• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk-bentuk Desain Kurikulum

Dalam dokumen BAB I MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM (Halaman 149-161)

PENDEKATAN, MODEL, DAN DESAIN KURIKULUM

C. Desain Kurikulum Pendidikan Islam 1. Pengertian Desain Kurikulum

3. Bentuk-bentuk Desain Kurikulum

Desain kurikulum dapat disusun sebagai modifikasi atau kombinasi dari tiga kategori: (a) subject-centered design, (b) learner-centered design, dan (c) problem-centered design. Dalam setiap kategori terdapat beberapa desain, misalnya, dalam kategori subject-centered design terdapat subject design, disciplines design, dan broad field design. Termasuk pada kategori learner-centered design adalah activity design, the open

classroom design, dan the humanistic design. Sedangkan dalam problem-centered design terdapat the areas of living design, the personal/social concerns of youth design, dan the core design.121

Gambar 4.8: Bentuk-bentuk Desain Kurikulum

Hal ini sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini:

a. Subject-Centered Design.(Desain dengan Pendekatan Mata Pelajaran) Subject-centered design merupakan pendekatan yang paling banyak digunakan. Dalam kategori ini terdapat tiga macam desain, yakni: subject design, disciplines design, dan broad field design. Dalam ketiga jenis desain ini, pilihan materi pelajaran difokuskan pada penggunaan sejumlah mata pelajaran atau mata kuliah sebagai dasar pengorganisasian pada arah horizontal dan vertikal. Sebagai konsekuensinya, pengorganisasian komponen-komponen lainnya (tujuan, metode, dan evaluasi) disesuaikan dengan pengorganisasian materi pelajaran.

Subject centered design merupakan bentuk desain yang paling populer, paling tua. Design ini berkembang dari konsep pendidikan klasik yang menekankan pengetahuan, nilai-nilai dan warisan budaya masa lalu, serta berupaya untuk mewariskan kepada generasi berikutnya. Di dalam subject centered design terdapat kurikulum yang terdiri dari beberapa mata pelajaran, yang tujuannya adalah agar

peserta didik mampu menguasai bahan dari tiap-tiap mata pelajaran yang telah ditentukan secara logis, sistematis dan mendalam.122

1) Mudah disusun, dilaksanakan, dievaluasi, dan disempurnakan. Model desain kurikulum ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Beberapa kelebihan dari model desain kurikulum ini adalah:

2) Para pengajarnya tidak perlu disiapkan khusus, asal menguasai ilmu atau bahan yang diajarkan sering dipandang sudah dapat menyampaikannya.

Beberapa kritik yang juga merupakan kekurangan model desain ini, adalah:

1) Karena pengetahuan diberikan secara terpisah-pisah, hal itu bertentangan dengan kenyataan, sebab dalam kenyataan pengetahuan itu merupakan satu kesatuan.

2) Karena mengutamakan bahan ajar maka peran peserta didik sangat pasif.

3) Pengajaran lebih menekankan pengetahuan dan kehidupan masa lalu, dengan demikian pengajaran lebih bersifat verbalistis dan kurang praktis. Atas dasar tersebut, para pengkritik menyarankan perbaikan ke arah yang lebih terintegrasi, praktis, dan bermakna serta memberikan peran yang lebih aktif kepada siswa.

Desain kurikulum dengan pendekatan mata pelajaran menyaji-kan materi pelajaran yang terdiri dari sejumlah mata pelajaran dari beberapa disiplin ilmu. The subject design merupakan bentuk design yang paling murni dari Subject centered design sehingga materi pelajaran disajikan secara terpisah-pisah dalam bentuk mata pelajaran dengan kata lain menyajikan pelajaran dari sejumlah mata pelajaran. Sebagai contoh kurikulum untuk pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs), setelah pelajaran membaca dan menulis ditambah-kan materi pelajaran Aritmatika, Aljabar dan Planimetri (dari disiplin ilmu Matematika), ilmu tumbuh-tumbuhan (dari disiplin ilmu Botani), ilmu bumi (dari disiplin ilmu Geografi), dan lain-lain. Mata pelajaran diambil dari beberapa disiplin ilmu dengan maksud agar

122Soetopo dan Soemanto, (1993). Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum sebagai Subtansi Problem

para peserta didik menguasai dasar-dasar ilmu khusus yang kelak diharapkan menjadi pilihan karir dan diperdalam melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dengan demikian cakupan subject design ditentukan oleh luasnya materi pelajaran dari tiap-tiap mata pelajaran yang dipandang penting untuk diketahui oleh peserta didik secara sekuensial.

Terdapat dua alasan penggunaan subject design. Pertama, karena subject design dinilai memiliki pengorganisasian yang paling sistematik dan efisien. Kedua, ditinjau dari sudut pendidik (guru, dosen) mereka telah disiapkan untuk mengajar dalam bidang disiplin ilmu selama di perguruan tinggi.

