• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cerpen YS Rat

Dalam dokumen Televisi Jam Wajib Belajar (Halaman 46-49)

GAWAT!

Negeri berselimut- kan kegalauan. Jadwal pemilihan presiden dan wakil presiden yang telah di ambang pintu terancam gagal. Semua bermula dari ketak- sengajaan prinsip yang ternyata sama. Kali ini, pengurus masing- masing parpol yang memenuhi persyaratan mengajukan capres dan cawapres berketetapan men-

cari figur yang bersih dari keter- libatannya di parpol mana pun untuk dicalonkan.

Berbuat semata-mata demi masyarakat, bangsa dan negara tanpa sedikit pun mengedepan- kan kepentingan pribadi, partai

maupun golongan. Begitulah landasan prinsip dan tekad yang hendak dibuktikan oleh pengurus masing-masing parpol. Karenanya, dengan kriteria jujur, tangguh dan

sederhana, mencari figur capres

dan cawapres di antara tokoh yang sama sekali tak berkait dengan parpol menjadi agenda utama. Untuk itu, masing-masing parpol menebar angket guna menghim- pun jawaban sekaligus usulan dari masyarakat.

Menurut Anda, sosok manusia jujur dan tangguh sekaligus sederhana banyak ditemukan di lingkungan orang-orang yang menggeluti pro- fesi apa? Jika Anda mengenal satu

atau lebih orang dari lingkungan profesi apapun yang menurut Anda jujur dan tangguh sekaligus se- derhana, mohon cantumkan nama dan kalau memungkinkan juga alamatnya.

C E R P E N

Demikian secara umum isi ang- ket yang ditebar masing-masing parpol. Hasilnya? Sembilanpu- luh sembilan persen responden memberi jawaban, sosok manu- sia jujur dan tangguh sekaligus sederhana banyak ditemukan di antara mereka yang menggeluti profesi sebagai tukang becak. Togap, yang beralamat di Jalan Ujung Negeri, Gang Akhir No 45, Kota Tepi Laut, Provinsi Kaki Langit, menempati urutan teratas di antara nama-nama tukang be- cak yang dikenal para responden dan menurut mereka merupakan orang yang paling jujur dan tang- guh, serta sederhana.

Maka, dilengkapi data hasil angket yang disebarkan masing- masing parpol, seluruh media massa baik cetak maupun ele- ktronik mengetengahkan berita utama yang bahkan dengan judul nyaris tak berbeda pula. Di antaranya, “Togap, Abang Becak Capres Pilihan Rakyat.”

Jadilah Togap sebagai pusat perhatian dan pembicaraan di tengah-tengah masyarakat. Bahkan, para penumpang di kawasan tempat biasa dia man- gkal rela antre, menunggu giliran demi mendapatkan kesempatan menumpang becak yang dikay- uhnya.

Tentu saja hal itu memberikan rezeki berlebih dibanding hari- hari sebelumnya bagi Togap. Tapi, sekaligus juga menghadir- kan beban tambahan terhadap daya tahan fisiknya sebagai seorang tukang becak yang telah memasuki usia 59 tahun. Begitu- pun, meski mengharuskannya setelah lewat tengah malam baru kembali ke rumah, dilandasi prin- sip hidup tak berarti apa-apa jika membuahkan kecewa bagi orang lain, satu per satu dia antar ke

tempat tujuan masing-masing antrean penumpang yang telah dengan sabar menunggunya. *****

BERSEBAB undang-undang menentukan pasangan capres dan cawapres yang telah diusul- kan oleh parpol atau gabungan parpol tidak boleh dicalonkan lagi oleh parpol atau gabungan par- pol lainnya, maka dengan cara mengirimkan utusan menemui Togap, masing-masing parpol berusaha untuk bisa lebih dahulu mendapatkan persetujuannya didaftarkan sebagai capres. Akibatnya, terjadilah saling intip di antara utusan masing-masing parpol. Setiap utusan parpol berusaha sebisa mungkin agar kehadirannya menemui Togap tak diketahui oleh yang lain- nya. Jika melihat gelagat rumah Togap sedang kedatangan tamu, utusan parpol yang hendak men- emuinya segera undur diri terle- bih dahulu. Setelah memastikan tak ada orang lain kecuali Togap dan istrinya, barulah utusan par- pol itu buru-buru menuju rumah Togap.

“Bung boleh saja merasa tak percaya dan menganggapnya se- bagai lelucon. Yang jelas, partai kami telah melakukan pemba- hasan dan mempertimbangkan- nya secara matang melalui rapat yang diikuti pengurus dari semua tingkatan. Keputusannya, seluruh peserta rapat bersepakat untuk mendaftarkan Bung Togap se- bagai capres pada pemilu yang tak lama lagi akan digelar. Itu- lah sebabnya saya diutus untuk menemui dan meminta persetu- juan tertulis dari Bung.”

