• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 SEJARAH DAN DINAMIKA SOSIAL EKONOMI

2.6 Kesimpulan

Di atas peneliti telah menjelaskan realitas perubahan ruang fisik dan sosial di Tambakbayan sebagai dampak dari pembangunan institusi pendidikan dan pusat bisnis. Konsekwensi dari pembangunan ini antara lain, pertama; beralihfungsinya lahan dan ruang-ruang publik yang dulu digunakan sebagai lapangan olah raga, sawah, tambak ikan, bercocok tanam dan beternak menjadi lahan bisnis, usaha dan juga lokasi pendidikan. Peralihan fungsi lahan menimbulkan problem antara lain privatisasi ruang-ruang terbuka oleh para pemilik modal (bukan warga Tambakbayan) dan juga institusi pendidikan. Berbagai tempat usaha, institusi pendidikan, kos eksklusif, asrama mahasiswa, rumah kontrakan dan perkantoran mulai berdiri di wilayah Tambakbayan. Selain para pemilik modal, para migran juga menyewa lahan-lahan dari warga lokal untuk membuka usaha. Dengan demikian warga Tambakbayan kehilangan ruang publik yang dulu digunakan untuk kegiatan-kegiatan bersama seperti olah raga dan bercocok tanam. Dalam perkembangannya ruang publik diganti dengan kafe maupun sarana hiburan di kawasan Tambakbayan. Namun ruang publik modern ini tidak mampu mengakomodasi semua lapisan masyarakat Tambakbayan. Hukum ekonomi kapitalistik berlaku di ruang-ruang publik yang baru, karena itu hanya kelas menengahlah yang mampu mengakses dan menikmatinya.

Konsekwensi kedua adalah terjadi pergeseran mata pencaharian sebagian warga yang sebelumnya sebagai petani sawah, kini menjadi pelaku usaha-usaha kecil. Ekspektasi warga sebelumnya cukup tinggi terhadap perkembangan di Tambakbayan. Maka sebagian warga menjual lahan-lahan kosong dan area persawahan kepada para pengusaha dan institusi pendidikan. Mereka kemudian

mencari peruntungan dengan membuka usaha-usaha rumahan dan beberapa pekerjaan domestik lainnya. Warga yang memiliki cukup modal bertarung di bidang usaha rumahan seperti membuka usaha depot air minum, warung makan dan bensin eceran. Sedangkan warga yang tidak memiliki cukup modal bekerja sebagai tukang sapu di kos-kosan, penjaga parkir, pelayan minimarket dan sebagiannya mencari pekerjaan di kota-kota lain. Dalam perjalanan waktu penduduk migran turut membuka usaha rumahan; orang Sunda membuka warung burjo, orang Madura membuka warung soto, orang Kuningan menjual sate keliling, orang Cina mengembangkan usaha depot air minum. Hal ini menimbulkan persaingan dalam merebut pasar dan konsumen.

Konsekwensi ketiga adalah keanekaragaman kelompok etnis yang menetap di Tambakbayan. Warga Tambakbayan pada tahun 1970an berciri homogen, yakni semua warga pada umumnya berasal dari etnis Jawa. Namun sejak adanya pembangunan dan migrasi perantau ke wilayah Tambakbayan maka terjadi perjumpaan etnis-etnis dari berbagai pelosok Nusantara.

Konsekwensi keempat adalah pembangunan dan arus migran yang begitu pesat ke wilayah Tambakbayan mengakibatkan beberapa dampak antara lain kepadatan penduduk, kebisingan, hilangnya ruang-ruang publik, berkurangnya sumber air dan perebutan peluang ekonomi. Akumulasi dari beragam persoalan itu maka terjadi konflik dan kecemburuan sosial. Konflik paling nampak adalah ketidaksukaan warga lokal terhadap para pemilik modal yang membuka usaha-usaha skala besar di Tambakbayan. Usaha para pemilik modal mempunyai managemen yang baik, mempunyai karyawan dan membuka layanan 24 jam. Dengan demikian, usaha para pemilik modal lebih tertarik bagi konsemen. Di sisi

lain, usaha warga tidak mempunyai kemampuan untuk bersaing. Usaha-usaha warga yang pada umumnya berupa warung-warung kecil kehilangan konsumen. Hal inilah yang menimbulkan konflik dan kecemburuan warga terhadap para pemilik modal. Sebagian warga Tambakbayan menilai bahwa para pemilik modal (yang bukan warga setempat) hanya menjadikan Tambakbayan sebagai tambang uang. Para pemilik modal itu pula dinilai kurang berkontribusi terhadap pembangunan sarana dan fasilitas umum di padukuhan Tambakbayan.

BAB 3

KONFLIK, PREMANISME DAN KEKERASAN DI TAMBAKBAYAN

Pada bab ini saya mesdeskripsikan konflik, kekerasan serta sejarah munculnya premanisme di Tambakbayan. Bab ini dibagi lima sub bab yang menjelaskan secara spesifik persoalan dalam penelitian ini yakni; konflik, premanisme di Tambakbayan, perkelahian mahasiswa di Tambakbayan, bentrokan mahasiswa NTT dengan warga Tambakbayan serta upaya-upaya mencegah terjadinya konflik di Tambakbayan.

Sebelum mendeskripsikan lebih jauh terlebih dahulu saya menjelaskan pokok-pokok persoalan yang dibahas dalam masing-masing sub bab. Pertama; persoalan konflik di Tambakbayan. Pada sub ini akan mendeskripsikan konflik-konflik yang dialami warga ketika berhadapan dengan perkembangan pembangunan dan arus migrasi di Tambakbayan. Kedua; premanisme dan sejarah

kemunculannya di Tambakbayan. Premanisme yang dimaksud adalah “kelompok NTT” yang bekerja sebagai penjaga keamanan di kafe, karaoke dan beberapa

pusat bisnis di wilayah Tambakbayan, Babarsari dan sepanjang ruas jalan Solo. Selain itu akan menjelaskan pula persoalan perebutan lahan parkir antara preman

“kelompok NTT” dengan kelompok pemuda Tambakbayan yang berakibat pada

ketidaknyamanan warga Tambakbayan. Ketiga; perkelahian antar etnis mahasiswa serta dampaknya bagi warga Tambakbayan. Pada sub ini akan membahas secara khusus mengenai perkelahian, permusuhan dan dendam antar

kelompok etnis mahasiswa NTT, Ambon dan Papua yang terjadi di Tambakbayan. Di sini akan dijelaskan pula sumber-sumber pemicu konflik, eskalasi konflik serta strategi-strategi aktor dalam menggerakan kelompok etnisnya untuk terlibat konflik. Selain itu akan dijelaskan pula latar belakang historis munculnya konflik antar etnis mahasiswa NTT serta mediasi-mediasi untuk mendamaikan kelompok yang berkonflik. Keempat; bentrokan mahasiswa NTT dan warga Tambakbayan yang terjadi pada 9 Mei 2012. Peristiwa ini penting didiskusikan karena pasca kejadiannya hubungan antara warga Tambakbayan dan mahasiswa NTT menjadi rumit dan cukup menegangkan. Uraian ini akan menjelaskan latar belakang terjadinya bentrokan, aktor-aktor yang terlibat serta mediasi tokoh-tokoh masyarakat dan sesepuh NTT untuk mendamaikan warga dan mahasiswa NTT. Kelima; upaya pencegahan konflik di Tambakbayan. Pada bagian ini akan mendeskripsikan upaya-upaya tokoh masyarakat dan sesepuh NTT untuk mendamaikan dan mencegah terjadinya konflik di Tambakbayan.