• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 SEJARAH DAN DINAMIKA SOSIAL EKONOMI

3.4 Bentrokan Mahasiswa NTT dengan Warga Tambakbayan :

Pada malam hari tanggal 9 Mei tahun 2012, warga padukuhan Tambakbayan dikejutkan dengan aksi anarkis sekelompok mahasiswa NTT. Pada tengah malam sekelompok mahasiswa timur, termasuk NTT tiba-tiba menyerang rumah warga, warung, warnet, mobil dan sepeda motor milik warga di kampung Glendongan padukuhan Tambakbayan. Merasa terancam, warga kemudian membalas aksi penyerangan itu maka terjadi perang batu antar kedua belah pihak. Bentrokan itu dinarasikan secara berbeda-beda baik dalam pemberitaan media

masa maupun cerita yang beredar di masyarakat. Ada tiga versi cerita kronologis dari media, mahasiswa dan masyarakat yang berbeda satu dengan yang lain.

Dalam harian Kompas, 9 Mei 2012 diberitakan bahwa bentrokan itu bermula dari pembacokan seorang penjaga parkir bernama Okta oleh seorang mahasiswa. Mendengar hal itu, warga mencari pelaku di kos-kosan. Ketua RW setempat mendamaikan kedua belah pihak. Namun pada pukul 22.00 seorang mahasiswa yang sedang mabuk memukul salah seorang warga yang hendak menuju warnet lalu terjadi perkelahian. Pada pukul 02.00 dini hari, ratusan mahasiswa mendatangi kampung Gledongan-Tambakbayan dan melakukan pengrusakan dan aksi anarkisme. Mereka melempari 24 rumah warga kampung,

membakar satu sepeda motor dan merusak empat buah mobil.91

Peristiwa ini diberitakan secara berbeda oleh Solopos pada tanggal 9 Mei 2012. Diberitakan Solopos bahwa bentrokan mahasiswa dan warga bermula dari percecokan masalah parkir antara dua orang mahasiswa dan dua orang warga. Percecokan ini kemudian didamaikan oleh kepala RT dan RW setempat. Pada pukul 22.00 salah seorang mahasiswa yang sedang mengonsumsi minuman keras di depan warnet memukul seorang warga kampung. Warga kampung mencari pelaku namun salah sasaran. Pada pukul 02.00 sekelompok mahasiswa menyerang rumah warga.92

Kedua berita di atas menampilakan kisah yang berbeda satu dengan yang lain. Pada Kompas diberitakan bahwa peristiwa bermula dari pembacokan salah seorang warga Tambakbayan, sedangkan pada Solopos diberitakan bahwa

91Berita, “Oknum Mahasiswa “Ngamuk” Puluhan Rumah Rusak, Kompas, 9 Mei 2012.

peristiwa bermula ketika seorang mahasiswa yang dalam keadaan mabuk memukul salah seorang warga. Kemudian terjadi perkelahian antara kelompok mahasiswa dan warga setempat. Pemberitaan kedua media ini sangat berbeda dengan apa yang ceritakan dari yang mewakili masyarakat dan mahasiswa.

Menurut pak Widodo, kepala dukuh Tambakbayan bahwa permasalahan bermula di tempat parkir SatriaNet. Seorang pengunjung warnet yakni salah seorang mahasiswa NTT tidak membayar uang parkir. Kemudian terjadi percecokan antara mahasiswa dan penjaga parkir. Mahasiswa yang menjadi korban tersebut menghubungi teman-temannya kemudian terjadilah bentrokan dengan warga. Hal senada disampaikan oleh pak Suparlan, ketua RW Tambakbayan. Menurut pak Suparlan bahwa pada kejadian pertama yakni pada pukul 20.00, telah diselesaikan oleh pihak RW. Sebagai ketua RW Tambakbayan, pak Suparlan diminta oleh warga untuk mendamaikan kedua belah pihak yang terlibat perkelahian. Namun tanpa diduga, pada pukul 02.00 terjadi penyerangan

oleh sekelompok mahasiswa terhadap warga kampung Glendongan

Tambakbayan. Pak Suparman, menilai bahwa penyerangan itu terjadi karena diprovokasi oleh kelompok tertentu. Sedangkan menurut pak Tomo, penyerangan yang melibatkan kelompok etnis itu terjadi karena dipengaruhi oleh rasa solidaritas yang kuat dikalangan mahasiswa NTT. Menurutnya etnis NTT memiliki rasa solidaritas sangat kuat meskipun itu dalam hal negatif.

