AKUNTABILITAS KINERJA
12 KOMUNIKASI PUBLIK YANG EFEKTIF DAN
8. Pengelolaan anggaran pusat yang berkualitas
Pengelolaan Anggaran adalah kegiatan yang diawali dengan penyusunan rencana kerja, penuangannya dalam dokumen pelaksanaan anggaran, pengawasan
atas realisasinya, pencatatan dalam sistem akuntansi pemerintah, dan penyusunan laporan Keuangan Satuan Kerja, serta diakhiri dengan penyerahan hasil kegiatan kepada pihak-pihak penerima manfaat akhir yang telah ditetapkan. Pengelolaan anggaran pusat yang berkualitas akan menentukan penyediaan dana serta terselenggaranya program-program pemerintah sehingga mendukung tercapainya sasaran pembangunan nasional dan kesinambungan fiskal.
Untuk mewujudkan sasaran strategis pengelolaan anggaran pusat yang berkualitas, Direktorat Jenderal Anggaran menetapkan 2 (dua) IKU yaitu Deviasi Exercise I-Account dan Deviasi Proyeksi Perencanaan Kas Pemerintah Pusat. Adapun ikhtisar capaian sasaran strategis ini pada tahun 2021 ditunjukkan dalam tabel berikut:
Tabel 3. 55 Capaian Sasaran Strategis Pengelolaan Anggaran Pusat Yang Berkualitas Tahun 2021
Kode SS/
IKU Sasaran Strategis/IKU (Bobot) Target Realisasi Indeks 8 Pengelolaan anggaran pusat yang
berkualitas 119,78
8a-N Deviasi exercise I-account 2,50% 0,20% 120,00 8b-N Deviasi proyeksi perencanaan kas
pemerintah pusat 4,50% 3,62% 119,56
8a-N Deviasi Exercise I-account a. Penjelasan Rincian IKU
Tabel 3. 56 Capaian IKU Deviasi exercise I-account K-One
DJA
8. Pengelolaan anggaran pusat yang berkualitas 8a-N Deviasi exercise I-account
T/R Q1 Q2 s.d. Q2 Q3 s.d. Q3 Q4 Y-21
Target - - - 2,5% 2,5% 2,5% 2,5%
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
K-One DJA
8. Pengelolaan anggaran pusat yang berkualitas 8a-N Deviasi exercise I-account
T/R Q1 Q2 s.d. Q2 Q3 s.d. Q3 Q4 Y-21
Realisasi - - - 0,2% 0,2% N/A 0,2%
Capaian - - - 120 120 N/A 120
• Deskripsi IKU
IKU ini bertujuan untuk mengukur tingkat akurasi atas ketepatan dan kesesuaian angka pada RUU APBN/APBNP dibandingkan dengan UU APBN/APBNP atas komponen yang ada dalam I-account. Adapun komponen dihitung adalah
pendapatan negara, belanja negara, dan pembiayaan. Karena pada tahun 2021 ini pemerintah mengambil kebijakan untuk tidak melakukan perubahan terhadap Undang-undang APBN tahun anggaran 2021, maka obyek yang dihitung untuk mengukur IKU Deviasi Exercise I-Account ini adalah proyeksi usulan RUU APBN 2022 dibandingkan dengan UU APBN 2022.
Data yang akurat akan menunjukkan seberapa besar deviasi yang
dihasilkan. Semakin baiknya nilai deviasi ditandai dengan semakin kecilnya nilai yang dihasilkan dari perhitungan IKU ini. Masukan-masukan dari stakeholder dan perubahan kebijakan pemerintah terkait dengan penyusunan APBN maupun APBN perubahan sangat mempengaruhi hasil perhitungan.
Deviasi exercise I-account
merupakan IKU non cascading pada Direktur Jenderal Anggaran dan telah ditetapkan sebagai indikator kinerja utama dalam beberapa tahun sebelum 2021.
IKU ini menggunakan jenis polarisasi minimize dengan jenis konsolidasi periode average. Target pada tahun 2021 ditetapkan sebesar 2,5% di setiap triwulan III dan triwulan IV.
