STRATEGI ADAPTASI DALAM BERTAHAN HIDUP DI KAMPUNG NELAYAN SEBERANG
3. Kelompok Arisan (Jula-Jula)
4.2.2 Bentuk dan Pola Preferensi Tempat Tinggal
Kampung nelayan seberang merupakan sebuah wilayah yang unik yang memiliki dua wilayah administrasi dalam satu kawasan tanpa adanya batasan yang jelas antar kedua wilayah admnistrasi tersebut. Hal ini tentu memberikan pilihan bagi warga di kampung nelayan seberang yang sebagian besar merupakan pendatang dari berbagai daerah untuk memilih wilayah administrasi yang mereka inginkan. Tentunya pilihan-pilihan yang diambil oleh warga kampung nelayan seberang yang tinggal disana penuh dengan pertimbangan. Hal ini merupakan bentuk strategi adaptasi bertahan hidup yang dilakukan oleh warga kampung nelayan seberang. Dari hasil wawancara dan pengamatan yang dilakukan selama melakukan penelitian di kampung nelayan seberang didapat sebuah fakta yang menarik dimana kota medan merupakan pilihan terbanyak yang dipilih warga kampung nelayan seberang untuk menjadi wilayah administrasi mereka. Artinya, warga yang memilih kota medan sebagai wilayah administrasi terdaftar sebagai warga kota medan yang dapat dibuktikan dengan kepemilikan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga dari kota medan.
92
Banyaknya warga kampung nelayan seberang yang memilih kota medan sebagai wilayah administrasi dibandingkan dengan kabupaten deli serdang diakui oleh kepala dusun palu kurau kab. Deli serdang yaitu pak hermansyah (34 Tahun):
”Warga palu kurau (Kab. Deli Serdang) di sini (kampung nelayan seberang) cuma sekitar 40-an KK (kepala keluarga), lainnya sekitar 700-an KK orang medan semua. Sebenarnya banyak juga orang dari deli serdang sama langkat disini (Kampung Nelayan Seberang), tapi banyak yang pindah KK”.(wawancara tanggal 20 Mei 2015)
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan selama penelitian, terdapat dua alasan yang dapat disimpulkan dibalik pemilihan kota medan sebagai wilayah administrasi yaitu sebagai berikut :
Pertama, Kota Medan merupakan wilayah terdekat dari kampung nelayan seberang dibandingkan dengan wilayah kabupaten deli serdang maupun kabupaten langkat tepatnya mencakup wilayah administrasi Medan Belawan. Sehingga cukup menggunakan alat transportasi berupa kapal motor yang hanya sekitar 5 menit untuk sampai di wilayah Medan Belawan.
Kedua, banyaknya berbagai jenis bantuan yang didapat dari kota medan sebagai ibukota provinsi Sumatera Utara baik bantuan dalam hal pendidikan, kesehatan, maupun bantuan berupa sembako dan lain sebagainya. Tentunya sebagai ibukota provinsi, Kota Medan mendapatkan lebih banyak perhatian baik dari segi pendanaan APBD yang mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan dengan Kabupaten/kota lainnya maupun dari segi lainnya.
93 BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Kampung nelayan seberang merupakan suatu wilayah yang unik karena secara administratif berada di wilayah administrasi Kabupaten Deli Serdang. Namun berdasarkan fakta di lapangan, sebagian besar masyarakat yang tinggal di kampung nelayan secara legal formal terdaftar sebagai penduduk Kota Medan. Legalitas mereka ditandai dengan kepemilikan Kartu Tanda Penduduk yang dikeluarkan oleh pemerintah Kota Medan. Hanya sebagian kecil masyarakat yang merupakan warga yang berasal dari Kabupaten Deli Serdang yang ditandai dengan kepemilikan Kartu Tanda Penduduk yang dikeluarkan oleh pemerintahan Kabupaten Deli Serdang. Dengan adanya kepemilikan Kartu Tanda Penduduk yang berbeda antar masyarakat yang tinggal di Kampung Nelayan Seberang menjadikan wilayah ini terbagi ke dalam dua wilayah administrasi yaitu wilayah administrasi Kabupaten Deli Serdang dan wilayah administrasi Kota Medan. Hal ini dibuktikan dengan adanya dusun empat belas dari Desa Palu Kurau Kecamatan Hamparan Perak yang termasuk wilayah administrasi Kabupaten Deli Serdang dan Lingkungan XII Kelurahan Belawan I yang termasuk wilayah administrasi dari Kota Medan yang tepatnya termasuk dalam Kecamatan Medan Belawan.
