• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 SEJARAH DAN DINAMIKA SOSIAL EKONOMI

3.3 Perkelahian Mahasiswa NTT, Ambon dan Papua di

Konflik antar etnis mahasiswa NTT di Yogyakarta mulai muncul pada tahun 2000an atau masa sesudah reformasi 1998.81 Konflik tersebut berupa perkelahian, kekerasan fisik, ancaman maupun saling dendam antar kelompok etnis mahasiswa NTT, Ambon dan Papua. Deskripsi konflik ini dihimpun dari kisah-kisah mahasiswa NTT dan disarikan pula dari penuturan para tokoh masyarakat Tambakbayan dan sesepuh NTT. Narasi-narasi konflik ini dihimpun sejak tahun 2012 dengan asumsi bahwa konflik tersebut membawa dampak keresahan dan mengganggu kenyamanan warga Tambakbayan.

Pada bulan Juli tahun 2012 terjadi perkelahian antara mahasiswa Flores dan mahasiswa Kupang di Tambakbayan. Menurut keterangan yang diberikan oleh Mateus, salah seorang mahasiswa Flores bahwa perkelahian itu terjadi bermula dari acara syukuran wisuda salah seorang mahasiswa Flores di “Bumi

Perkemahan” yang terletak di Babarsari. Pada malam syukuran, beberapa

mahasiswa Flores mengkonsumsi minuman keras. Kemudian salah seorang mahasiswa Flores yang dalam keadaan mabuk melakukan kekerasan fisik terhadap salah seorang mahasiswa Kupang. Keesokan harinya korban melaporkan kepada teman-temannya yang berasal dari Kupang. Kemudian

80DetikNews, “Hindari Gesekan, Masyarkat Indonesia Timur dan warga Yogyakarta Gelar

Dialog”, diakses pada 18 September 2017.

sekelompok mahasiswa Kupang melalukan sweeping dan penyerangan terhadap kos-kosan mahasiswa Flores di Tambakbayan. Penyerangan itu mengakibatkan dua orang mahasiswa Flores mengalami luka-luka.82

Penyerangan mahasiswa Kupang memancing reaksi dan kemarahan mahasiswa Flores. Para senior mahasiswa Flores kemudian merencanakan

penyerangan balasan terhadap mahasiswa Kupang. Informasi rencana

penyerangan disebar kepada mahasiswa Flores di Tambakbayan dan Babarsari. Kemudian dibawah koordinasi para senior, mahasiswa Flores melakukan

sweeping terhadap kos dan kontrakan mahasiswa Kupang di sekitar wilayah

padukuhan Tambakbayan. Dalam sweeping tersebut, empat orang mahasiswa Kupang menjadi korban kekerasan mahasiswa Flores.

Perkelahian dan penyerangan yang saling membalas itu mengakibatkan ketegangan dan rasa was-was bagi kedua belah pihak dan mengganggu ketenangan warga Tambakbayan. Pak Suparlan yang ketika itu menjabat sebagai ketua RW bersama pengurus padukuhan Tambakbayan dan tokoh masyarakat berinisiatif mendamaikan kedua belah pihak. Acara perdamaian itu dilaksanakan di Balai Padukuhan Tambakbayan.

Pada pertengahan September 2013 terjadi konflik mahasiswa Sumba dan mahasiswa Alor. Konflik bermula di kafe Obor (kini telah tutup) yang terletak di Babarsari. Sekelompok mahasiswa Alor dalam kondisi mabuk melakukan kekerasan fisik terhadap salah seorang mahasiswa Sumba. Peristiwa itu memancing amarah mahasiswa Sumba. Carlos, salah seorang mahasiswa Sumba

menuturkan, aksi penyerangan balasan mahasiswa Sumba dikoordinir oleh mahasiswa senior. Mereka mengajak mahasiswa Sumba yang lain untuk terlibat dalam aksi penyerangan. Kemudian mahasiswa Sumba melakukan sweeping mencari pelaku di daerah Babarsari dan Tambakbayan. Peristiwa itu

mengakibatkan dua orang mahasiswa Alor mengalami luka-luka.83 Persoalan ini

kemudian didamaikan oleh para senior dan sesepuh dari daerah masing-masing.