Demikian di antara pernyataan utusan parpol yang menemui Togap. Soal cawapres, semua mengatakan bahwa parpolnya

memberi kesempatan kepada Togap untuk memilihnya sendiri jika memang nantinya dia berse- dia dicalonkan. Terserah siapa orangnya, asalkan sama halnya dengan dia, tak berasal dari salah satu parpol, sebagai pen- gurus maupun anggota. Mereka pun tak langsung meminta jawa- ban, melainkan mempersilakan Togap mempertimbangkannya terlebih dahulu dan barulah sem- inggu kemudian akan kembali menemuinya untuk mendapatkan kepastian.

“Kalau dibilang aneh, ya sudah jelas aneh. Tapi, Abang kan mak- lum, keanehan bahkan sudah menjadi biasa di negeri ini. Ma- kanya, agar tak malah menjadi bagian dari keanehan itu, perlu Abang pikirkan matang-matang, pantaskah seorang tukang becak dicalonkan untuk jadi presiden? Dengtan begitu, nantinya bisa disimpulkan apakah orang yang mengaku utusan parpol itu serius atau sekadar ingin membuat lelucon dan sensasi? Atau, siapa tau malah sudah tak waras?” ujar istrinya, Lestari, ketika Togap meminta pendapat dan sarannya. Menurut Togap, apa yang dika- takan istrinya itu sangat masuk di akal. Oleh karenanya, ketika utusan salah satu parpol yang ditugaskan meminta persetujuan- nya agar bersedia didaftarkan sebagai capres kembali men- emuinya, tak sepatah pun diber- inya kesempatan untuk berbasa- basi terlebih dahulu.

“Atas dasar apa seorang tukang becak dicalonkan untuk jadi presiden? Lagipula, apakah hal itu pantas?” tanya Togap kepada lelaki utusan salah satu parpol itu, yang tampak dengan tenang duduk berhadapan dengannya.

“Pertanyaan Bung Togap bagi saya merupakan hal wajar, karena sejak awal saya sudah katakan, Bung boleh saja merasa tak percaya atau menganggapnya sebagai lelucon. Tapi kami punya alasan dan Bung pasti bisa me- nerima alasan kami itu. Pertama dan yang terpenting, alasan kami untuk mendaftarkan Bung Togap sebagai capres adalah karena hal itu merupakan kehendak dari se- bagian besar masyarakat. Alasan kedua, kami ingin membuktikan benar-benar berbuat demi kepent- ingan masyarakat, bangsa dan negara, tanpa secuil pun terselip kepentingan pribadi, partai mau- pun golongan. Itulah sebabnya

kami sengaja mencari figur capres

di antara orang-orang yang tak terlibat di parpol mana pun,” papar lelaki itu.

“Tapi, dari sisi mana saya yang hanya tukang becak dianggap layak dijadikan calon presiden?!” desak Togap.

“Dari sisi hak sebagai warga ne- gara, sesuai ketentuan di dalam undang-undang dasar nagara kita. Di situ jelas-jelas disebutkan, segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerin- tahan itu dengan tidak ada kecual- inya. Lebih dari itu, sebagaimana kriteria di dalam angket yang kami sebarkan, sebagian besar responden berpendapat bahwa sosok manusia jujur dan tang- guh sekaligus sederhana banyak ditemukan di antara mereka yang menggeluti profesi sebagai tukang becak. Di antara yang dikenal para responden, Bung menem- pati urutan teratas, sehingga tak ada alasan bagi partai kami untuk tak mendaftarkan Bung sebagai capres,” balas lelaki utusan salah satu parpol itu pula. Seolah tak memberi kesempatan kepada To- gap, dia melanjutkan bicaranya.

“Yakinlah, partai kami tak bertin- dak gegabah dalam hal ini. Itulah sebabnya, kalaupun seminggu yang lalu saya katakan hari ini saya akan datang kembali untuk mendapatkan jawaban dari Bung, hal itu bukan merupakan harga mati. Kedatangan saya kali ini tak harus mendapatkan kepastian dari Bung. Kami bahkan mempersila- kan Bung Togap langsung datang ke kantor partai kami, jika nantinya Bung memutuskan bersedia kami calonkan. Telepon terlebih dahulu kalau Bung akan datang, supaya ketua umum partai kami bisa me- nyediakan waktu khusus,” kata le- laki itu, sambil mengeluarkan kartu nama berisi alamat parpolnya, lantas memberikannya kepada Togap dan berpamitan.

*****

TAK cuma melayani antrean penumpang yang setiap hari menunggu kesempatan bisa men- umpang becaknya, tak pula hanya menghadapi utusan masing-mas- ing parpol yang bertubi-tubi saling berganti menemuinya untuk me- minta kesediaannya didaftarkan sebagai capres. Tumpukan surat yang dialamatkan kepadanya kini mewarnai hari-hari Togap bersama sang istri, Lestari.

“Seratus persen aku mendukung kau, Togap. Aku yakin kau mampu, karena aku tau betul siapa kau!” “Begitu tau nama Togap yang dijagokan sebagai capres oleh semua parpol ternyata kau, aku langsung bertekad akan berkor- ban untuk ambil bagian menjadi tim sukses baik diminta maupu tak kauminta. Sebagai seorang sahabat di masa lalu, aku mer- asa ikut bertanggung jawab un- tuk mengantar kau menggapai sukses.”

