• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk-bentuk Strategi Nafkah Sesudah Perluasan

BAB VI STRATEGI NAFKAH MASYARAKAT ADAT

6.4 Bentuk-bentuk Strategi Nafkah Rumahtangga Masyarakat Adat

6.4.2 Bentuk-bentuk Strategi Nafkah Sesudah Perluasan

Sesudah adanya perluasan TNGHS melalui SK Menteri Kehutanan No. 175/Kpts-II/2003 akses masyarakat kasepuhan menjadi terbatas, masyarakat masih bisa menggarap lahan untuk huma, sawah, dan kebun asalkan masyarakat tidak menebang kayu (talun) di lahan garapannya, meskipun hanya untuk memperbaiki rumah, selain itu tidak diperbolehkan memperluas lahan, dan tidak merambah hutan. Dalam hal pemenuhan kebutuhan, sektor pertanian masih menjadi tumpuan hidup masyarakat kasepuhan meskipun tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat kasepuhan untuk memiliki mata pencaharian selain sektor pertanian. Melalui strategi nafkah yang dilakukan oleh rumahtangga, masyarakat kasepuhan dapat bertahan hidup dengan segala keterbatasan akses lahan garapan akibat perluasan TNGHS. Gambaran mengenai bentuk-bentuk strategi nafkah yang dilakukan oleh 30 rumahtangga masyarakat kasepuhan di Kampung Cimapag sesudah adanya perluasan TNGH (lihat Gambar 5. )

Sumber: Data Primer, 2010

Gambar 5. Persentase Bentuk-bentuk Strategi Nafkah Rumahtangga Masyarakat Adat Kasepuhan Sinar Resmi di Kampung Cimapag Sesudah Perluasan TNGHS

Gambar 5. Menunjukkan sesudah adanya perluasan TNGHS menunjukkan bahwa tidak terdapat rumahtangga yang melakukan bentuk rekayasa sumber nafkah pertanian. Bentuk pola nafkah ganda, masih menjadi bentuk strategi yang paling banyak dilakukan oleh rumahtangga yaitu sebanyak 63,33%. Bentuk strategi nafkah migrasi dilakukan rumahtangga masyarakat kasepuhan sebanyak 6,66%. Kombinasi bentuk strategi nafkah terdapat empat jenis yaitu rekayasa sumber nafkah pertanian dan pola nafkah ganda dilakukan oleh rumahtangga sebanyak 3,33%, rekayasa sumber nafkah pertanian dan migrasi sebanyak 3,33%, pola nafkah ganda dan migrasi sebanyak 20% , dan ketiga bentuk strategi nafkah sebanyak 3,33%. Berdasarkan Gambar 4. maupun Gambar 5. terlihat bahwa sejauh ini masyarakat kasepuhan tidak menunjukkan perubahan dalam bentuk- bentuk strategi nafkah. Rumahtangga masyarakat kasepuhan baik sebelum maupun sesudah perluasan TNGHS memiliki berbagai upaya alternatif untuk memenuhi kebutuhan mereka, tanpa dipengaruhi dengan adanya keterbatasan akses lahan garapan di kawasan TNGHS.

Gambaran mengenai bentuk-bentuk strategi nafkah yang dilakukan oleh rumahtangga masyarakat Kasepuhan Sinar Resmi di Kampung Cimapag sesudah

63.33% 6.66% 3.33% 3.33% 20% 3.33%

Persentase Bentuk-bentuk Strategi Nafkah Sesudah Perluasan TNGHS

Pola nafkah ganda Migrasi

Rekayasa sumber nafkah pertanian dan Pola nafkah ganda Rekayasa sumber nafkah pertanian dan Migrasi Pola nafkah ganda dan Migrasi Ketiga bentuk strategi nafkah

adanya TNGHS akan dijelaskan dalam contoh-contoh kasus dari tiap-tiap bentuk strategi nafkah yakni sebagai berikut:

