BAB 4 STEREOTIP ETNIS, PRASANGKA DAN FRAMING
4.4 Identifikasi Etnis dan Seleksi Penghuni Kos
Analisis dari perspektif stereotip etnis, seleksi penghuni kos berdasarkan ciri-ciri fisik (fenotipikal) bisa dipahami sebagai konsekwensi dari wacana-wacana yang tersebar melalui framing media maupun narasi-narasi warga yang melahirkan intepretasi subyektif di kalangan warga Tambakbayan tentang peringai mahasiswa NTT. Framing media diperkuat dengan kekerasaan parsial yang dilakukan sekelompok orang NTT yang kemudian dijadikan sebagai gambaran untuk menilai dan menggeneralisasi orang NTT. Demikian pula aksi
kelompok “preman NTT” diwacanakan dengan isu premanisme yang menyasar
etnis NTT. Lalu muncul narasi ke-NTT-an yang preman dan menakutkan. Narasi-narasi itu membangun sistem makna yang mempengaruhi tindakan (sikap) warga Tambakbayan seperti adanya seleksi penghuni kos berdasarkan etnis.
Lalu bagaimana warga Tambakbayan membedakan mahasiswa NTT dan bukan NTT? Pada umumnya proses identifikasi melalui dua cara yakni, pertama; melalui penampilan fisik seperti warna kulit, bentuk rambut dan raut muka yang
menjadi penanda identitas kelompok etnis tertentu. Ibu Bundari menuturkan pengalamannya yang mengidentifikasi mahasiswa NTT berdasarkan ciri fisik biologis, anatomi tubuh dan dialek atau cara berkomunikasi. Demikian pula pengalaman ibu Budi dan mas Defri bahwa mahasiswa NTT pada umumnya berkulit coklat atau gelap dan rambut keriting yang berbeda dengan mahasiswa etnis lainnya. Perbedaan ciri fisik dan cara komunikasi ini membuat warga mudah mengidentifikasi mahasiswa NTT dan mahasiswa dari daerah lain. Namun ada pula yang mengenal mahasiswa NTT melalui seperangkat identitas etnik114 yang melekat pada diri seseorang. Identitas etnik ditampilkan melalui cara hidup, cara berkomunikasi, tatanan perilaku dan simbol-simbol.115 Identitas etnik menjadi suatu kekhasan pada masing-masing kelompok etnik tertentu. Identitas etnik yang paling nampak dalam interaksi warga dan mahasiswa NTT adalah cara berkomunikasi. Menurut pak Bintoro bahwa cara berbicara bahasa Indonesia mahasiswa NTT selalu terburu-buru (tergesa-gesa) sedangkan mahasiswa Jawa, Sumatera dan Kalimantan selalu perlahan-lahan. Dari pengalamannya ia dapat membedakan mahasiswa NTT dan bukan NTT dari cara berkomunikasi.
Identifikasi dengan berpatokan pada ciri fisik biologis (hitam, keriting)) maupun melalui identitas etnik menempatkan mahasiswa NTT berada dalam posisi sulit. Sebab perbedaan ciri-ciri fisik (fenotipikal) kemudian disandingkan dengan perilaku kehidupan keseharian. Ciri fisik biologis maupun identitas etnik menjadi standar penilaian moral dan tingkah laku mahasiswa NTT. Penilaian sikap dan klasifikasi kelompok mahasiswa berdasarkan ciri fisik biologis
114
Harold Isaaccs, menguarai secara detail faktor-faktor identitas etnis dari nama, bahasa, sejarah, asal-usul, kepercayaan dan kebangsaan.