Menurut Umbu, salah seorang mahasiswa yang berasal dari Sumba bahwa bentrokan itu bermula dari percecokan salah seorang mahasiswa yang berasal dari Sumba dengan penjaga parkir. Mahasiswa tersebut tidak membayar uang parkir. Para penjaga parkir kemudian mengundang teman-teman yang lain untuk mencari

mahasiswa tersebut. Para pemuda tidak menemukan mahasiswa yang dicari, lalu mengeroyok salah seorang mahasiswa yang berasal dari Sumba (NTT) yang sedang melewati jalan Babarsari. Mahasiswa yang menjadi korban itu melaporkan kepada kelompok mahasiswa NTT di Tambakbayan. Informasi tersebar diantara kelompok mahasiswa NTT melalui pesan singkat dan black berry mesenger (BBM). Pagi dini hari pada pukul 02.00, sekelompok mahasiswa NTT mencari para pelaku di tempat kejadian perkara di SatriNet. Ketika tiba di lokasi, mereka tidak menemukan para pelaku lalu melempari rumah warga dengan batu. Warga bangun lalu terjadilah bentrok antar kedua belah pihak.

Kisah lain diceritakan Juan yang terlibat pada peristiwa bentrokan

tersebut. Menurutnya peristiwa itu dilandasi perebutan lahan parkir di

Tambakbayan. Indikasi ini jelas, sebab Dedi (yang bergabung dalam kelompok preman NTT) yang menjadi provokator bagi mahasiswa NTT untuk terlibat dalam aksi penyerangan warga. Dedi diketahui menguasai beberapa lahan parkir di wilayah Tambakbayan dan Babarsari. Karena itulah ia memprovokasi mahasiswa demi mendapat lahan parkir di SatriaNet. Dari penuturan Juan ini

disimpulkan bahwa preman “kelompok NTT” hanya menumpang dan memakai

mahasiswa NTT demi kepentingan mereka.

Pasca peristiwa bentrokan hubungan mahasiswa NTT dan warga Tambakbayan semakin buruk dan tidak harmonis. Warga Tambakbayan merasa cemas dan takut menerima mahasiswa NTT. Demikian pula menimbulkan

keresahan bagi mahasiswa NTT. Sebagian mahasiswa menginap di wilayah lain untuk menghindari konflik susulan.93

Untuk mendamaikan konflik yang terjadi, Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) berinisiatif mengadakan rekonsiliasi antara mahasiswa NTT dan warga Tambakbayan. Rekonsiliasi dilaksanakan bertepatan dengan perayaan natal bersama FPUB pada tanggal 6 Januari 2013. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwana turut hadir pada perayaan itu. Dalam perayaan itu, perwakilan mahasiswa Indonesia Timur baik yang berasal dari NTT, Ambon, Papua mengucapkan janji di hadapan Sri Sultan untuk tidak melakukan aksi anarkis. Pada kesempatan itu Sri Sultan dengan tegas mengatakan bahwa mahasiswa luar daerah; NTT, Ambon, Papua tidak perlu menjadi orang Jogja tetapi cukup mengerti Jogja dengan identitasnya masing-masing.94 Sesudah peristiwa rekonsiliasi, situasi sosial di Tambakbayan kembali harmonis. Namun situasi ini tidak bertahan lama karena

dinodai dengan peristiwa pembunuhan salah seorang anggota Kopasus di Hugo’s

Cafe oleh empat orang NTT pada tanggal 19 Maret 2013.