Pada tahun 2014 perkelahian kembali terjadi antara mahasiswa Sumba dan mahasiswa Alor. Sekelompok mahasiswa Sumba melakukan kekerasan fisik terhadap salah seorang mahasiswa Alor di jalan Solo. Untuk mencegah agar tidak terjadi kekerasan dan konflik yang berkepanjangan, para pengurus organisasi mahasiswa Sumba dan sesepuh berupaya mendamaikan kedua belah pihak. Acara perdamaian itu diselenggarakan di Wisma Cendana (milik mahasiswa Sumba) di Jalan Wulung, Pringwulung. Dalam acara tersebut masing-masing perwakilan mengungkapkan permohonan maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi perkelahian diantara mereka.84

Pada akhir tahun 2014, terjadi konflik mahasiswa Sumba dan mahasiswa Ambon. Kejadiannya berawal dari kegiatan ospek di salah satu perguruan tinggi di kawasan Tambakbayan. Salah seorang mahasiswa Sumba yang menjadi panitia ospek berseteru dengan seorang mahasiswa baru yang berasal dari Ambon. Kemudian kejadian ini berlanjut di luar lingkungan kampus. Mahasiswa Ambon yang terlibat dalam perseteruan itu melaporkan kejadian itu kepada teman-temannya yang berasal dari Ambon. Informasi itu memancing amarah di kalangan

83Wawancara Carlos, mahasiswa asal Sumba-NTT, pada 2 September 2017.

mahasiswa Ambon. Lalu mereka mencari mahasiswa Sumba dan melakukan kekerasan fisik terhadapnya.

Merasa tidak puas dengan kejadian yang menimpa dirinya, mahasiswa Sumba yang menjadi korban pemukulan itu melaporkan kepada teman-temannya. Informasi pun menyebar ke mahasiswa Sumba, kemudian sekelompok mahasiswa Sumba berkumpul dan mengadakan rencana penyerangan terhadap mahasiswa Ambon. Menurut Hans, salah seorang saksi mata bahwa sekelompok mahasiswa Sumba melakukan pertemuan dan persiapan penyerangan di salah satu rumah kontrakan di Tambakbayan. Pada tengah malam sekelompok mahasiswa Sumba bergerak menuju asrama mahasiswa Ambon yang terletak di jalan Gejayan. Ketika berada di lokasi tujuan, mahasiswa Sumba berhadapan dengan aparat keamanan yang menjaga asrama Ambon lalu terjadi aksi saling dorong. Dalam peristiwa itu aparat keamanan menangkap 15 orang mahasiswa Sumba karena membawa senjata tajam. Pada malam itu juga, beberapa mahasiswa Sumba berinisiatif memohon bantuan para sesepuh dan salah seorang pastor untuk membangun komunikasi dan negosiasi dengan polsek Depok agar membebaskan mahasiswa Sumba. Setelah negosiasi dan membuat surat pernyataan, 15 orang mahasiswa Sumba akhirnya dibebaskan. Pada malam itu juga, pihak polsek Depok berinisiatif mendamaikan kelompok Sumba dan Ambon.

Meskipun telah ada perdamaian keduanya, dendam kesumat antar kedua kelompok ini terus terjadi. Pada awal bulan September tahun 2015, konflik kembali terjadi dimana sekelompok mahasiswa Ambon melakukan penyerangan terhadap mahasiswa Sumba di padukuhan Tambakbayan 08. Dalam peyerangan itu, mahasiswa Ambon melakukan kekerasan fisik dan penganiayaan terhadap

beberapa mahasiswa Sumba.85 Persoalan ini kemudian ditangani pihak keamanan dan padukuhan sekaligus untuk meredam tidak terjadinya konflik susulan.