Selain kedua alasan tersebut, terdapat alasan-alasan praktis lainnya yakni, buku teks dan materi pelajaran lainnya pada umum-nya telah tersusun menurut jenis mata pelajaran. Dengan demikian peserta didik dapat mengetahui sekuens pelajaran dan dapat mempelajari lebih dahulu walaupun pembelajaran di kelas belum sampai pada bagian atau bab yang dipelajarinya.

Disamping keuntungan-keuntungan praktis terdapat pula beberapa kelemahannya. Pertama, terdapat kecenderungan memfrag-mentasikan materi pelajaran, misalnya, mata pelajaran mekanika yang semula menjadi satu kesatuan dipecah menjadi statika, kinematika dan dinamika, dan diberikan secara terpisah-pisah, bahkan oleh guru yang berbeda. Hal itu menyebabkan peserta didik kurang memahami hubungan antara ketiga komponen mekanika tersebut. Kedua, terdapat kecenderungan pembelajaran tidak mengait-kan dengan aspek penggunaan dalam kehidupan sehari-hari. Kritik ini mungkin benar jika guru yang mengajar bukan lulusan LPTK. Ketiga, pembelajaran dengan metode ekspositori atau ceramah cenderung menyebabkan peserta didik bersikap pasif dan menghafal materi pelajaran, serta kurang melatih kebiasaan menalar. Keempat, kurikulum kurang memerhatikan minat dan pengalaman peserta didik. Kelima, kurikulum lebih menekankan pada materi pelajaran dan kurang memerhatikan cara penyampaiannya.123

Dengan keterangan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa desain ini menyampaikan mata pelajaran yang mana belum menjadi disiplin ilmu, contoh praktisnya seperti ulumul hadist, ulumul Qur’an dan lain sebagainya.

b. The Discipline-Centered Design (Desain dengan Pendekatan Disiplin Ilmu).

Landasan pemikiran desain kurikulum dengan pendekatan disiplin ilmu ini sama dengan desain kurikulum dengan pendekatan mata pelajaran, tetapi dengan kriteria tujuan yang lebih khusus, yakni aplikasi kejuruan. Dengan demikian, desain kurikulum dengan pendekatan disiplin ilmu dikembangkan untuk pendidikan kejuruan dan pendidikan tinggi profesional.

Pada desain kurikulum dengan pendekatan disiplin ilmu lazim mengelompokkan mata pelajaran (mata kuliah) ke dalam kelompok-kelompok Mata Pelajaran Dasar Umum (MPDU/MKDU), Mata Pelajaran Dasar Keahlian (MPDK/MKDK), dan Mata Pelajaran Keahlian (MPK/MKK). Untuk pendidikan teknologi dan kejuruan, MPDU/MKDU mencakup mata pelajaran bahasa, Pendidikan Agama, Kewarganegaraan, keselamatan dan kesehatan kerja; MPDK/ MKDK terdiri dari Matematika, Fisika, Kimia, Mekanika, Termodinamika, dan lain-lain, disesuaikan dengan kejuruan yang diselenggarakan. MPK/MKK terdiri dari mata-mata pelajaran yang termasuk dalam disiplin ilmu (kejuruan) yang bersangkutan.

Tujuan utama dari desain kurikulum dengan pendekatan disiplin ilmu adalah: (a) Menyediakan pilihan yang sesuai dengan bakat dan minat peserta didik setelah lulus dari pendidikan dasar. (b) Pembekalan kemampuan bekerja pada jalur kejuruan tertentu bagi mereka yang ingin segera terjun ke dalam dunia kerja (umur 18 tahun ke atas), namun memungkinkan pula melanjutkan ke pendidikan tinggi profesional.

Keuntungan dari desain kurikulum dengan pendekatan disiplin ilmu adalah, mendekatkan peserta didik kepada masalah-masalah nyata dalam dunia kerja dan masyarakat. Dengan demikian terdapat dorongan untuk dunia kerja dan masyarakat. Dengan demikian terdapat dorongan untuk mengikuti perkembangan ilmu dan

teknologi dan sebagai dampaknya adalah mendorong peserta didik untuk berupaya mengikutinya. Sebagai contoh, perkembangan teknologi informasi dan pemanfaatan komputer dapat mendorong peserta didik untuk menguasai pemanfaatan komputer, antara lain untuk mencari informasi/referensi melalui internet.

