O l e h : M i h a r H a r a h a p
Kata orang bijak, kalau politik bengkok, maka sastralah yang meluruskannya. Analoginya, kalau orang-orang yang terkena HIV/AIDS (ODHA) itu gelisah, stigmatik serta diskriminasi,maka karya sastra akan berperan menampung aspirasinya hingga ia be- rasa tenang, sabar dan berusaha.Pembaca karya sastra itupun akan mengerti, mengasi- hani
dan menghormati atas nama kemanusiaan. Kalau dokter ‘nyeletuk’ itu tak percaya peran karya sastra ini, disarankan bacalah cerpen Uzein, Zulnaidi, Khairuddin Arafat, M.Alfa Iswara, EkoAgustyo FB,. Novita Sari S.dan Kesuma Ramadhan. Benarkah bahwa terdapat benang merah antara karya sastra dengan penyakit HIV/ AIDS? Benar! Kebenarannya, pertama, secara umum bahwa ‘objeknya sama–sasarannya beda’. Artinya, objek sastrawan dan dokter dalam melaksanakan keprofesiannya adalah sama yakni manusia. Sementara sasarannya, jika dokter untuk menyembuhkan penyakit jasmani manusia, sedangkan sastrawan untuk menyembuhkan penyakit rohani manusia. Toh, keduanya menyembuhkan penyakit. Pen- yakit yang terlihat oleh dokter dan penyakit yang tak terlihat oleh sastrawan tetapi dapat dira- sakan.
Kalau dokter menggunakan jarum suntik, pisau bedah, ste- toskop misalnya, maka sas- trawan menggunakan pena, bahasa dan kepekaannya. Terka- dang, setajam-tajam pisau bedah dokter, lebih tajam lagi mata pena sastrawan.Sedalam-dalam stetoskop sang dokter merabai
dada pasien, lebih dalam lagi kepekaan sastrawan merasakan sukma pembaca. Sesakit- sakit jarum suntik dokter, lebih sakit lagi bahasa sastrawan. Jadi, dalam rangka melaksanakan tu- gas kemanusian,dokter dan sas- trawan menggunakan peralatan, meskipun terkadang lebih tajam peralatan sastrawan ketimbang peralatan dokter.
Kedua, secara khusus bahwa di dalam unsur-unsur cerpen/ novel misalnya, ada yang disebut ‘tema’ (isi cerita) dan ‘amanat’ (pesan cerita). Kalau temanya menceritakan tentang diskrimi- nasi keluarga, lingkungan, masyarakat dan aparat, akan mempercepat proses kematian orang yang terkena penyakit HIV/AIDS..Maka amanatnya, jan- gan Anda bersikap diskriminatif terhadap para ODHA, setialah pada pasangan/janganlah seling- kuh walau sekali serta sebai- knya gunakan kondom bila ingin berhubungan.Dengan demikian, maka persoalan HIV/AIDS telah menjadi perhatian para sas- trawan/cerpenis.
Masuknya persoalan HIV/AIDS ke dalam tema dan amanat pada sebuah cerpen, menunjukkan betapa konsennya sastrawan/ cerpenis terhadap bahaya pen- yakit yang dapat menyebab- kan kematian. Betapa prihatin sastrawan/cerpenis terhadap anak-anak, remaja/ pemuda, suami/istri yang terkena penyakit masyarakat itu, sebab justru masyarakat itu sendirilah yang kemudian mendiskriminasinya. Betapa perlunya mensosialisasi- kan ilmu pengetahuan praktis tentang HIV/AIDS, bagaimana menyikapinya bila terkena atau tidak dan upaya menanggulang-
inya, baik secara individu mau- pun kelompok.
Penting dicatat bahwa tema dan amanat di dalam cerpen/ novel adalah unsur yang paling utama dan sangat mendasar. Bayangkan,sebuah cerpen/nnvel akan omong kosong, khayalan dan sia-sia saja, kalau tidak memiliki tema dan amanat ini. Harus diakui bahwa dahulu ada era ‘seni untuk seni’ dimana karya sastra hanya mengandung unsur keindahan bahasa semata yang tak perduli dengan tema dan amanat. Akan tetapi sejak ada era ‘seni untuk masyarakat’ hingga sekarang, maka tema dan amanat justru menjadi dasar bahkan unsur utama dalam pe- nulisan cerpen/novel Indonesia yang berkualitas.
Mengingat hal inilah,otomatis ‘benang merah’ antara karya sastra dan HIV/AIDS atau kedokteran, hukum, politik, teknik, ekonomi, pendidikan, pertanian,olahraga, agama, so- sial dan lain-lain menjadi sangat penting.Pokoknya, hamparan bumi, laut, udara dengan segala isinya memiliki hubungan yang siknifikan terhadap sejarah, teori dan karya sastra. Karena itu, perlu kerjasama antara sas- trawan dengan individu/kelompok profesi lainnya, terutama terkait dengan kepentingan masyarakat, misalnya ada kelompok sas- trawan yang peduli HIV/AIDS. Dengan demikian akan lebih tersosialisasikan lagi. Semoga. (Penulis adalah Kritikus Sastra Indonesia, Pembina Omong- Omong Sastra Sumut, Pemred Majalah/Pengawas Yayasan/ Dosen di lingkungan UISU dan Reporter Tamu Ma-jalah Sinergi Pemko Tebing Tinggi).