115
mengakibatkan tersingkirnya kelompok mahasiswa NTT. Di sisi lain terjadi pereduksian dimana ciri-ciri fisik yang hitam, kriting, cara berbahasa Indonesia yang khas NTT dengan sejumlah stereotip misalnya tukang rusuh, mabuk maupun tidak disiplin. Kulit hitam, rambut keriting diasosiasikan dengan perilaku nakal, curang, suka membuat keributan. Kisah Krisantus yang dinarasikan sebelumnya dimana ia ditolak oleh pemilik kos menjadi contoh bagaimana ciri fisik berpengaruh terhadap interaksi dengan warga Tambakbayan. Beberapa pemilik rumah menolaknya hanya dengan melihat ciri fisik biologisnya (kulit hitam, rambut keriting), padahal mereka (tuan rumah) belum menanyakan asal daerahnya.
Penilaian berdasarkan ciri fisik tidak selalu benar dan tidak mempunyai korelasi yang valid antara ciri fisik dan sikap perilaku. Penilaian generalisir ini ditolak oleh responden mahasiswa NTT. Menurut responden mahasiswa NTT bahwa tidak semua mahasiswa NTT yang memiliki ciri-ciri fisik yang sama (hitam, keriting) mempunyai perilaku nakal, rusuh dan mabuk-mabukan. Ada banyak mahasiswa NTT yang berperilaku baik, sopan dan bisa menyesuaikan diri dengan budaya setempat.
Selain pereduksian ciri fisik dengan pola tingkah laku, dalam penelitian ini
ditemukan juga pereduksian makna “wong timur atau orang timur”. Di Tambakbayan dikenal istilah “orang Timur”. Pada awalnya istilah ini menujukan
asal usul yakni dari Indonesia bagian timur, seperti Papua, Ambon, Sulawesi dan
NTT. Tetapi beberapa tahun terakhir istilah “wong timur” mendapat pemaknaan baru. “Wong timur” atau “Orang timur” diidentik dengan citra negatif seperti
Perubahan pemaknaan juga terjadi pada nama “Tambakbayan”. Pengalaman
peneliti ketika bercerita dengan beberapa driver gojek maupun dalam obloran
ringan di warung makan, menunjukan konotasi “Tambakbayan” sebagai daerah
merah, daerah preman dan rawan konflik.
Dalam analisisnya, Harold Isaacs (1993) menguraikan bahwa proses identifikasi etnis adalah untuk kepentingan suatu kelompok identitas untuk menjaga dan mengamankan identitas dengan tujuan untuk kepentingan politis. Isaacs (1993) menunjukan bahwa proses identifikasi selalu diwarnai dengan ketegangan hubungan antar etnis hingga terjadi krisis dan konflik sosial. Hal ini dimungkinkan sebab menurut Isaacs (1993), seorang individu adalah milik kelompok dasarnya dalam artian identitasnya mengakar dalam dan dari sebuah komunitas etnik.116 Senada dengan analisis Isaacs, dalam konteks Tambakbayan identifikasi etnis penghuni kos bermaksud menciptakan keamanan dan ketertiban. Pengalaman warga menyaksikan konflik dan bentrokan yang terjadi di wilayah Tambakbayan membuat mereka merasa terancam. Atas dasar pertimbangan itulah warga menyeleksi dan menolak kelompok etnik tertentu dalam hal ini adalah mahasiswa NTT. Kisah Roni dan beberapa mahasiswa yang berasal dari Sumba dimana mereka diminta oleh warga untuk pindah ke tempat lain. Permintaan tersebut dikarenakan Roni dan kawan-kawan dinilai tidak mampu menjaga ketertiban dan kenyamanan lingkungan.
Identifikasi etnik mempengaruhi cara pandang warga untuk membedakan
kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, antara kelompok “kami” dan
116
Harold Isaacs, Pemujaan Terhadap Kelompok Etnis : Identitas Kelompok dan
kelompok “mereka”. Implikasi sosialnya adalah membangun kesadaran untuk
memisahkan dan mengkotak-kotakan masyarakat berdasarkan batasan-batasan fisik, warna kulit, etnis, suku dan agama. Ciri-ciri pembeda lebih merupakan alat di dalam eksklusi sosial sehingga bukan etnis itu sendiri yang menjadi acuan, melainkan atribut-atribut yang terkait dengan stereotip dan prasangka masa lalu. Atribut tertentu digunakan untuk menegaskan perbedaan atau untuk pengingkaran sosial (social exclusion).117 Oleh sebab itu identifikasi etnis berdasarkan ciri fisik dan identitas etnik dalam seleksi penghuni kos menunjukan adanya gejala diskrimintaif dan eksklusivisme di Tambakbayan.
