SEJARAH DAN TEORI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
B. SEJARAH DAN TEORI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
13. Benjamin S. Bloom (1913-1999)
Lahir di Lansford, Pennsylvania, 21 Feb-ruari 1913—meninggal 13 September 1999 pada umur 86 tahun, adalah se-orang psikolog pendidikan dari Amerika Serikat, dengan kontribusi utamanya adalah dalam penyusunan tak so nomi tujuan pendidikan dan pembuatan teori belajar tuntas. Taksonomi Bloom terdiri dari tiga kategori yaitu dikenal sebagai domain atau ranah kognitif (Bloom, 1985: 35), afektif dan ranah psikomoto-rik, yang dimaksud dengan ranah-ranah ini oleh Bloom adalah perilaku-perilaku yang memang diniatkan un-tuk ditunjukkan oleh peserta didik atau pebelajar dalam cara-cara tertentu, misalnya, bagaimana mereka berpikir (ranah kognitif), ba-gaimana mereka bersikap dan merasakan sesuatu (ranah afektif) dan bagaimana berbuat (ranah psikomotorik). Pertama, pada ranah kog-nitif ini terdapat tingkatan yang mulai dari hanya bersifat
pengeta-huan tentang fakta-fakta sampai kepada proses intelektual yang ting-gi, yaitu mengevaluasi sejumlah fakta. Tingkatan tersebut adalah pengetahuan—didasarkan pada kegiatan-kegiatan untuk mengingat berbagai informasi yang pernah diketahui, tentang fakta, metode atau teknik maupun mengingat hal-hal yang bersifat aturan, prinsip-prinsip, atau generalisasi. Pemahaman merupakan kemampuan un-tuk menangkap arti dari apa yang tersaji, kemampuan unun-tuk menter-jemahkan dari satu bentuk ke bentuk yang lain dalam kata-kata, angka, maupun interprestasi berbentuk penjelasan, ringkasan, pre-diksi, dan hubungan sebab akibat.
Aplikasi—kemampuan ini meliputi kemampuan untuk meman-faatkan bahan-bahan yang telah dipelajari dalam situasi yang baru.
Kegiatan ini mengharuskan penerapan dan prinsip-prinsip, teori, rumusan ataupun aturan-aturan. Analisis dan sintesis—kemampu-an sintesis—kemampu-analisis merupaksintesis—kemampu-an kemampusintesis—kemampu-an mengurai bahsintesis—kemampu-an-bahsintesis—kemampu-an ysintesis—kemampu-ang telah dipelajari menjadi komponen-komponen atau bagian-bagian sehingga struktur dari yang dipelajari itu menjadi lebih jelas. Ke-mampuan menganalisis ini akan memungkinkan seseorang mema-hami hubungan-hubungan dan dapat mengenali bagian-bagian dari suatu keseluruhan dengan lebih baik (jelas).
Kemampuan melakukan sintesis menunjuk kepada bagaimana orang mengkombinasikan unsur-unsur yang terpisah-pisah sehing-ga menjadi bentuk kesatuan yang baru. Sebasehing-gai contoh, seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan mensintesiskan kalau ia dapat meramu sejumlah konsep menjadi suatu karangan yang ber-makna dan komprehensif atau ia dapat merekayasa suatu hasil tek-nologi dengan menggunakan bagian-bagian yang lebih kecil yang semula makna atau nilainya kurang dari sebelumnya.
Evaluasi—kemampuan ini mencakup kemampuan untuk mem-beri penilaian terhadap bahan-bahan ataupun fakta berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Objek yang dinilai bersifat objektif. Ber-beda dengan penilaian dalam ranah afektif, penilaian pada ranah kognitif menghasilkan kesimpulan yang lebih objektif pula. Kata sifat yang digunakan sebagai hasil penilaian tersebut bukan baik atau tidak baik, tapi misalnya efektif atau kurang efektif, efisien atau kurang efisien.
Jenis belajar yang dikemukakan Bloom menjadi bersifat hierar-ki karena yang satu lebih tinggi dari yang lain, kecuali pada tahap
analisis dan sintesis. Tujuan-tujuan yang bersifat kognitif telah di-kembangkan sedemikian rupa membentuk suatu model berupa ter-jemahan ke dalam bentuk-bentuk evaluasi dan tes sehingga mem-bangun formula persamaan sebagai berikut: tujuan sama dengan perilaku, sama dengan teknik evaluasi, sama dengan soal-soal tes.
Dalam buku Formative and Sumative evaluation (Bloom, 1985: 56), Bloom menuangkan formula tersebut dalam bentuk rancangan dan contoh-contoh yang lebih konkret. Tujuan-tujuan yang bersifat kog-nitif ini lebih bersifat eksplisit sehingga secara relatif lebih mudah diterjemahkan ke dalam hasil belajar. Meskipun demikian, terdapat perbedaan dalam kompleksitas dari tujuan atau jenis belajar tersebut dapat ditafsirkan sebagai tujuan atau perilaku yang merupakan tuju-an akhir; artinya, memtuju-ang tujutuju-annya adalah mengetahui beberapa fakta tertentu. Bandingkan dengan tingkat kemampuan pemaham-an ypemaham-ang mensyaratkpemaham-an dikuasainya konsep, fakta dpemaham-an pengetahupemaham-an yang dapat dijadikan sebagai contoh, analogi, ataupun anatonim.
