• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ki Hajar Dewantara (1889-1959)

Dalam dokumen USIA DINI (Halaman 78-82)

SEJARAH DAN TEORI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

B. SEJARAH DAN TEORI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

9. Ki Hajar Dewantara (1889-1959)

luas, pengenalan dan pemahaman menggunakan metode observasi atau pengamatan, perencanaan, organisasi atau pengaturan, dan dokumentasi.

Dari perspektif Dewey, suatu pengalaman hanya dapat disebut

“pendidikan” jika memenuhi kriteria berikut: (1) Didasarkan pada minat anak-anak dan berkembang dari pengetahuan dan penga-laman mereka yang ada; (2) Mendukung pengembangan anak-anak;

(3) Membantu anak-anak mengembangkan keterampilan baru; (4) Menambah pemahaman anak mengenai dunia mereka; (5) Mem-persiapkan anak-anak untuk lebih siap beradaptasi dalam berbagai macam lingkungan (Robert B. Westbrook, John Dewey, http://www.

ibe.unesco.org, p8).

manu-sia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seim-bang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakbutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Ternyata pendidikan sampai sekarang ini ha-nya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang mem-perhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan manusia kurang humanis atau tidak manusiawi.

Ki Hajar Dewantara juga memandang pendidikan dari sisi so-sio-antropologis, kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah bahwa manusia itu berbudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Masa salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan me-gembangkan kabudayaannya. Persoalannya budaya dalam masyara-kat itu berbeda-beda. Dalam masalah kebudayaan berlaku pepatah:

“Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. “Manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau ia hidup dalam kebudayaannya sendiri”. Manusia yang seutuhnya antara lain dimengerti sebagai manusia itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang me-lingkupinya. Beliau mengubah namanya karena ingin menunjukkan sikapnya dalam melaksanakan pendidikan, yaitu dari satria pinan-dita menjadi paninpinan-dita satria artinya dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria, yang memper-siapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negara.

Bagi Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, baru kemudian me-nyediakan diri untuk menjasi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fung-sinya sebagai model atau figur keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Oleh karena itu, nama Ki Hajar Dewantara sendiri memiliki makna sebagai guru yang membelajarkan keba-ikan, keluhuran, dan keutamaan. Pendidik atau sang Hajar adalah seseorang yang memiliki kelebihan di bidang agama dan keiman-an, sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Modelnya adalah Kiai Semar (menjadi perantara antara Tuhan dan manusia, mewujudkan kehendak Tuhan di dunia ini). Sebagai pendidik yang

merupakan perantara Tuhan maka guru sejati sebenarnya adalah berwatak pandita juga, yaitu mampu menyampaikan kehendak Tu-han dan membawa keselamatan.

Secara garis besar, Ki Hajar Dewantara mengemukakan pendi-dikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan fisik seseorang. Ketiga elemen ini, menurutnya, tidak dapat di-pisahkan untuk mencapai kesempurnaan hidup. Dalam kaitan de-ngan pendidikan nasional, daya upaya memajukan ketiga elemen ini hendaknya berlandaskan garis hidup bangsanya atau berdasarkan kebudayaan bangsanya dan ditujukan untuk meningkatkan dera-jat serta kemerdekaan manusia sebagai anggota sebuah persatuan (bangsa). Kemerdekaan yang dimaksudkan di sini adalah berdiri sendiri (zelfstandig), tidak bergantung kepada orang lain (onafhan-kelijk), dan dapat mengatur dirinya sendiri (vrijheid, zelsbeschikking).

Lebih jauh, dalam hidup merdeka tersebut, Ki Hajar menekankan pentingnya harmoni yaitu suatu keadaan persatuan yang selaras.

Untuk mencapai ini, masing-masing anggota persatuan harus ingat bahwa ia hidup bersama-sama dengan orang lain yang juga berhak menuntut kemerdekaannya. Oleh karena itu, golongan yang berbe-da harus mengatasi perbeberbe-daan tersebut berbe-dan mementingkan peri-kehidupan bersama.