Penduduk kampung nelayan seberang moyoritas berprofesi sebagai nelayan tradisional. Hal ini tidak terlepas dari lokasi kampung nelayan yang berada di muara sungai batang serai yang juga berbatasan langsung dengan laut belawan yang merupakan jalur transportasi laut di pelabuhan belawan Kota
94
Medan. Kondisi penghasilan nelayan yang diliputi ketidakpastian menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan hidup rumah tangga nelayan. Sehingga hal ini disikapi dengan melakukan berbagai adaptasi untuk mempertahankan hidup
Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah yang diwujudkan dalam dua pertanyaan. Pertama, Bagaimana kondisi sistem sosial dan budaya masyarakat di Kampung Nelayan Seberang dikaitkan dengan kondisi kemiskinan yang ada. Kedua, Bagaimana bentuk-bentuk strategi adaptasi yang dilakukan oleh keluarga nelayan dalam menghadapi perubahan hidup terkait dengan pilihan mereka untuk tinggal dan menetap di Kampung Nelayan Seberang.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemiskinan yang terjadi di kampung nelayan merupakan akibat dari ketidakmampuan individu nelayan dalam mengakumulasi basis kekuasaan sosial yang ada di masyarakat. Basis kekuasaan sosial itu berupa : pertama, kekuasaan atas aset berupa tanah yang bukan merupakan hak milik akan tetapi hanya berupa hak pakai yang sewaktu-waktu dapat diminta kembali oleh pemiliknya yang dalam hal ini yaitu Pelabuhan Belawan. Sehingga hal tersebut menyebabkan ketidakpastian tempat tinggal di masa mendatang. Kedua, sumber keuangan yang tidak menentu dari hasil melaut yang penuh ketidakpastian. Hal ini menyebabkan nelayan terlilit hutang kepada toke-toke yang menampung hasil tangkapan mereka yang hanya dapat dibayar dari hasil tangkapan berikutnya. Ketiga, organisasi sosial masyarakat seperti kelompok arisan yang tidak sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh nelayan karena hasil pengumpulan uang dari kelompok arisan ini bertujuan sebagai pengeluaran yang mendesak seperti perbaikan perahu, biaya pengobatan, perbaikan rumah. Sehingga hal ini tentunya tidak akan terasa manfaatkan terhadap kebutuhan hidup
95
yang harus dipenuhi setiap harinya. Keempat, jaringan sosial nelayan untuk memperoleh pekerjaan lain, keterampilan dan pengetahuan baru hanya terbatas di lingkungan masyarakat nelayan kampung nelayan seberang. Hal ini sebagai akibat ketergantungan yang tinggi terhadap kehidupan melaut sebagai mata pencaharian utama yang tentunya membatasi nelayan untuk mendapatkan penghasilan baru selain dari penghasilan sebagai nelayan. Kelima, akses informasi yang juga terbatas bagi nelayan di kampung nelayan seberang. Sama halnya dengan keterbatasan jaringan sosial, akses informasi juga diakibatkan ketergantungan yang tinggi terhadap kehidupan melaut sebagai mata pencaharian utama yang juga tentunya membatasi nelayan untuk mendapatkan informasi baru yang berguna dalam kehidupannya. Dari keseluruhan basis sosial yang telah dijelaskan di atas dapat dilihat bagaimana kondisi nelayan di Kampung Nelayan Seberang yang dapat dikategorikan miskin karena keterbatasan berbagai aspek dari basis sosial yang ada di Kampung Nelayan Seberang. Mulai dari tidak adanya aset berupa rumah dan tanah yang menjadi jaminan hidup di masa mendatang, penghasilan yang tidak menentu, hingga dampak kekurangan akses jaringan sosial dan informasi akibat dari mata pencaharian utama sebagai nelayan yang mengharuskan para nelayan menghabiskan waktu untuk kegiatan melaut dan memperbaiki kapal serta alat tangkap yang mereka miliki sebagai modal hidup untuk mencari nafkah.
Selain itu, hasil penelitian ini juga telah menjawab pertanyaa kedua dari rumusan masalah yang menjadi fokus penelitian yaitu Bagaimana bentuk-bentuk strategi adaptasi yang dilakukan oleh keluarga nelayan dalam menghadapi perubahan hidup terkait dengan pilihan mereka untuk tinggal dan menetap di
96
Kampung Nelayan Seberang. Strategi adaptasi yang dilakukan nelayan dapat dibagi menjadi dua bidang yaitu strategi adaptasi di bidang ekonomi, strategi adaptasi di bidang sosial dan budaya.