• Formula IKU
Nilai capaian IKU ini dihitung berdasarkan formula sebagai berikut:
Nilai IKU = ([Angka I-account dalam RUU APBN/P] – [Angka I-account dalam UU APBN/P])/Angka
I-account dalam RUU APBN/P * 100%
• Deskripsi Capaian IKU
Pada tahun 2021, capaian IKU ini adalah 0,2% dari target 2,5% (indeks capaian 120,00). Tidak adanya capaian pada triwulan IV tahun 2021 disebabkan oleh tidak adanya APBN/P pada tahun 2021. Rincian perhitungan Deviasi Exercise I-Account dapat dilihat pada tabel berikut:
BAB III Akuntabilitas Kinerja 99
Tabel 3. 57 Rincian perhitungan Deviasi Exercise I-Account Komponen RUU APBN
2022 UU APBN
2022 Deviasi Bobot Realisasi
Pendapatan 1.840,7 1.846,1 0,3% 40% 0,1%
Belanja 2.708,7 2.714,2 0,2% 40% 0,1%
Pembiayaan 868,0 868,0 0,0% 20% 0,0%
Total 0,2%
b. Perbandingan realisasi IKU Perbandingan capaian dan target IKU sebagaimana ditetapkan pada
Kontrak Kinerja dan Renstra DJA Tahun 2020-2024 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3. 58 Perbandingan target dan realisasi IKU Deviasi Exercise I-Account tahun 2017 s.d. 2021
IKU Tahun Target
IKU
Target
Renstra Realisasi Capaian IKU
Deviasi Exercise I-Account
2017 7,5% - 0,78% 120,00
2018 3,0% - 0,88% 120,00
2019 3,0% - 0,39% 120,00
2020 3,0% 4,0% 1,5% 120,00
2021 2,5% 3,75% 0,2% 120,00
Grafik 3. 13 Perbandingan target dan realisasi IKU Deviasi Exercise I-Account tahun 2017 s.d. 2021
IKU Deviasi Exercise I-account mulai dijadikan IKU pada tahun 2017 dengan target 7,5%. Karena pembahasan atas APBN antara pemerintah dan DPR yang
sangat dinamis, IKU ini sangat
challenging. Bar capaian yang berada di bawah bar target menunjukkan bahwa capaian IKU ini selalu lebih baik 7.50%
3% 3% 3%
2.50%
4.00%
3.75%
0.78% 0.88%
0.39%
1.50%
0.20%
0%
1%
2%
3%
4%
5%
6%
7%
8%
2017 2018 2019 2020 2021
Target Target Renstra Realisasi KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
dari targetnya (karena polarisasi IKU minimize). Capaian IKU deviasi exercise I-account dapat menggambarkan bagaimana upaya Direktorat Jenderal Anggaran menjaga kebijakan
pemerintah terkait asumsi dasar ekonomi makro dan arah kebijakan fiskal yang telah diajukan Menteri Keuangan pada saat penyusunan APBN. Secara umum, setiap tahun IKU ini selalu mencapai target. Pada tahun 2020, IKU Deviasi exercise I-account dimasukkan ke dalam Rencana Strategis 2020-20204 dengan target sebesar 4,00% di 2021 kemudian berturut-turut 3,75%; 3,50%; 3,25%;
dan 3,00% setiap tahunnya sampai dengan tahun 2024.
c. Kendala dan/atau upaya extra effort yang dilakukan dalam rangka
pencapaian target kinerja Deviasi exercise I-Account ini
tergolong IKU yang cukup menantang karena capaian atas IKU dipengaruhi oleh faktor eksternal di luar kendali pemerintah. Masih berlangsungnya pandemi COVID-19 menyebabkan berbagai macam ketidakpastian, sehingga peran Direktorat Jenderal Anggaran untuk menjaga target deviasi menjadi tantangan tersendiri.
Berbagai langkah mitigasi telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Anggaran pada tahun 2021 agar deviasi IKU tersebut dapat diminimalisasi, diantaranya adalah:
1) Rapat koordinasi antara DJA dengan Eselon I lainnya di lingkungan
Kementerian Keuangan.
2) Penyusunan Proyeksi RAPBN yang akurat dengan mengupayakan deviasi yang semakin kecil dengan menerapkan asumsi dasar ekonomi makro dan arah kebijakan fiskal yang telah ditetapkan Menteri Keuangan dan diajukan ke DPR untuk mendapatkan persetujuan.
3) Melakukan pemutakhiran data secara berkesinambungan 4) Melakukan pemutakhiran model
estimasi yang dilaksanakan untuk mendapatkan estimasi/exercise yang berkualitas.
d. Rencana ke depan
Pada tahun 2022, Deviasi exercise I-Account masih akan ditetapkan sebagai IKU di meskipun bukan pada level Direktorat Jenderal Anggaran.
Pada tahun 2022, beberapa upaya akan dilakukan DJA guna menjaga tingkat akurasi pada batas yang telah
ditetapkan. Upaya tersebut antara lain melalui:
1) Monitoring kebijakan pengamanan RAPBN dari sisi belanja,
penerimaan, dan pembiayaan;
2) Melakukan koordinasi aktif antar unit Eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan untuk menjaga kualitas deviasi exercise I-Account APBN.
3) Melakukan pemutakhiran model estimasi yang dilaksanakan untuk mendapatkan estimasi/exercise yang berkualitas.