Dalam konteks seperti inilah, Hall mendefinisikan bahwa persoalan identitas selalu terkait dengan proses identifikasi dan kesejarahannya.118 Lebih lanjut, Hall melihat identitas sebagai hasil dari praktek wacana dan konstruksi sosial. Misalnya terminologi kata “black” bukan lagi mengacu pada persoalan pigmentasi melainkan hasil dari sejarah dan pergolakan politik kolonial. Identitas
seperti inilah yang disebut Hall sebagai “new ethnicity”. Gagasan etnisitas baru di
atas sekiranya searah dengan gagasan dan konstruksi warga Tambakbayan terhadap mahasiswa NTT. Proses framing, prasangka, stereotip dan identifikasi
menjadi bagian dari pembentukan “new ethnicity”. Gagasan etnisitas baru ini
hanya sebatas pendefinisian yang berdampak pada penolakan mahasiswa NTT dari Tambakbayan.
117
I. Abdullah, Op. Cit; 85.
118
Selain kepada mahasiswa NTT, warga melakukan identifikasi terhadap mahasiswa dari daerah lain seperti Jawa, Kalimantan, Sumatera dan Bali. Identifikasi itu pula berpatokan pada ciri fisik biologis dan identitas etnik. Menurut sebagian warga, kelompok mahasiswa Jawa, Kalimantan, Sumatera, Bali memiliki ciri fisik biologis yang berbeda; kulit terang, rambut lurus dan sangat halus dalam berkomunikasi. Selain itu warga memandang positif terhadap kelompok mahasiswa etnik Jawa, Kalimantan, Sumatera dan Bali yakni bersikap sopan, jujur, rapih, ramah, religius dan tertib. Hal ini membuat mereka lebih mudah diterima dan berinteraksi dengan warga Tambakbayan.
obrolan dengan pak Widodo dikatakan bahwa ia bisa membedakan perantau berdasarkan jenis usaha, cara berbicara, dialek dan karakter. Menurutnya orang Sunda diidentik dengan warung burjo, orang Kuningan penjual sate keliling, orang Madura pedagang soto Madura sedangkan orang Surabaya diidentik dengan warung mie. Identifikasi para migran lebih pada ciri pengenal identitas dan kekhasan jenis usaha para . Berbeda dengan mahasiswa NTT, identifikasi terhadap migran yang berasal dari Surakarta, Madura, Sunda, Temanggung tidak menimbukan penolakan dan penyingkiran. Sebaliknya, migran yang berasal dari kota-kota sekitar wilayah Yogyakarta lebih mudah diterima oleh warga Tambakbayan.
Identifikasi etnis dalam proses seleksi penghuni kos menimbulkan kekecewaan dikalangan mahasiswa NTT. Adapun strategi yang ditempuh beberapa mahasiswa agar mendapat tempat hunian. Pertama; mencari lokasi di luar wilayah Tambakbayan seperti wilayah Maguwo dan beberapa wilayah lain yang masih terbuka terhadap kehadiran mahasiswa NTT. Kedua; mengakali
pemilik kos sebagaimana pengalaman Ambros mahasiswa Adonara. Ia memperkenalkan diri sebagai orang Kalimantan dengan maksud agar diterima oleh pemilik kos. Ketiga; meyakinkan pemilik kos bahwa mereka tidak melakukan keributan, tidak mengkonsumsi minuman keras dan taat aturan padukuhan. Keempat; mengikuti saudara atau teman yang terlebih dahulu menyewa kos atau kontrakan. Selain itu ada juga mahasiswa yang mencari tempat hunian melalui pihak gereja Katolik Babarsari.
4.5 Menolak dan Menerima : Ambiguitas Relasi Warga Tambakbayan dan