BAB 4 STEREOTIP ETNIS, PRASANGKA DAN FRAMING
4.5 Menolak dan Menerima : Ambiguitas Relasi Warga Tambakbayan
Stereotip etnis, prasangka dan framing tidak serta merta mengesklusi mahasiswa NTT dari padukuhan Tambakbayan. Demikian pula meskipun adanya identifikasi seleksi penghuni kos berdasarkan syarat dan kriteria tertentu namun hal itu tidak bersifat kolektif. Warga Tambakbayan menanggapi kehadiran mahasiswa NTT secara berbeda-beda seturut parameter dan kepentingan masing-masing. Oleh karena itu ada sebagian warga yang menolak, ada pula warga yang terbuka menerima kehadiran mahasiswa NTT.
Penolakan warga bertolak dari tiga asumsi; pertama, warga merasa terancam. Warga merasa situasi lingkungan sedang terancam dengan adanya aksi
preman “kelompok NTT”, perkelahian mahasiswa dan bentrokan mahasiswa
dengan pemuda Tambakbayan. Situasi tersebut mengakibatkan respon penolakan warga terhadap mahasiswa NTT. Meskipun demikian, kenyataannya adanya ambigiutas sikap penolakan warga. Salah satu ambiguitas nampak dalam pernyataan kepala padukuhan, pak widodo. Menurutnya; mahasiswa NTT yang
berdomisili di Tambakbayan tidak terlibat perkelahian, mabuk dan keributan. Yang membuat keonaran dan keributan adalah mahasiswa yang tidak berdomisili
di Tambakbayan. Mereka hanya “mampir” dan bertamu di Tambakbayan
kemudian mabuk dan melakukan keonaraan. Oleh karena itu, pak Widodo menolak jika ada mahasiswa yang terlibat dalam keributan. Di sisi lain tetap bersikap terbuka terhadap mahasiswa NTT. Meskipun adanya klaim seperti itu namun sulit menolak kenyataan bahwa mahasiswa yang berdomisili di Tambakbayan yang kerap terlibat dalam keributan dan mabuk.
Kedua, penolakan akibat adanya kontradiksi falsafah hidup warga (rukun
dan damai) dengan realitas kehidupan mahasiswa yang berdomisili di Tambakbayan. Warga lokal merasa resah dengan pola kehidupan mahasiswa yang bebas sehingga melanggar tatanan norma setempat seperti mabuk mabukan, kumpul kebo bahkan hamil diluar pernikahan. Ada pula yang menilai mahasiswa NTT telah merusak suasana lingkungan Tambakbayan. Suasana padukuhan yang dulu nyaman, damai dan tertib kini telah dilanggar oleh mahasiswa NTT. Kegelisahan seperti ini dialami oleh pak Bintoro, seorang abdi dalem dan pemerhati budaya. Pak Bintoro bertolak dari prinsip falsafat Jawa bahwa hidup harus harmonis, selaras, serasi dan seimbang. Oleh karena itu segala perilaku yang tidak sesuai tata norma masyarakat dan mengganggu keharmonisan harus dihindari. Menurutnya dalam masyarakat Jawa terdapat dua prinsip dasar agar hidup harmonis yakni prinsip rukun dan prinsip hormat. Rukun dalam budaya Jawa berarti hidup selaras, serasi dan tentram. Kerukunan ini bisa terjalin apabila seluruh anggota masyarakat menghindari semua hal yang mengganggu
kerukunan. Karena itu konflik dan tata cara hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur harus dihindari.
Suatu kajian mengenai prinsip rukun orang Jawa pernah dilakukan oleh Mary Hawkins (1996), dalam artikelnya, “Is Rukun Dead?: Social Interpretation
of Social Change and Javanese Culture”. Menurutnya, fenomena rukun bagi orang
Jawa tidak hanya berarti harmonis kehidupan sosial tetapi egalitarian kehidupan ekonomi.119 Dalam konteks Tambakbayan falsafah rukun dan damai ini justru telah dilanggar berupa ketidakdilan ekonomi dimana usaha-usaha warga kurang kompetitif berhadapan dengan para migran. Menurut pak Suparlan, usaha warga lokal bisa bersaing apabila adanya kepekaan mahasiswa (konsumen) untuk berbelanja di warung penduduk lokal bukan ke orang Cina atau migran dari daerah lain. Ia mengeritik ketidakpekaan mahasiswa untuk memberi kontribusi ekonomi terhadap warga lokal Tambakbayan. Keluhan yang dilontarkan pak Suparlan bisa menjadi contoh bagaimana warga sedang gelisah tidak adanya egalitarian dalam perekonomian di Tambakbayan.