1. Pola Nafkah Ganda

Pola nafkah ganda merupakan bentuk strategi nafkah yang banyak diterapkan oleh rumahtangga masyarakat Kasepuhan Sinar Resmi baik itu sebelum perluasan maupun sesudah perluasan. Adanya pola nafkah ganda ini, rumahtangga memiliki keragaman nafkah selain menjadi petani sebagai pekerjaan utama, yang mana hasil dari pola nafkah ganda ini akan menambah penghasilan bagi rumahtangga. Nafkah ganda yang dilakukan oleh rumahtangga seperti menyadap aren, buruh tani, membuat rumah, ojek, dan lain sebagainya. Contoh-contoh kasus rumahtangga yang melakukan pola nafkah ganda sebagai berikut:

Rumahtangga Bapak AR (45 tahun). Bapak AR selain menjadi petani, beliau juga memiliki pekerjaan sambilan sebagai penyadap aren dan menggembalakan kerbau orang lain. Menyadap aren, banyak dilakukan oleh rumahtangga masyarakat kasepuhan di Kampung Cimapag. Hasil air aren ini, bisa untuk diminum dan bisa diolah menjadi gula semut. Gula semut ini biasanya akan dijual ke tengkulak. Pekerjaan gembala kerbau merupakan pekerjaan menggembalakan kerbau milik orang lain. Hasil yang beliau dapatkan seperti sistem maro atau bagi hasil. Biasanya bila kerbau yang digembalakan beranak misalnya beranak dua, maka Bapak AR akan mendapatkan anak kerbau satu ekor dan satu lagi untuk pemilik kerbau.

Rumahtangga Bapak SP (47 tahun). Beliau bekerja sebagai buruh tani, biasanya dilakukan bersama istrinya dengan upah sekitar 30.000 per

hari. Selain menjadi buruh tani, Bapak SP juga memiliki kelompok

kesenian khas Sunda yang biasanya digunakan untuk acara kasepuhan maupun acara hajatan di kampung sekitar. Dalam kelompok kesenian ini, putri-putri Bapak SP diikutsertakan karena mereka merupakan penari dari kelompok kesenian ini. Hasil yang didapatkan, tergantung dari ada tidaknya panggilan. Biasanya kelompok kesenian Bapak SP mengisi hiburan dalam kegiatan kasepuhan setiap sebulan sekali yaitu Opatbelasna yang dilakukan setiap malam tanggal 14 dalam bulan Islam.

Rumahtangga Bapak JH (47 tahun). Pekerjaan beliau adalah

menyadap aren, sebagai tambahan penghasilan. Selain itu Bapak JH juga bekerja membangun rumah. Rumah yang dimiliki oleh masyarakat kasepuhan sifatnya tidak permanen, sehingga terkadang setiap tahunnya bagian bilik (atap) dan dinding rumah perlu untuk diganti. Bapak JH biasanya diminta oleh rumahtangga lain untuk dibuatkan bilik dan dinding rumah. Bilik ini dianyam dan diatasnya menggunakan ijuk. Upah dari membangun rumah, biasanya sekitar 50.000 rupiah.

Rumahtangga Bapak ZN (39 tahun). Bapak ZN bekerja sebagai petani dan ustadz di Kampung Cimapag. Selain bertani di lahan orang lain (Bapak ZN tidak memiliki lahan garapan), beliau memiliki pekerjaan sebagai ustadz. Pendapatan dari ustadz diperoleh dalam bentuk padi yang masih berupa ikat (pocong) dari ibu-ibu yang menghadiri pengajian tiap minggunya.

2. Migrasi

Migrasi yang dilakukan oleh rumahtangga masyarakat kasepuhan pada umumnya bersifat tidak menetap. Kegiatan migrasi sebagian besar dilakukan oleh kepala rumahtangga ketika sedang menunggu musim panen. Kegiatan migrasi yang dilakukan diantaranya adalah menjadi buruh bangunan, penambang emas, nelayan, dan lain-lain. Migrasi yang dilakukan oleh rumahtangga masyarakat kasepuhan di Kampung Cimapag biasanya dilakukan bersama-sama dengan rumahtangga lain. Contoh kasus rumahtangga yang melakukan migrasi adalah sebagai berikut:

Rumahtangga Bapak AP (32 tahun). Sambil menunggu musim panen, dulu Bapak AP pernah bekerja sebagai penambang emas dan buruh bangunan di Jakarta. Kalau untuk sekarang, beliau lebih sering menjadi buruh bangunan di luar kota, itu juga terkadang dilakukan kalau memang ada proyek.

