q3 Q4 Y-21
Target 100 100 100 100 100 100 100
Realisasi 100 100 100 100 100 100 100
Capaian 100 100 100 100 100 100 100
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
• Deskripsi IKU
IKU ini disusun untuk mengetahui sejauh mana Kementerian Keuangan efektif di dalam melaksanakan pengendalian risiko keuangan negara khususnya risiko kewajiban kontinjensi (eksplisit dan implisit) serta mengukur kinerja organisasi dalam
mengendalikan risiko kewajiban kontinjensi yang memiliki eksposur langsung ke APBN. Tujuan dari IKU ini adalah untuk mendorong unit
pengelola risiko keuangan negara agar dapat mendeteksi/ mengidentifikasi eksposur risiko yang mungkin timbul dan mempengaruhi APBN sedini mungkin serta melakukan langkah-langkah penanganan risiko dalam rangka meminimalkan potensi terjadinya shock terhadap APBN.
Pada Direktorat Jenderal Anggaran, risiko yang menjadi obyek adalah Kewajiban kontinjensi (eksplisit):
1. Risiko jaminan social (terjadi tambahan kebutuhan pembiayaan JKN melalui suntikan dana dari pemerintah)
2. Risiko pengelola dana asuransi ASN/TNI/Polri (terjadi pembayaran tambahan UPSL untuk program THT yang dikelola Asabri)
3. Bencana alam (terjadi tambahan anggaran penanggulangan bencana alam yang menambah beban APBN).
Beberapa nomenklatur yang terkait dengan IKU ini adalah sebagai berikut:
1. Risk Exposure adalah potensi kerugian/beban yang dapat
diukur/diperkirakan dalam satu periode tertentu.
2. Risk Event: ISO 31000;2018:
Kesalahan atau kegagalan yang mungkin terjadi pada tiap proses bisnis, pelaksanaan inisiatif Strategis, atau faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian sasaran organisasi.
3. Konteks IKU: Terjadinya suatu peristiwa atau faktor-faktor yang menyebabkan tambahan belanja pada APBN
4. Risk Tolerance: ISO 31000;2011:
Selera risiko adalah tingkatan umum risiko yang ingin diambil atau diterima. ISO Guide 73 definisi 3.7.1.3: Toleransi Risiko (Risk Tolerance) adalah kesiapan organisasi atau pemangku kepentingan untuk menanggung risiko setelah perlakuan risiko dalam upaya mencapai sasaran.
5. Konteks IKU: tingkat atau selera risiko yang diterima (expected risk).
Risk tolerance dapat dicerminkan dari alokasi APBN yang digunakan memitigasi suatu risiko dan/atau skema off budget (dana cadangan, revolving fund, dana de-risking, pool of fund, dll).
6. Filosofis: Jika ada risk event yang muncul, berapa batas maksimal yang masih dapat ditoleransi, baik dari alokasi yang ada di APBN dan/atau skema lain yang bisa diakses/di utilisasi untuk memitigasi risiko event.
BAB III Akuntabilitas Kinerja 67
7. Risk Tolerance Plus: Nilai penyesuaian target, yaitu penambahan nilai 20% dari Risk Tolerance. Hal ini dimaksudkan sebagai kompensasi, karena awalnya target ditetapkan 80%, harus naik menjadi 100% (a.I.
menyesuaikan Renstra).
8. On Top Risk Tolerance Plus: Selisih lebih dari nominal Risk Event yang terjadi di atas nilai nominal Risk Tolerance Plus. Contoh: jika Risk Tolerance Plus sebesar Rp 1,2 triliun, sedangkan terjadi risk event sebesar Rp 1,3 triliun, maka nilai On Top sebesar Rp 0, 1 triliun (Rp 100 miliar).
9. Unit Pemilik Risiko adalah unit yang memiliki dan mengelola risiko secara langsung berdasarkan tugas pokok dan fungsinya sesuai
Taksonomi Risiko Keuangan Negara.
10. Unit Pengelola Risiko adalah unit di Kementerian Keuangan yang
melakukan analisis, pengendalian, pemantauan, dan penyusunan
rekomendasi atas Risiko Keuangan Negara yang berasal dari pemilik risiko sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
11. Unit Konsolidator Risiko adalah unit yang bertanggung jawab
melaksanakan koordinasi, agregasi, analisis, penyusunan rekomendasi, dan penyusunan dokumen atas Pengelolaan Risiko Keuangan Negara.
Pada tahun 2021, IKU ini merupakan cascading dari Menteri Keuangan yang salah satunya diturunkan ke Direktorat Jenderal Anggaran.
Target IKU ini adalah triwulanan sebesar 100 dengan polarisasi maximize dan konsolidasinya average.
• Formula IKU
Perhitungan IKU Tingkat Tingkat efektivitas pengendalian risiko keuangan negara adalah sebagai berikut:
Tabel 3. 34 Formula IKU Tingkat efektivitas pengendalian risiko keuangan negara No
Kondisi Formula/Capaian
Risk Tolerance Risk Event
1 Lebih dari 0 Berapapun
2 0 0 Realisasi diperhitungkan 100%.
Indeks Capaian = 100% / Target.
3 0 Lebih dari
0
Skala 1 : on Top Risk Tolerance Plus <
25% dari total risk tolerance Plus Realisasi = 75%;
Skala 2 : on Top Risk Tolerance Plus ≤ 25%
s.d. < 50% dari total risk tolerance Plus Realisasi = 70%;
Skala 3 : on Top Risk Tolerance Plus ≤ 50%
s.d. < 75% dari total risk tolerance Plus Realisasi = 65%;
Skala 4 : on Top Risk Tolerance Plus ≤ 75%
s.d. < 100% dari total risk tolerance Plus Realisasi = 60% ;
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Skala 5 : on Top Risk Tolerance Plus ≥ 100%
dari total risk tolerance Plus Realisasi
= 55%.