Kedua, Bloom berpendapat bahwa sikap memiliki tiga komponen yakni kognitif, afektif, dan konatif. Komponen kognitif merupakan pengetahuan individu tentang objek sikap, komponen afektif meru-pakan keyakinan individu dan penghayatan orang tersebut tentang objek sikap, apakah ia merasa senang atau tidak senang, bahagia atau tidak bahagia. Komponen konatif merupakan kecenderungan kuat untuk berbuat, melakukan sesuatu sesuai dengan perasaan dan pengetahuannya terhadap objek. Ketiganya berinteraksi dalam me-mahami, merasakan objek dan bertindak terhadap objek tersebut terdapat contoh, tujuan ditayangkan iklan untuk membentuk sikap terhadap suatu objek dengan memberikan informasi tentang pro-duk tersebut, atau asal bisa karena biasa.
Sikap memiliki tiga ciri-ciri: intensitas yaitu kekuatan perasa-an terhadap objek; arah terhadap objek, apakah positif atau nega-tif ataupun netral dan target, merupakan sasaran sikap terhadap apa sikap ditujukan. Taksonomi yang disusun oleh Krathwol dan Bloom & Masia (1964) sikap disusun lagi sedemikian rupa sehingga menunjukkan tahapan yang hierarki. Tingkatan tersebut dimulai dengan menerima stimulus secara pasif, memberi respons secara aktif, memberi penilaian terhadap respons yang dilakukan, meng-organisasikan, artinya menjadikan objek tersebut sebagai bagian dari dirinya, karakterisasi.
Menerima atau menaruh perhatian, proses ini dimulai dengan kesadaran paling sederhana akan hadirnya sesuatu (benda, musik, lukisan, fenomena). Subjek minimum tidak menghindar dari ob-jek tersebut. Taraf berikutnya adalah menerima, yang antara lain terwujud keinginan untuk mengambil bagian dalam kegiatan yang berhubungan dengan objek. Selanjutnya, memberi perhatian seca-ra terpilih (selective attention) yaitu berupa perhatian pada bagian-bagian khusus objek.
Memberi respons, kegiatan yang dilakukan seseorang meliputi proses memaksa diri sendiri untuk berpartisipasi serta kemauan untuk mengikuti aturan-aturan. Keinginan untuk merespons bu-kan disebabbu-kan oleh adanya rasa takut abu-kan hukuman, melainbu-kan merupakan kegiatan untuk melakukan sesuatu secara sukarela. Ke-giatan-kegiatan yang dilakukan atas dasar sukarela, misalnya praktikkan cara hidup sehat, ikut dalam kegiatan penelitian, mem-praktikkan kegiatan hobi dan lain sebagainya. Pada tahapan ini ia sudah menunjukkan tanggung jawab atas apa yang dikerjakannya, dan telah menikmati apa yang dilakukannya.
Memberi penilaian, pada tahap ini individu meneruskan kegi-atan untuk melakukan sesuatu, merasa menjadi bagian kelompok dari pelaku-pelaku kegiatan yang sama, dan bertanggung jawab atas kegiatan tersebut. Secara gradual, ia senang membantu orang lain agar memiliki kecakapan seperti yang dimilikinya, mau mengemu-kakan pendapat secara lisan maupun tertulis. Di samping perilaku-nya yang terbuka ia melakukan refleksi tentang objek atau kegiatan tersebut. Pada diri anak mulai tumbuh rasa pengabdian dengan me-libatkan diri secara lebih aktif.
Pengorganisasian, apa yang dilakukan diyakini dan mengkristal di dalam dirinya dalam bentuk tatakrama. Ia membangun penilaian untuk menentukan tingkat kelayakan bagi sesuatu yang relevan di-kerjakan oleh orang lain atau masyarakat. Hal-hal yang diyakininya mulai dibandingkan dengan standar etika, melalui bacaan, ataupun sumber lainnya. Proses ini dinamakan konseptualisasi nilai.
Kepribadian, pada tahap ini individu siap untuk menilai ulang apa yang yang telah diyakininya jika bukti-bukti menunjukkan ada-nya keharusan untuk merevisi pandangan yang dipegangada-nya. Masa-lah-masalah dilihat lagi dengan lebih objektif, realistik, dan dengan
sikap yang toleran. Pada tahap ini, ia tidak bersifat dogmatik tetapi lebih logis, ilmiah, dan menghargai bukti-bukti.
Ketiga, belajar psikomotorik menekankan keterampilan motorik yaitu bekerja dengan benda-benda atau aktivitas yang memerlukan koordinasi saraf dan otot. Untuk menjelaskan konsep tersebut digu-nakan contoh kegiatan berbicara, menulis, berbagai aktivitas pem-belajaran jasmani, dan program-program keterampilan.
Tiga kategori ini sering dinyatakan sebagai tiga serangkai: kog-nisi-konasi-perasaan (cognition-conation-feeling) atau berpikir-ber-kehendak-bertindak (thinking-willing-acting) (Bloom, 1985: 56). Da-lam kehidupan sehari-hari tak ada bukti seseorang berbuat tanpa melibatkan pikiran dan perasaan betapa pun kecil posisinya. Setiap orang merespons dalam berbagai bentuk aktivitas sebagai makhluk yang utuh dan yang total. Kategorisasi jenis belajar ini disusun un-tuk menenun-tukan cara-cara pendidik mengevaluasi hasil belajar.