Ketiga, berkaitan dengan point pertama dan kedua, penolakan terjadi
karena perkembangan wilayah tidak sesuai dengan harapan dan ekspektasi warga Tambakbayan. Selain ancaman dan kecemasan terhadap pelanggaran nilai-nilai luhur, warga resah terhadap perkembangan wilayah yang menyebabkan kepadatan, berkurangnya sumber air, kemacetan dan semakin sempit ruang publik di wilayah Tambakbayan. Berkurangnya ruang publik dikarenakan adanya privatisasi di Tambakbayan baik oleh pihak institusi pendidikan maupun oleh pusat-pusat hiburan dan usaha lainnya. Hal ini dapat dilihat dari semakin
119
berkurangnya lahan sawah dan tanah kering serta semakin bertambah luas lahan bagunan pekarangan.
Selain beberapa pandangan di atas, sebagian warga Tambakbayan bersikap terbuka dan positif terhadap mahasiswa NTT. Sebagaimana pengakuan pak Tomo, ibu Bundari, mas Defri dan pak Lanto. Meskipun adanya peristiwa kekerasan yang melibatkan mahasiswa NTT maupun perilaku negatif tetapi mereka tetap bersikap terbuka dan menerima mahasiswa NTT. Menurut pak Tomo bahwa masyarakat yang menolak mahasiswa NTT karena mereka tidak membangun relasi yang baik dan belum pergi ke daerah NTT. Ia mencontohkan, beberapakali ia berlibur di Kupang dan Flores karena ada kenalan mahasiswa yang pernah tinggal di Tambakbayan. Dari perjalanan ke NTT dan pengalaman diterima oleh para mantan mahasiswa tersebut membuatnya sangat terbuka dan positif memandang mahasiswa NTT. Mengenai keributan dan berbagai tingkah laku mahasiswa NTT dinilainya sebagai perilaku yang pada umumnya terjadi pada kaum muda yang sedang mencari jati diri. Perilaku seperti itu hanya terjadi pada sebagian kecil mahasiswa dan tidak dapat digeneralisasikan untuk seluruh mahasiswa NTT.
Pandangan serupa disampaikan oleh Ibu Bundari. Ia merasa cemas apabila terjadi konflik tetapi tetap menerima mahasiswa NTT untuk menghuni kos dan kontrakannya. Menurutnya perilaku-perilaku negatif hanya terjadi pada sebagian kecil mahasiswa. Oleh karena itu meskipun ada perasaan dilematis, ia tetap menerima mahasiswa NTT karena baginya mahasiswa sebagai sumber ekonomi. Demikian pula penuturan mas Agus berserta istrinya, meskipun ada rasa ketidaksukaan tetapi tetap terbuka dan menjalin relasi dengan mahasiswa NTT
karena merekalah konsumen warungnya. Demikian juga sikap pak Sujarmin terhadap mahasiswa NTT. Bentrokan di Tambakbayan membuatnya merasa takut dan menjaga jarak terhadap mahasiswa NTT. Namun sikapnya itu bersifat sementara sebab sesudah konflik relasinya dengan mahasiswa NTT kembali terjalin dangan baik. Ia tetap membangun komunikasi dengan mahasiswa NTT karena merekalah yang menyewa peralatan sound systemnya.