Pada tanggal 31 Desember 2014, terjadi penyerangan dan penganiayaan terhadap mahasiswa Flores-NTT oleh kelompok mahasiswa Papua di kampung Celeban, Umbulharjo Yogyakarta.86 Diduga peristiwa itu terjadi karena adanya selisih paham antara salah seorang mahasiswa Flores dan Papua. Peristiwa itu memicu reaksi mahasiswa Flores dan Papua yang tinggal di sekitar wilayah padukuhan Tambakbayan. Kedua kubu mahasiswa memanas dan terjadi aksi perang batu. Menurut ibu Bundari, warga yang berada di sekitar lokasi kejadian mengunsi ke tempat lain. Melihat situasi yang tidak kondusif, warga dan pihak padukuhan Tambakbayan meminta bantuan aparat keamanan untuk menenangkan situasi tersebut. Sesudah situasi kondusif, pengurus RT dan padukuhan Tambakbayan melakukan pendekatan terhadap kelompok mahasiswa Flores dan Papua. Beberapa perwakilan mahasiswa Flores dan Papua berserta pihak RW dan padukuhan melakukan tatap muka dan kedua kelompok mengadakan acara perdamaian untuk saling memaafkan.

Konflik antar etnis mahasiswa di atas dilatarbelangki beberapa persoalan antara lain; pertama, perubahan tempat tinggal mahasiswa dari pola membaur ke pola etnis. Kedua; banyaknya organisasi kedaerahan atau etnis mahasiswa NTT di Yogyakarta. Menurut penuturan Jon Keban, ketua paguyuban NTT di Yogyakarta bahwa pada tahun 1980 hingga 1990an, kehidupan mahasiswa NTT baik dari

85

Wawancara Roni, salah satu penghuni kontrakan yang menjadi sasaran peyerbuan mahasiswa Ambon, pada Juni 2016

86Harian Kedaulatan Rakyat, “Mahasiswa Papua Aniaya Mahasiswa Flores di Yogyakarta”,

Flores, Sumba dan Timor membaur satu sama lain. Interaksi antar mahasiswa NTT sangat cair dan harmonis, demikian pula relasi masyarakat dengan mahasiswa NTT cukup damai dan nyaman. Ketika itu mahasiswa NTT bernaung dalam satu organisasi Flobamora yang sebagai wadah untuk mempertemukan dan mempersatukan mahasiswa dari daerah-daerah di NTT (Flores, Sumba dan Timor). Organisasi Flobamora berperan mendampingi dan memberi pengarahan secara intensif kepada mahasiswa NTT agar menjaga kesatuan antar etnis maupun menjaga keharmonisan dengan masyarakat Yogyakarta.

Pak John melihat gejala konflik antar mahasiswa NTT mulai muncul pada tahun 2000an atau pada pasca reformasi. Pada awal tahun 2000an mahasiswa NTT di Yogyakarta mulai berpencar dan tidak aktif dalam berorganisasi. Masing-masing etnik mulai memisahkan diri dari organisasi Flobamora. Hal ini ditenggarai oleh tingginya perkembangan jumlah mahasiswa yang menyebabkan terbentuknya pola-pola pemilihan tempat hunian berbasis etnis dan kelompok kesukuan. Sejak itu mulai terbentuk organisasi-organisasi berdasarkan etnis, kabupaten, kecamatan maupun alumni sekolah. Faktor lain yang turut mendukung pembentukan organisasi kedaerahan adalah pemekaran daerah di NTT. Menurut pak Inyo Fernandez, salah seorang akademisi dan sesepuh NTT bahwa pasca Orde Baru beberapa daerah di NTT memisahkan diri dari kabupaten induk. Pemisahan daerah ini turut mempengaruhi pemisahan kelompok mahasiswa ke masing-masing etnis dan daerah di Yogyakarta.87 Sejak itu mahasiswa NTT tidak lagi

87Wawancara Jon Keban, Ketua Paguyuban Keluarga NTT di Yogyakarta, pada 20 September 2017.

bernaung dalam organisasi Flobamora tetapi pada masing-masing membentuk organisasi kedaerahan.

Fenomena lain pada awal tahun 2000an adalah mulai adanya pemusatan wilayah tempat tinggal mahasiswa NTT di Yogyakarta. Jika pada tahun 1960an hingga awal tahun 1990-an mahasiswa NTT tersebar di wilayah-wilayah Yogyakarta namun hal ini berbeda dengan tahun 2000an. Pada awal tahun 2000an muncul fenomena pengkonsentrasian wilayah tempat tinggal mahasiswa NTT ke beberapa wilayah antara lain Tambakbayan, Babarsari, Maguwo, Janti dan Timoho.88