“Soal kejujuran, ketangguhan dan kesederhanaan, aku tau betul hal itu sudah jadi trademark dalam hidup kau, Togap. Sebab, tanpa sepengetahuan kau sebenarnya

aku sering melihat kau. Dengan mata dan kepalaku sendiri aku menyaksikan, ternyata kejujuran, ketangguhan dan kesederhanaan itu tetap utuh di dalam diri kau sampai sekarang. Tak lekang sedikit pun. Jadi, menurutku bukan cuma sebagai capres, kau bahkan pantas jadi presiden. Percayalah, aku mendukung kau sepenuhnya, Togap!”

“Kesempatan datangnya cuma sekali, Togap. Aku yakin kau mahfum hal itu. Kalau selama ini tak sedikit orang yang berharap atau menggantang asap, bahkan memaksakan diri untuk meraihn- ya, sekarang malah kaulah yang dihampiri oleh kesempatan itu. Kalau kau membiarkannya begitu saja, sampai kapan pun kesem- patan itu tak bakalan kembali, Togap!”

Itu hanya sebagian dari isi surat yang diterima Togap. Selebihnya, juga bernada sama, menyata- kan dukungan dan menyarankan agar dia bersedia maju sebagai capres. Dari sekian surat yang diterimanya, Ahrim, Bunhar, Co- ing, Daurah, dan Esikno adalah di antara nama-nama pengirim yang amat sangat dikenal Togap. Mereka orang-orang yang puluhan tahun lalu pernah seiring sejalan dengannya.

“Pastilah sekarang mereka sedang membelai angan, berharap men- dapat limpahan jabatan jika aku bersedia dicalonkan dan akhirnya benar-benar terpilih jadi presiden,” bisik hati Togap.

Mengenang mereka, bekas teman- teman seperjuangannya sesama aktivis kampus, yang kemudian memisah arah, bahkan tak secuil pun hirau akan nasibnya sete- lah kegagalannya menuntaskan perkuliahan akibat ketakmam- puan keuangan orang tuanya, kini tersenyum-senyumlah Togap karenanya.

“Semestinyalah seorang istri ber- doa demi keberhasilan suaminya. Tapi, menghadapi kenyataan yang Abang alami sekarang, Tari jadi bingung, apakah pantas Tari men- doakannya?” ujar Lestari ketika duduk menemani Togap di ruang tamu rumah mereka yang sangat- sangat sederhana, setelah hingga menjelang pagi baru selesai mem- baca satu per satu berjibun surat yang dikirim kepadanya.

“Kalaupun terlintas niat untuk berdoa, batalkan sajalah sudah. Sebab, telah kuputuskan akan kubuat pernyataan dan kukirim ke semua surat kabar, majalah, tab- loid, stasiun televisi maupun radio.

Isinya singkat, padat dan tepat;

Jangan paksa aku jadi presiden! Selebihnya, kepada wartawan me- dia mana pun aku akan bersikap no comment,” papar Togap. Sete- lahnya, kecuali dirinya dan sang istri, tak sesiapa pun yang tau mengapa dia tak bersedia dijadi- kan capres.

“Seorang presiden pastilah akan sering tampil di depan umum, atau berdiri dan berpidato berjam- jam. Bagaimana mungkin itu bisa kulakukan kalau untuk menahan supaya tak kencing dalam waktu satu jam saja ak tak sanggup?!” kata Togap kepada Lestari dan tergelaklah sang istri karenanya. Jadi kian mesralah keduanya, meski tanpa kehadiran seorang anak pun di antara mereka. *****

GAWAT! Negeri berselimutkan kegalauan! *

--- --- BIODATA

YS RAT, mempublikasikan puisi dan cerpen mulai awal 1980, terutama di surat kabar Medan. Sejumlah puisinya telah dihimpun dalam kumpulan bersama sep- erti Muara Dua (himpunan karya satrawan Sumatera Utara-Utara Malaysia, 1989), Bumi (Studio

Seni Indonesia, Medan 1996), Jejak (Dewan Kesenian Sumat- era Utara, 1998), Baruga (Ta- man Budaya Sulawesi Selatan, 2000), Muara Tiga (Antoloji Sastra Indonesia-Malaysia, 2001), 10 Penyair Sumut Pamer Puisi (Star Indonesia Productions-Millennium Expo 2001), dan Tengok 2 (Arisan Sastra Medan, 2001). Sedangkan kumpulan pribadinya berjudul 5, diterbitkan Teater Kartupat Medan tahun 1987. Sehari-hari bekerja sebagai redaktur Harian Medan- Bisnis. Menetap di Jalan Madios- antoso Gang M. Yusuf No. 149 A, Pulo Brayan Darat I Medan. Telepon: 085362500062. --- --- Tambahan Catatan : Rekening No: 0219659789 Bank Muamalat

Kantor Kas Krakatau Medan Atas nama: Yusrianto SH (YS Rat)

LARUT malam.

Gelap.

Dalam dokumen Televisi Jam Wajib Belajar (Halaman 46-49)