PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SAMBIL BERMAIN
C. KARAKTERISTIK PERMAINAN
Studi mengenai bagaimana anak bermain telah diungkapkan bahwa bermain selama masa kanak-kanak mempunyai karaktersitik tertentu yang membedakannya dari permainan remaja dan orang dewasa. Walaupun karakteristik ini mungkin sedikit bervariasi pada masing-maing anak, aspek utamanya sangat serupa sehingga prak-tis dapat dianggap universal.
1. Bentuk Sarana Bermain
Sarana bermain menurut sifatnya dibagi menjadi dua yaitu yang lunak dan yang keras. Bersifat lunak artinya mampu mengem-bangkan pancaindra yang ringan tidak menggunakan otot tetapi banyak olah pikiran, perasaan, gerakan yang ringan dan ada unsur pelan. Contohnya, mewarnai, mencocok, meronce, main congklak, main masak-masakan, dokter-dokteran, pasar-pasaran, memain-kan instrumen. Adapun yang bersifat keras adalah permainan yang banyak dilakukan dengan disertai otot, tetapi juga dengan pikiran, perasaan dan keterampilan. Contohnya, main bola, meluncur, ayun-an, lari, lompat, loncat, meniti balok. Tentu saja kedua sifat ini perlu diberikan kepada anak secara seimbang. Supaya semua aspek ke-pribadiannya dapat berkembang dan pertumbuhan badannya ber-langsung dengan baik. Berdasarkan pelakunya permainan dibagi menjadi dua yaitu permainan individual dan permainan kelompok.
Permainan individual artinya permainan yang dilakukan seorang anak, misalnya mobil-mobilan, memasukkan benda ke dalam lu-bang. Sedang bermain kelompok artinya permainan yang dilaku-kan oleh lebih dari seorang anak, contoh main bola keranjang, bola kaki (sepak bola) bola tangan, jungkit-jungkit. Dapat juga permainan itu dibagi berdasarkan memakai alat atau tidak memakai alat. Alat yang digunakan dapat bermacam-macam, seperti kertas karton, kayu, tanah liat, lilin, balok. Permainan tanpa alat yang dimaksud anak bermain cukup dengan anggota badannya sendiri, seperti lari, loncat, lompat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan permainan adalah berikut ini.
a. Tujuan anak bermain, antara lain untuk melatih kecerdasan musikal, kecerdasan spasial dan visual (biasanya dimiliki oleh arsitek, pematung, pelukis, pilot). Kecerdasan kinestetik (pena-ri, pesenam, ahli bedah), kecerdasan interpersonal (kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain), kecerdasan intraperso-nal (bersifat introspektif, yaitu kemampuan untuk mengetahui jati dirinya). Jika kita mengenal kecerdasan spiritual maka ke-cerdasan ini berada di atas keke-cerdasan emosional.
b. Bermain sambil belajar. Mengingat tingkat kematangan anak untuk berpikir, mengingat, menghafal dan mengetahui sesuatu masih terbatas, maka melalui permainan anak perlu diberikan pengetahuan tentang sesuatu. Pemberian pengetahuan ini ber-arti ia belajar, sebab prinsip belajar adalah terjadinya perubahan pada diri anak.
c. Suasana senang dan ingin mengulanginya. Selama anak berma-in harus dibuat agar suasana tetap menyenangkan anak, sebab hal ini memengaruhi terbentuknya pribadi anak. Permainan yang disajikan seharusnya memberikan dorongan untuk me-ningkatkan kreativitas, dan mencoba untuk membandingkan, berimajinasi sehingga dapat mengembangkan kemampuannya.
Akhirnya pada suatu saat anak dapat mandiri tidak tergantung dari bantuan orang lain.
2. Bermain Mengikuti Pola Perkembangan yang Dapat Diramalkan
Sejak masa bayi hingga masa pematangan beberapa kegiatan permainan tertentu populer pada suatu tingkat usia dan tidak pada usia yang lain, tanpa mempersoalkan lingkungan, bangsa, status sosial ekonomi, dan jenis kelamin anak. Kegiatan bermain ini sa-ngat populer secara universal dan dapat diramalkan sehingga me-rupakan hal yang lazim untuk membagi tahun masa kanak-kanak ke dalam tahapan bermain yang spesifik, masing-masing dengan namanya sendiri.
Tahapan Perkembangan Bermain (Santrock, 1992):
a. Tahap Eksplorasi
Hingga bayi berusia sekitar 3 bulan, permainan mereka teru-tama terdiri atas meliht orang dan benda serta melakukan usaha acak untuk menggapai benda yang diacungkan di hadapannya. Se-lanjutnya, mereka dapat mengendalikan tangan sehingga cukup memungkinkan bagi mereka untuk mengambil, memegang, dan mempelajari benda kecil. Setelah mereka dapat merangkak atau berjalan, mulai memperhatikan apa saj ayang berada dalam jarak pandanganan dan jangkauannya.
b. Tahap Permainan
Bermain barang mainan dimulai pada tahun pertama dan men-capai puncaknya pada usia antara 5 dan 6 tahun. Pada mulanya anak hanya mengeksplorasi mainannya. Antara 2 dan 3 tahun, mereka membayangkan bahwa mainannya mempunyai sifat hidup, dapat bergerak, berbicara, dan merasakan. Dengan semakin berkembang-nya kecerdasan anak, mereka tidak lagi menganggap benda mati se-bagai sesuatu yang hidup dan hal ini mengurangi minatnya pada barang mainan. Faktor lain yang mendorong penyusutan minat de-ngan barang mainan ini adalah bahwa permainan itu sifatnya me-nyendiri, sedangkan mereka menginginkan teman. Setelah masuk sekolah, kebanyakan anak menganggap bermain barang mainan sebagai “permainan bayi”.
c. Tahap Bermain
Setelah masuk sekolah, jenis permainan mereka sangat bera-gam. Semula, mereka meneruskan bermain dengan barang mainan, terutama bila sendirian, selain itu mereka merasa tertarik dengan permainan, olahraga, hobi, dan bentuk permainan matang lainnya.
d. Tahap Melamun
Semakin mendekati masa puber, mereka mulai kehilangan minat dalam permainan yang sebelumnya disenangi dan banyak menghabiskan waktunya dengan melamun. Melamun, yang meru-pakan ciri khas anak remaja, adalah saat berkorban, saat mereka menganggap dirinya tidak diperlukan dengan baik dan tidak di-mengerti oleh siapa pun.
Sesuai dengan berkembangnya usia anak, semakin menurun
pula ragam kegiatan permainan anak. Penurunan itu disebabkan oleh karena; anak yang lebih besar kurang memiliki waktu untuk bermain, dan mereka menghabiskannya dengan cara yang menim-bulkan kesenangan terbesar. Dengan meningkatnya lingkup perha-tian, mereka dapat memusatkan perhatiannya pada kegiatan ber-main yang lebih panjang ketimbang melompat dari satu perber-mainan ke permainan lain seperti yang dilakukan ketika mereka berusia le-bih muda. Anak-anak meninggalkan beberapa kegiatan karena telah bosan atau menganggap kekanak-kanakan. Misalnya, anak taman kanak-kanak kurang beminat pada mainan balok, karena bahan lainnya seperti cat air, lilin, krayon, dan kapur memberi sejumlah besar ragam kegiatan yang menarik.