Indeks Capaian = Realisasi / Target.
Dalam hal tidak terjadi risk event maka capaian kinerja adalah 100%.
Dalam hal terjadi risk event, namun angka nominalnya masih di bawah atau sama dengan risk tolerance plus maka capaian kinerja adalah 100%.
• Penjelasan Realisasi IKU
Sampai dengan akhir tahun 2021, diketahui bahwa capaian IKU ini adalah 100 dari 100 yang ditargetkan.
Adapun capaian IKU Tingkat Tingkat efektivitas pengendalian risiko keuangan negara lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3. 35 Rincian capaian IKU Tingkat efektivitas pengendalian risiko keuangan negara
Risiko Risk Event A B C D
Risiko jaminan
sosial
Terjadi tambahan kebutuhan pembiayaan JKN melalui suntikan
dana dari pemerintah
Rp0 Rp0 Rp0 Rp0
Risiko pengelola
dana asuransi ASN/TNI/Polri
Terjadinya tambahan pembayaran UPSL untuk program THT yang dikelola Asabri
Rp 6,4 T Rp 6,4 T Rp 7,68 T Rp0
Bencana alam
Bencana alam yang menambah beban
APBN Rp 20 T Rp 7,5 T Rp 9 T Rp3,94T Keterangan:
A = Eksposur B = Risk Tolerance
C = Risk Tolerance Plus (+20%) D = Risk Event s.d. Q4 2021 b. Perbandingan Realisasi IKU
Tingkat efektivitas pengendalian risiko keuangan negara baru dijadikan IKU pada tahun 2021
sehingga tidak ada data
perbandingan yang dapat dijadikan ukuran dengan realisasi yang dicapai oleh DJA pada tahun 2021.
BAB III Akuntabilitas Kinerja 69
Tabel 3. 36 Perbandingan target dan realisasi IKU Tingkat efektivitas pengendalian risiko keuangan negara
IKU Tahun Target
IKU
Target
Renstra Realisasi Capaian
Tingkat efektivitas pengendalian risiko
keuangan negara
2017 - - - -
2018 - - - -
2019 - - - -
2020 - - - -
2021 100 - 100 100,00
c. Kendala dan/atau upaya extra effort yang dilakukan dalam rangka pencapaian target kinerja
Secara umum, meskipun target IKU tercapai, namun masih terdapat permasalahan yang perlu mendapat perhatian, diantaranya adalah:
1. Kondisi ekonomi global yang masih volatile berdampak terhadap realisasi APBN maupun terhadap kondisi keuangan pihak terjamin menjadi tidak sehat.
2. Potensi terjadinya bencana yang masih tinggi.
Rincian kendala dan tindakan yang telah dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Anggaran pada tahun 2021 secara rinci adalah sebagai berikut:
1. Risiko Jaminan Sosial: Hingga saat ini pendanaan JKN masih sustainable (tidak ditemui adanya kendala/isu utama yang berarti) karena adanya regulasi yang telah ditetapkan di tahun 2020 yaitu Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan yang
berlaku mulai 1 Juli 2020 yang utamanya bertujuan untuk memperbaiki struktur iuran, dan meningkatkan kepatuhan
pembayaran iuran.
2. Risiko pengelolaan jaminan hari tua yang dikelola Asabri: Hingga triwulan IV 2021, risiko pada risk event belum terjadi. Akar
masalah yang ditemui pada triwulan IV 2021 adalah pengelolaan jaminan hari tua yang dikelola Asabri masih dalam proses penilaian kelayakan Unfunded Past Service Liability (UPSL) (kewajiban masa lalu untuk program dana pensiun dan tabungan hari tua atas PNS dan TNI/POLRI yang belum terpenuhi;
Isu Utama: bagaimana agar UPSL tersebut tidak muncul. Tindakan untuk mengatasi isu utama:
pembahasan dengan stakeholder terkait, terutama Asabri.
3. Bencana alam: Berdasarkan data per 31 Desember 2021, terdapat realisasi anggaran bencana sebesar Rp4,467T terdiri dari:
a. BNPB Rp3,94T
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
b. BUN Pengelolaan Hibah Rp0,52T
Nilai Risk Tolerance Plus meningkat dari semula Rp6T menjadi Rp9T karena terdapat penambahan alokasi cadangan bencana dari Rp5T menjadi Rp7,5T. Meskipun begitu, total realisasi anggaran bencana (3,94T) masih berada di bawah Risk Tolerance Plus 9 T sehingga capaian 100% (tidak ditemui adanya kedala/isu utama yang berarti).
d. Rencana Aksi ke Depan
Pada tahun 2022, IKU ini masih akan menjadi salah satu indikator kinerja
baik di Kementerian Keuangan maupun Direktorat Jenderal Anggaran. Beberapa rencana aksi yang akan dilaksanakan sehubungan dengan pencapaian IKU ini pada tahun 2022 adalah:
1. Melakukan koordinasi dengan pihak terkait Jamsos dan JHT dan monitoring atas risiko tersebut agar tidak terjadi.
2. Reviu dan analisis mendalam usulan SABA bencana alam 3. Analisis potensi usulan SABA
untuk bencana alam.
4b-N Tingkat Implementasi Penganggaran Berbasis Kinerja a. Penjelasan Rincian IKU
Tabel 3. 37 Capaian IKU Indeks implementasi penganggaran berbasis kinerja K-One
DJA