Pada tahun 1960an hingga 1990an, pemilihan lokasi tempat tinggal mahasiswa NTT membaur dengan masyarakat Yogyakarta dengan tujuan agar mahasiswa dapat belajar budaya dan berinteraksi dengan masyarakat Yogyakarta. Selain itu diharapkan agar masyarakat dan mahasiswa NTT dapat menjalin dialog kultural untuk saling mengenal kebudayaan masing-masing. Di sisi lain masyarakat Yogyakarta ketika itu sangat terbuka menerima mahasiswa dari luar daerah. Sebagaimana penuturan Budi Susanto bahwa pada masa itu spirit Yogyakarta sebagai Indonesia mini sungguh-sungguh dihayati warga masyarakat. Menurutnya, warga sangat terbuka menerima mahasiswa dari seluruh pelosok Nusantara tanpa membeda-bedakan. Ia memandang mahasiswa luar daerah termasuk mahasiswa NTT sebagai anak bangsa yang butuh tempat untuk belajar. Oleh karena itu sejak tahun 1989 ia menerima mahasiswa luar daerah menempati kos di rumahnya.

88Wawancara Jon Keban, Ketua Paguyuban Keluarga NTT di Yogyakarta, pada 20 September 2017

Hal ini pula disampaikan oleh pak Tomo, tokoh masyarakat Tambakbayan. Ia menyadari bahwa Yogyakarta sebagai Indonesia mini yang harus merangkul segala keberagaman etnis dari pelosok nusantara. Oleh karena itu, ia menghimbau agar warga terbuka menerima mahasiswa luar daerah tanpa membeda-bedakan. Ketika itu terjadi interaksi yang harmonis antara warga Tambakbayan dan mahasiswa perantau.89 Mahasiswa membaur dan berinteraksi dengan warga Tambakbayan tanpa ada gesekan maupun konflik.

Informan lain pak Lanto Lajadjawa yang berasal dari Flores-NTT, yang sejak tahun 1992 menetap di Tambakbayan. Menurutnya pada tahun 1990an, mahasiswa NTT membaur dengan masyarakat Tambakbayan. Mahasiswa terlibat aktif dalam berbagai kegiatan lingkungan seperti kerja bakti atau pertandingan-pertandingan menjelang hari raya kemerdekaan. Demikian pula, dalam lingkungan gereja, mahasiswa NTT berperan aktif dalam kegiatan ibadah pada hari minggu maupun hari-hari besar keagamaan. Mahasiswa NTT juga terlibat aktif dalam menjaga keamanan gereja, menjaga parkir serta mengurus kebersihan lingkungan gereja. Namun sejak tahun 2000an ada gejala peningkatan jumlah mahasiswa yang disertai dengan perubahan sikap mahasiswa NTT di Tambakbayan. Pada awal tahun 1990an jumlah mahasiswa NTT relatif lebih kecil sehingga mudah dikontrol dan diarahkan terlibat dalam kegiatan-kegiatan positif. Namun sejak tahun 2000an jumlah mahasiswa mengalami peningkatan sehingga sulit mengontrol kehidupan dan perilaku mahasiswa NTT di Tambakbayan. Pada tahun 2000an itu pula mulai muncul gejala konflik dengan warga maupun dengan sesama etnis mahasiswa. Melihat fenomena-fenomena itu

pak Lanto tergerak untuk merangkul dan membina mahasiswa NTT di Tambakbayan dan Babarsari. Pada tahun 2013, ia melakukan pendekatan dan mengajak mahasiswa NTT untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan gereja maupun kegiatan sosial. Menurutnya salah satu cara meminimalisir gejala konflik dan mengontrol mahasiswa NTT adalah dengan melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan gereja maupun kegiatan-kegiatan sosial.90

Pak Lanto juga melihat bahwa organisasi-organisasi kedaerahan mahasiswa tidak mampu mengontrol perilaku para anggotanya. Organisasi kedaerahan bukan lagi menjadi wadah untuk saling menegur dan menasehati satu sama lain, melainkan diisi dengan hal-hal yang kurang akademis. Ia menilai bahwa organisasi kedaerahan atau etnis tidak mempunyai agenda yang jelas dan tidak mempunyai kontribusi dalam menangani atau mengontrol sesama etnis.

3.4 Bentrokan Mahasiswa NTT dengan Warga Tambakbayan : Peristiwa