Begitu banyak pikiran menerawang di benak Patimah, memaksanya sulit memejamkan mata hingga jauh malam. Namun akhirnya dia rebah juga tertidur di atas saja- dahnya , lengkap dengan telekung putih bersih masih belum dilepas selesai sholat Isya tadi.
Hinggga dua pertiga malam dia tersentak bangun . Patimah mengucap istighfar beberapa kali dan segera saja bangkit . Dia bersiap pergi ke sumur, mengambil wuduk kembali untuk kemudian melakukan sholat tahajud dengan khusyuk, penuh penyerahan diri kepada Tuhan.
Setelah selesai memberi salam, saat Patimah menyudahi doanya ada rasa hiba yang meny- enak ulu hati. Suasana seperti itu hari-hari belakangan ini memang sering datang menerpa perasaan Patimah. Bahkan kadang-kadang hatinya terumbang ambing tak tahu apa yang dapat dilakukannya.
Kalau sudah demikian, Patimah lalu ingat pengajaran yang diterimanya dari kitab. “Un- tuk menenteramkan risau hatimu, perbanyaklah membaca Al-Qur’an . Dengan membaca Al-Qur’an mampu menghindarkan manusia daripada kepikunan.”
Ayat demi ayat dibaca Patimah perlahan-lahan dengan suaranya yang lembut. Tanpa disadarinya air matanya menetes meresap di lembaran kitab suci itu. Suaranya tersendat mena- han cucuran air mata. Patimah mendekapkan kuat-kuat Al-Qur’an ke dadanya. Lalu diciuminya kitab suci itu sepuasnya menghindari untuk tidak senggugukan. Namun betapa pun,haru hati Patimah tetap membuncah menyesak di dada.
Terbayang di matanya wajah-wajah manja lima orang ke- ponakannya masih kecil-kecil telah
menjadi piatu ditinggal mati kakak kandungnya Masitah, yang men- inggal ketika melahirkan anaknya yang keenam sebulan lalu.
“Maafkan aku anak-anak manis,” bisik hati Patimah. “Sedikit pun aku tak bermaksud mening- galkan kalian. Aku sangat sayang pada kamu semua,” katnya mer- enung. “Jauh malam dingin begini , biasa mereka mendekap dalam pelukan ibunya yang terbangun membetulkan letak selimut anak- anak itu. Begitu mereka merasa aman dapat perlindungan tidur pu- las bersusun dalam satu kelambu. Tapi sekarang tentu mereka mer- asa kehilangan.” Patimah menarik nafas dalam. Terngiang di telingan- ya ucapan keluarga mengatakan, “Kasihan! Anak-anak itu masih sangat memerlukan kasih sayang ibu yang benar-benar mencintain- ya. Dan hanya kepada kau mereka mau manja seperti kepada ibunya sendiri.” Suara itu terus memberati hati Patimah. Ketika itu keharuan yag menyentak menyambut kepu- langan Patimah tiba di kampung dari kota. Keponakannya ramai menghamburkan ratap merubung- inya, menggantunginya. Patimah menciumi anak-anak itu satu per- satu. Patimah mengangkat anak yang terkecil, dipeluknya rapat ke dadanya.
Hati Patimah tergetar mendengar kat-kata ayahnya keti- ka empat puluh hari arwah kakakn- ya Masitah. Kepadanya disampai- kan maksud yang mengejutkan , tak terduga sebelumnya, ketika dia dipanggil pulang ke kampung.
Memang ada perasaan tak enak memberati langkahnya da- tang. Dia sempat merasa berdosa ketika kematian kakaknya dia ber- halangan pulang , karena bertepa- tan hari ujian di sekolahnya.
“Itulah, kami telah sepen- dapat dan berharap kau mau kawin ganti tikar dengan abang iparmu Sodik. Untuk keselamatan anak-anak kakakmu tidak sampai beributirikan perempuan lain. Ber- samamu anak-anak Masitah mera- sa betah.” Ujung-ujung ucapan itu disampaikan kata demi kata satu persatu memperkuat bujukan . Patimah bagai terkunci mulutnya. Ada terasa beban berat ditimpakan ke pundaknya yang lemah.
“Lagi pula agar semua barang- barang peninggalan kakakmu , kaulah yang harus memiliki. Tidak jatuh pada orang lain,” sahut ibu- nya menunjang kata-kata ayahnya tadi.
Sesaat diam. Angin pantai yang kering memintas percakpan antara anak beranak itu. Lalu kemudian ada suara menyambung. “Nanti Sodik akan menambah barang- barang perhiasan lain lebih ban- yak lagi untukmu. Sekarang pun apa saja kau pinta, pasti dibelikan Sodik. Dia sudah jadi juragan besar di kampung kita ini. Peka- rangan lautnya makin bertambah banyak.” Ayahnya tersenyum men- gucapkan kata-kata itu memperha- tikan Patimah gelisah duduknya. “Juga istri Bang Sodik akan ber- tambah pula,” sahut Patimah tiba- tiba lepas tidak tertahan meluncur dari mulutnya yang mungil. Dan dia tertunduk rikuh tak sanggup memandang tatapan ayah dan ibu- nya bersamaan, seperti dua mata tombak menghunjam sekali gus ke jantungnya.
“Bagaimanpun , Sodik lebih men- yanyangi kakakmu Masitah dari- pada dua istri lainnya. Percayalah, pasti kepadamu sendiri lebih lagi cinta Sodik,” rayu ayahnya. “Kau akan menjadi istri Sodik yang termuda .” Kata-kata itu terucap bercampur kebanggaan.