Di bidang ekonomi, strategi adaptasi dalam bertahan hidup yang dilakukan nelayan berupa aktifitas ektraksi dan aktifitas produksi. Pertama, aktifitas ektraksi adalah mengambil sumberdaya langsung dari alam tanpa adanya ikut campur dalam perkembangan yang terjadi di alam. Seperti itu juga halnya dengan nelayan yang ada di Kampung Nelayan Seberang yang mengambil sumberdaya langsung berupa ikan, udang, kepiting dan lainnya dari laut tanpa adanya ikut campur dalam pertumbuhan dan reproduksi sumberdaya tersebut. Dalam aktifitas ektraksi ini nelayan menggunakan setiap waktunya untuk melaut sebagai bentuk mengatasi penghasilan yang diliputi ketidakpastian. Selain itu, penggunaan berbagai alat tangkap serta penggunaanya di waktu-waktu yang tepat merupakan bentuk strategi yang dilakukan nelayan untuk memperoleh hasil yang lebih banyak. Kedua, aktifitas produksi yang bertujuan untuk menghasilkan atau menambah nilai jual dari suatu barang. Aktifitas produksi ini merupakan bentuk adaptasi keluarga nelayan untuk menambah penghasilan dalam memenuhi kebutuhan akibat dari pengahasilan melaut yang tidak menentu. Aktifitas produksi yang dilakukan keluarga nelayan berupa : beternak serta membuat terasi,ikan asin dan udang kering sebagai produksi untuk menambah nilai jual dari hasil melaut.
Di bidang sosial dan budaya, bentuk strategi yang diterapkan oleh masyarakat dengan memanfaatkan hubungan sosial di masyarakat baik hubungan vertikal maupun horizontal serta memanfaatkan organisasi sosial yang ada seperti kelompok arisan sebagai wadah untuk mempererat hubungan sosial antar warga
97
serta untuk mengatasi ketidakpastian ekonomi yang terjadi di keluarga nelayan. Pemilihan kampung nelayan seberang sebagai tempat tinggal walaupun diliputi ketidakpastian akan jaminan di masa depan juga merupakan sebuah strategi bertahan hidup bagi masyarakat kampung nelayan seberang. Selain itu, dengan adanya dua wilayah administrasi di kampung nelayan seberang yaitu wilayah administrasi Kabupaten Deli Serdang dan wilayah administrasi Kota Medan, memberikan pilihan bagi warga kampung nelayan yang sebagian besar merupakan pendatang untuk memilih wilayah administrasi yang diinginkan. Dan sebagian besar warga memilih kota medan sebagai wilayah administrasi. Hal ini karena lokasi kampung nelayan seberang yang lebih dekat dengan kota medan dibandingkan dengan kabupaten deli serdang sehingga memudahkan masyarakat dalam pengurusan administrasi kependudukan. Namun, alasan yang utama pemilihan kota medan sebagai wilayah administrasi adalah karena banyaknya bantuan yang diterima dari berbagai pihak baik pemkot maupun pihak swasta sebagai faktor dari kota medan sebagai ibukota provinsi yang tentunya mendapatkan perhatian yang lebih besar dibandingkan dengan kabupaten deli serdang.
5.2. Saran
Kemiskinan yang terjadi pada nelayan di kampung nelayan seberang merupakan akumulasi dari berbagai penyebab yang ada di kehidupan nelayan terutama ketidakpastian penghasilan dari hasil tangkapan nelayan serta ketidakmampuan nelayan dalam mengakumulasi basis kekuasaan sosial yang ada di masyarakat . Hal ini tentunya perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai kalangan baik pemerintah sebagai abdi negara, lembaga, maupun para akademisi
98
untuk mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Sehingga kehidupan nelayan tradisional di Indonesia khususnya di kampung nelayan seberang dapat keluar dari jerata kemiskinan yang melanda mereka.
Selain itu, kampung nelayan seberang merupakan kawasan milik Pelabuhan Belawan yang sewaktu-waktu jika dibutuhkan, masyarakat di kampung nelayan seberang harus pindah dari lokasi tersebut. Hal ini terjadi karena pembiaran yang dilakukan oleh otoritas pelabuhan maupun negara dalam hal ini pemerintahan Kabupaten Deli Serdang dan Pemerintah Kota Medan sehingga kampung nelayan seberang yang pada awalnya merupakan hutan mangrove beralih fungsi menjadi pemukiman. Jika penggusuran terjadi di kampung nelayan seberang, maka pihak-pihak yang berwenang harus memikirkan mulai dari sekarang relokasi tempat tinggal bagi masyarakat nelayan yang terkena dampak penggusuran sebagai bentuk tanggung jawab akibat dari pembiaran tersebut.
35 BAB II