Meskipun adanya ambiguitas relasi antara kedua pihak, beberapa kelompok mahasiswa NTT berinisiatif membangun komunikasi dengan etnis lain maupun dengan warga Tambakbayan dan Yogyakarta pada umumnya. Salah satu kelompok yang menginisiasi membangun dan membuka komunikasi dengan warga adalah organisasi Keluarga Mahasiswa Katolik Sumba (KMKS). Dalam rangka perayaan ulang tahun organisasi, KMKS mengadakan pentas budaya dan seni dengan mengundang mahasiswa etnis-etnis lain dari berbagai daerah dan tokoh-tokoh masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin silahturahmi dan membangun relasi dengan warga maupun dengan mahasiswa dari daerah lain. Hal ini sebagaimana ditegaskan Allport (1958) bahwa cara terbaik untuk mengurangi ketegangan dan permusuhan di antara kelompok-kelompok adalah dengan
membuat mereka saling melakukan kontak dengan berbagai macam cara.120
4.6 Kesimpulan
Melalui pembahasan di atas diperlihatkan bahwa penolakan mahasiswa NTT tidak hanya dipengaruhi oleh sikap anarkis dan tindakan kekerasan segelintir orang NTT tetapi ditentukan pula oleh berbagai stereotip, prasangka dan framing
120
di padukuhan Tambakbayan. Tiga kerangka analisis Brown (1995) telah memetakan asal muasal stereotip mahasiswa NTT di kalangan warga Tambakbayan yakni bertolak dari latar belakang sosio kultural yang kemudian disosialisasikan melalui media tutur mapun media cetak dan televisi. Stereotip ini menjadi cara termudah mendefenisikan kelompok etnis tertentu dengan menarik kesimpulan berdasarkan ciri-ciri fisik atau karakter yang melekat pada kelompok yang dimaksud. Stereotip berikutnya berdasarkan realitas sosial dalam interaksi antar kelompok etnis. Pengalaman warga menyaksikan sikap perilaku mahasiswa NTT yang tidak sesuai tatanan kultur setempat menjadi lahan subur terbentuknya stereotip dan prasangka. Stereotip selanjutnya berdasarkan peranan yang merepresentasi sifat-sifat khas kelompok tertentu. Dalam konteks penelitian ini
stereotip peranan difokuskan pada persoalan preman “kelompok NTT” yang kerap
melakukan tindakan anarkis dan kekerasan. Ketiga asal muasal stereotip ini menjadi rujukan pendefenisian warga terhadap mahasiswa NTT.
Selain itu ketidakmampuan mahasiswa menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan serta propaganda media yang menframing mahasiswa NTT sebagai pembuat keonaran, mabuk, nakal, tidak tertib dan kurang menghargai tata krama masyarakat setempat menimbulkan jarak dan kesenjangan antara kedua belah pihak. Propaganda media menempatkan perbedaan-perbedaan identitas dan etnis
sebagai orang lain, musuh, “outgroup”. Dalam situasi ini perbedaan budaya,
tingkah laku, perbedaan cara tutur dilihat sebagai citra negatif. Hal ini mengakibatkan kesenjangan dan segregasi antara warga dan mahasiswa NTT.
Bertolak dari asumsi-asumsi di atas, seseorang atau warga kemudian mengidentifikasi kelompoknya dengan kelompok-kelompok etnis yang lain.
Dalam konteks ini identifikasi dimaksudkan sebagai pembatas interaksi satu terhadap yang lain. Pada umumnya identifikasi berdasarkan ciri-ciri fisik (fenotipikal), dimana kelompok mahasiswa NTT memiliki ciri yang unik seperti rambut keriting, kulit gelap, karakter suara dan cara berbicara yang berbeda dengan mahasiswa etnis lainnya. Ciri fisik yang unik menjadi rujukan warga dalam membangun interaksi. Hal ini terjadi karena ciri-ciri fisik (hitam, keriting) dan karakter yang khas disandingkan dengan pola perilaku yang nakal, mabuk dan lain sebagainya. Dampak dari cara pandang ini mengakibatkan gejala diskriminatif dan penolakan di Tambakbayan.
Meskipun demikian fenomena penolakan mahasiswa NTT bukan gejala kolektif namun bersifat personal. Respon warga terhadap sikap dan perilaku mahasiswa NTT berbeda-beda. Sebagian warga menolak dengan pertimbangan bahwa kehadiran mahasiswa NTT mengancam ketertiban, kenyamanan dan tata norma warga Tambakbayan. Di sisi lain sebagian warga tetap terbuka menerima mahasiswa NTT untuk tinggal di padukuhan Tambakbayan. Perbedaan sikap itu
dimungkinkan karena warga Tambakbayan memiliki parameter dan