• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VIII PENUTUP

8.2 Saran

Adanya tumpang tindih peraturan mengenai pengelolaan sumberdaya alam dapat mempengaruhi keberlanjutan kehidupan masyarakat kasepuhan. Masyarakat kasepuhan sendiri hanya menginginkan akses sumberdaya alam khususnya lahan garapan karena bagi masyarakat yang terpenting adalah haknya diakui dan diijinkan untuk menggarap lahan yang diyakini sebagai tanah leluhur. Lahan garapan sendiri merupakan sumber nafkah utama bagi masyarakat untuk tetap bertahan hidup. Apabila akses dikurangi atau dibatasi, maka akan timbul ketidakamanan dan ketakutan dalam melakukan kegiatan pertanian. Tidak bisa dipungkiri aturan adat yang dimiliki oleh masyarakat kasepuhan masih menjadi kekuatan bagi masyarakat untuk tetap bertahan dalam melakukan kegiatan pertanian. Sedangkan, TNGHS juga memiliki aturan yang diharapkan dapat dipahami dan dipatuhi oleh berbagai pihak termasuk masyarakat kasepuhan. Oleh karena itu, peneliti memberikan saran hendaknya dalam pengelolaan sumberdaya alam yang melibatkan masyarakat kasepuhan di dalamnya perlu adanya pengakuan hukum adat yang sudah ada sebagai salah satu upaya untuk menghindari adanya tumpang tindih peraturan yang sampai sekarang masih berlanjut. Hal ini dilakukan demi keberlanjutan kawasan konservasi dan kesejahteraan masyararakat kasepuhan. 

                     

DAFTAR PUSTAKA

Adiwibowo, Soeryo. 2007. Ekologi Manusia. Bogor : Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

. 2010. Materi Kuliah Pengelolaan Kolaboratif Sumberdaya

Alam. Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat,

Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Tidak Dipublikasikan. Ansaka, Dina. 2006. Kearifan Masyarakat Adat dalam Tradisi Konservasi di

Cagar Alam Cyclops. Tesis. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian

Bogor. Tidak Dipublikasikan.

Dharmawan, Arya Hadi. 2001. Farm Household Livelihood Strategies and

Socioeconomic Changes in Rural Indonesia. Kiel: Wissenschaftsverlag

Vauk Kiel KG.

Ellis, Frank. 2000. Rural Livelihood and Diversity in Developing Countries. New York: Oxford University.

Ependi, Engken Parid. 2004. Analisis Sumberdaya Nafkah (Livehood Resource) dan Strategi Nafkah (Livehood Strategies) pada Dua Komunitas : Studi Kasus Komunitas Desa Banturujeg, Kecamatan Banturujeg, Kabupaten Majalengka dan Komunitas Desa Cisarua, Kecamatan Nanggung,

Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu

Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Tidak Dipublikasikan.

Galudra, Gamma. 2003. Kasepuhan and Their Sosioculture Interaction to The

Forest. ICRAF Southeast Asia Working Paper, No. 2003-3. Bogor:

ICRAF SEA.

Harwell, E.E dan Lynch, OJ. 2002. Whose Resources? Whose Common Good?: Towards a New Paradigm of Environmental Justice and the National

Interest in Indonesia. Washington DC : Center for International

Environmental Law.

Indaryanti, Yoyoh. 2004. Sistem Ekonomi Rumahtangga Komunitas Lokal di DAS

Citanduy : Livelihood Structure Approach. Project Working Paper. Bogor:

Pusat StudiPembangunan, Institut Pertanian Bogor.

Indra dan Subarudi.2009. Proses Pembelajaran dari Pembentukan Manajemen

Kolaboratif di Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara.

http://www.coraltrianglecenter.org/downloads/NRM%20LessonsLearned ID.pdf. Diakses pada tanggal 20 September 2010.

Kobayashi, et al. 2007. Menyingkap Kabut Gunung Halimun Salak. Sukabumi: BTNGHS.

Lestari, Dewi. 2005. Strategi Nafkah RumahTangga Nelayan Pantai Utara dan

Pantai Selatan Jawa. (Studi Kasus Komunitas Nelayan Banyuwonto, Jawa

Tengah dan Komunitas Nelayan Cipatuguran, Jawa Barat. Skripsi.

Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Tidak Dipublikasikan.

Lembanasari, Ajeng. 2006. Evaluasi Model Kampung Konservasi di Taman

Nasional Gunung Halimun-Salak. Skripsi. Departemen Konservasi

Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Tidak Dipublikasikan.

Masithoh, Arifah Dewi. 2005. Analisis Strategi Nafkah Rumahtangga Petani Perkebunan Rakyat. (Studi Kajian Perbandingan : Komunitas Petani Perkebunan Teh Ciguha Jawa Barat dan Komunitas Petani Perkebunan

Tebu Puri Jawa Timur. Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial dan

Ekonomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Tidak Dipublikasikan.

Meinzen-Dick, Ruth dan Anna Knox. 2001. Collective Action, property Rights, and Devolution of Natural Resource Management: A Conceptual

Framework. Plenary Session Papers. Hal 41-73.

Ningrat, Andya Ayu. 2004. Karakteristik Lanskap Tradisional, di Halimun Selatan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya: Sebuah Studi pda Kampung Kasepuhan di Kesatuan Adat Banten Kidul, Kampung Sinar Resmi, Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi,

Jawa Barat. Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas

Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Tidak Dipublikasikan.

Nurhaeni, Agustina. 2009. Implikasi Penunjukkan Areal Konservasi terhadap Pengelolaan Hutan dan Konservasi. (Studi Kasus Taman Nasional Gunung-Halimun Salak Desa Cirompang, Kecamatan Lobak, Kabupaten

Lebak, Jawa Barat. Skripsi. Departemen Sains Komunikasi dan

Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Tidak Dipublikasikan.

Peluso, NL. 2003. A Theory of Acces. Feature Rural Socioloy. Vol.02. No.02, 30 Juni 2003. USA: Rural Sociological Society. Hal. 153-181.

Pusaka. 2008. Ketegangan Antara Kewajiban Negara dan Realitas Kebutuhan, Studi Kasus Kasepuhan Sinar Resmi dan Kasepuhan Citorek. http://www.scribd.com/doc/36105858/Riset-Hak-Masyarakat-Adat-Kasus- Kasepuhan-Naskah-Final. Diakses pada tanggal 25 September 2010.

Rachmawati, et al. 2009. Pengetahuan Lokal Masyarakat Adat Kasepuhan: Adaptasi

Konflik dan Dinamik Sosio Ekologis.

http://jurnalsodality.ipb.ac.id/jurnalpdf/ edisi5-2.pdf. Diakses pada tanggal 20 September 2010.

RMI. 2004. Nyoreang Alam Ka Tukang Nyawang Anu Bakal Datang, Penelusuran Pergulatan di Kawasan Halimun, Jawa Barat-Banten. Bogor: Rimbawan Muda Indonesia.

Suporahardjo. 2005. Manajemen Kolaborasi: Memahami Pluralisme Membangun

Konsensus. Bogor: Pustaka LATIN.

Supriyanto, Bambang dan Willy Ekariyono. 2007. 5 Strategi Rekonstruksi dan

Sosial Konservasi di TNGHS. Sukabumi: BTNGHS.

TNGHS. 2007. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Periode 2007-2026. Sukabumi: TNGHS.

Widiyanto. 2009. Strategi Nafkah Rumahtangga Petani Tembakau di Lereng Gunung Sumbing (Studi Kasus di Desa Wonotirto dan Campursari

Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung). Tesis. Sekolah Pascasarjana,

Institut Pertanian Bogor. Tidak Dipublikasikan.

Peraturan Menteri Kehutanan No. 19 Tahun 2004

http://www.tnghalimun.go.id diakses pada tanggal 1 Juli 2010

http://www.iges.or.jpenpdfactivity_masyarakat_adat_dan_REDD.pdf diaksespada

tanggal 28 Juli 2010

http://www.ecopedial.wordpress.com/2006/01/12/pengelolaan-kolaboratif collaborative-management/ diakses pada tanggal 20 September 2010

http://www.kolaboratif.org/component-option.com pengelolaan/ diakses pada