Rumahtangga Bapak TG (45 tahun). Bapak IT memiliki lahan

garapan sebesar satu patok (400 m2). Selain menjadi petani, bapak

IT juga memiliki pekerjaan sambilan sebagai nelayan di Pelabuhan Ratu. Pekerjaan menjadi nelayan biasany dilakukan seminggu sekali waktu musim barat. Bapak IT mengungkapkan “kalau masalah hasil mah nggak tentu neng, kadang semaleman saya di laut nggak dapet ikan sama sekali, kadang juga dapet tapi sekali dapet paling ya 15.000 rupiah.”

3. Kombinasi Bentuk Strategi Nafkah

Bentuk strategi nafkah ini dilakukan dengan mengkombinasikan ketiga bentuk strategi nafkah baik rekayasa sumber nafkah pertanian, pola nafkah ganda, dan migrasi. Menurut Sconnes dalam Masithoh (2005), dalam melakukan strategi nafkah, rumahtangga petani bisa menerapkan salah satu kegiatan atau melakukan kombinasi dari ketiga bentuk strategi nafkah untuk memperoleh strategi yang paling efektif agar bisa bertahan hidup baik saat krisis maupun saat kondisi normal. Berikut adalah kombinasi bentuk strategi nafkah yang dilakukan oleh rumahtangga masyarakat kasepuhan:

Rumahtangga Bapak AD (62 tahun). Sebelum adanya perluasan TNGHS Bapak AD memiliki pekerjaan sambilan menyadap aren. Sesudah adanya perluasan TNGHS, beliau tetap konsisten dengan kegiatan menyadap aren dan sekarang beliau juga memanfaatkan tenaga orang lain untuk membantu kegiatan pertanian di lahan garapannya.

b. Rekayasa sumber nafkah pertanian dan Migrasi

Rumahtangga Bapak HR (35 tahun). Bapak HR merupakan

rumahtangga yang memanfaatkan tenaga kerja lain untuk menggarap lahan pertaniannya. Selain menjadi petani, pekerjaan beliau adalah menjadi pedagang konveksi di Jakarta. Beliau pergi ke Jakarta secara berkala setiap 3 bulan sekali. Pekerjaan menjadi pedagang ini sudah beliau jalankan selama lebih dari 10 tahun.

c. Pola Nafkah Ganda dan Migrasi

Rumahtangga bapak UD (26 tahun). Sesudah perluasan TNGHS, rumahtangga Bapak UD melakukan bentuk pola nafkah ganda dan migrasi. Bapak UD memiliki pekerjaan menyadap aren dan kadang juga menjadi tukang ojek. Menyadap aren merupakan aktivitas yang banyak ditemukan di rumahtangga masyarakat Kampung Cimapag. Untuk kegiatan migrasi, biasanya beliau bersama dengan tetangganya bersama-sama menjadi penambang emas di Cibanteng, Lebak, Banten yang dilakukan sekitar seminggu sekali. Aktivitas menambang emas yang dilakukan oleh Bapak UD sifatnya adalah legal karena ada ijin dari Dinas Kehutanan yang terkait. Selain itu, beliau juga menjadi buruh bangunan apabila ada proyek. Kegiatan migrasi yang dilakukan oleh rumahtangga masyarakat kasepuhan biasanya pada bulan Maret-April.

d. Ketiga Bentuk Strategi Nafkah

Rumahtangga Bapak DN (45 tahun). Bapak DN dalam menggarap lahannya memanfaatkan tenaga orang lain, karena lahan garapan beliau cukup luas. Selain menjadi petani, beliau juga memiliki pekerjaan berdagang ikan di Kampung Cimapag. Ketika menunggu musim panen, beliau bekerja menjadi buruh bangunan di Banten (apabila memang ada proyek).