BAB III Akuntabilitas Kinerja 101
8b-N Deviasi Perencanaan Kas Pemerintah Pusat a. Penjelasan Rincian IKU
Tabel 3. 59 Capaian IKU Deviasi Perencanaan Kas Pemerintah Pusat K-One
DJA
8. Pengelolaan anggaran pusat yang berkualitas 8b-N Deviasi Perencanaan Kas Pemerintah Pusat
T/R Q1 Q2 s.d. Q2 Q3 s.d. Q3 Q4 Y-21
Target 4,5% 4,5% 4,5% 4,5% 4,5% 4,5% 4,5%
Realisasi 3,03% 5,37% 4,2% 2,79% 3,73% 3,29% 3,62%
Capaian 120 80,67 106,67 120 117,11 120 119,56
• Deskripsi IKU
Deviasi proyeksi perencanaan kas adalah perbedaan antara
perkiraan/proyeksi dengan realisasi yang merupakan gabungan dari penerimaan dan pengeluaran. Data proyeksi yang dimaksud bukan merupakan data yang terdapat pada target APBN/P, tetapi merupakan proyeksi riil terhadap
pendapatan/belanja/pembiayaan yang dapat dieksekusi.
IKU ini merupakan IKU mandatory yang penyedia datanya adalah Direktorat Jenderal
Perbendaharaan. Adapun objek pengukuran IKU ini pada Direktorat Jenderal Anggaran adalah sebagai berikut:
1) Penerimaan meliputi PNBP Minyak Bumi, PNBP Gas Alam, PNBP Non Migas, PNBP Bagian Laba BUMN, dan PNBP Lainnya di luar:
a) PNBP Lainnya berupa penempatan uang di Bl dan penerusan pinjaman (PIC:
DJPB),
b) PNBP Lainnya berupa hasil penjualan lelang (PIC DJKN), dan
c) PNBP Lainnya berupa premium obligasi.
2) Pengeluaran meliputi i) belanja pegawai, ii) belanja barang, iii) belanja modal, iv) belanja bantuan sosial, dan v) belanja lainnya, serta vi) subsidi listrik dan vii) subsidi BBM.
Setiap Unit eselon I yang menerima IKU mandatory ini wajib
menyampaikan data proyeksi satu tahun yang dirinci dalam bulanan kepada sekretariat Tim Cash
Planning Information Network (CPIN) paling lambat 5 (lima) hari kerja (minggu pertama) pada awal tahun berjalan melalui surat atau sarana tercepat (email). Selanjutnya, unit Eselon I terkait diharapkan untuk menyampaikan update atas proyeksi bulanan secara berkala kepada sekretariat Tim CPIN.
Apabila update terhadap perencanaan bulanan tidak disampaikan, maka perencanaan yang disampaikan pada awal tahun
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
akan dijadikan dasar perhitungan IKU.
Dalam satu bulan Tim CPIN dapat melakukan rapat paling kurang 1 (satu) kali. Anggota CPIN dapat menyampaikan update proyeksi pada rapat CPIN atau melalui sarana tercepat lainnya (email atau telepon). Dalam satu bulan anggota CPIN dapat melakukan updating proyeksi lebih dari 1 (satu) kali.
Update terakhir yang akan dijadikan dasar perhitungan IKU adalah proyeksi yang disampaikan oleh anggota CPIN kepada Sekretariat Tim CPIN paling lambat 5 hari sebelum bulan berakhir.
Apabila terdapat kondisi force majore, maka data tersebut dikeluarkan dari perhitungan capaian IKU Rencana penerimaan kas adalah rencana penerimaan kas (cash inflows) yang berasal dari pendapatan negara dan hibah serta pembiayaan. Realisasi penerimaan kas adalah realisasi penerimaan kas (cash inflows) yang berasal dari pendapatan negara dan hibah serta pembiayaan. Perencanaan
penerimaan kas dinyatakan akurat
apabila standar deviasi antara realisasi penerimaan kas dan rencana penerimaan kas dalam suatu waktu tertentu kurang dari sama dengan (≤) 4,5%.
Rencana pengeluaran kas adalah rencana pengeluaran kas (cash outflows) yang berasal dari belanja negara dan pembiayaan. Realisasi pengeluaran kas adalah realisasi pengeluaran kas (cash outflows) yang berasal dari belanja negara dan pembiayaan. Perencanaan pengeluaran kas dinyatakan akurat apabila perbedaan antara realisasi pengeluaran kas dan rencana
pengeluaran kas dalam suatu waktu tertentu kurang dari sama dengan (≤) 4,5%.
Deviasi proyeksi perencanaan kas pemerintah pusat tahun 2021 didapatkan dengan merata-rata deviasi proyeksi perencanaan kas pemerintah pusat triwulanan selama tahun 2021.