Manusia merdeka adalah tujuan pendidikan Taman Siswa. Mer-deka baik secara fisik, mental, dan kerohanian. Namun kemerde-kaan pribadi ini dibatasi oleh tertib damainya kehidupan bersama dan ini mendukung sikap-sikap seperti keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggung jawab, dan disiplin. Adapun maksud pendirian Taman Siswa adalah mem-bangun budayanya sendiri, jalan hidup sendiri dengan mengem-bangkan rasa kemerdekaan dalam hati setiap orang melalui media pndidikan yang berlandaskan pada aspek-aspek nasional. Landasan filosofisnya adalah nasionalistik dan universalistik. Nasionalistik maksudnya budaya nasional, bangsa merdeka dan independen baik secara politis, ekonomis, maupun spiritual. Universal dalam arti ber-dasar kepada hukum alam (natural law), segala sesuatu merupakan perwujudan dari kehendak Tuhan.

Prinsip dasarnya adalah kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagiaan, keadilan, dan kedamaian tumbuh da-lam diri (hati) manusia. Situasi yang dibutuhkan dada-lam dunia

pen-didikan adalah situasi yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cinta kasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Maka hak setiap individu hendaknya dihormati; pendi-dikan hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental dan spiritual; pendidikan hen-daknya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan dari orang kebanyakan; pendidikan hendaknya me-meperkaya setiap individu tetapi perbedaan masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan; pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri; setiap orang harus hidup sederhana dan guru hen-daknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan dirinya demi kebahagiaan para peserta didiknya. Peserta didik yang dihasilkan adalah peserta didik yang berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat yang berguna, dan ber-tanggung jawab atas kebahagiaan dirinya dan kesejahteraan orang lain.

a. Pendidikan Sistem Among

Metode yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among yaitu metode pembelajaran dan pendidikan yang berdasar-kan pada asih, asah, dan asuh (care and dedication based on love).

Yang dimaksud manusia mereka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusia-annya dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusi-aan setiap orang. Oleh karena itu bagi Ki Hajar Dewantara pepatah ini sangat tepat yaitu ”educate the head, teh hearth, and the hand”.

Selain itu pembelajaran yang diberikan kepada anak didik tidak bersifat paksaan bahkan perilaku memimpin kadang tidak perlu di-lakukan. Sebagai gantinya para pendidikan harus bersikap ngemong atau among. Pada guru seharusnya tidak membelajarkan pengeta-huan mengenai dunia secara dogmatik. Sebaliknya, mereka hanya ada dibelakang anak didik sambil memberi dorongan untuk maju, secara halus mengarahkan ke jalan yang benar dan mengawasi ka-lau-kalau anak didik menghadapi bahaya atau rintangan. Anak didik harus memiliki kebebasan untuk maju menurut karakter masing-masing dan untuk mengasah hati nuraninya.

Ki Hajar Dewantara beranggapan bahwa pendidikan harus dila-kukan melalui tiga lingkungan pendidikan (tripusat pendidikan),

ya-itu keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial (masyarakat). Keluarga merupakan pusat pendidikan pertama dan terpenting, karena sejak timbulnya adab manusia sampai sekarang keluarga selalu memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan anak. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, guru, dan masyarakat.

Sekolah sebagai pembantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga, sebab pendidikan yang pertama dan utama diperoleh anak di dalam keluarga.

b. Pandangan Ki Hajar Dewantara tentang Anak

Ki Hajar Dewantara banyak mempelajari ilmu pendidikan se-waktu beliau diasingkan di Belanda. Froebel dan Montessoeri me-rupakan tokoh yang paling sering dijadikan objek belajarnya. Ciri khas dari pendidikan anak menurut Ki Hajar Dewantara adalah budi pekerti dan sistem among.

Dalam dokumen USIA DINI (Halaman 78-82)