• Formula IKU
Nilai capaian IKU ini dihitung berdasarkan formula sebagai berikut:
BAB III Akuntabilitas Kinerja 103
• Penjelasan Realisasi IKU
Pada tahun 2021, capaian IKU ini adalah sebesar 3,62% dari target 4,5% (indeks capaian 119,56).
Adapun rincian target dan capaian IKU per triwulan sepanjang tahun 2021 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3. 60 rincian target dan capaian IKU Perencanaan Kas Pemerintah Pusat per triwulan tahun 2021
TW Penerimaan Pengeluaran % Deviasi
Renkas Perkiraan Realisasi %
Deviasi Perkiraan Realisasi % Deviasi
I 58.431,7 64.167,1 9,82% 325.474,53 335.329,10 1,54% 3,03%
II 72.157,4 82.386,3 14,18% 398.415,62 419.816,64 3,42% 5,37%
III 77.400,2 81.551,5 5,36% 446.050,49 439.409,74 0,77% 2,79%
IV 54.772,4 54.920,6 0,27% 631.755,55 610.935.84 3,30% 1,95%
b. Perbandingan Realisasi IKU Perbandingan capaian dan target IKU sebagaimana ditetapkan pada
Kontrak Kinerja dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3. 61 Perbandingan target dan realisasi IKU Deviasi Perencanaan Kas Pemerintah Pusat tahun 2017 s.d. 2021
IKU Tahun Target
IKU
Target
Renstra Realisasi Capaian IKU
Deviasi Perencanaan Kas Pemerintah Pusat
2017 5% - 3,49% 120,00
2018 5% - 2,27% 120,00
2019 5% - 3,06% 120,00
2020 4,75% - 4,49% 105,47
2021 4,5% - 3,62% 119,56
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Dari tabel dan grafik di atas dapat kita lihat bahwa IKU Deviasi Perencanaan Kas Pemerintah Pusat telah menjadi IKU di Direktorat Jenderal Anggaran sejak tahun 2017. Pada rentang tahun 2017 s.d. 2019 IKU ini merupakan IKU cascading dari Menteri Keuangan, sehingga target yang diampu oleh Direktorat Jenderal Anggaran adalah target sebagaimana yang disampaikan dari Menteri Keuangan. Mulai tahun 2020, IKU ini tak lagi berada di level Menteri Keuangan, tetapi dijadikan IKU Mandatory pada level Kemenkeu-One.
Target yang semula 4,75% pada tahun 2020, kemudian dipertajam lagi menjadi 4,5% (polarisasi minimize) di tahun 2021 sehingga lebih challenging.
Secara umum, capaian setiap tahun mulai dari 2017 s.d. 2021 ini telah dapat melampaui target yang ditetapkan.
c. Kendala dan/atau upaya extra effort yang dilakukan dalam rangka
pencapaian target kinerja Isu utama terkait IKU ini adalah dinamisnya penerimaan dan pengeluaran negara pada masa
pandemi covid-19. Hal ini berimplikasi pada proyeksi penerimaan dan
pengeluaran negara kurang akurat.
Dilihat pada tabel capaian per triwulan di atas, terlihat bahwa proyeksi
penerimaan di triwulan I, triwulan II dan triwulan III 2021 meleset dari target yang ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa pencapaian IKU ini sangat challenging, walau secara tahunan tetap di mencapai target karena terkompensasi oleh capaian proyeksi pengeluaran yang masih di atas target.
Tindakan-tindakan yang telah dilaksanakan selama tahun 2021 sehingga IKU tersebut mencapai target yang telah ditetapkan, antara lain:
1) Pemutakhiran proyeksi kas secara elektronik (OM-SPAN);
2) Komunikasi intensif dengan anggota CPIN dan ALM pada level teknis melalui telepon, email dan pesan elektronik;
3) Rapat rutin bulanan anggota CPIN;
d. Rencana aksi ke depan
Pada tahun 2022, IKU Deviasi Akurasi Perencanaan Kas Pemerintah Pusat
5% 5% 5%
2017 2018 2019 2020 2021
Target Realisasi
BAB III Akuntabilitas Kinerja 105
tidak ditetapkan sebagai indikator kinerja utama pada level Direktorat Jenderal Anggaran, tetapi tetap menjadi IKU di level unit eselon II.
Pertimbangan IKU ini tidak lagi berada pada level Direktorat Jenderal
Anggaran adalah tingkat ketercapaian IKU yang sudah tinggi, meskipun targetnya masih sangat challenging.
Selain itu, berdasarkan proses
refinement kontrak kinerja tahun 2022, terdapat beberapa indikator lain yang dinilai lebih strategis untuk dipasang pada level Direktorat Jenderal Anggaran.
9. Pengendalian kualitas pengelolaan