Kelemahan desain kurikulum dengan pendekatan disiplin ilmu justru terletak pada guru. Tidak jarang guru (yang pada umumnya berpenghasilan rendah) tidak mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi karena keterbatasan finansial (untuk membeli komputer atau buku referensi). Untuk mengatasi kesulitan ini, lembaga penyelenggara pendidikan hendaknya melengkapi fasilitas pendidikan, baik perpustakaan maupun sarana praktikum/ praktik.124

c. Broad Field Design (Desain dengan Cakupan Luas)

Dengan keterangan di atas dapat ditarik sebuah penjelasan dimana pada Subject design belum ada kriteria tegas tentang apa yang disebut (ilmu) belum ada perbedaan misalnya antara Aritmatika, Aljabar, maupun lainnya, semuanya disebut ilmu. Sedangkan pada disciplines design kriteria tersebut sudah tegas, yang membedakan apakah suatu pengetahuan itu subject (ilmu) atau bukan adalah batang tubuh keilmuannya. Batang tubuh keilmuan menentukan apakah suatu bahan pelajaran itu disiplin ilmu atau bukan, maka untuk menegaskan hal itu mereka menggunakan istilah “disiplin ilmu“ misalnya, Fisika, Biologi, Kimia padahal semua ini merupakan cabang dari pelajaran IPA. Seperti halnya Aqidah akhlak, Al-Qur’an-Hadits, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Fiqih yang merupakan isi atau bagian dari pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah/ madrasah.

Desain kurikulum ini merupakan salah satu upaya penyem-purnaan desain dengan pendekatan mata pelajaran dan pendekatan disiplin ilmu. Konsep ini dikembangkan dengan maksud menghi-langkan kelemahan-kelemahan pada subject design dan discipline design yang dianggap belum bisa menghilangkan pemisahan antarmata pelajaran. Dengan menyatukan beberapa mata pelajaran

yang serumpun atau berdekatan diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap hubungan antarberbagai fenomena kehidupan. Misalnya, penyatuan Aritmatika, Aljabar, Planimetri, Geometri menjadi matematika akan memudahkan peserta didik melihat hubungan dan hierarki dalam penguasaan Matematika. Botani, Zoologi, Anatomi dan Fisologi yang semula diajarkan secara terpisah digabung menjadi satu dan diberi nama Biologi. Geologi, Geografi, Demografi dan Ekonomi disatukan menjadi ilmu bumi ekonomi. Broad field design memungkinkan untuk memperkenalkan konsep pengetahuan baru, misalnya Ekologi atau lingkungan hidup yang membahas dampak pengelolaan Geografi, Geologi, ilmu Kimia, Pertanian, dan Ekonomi digabung menjadi Ilmu pengetahuan sosial. Jadi sudah jelas desain ini merupakan gabungan dari ilmu-ilmu yang serumpun karena semua ini untuk penguasaan ilmu.

Tujuan pengembangan kurikulum ini adalah menyiapkan para peserta didik yang dewasa ini hidup dalam dunia informasi yang sifatnya spesialis dengan pemahaman yang bersifat menyeluruh. Bentuk kurikulum ini banyak digunakan di SD dan SMP, sementara di SMA penggunaannya agak terbatas, apalagi di perguruan tinggi sangat sedikit sekali. Ada lima macam bidang studi yang menganut broad fields jika dikaitkan dengan kurikulum di Indonesia yaitu:

1) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan peleburan dari mata pelajaran Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Kimia dan Ilmu Kesehatan. 2) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan peleburan dari mata

pelajaran ilmu Bumi, Sejarah, kewarganegaraan, Hukum, Ekonomi dan sejenisnya.

3) Bahasa merupakan peleburan dari mata pelajaran membaca, menulis, mengarang, menyimak, dan pengetahuan Bahasa.

4) Matematika, merupakan peleburan dari Berhitung, Aljabar, Ilmu Ukur Sudut, Bidang, Ruang, dan Statistik.

5) Kesenian, merupakan peleburan dari Seni Tari, Seni suara, Seni Klasik, Seni Pahat, dan Drama.125

Konsep broad field design yang semula dianggap dapat menghilangkan kelemahan subject design dan discipline design ternyata

125Fuaduddin dan Karya, (1992). Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta: Dirjen Bimbaga Islam dan Universitas Terbuka, hal 20.

hanya dapat diterapkan pada tingkat sekolah dasar dimana dimung-kinkan penugasan guru kelas yang dapat mengajarkan semua jenis mata pelajaran yang harus diberikan dalam satu kelas yang sama. Hal ini dimungkinkan karena pada tingkat sekolah dasar kedalaman ilmu belum menjadi tuntutan utama. Pada tingkat pendidikan menengah dan pendidikan tinggi di mana kedalaman ilmu menjadi tuntutan utama, konsep broad field design tidak dapat diterapkan karena sulitnya mendapatkan tenaga kependidikan yang memiliki penge-tahuan yang luas dan mendalam.

Selain kenyataan dalam praktik seperti yang dikemukakan oleh Taba itu, kesukaran timbul pada saat peserta didik melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (yang pada umumnya menggunakan subject design) adalah dalam hal mengkonversikan nilai dari broad field curriculum ke subject curriculum.

d. Learner-Centered Design (Desain berpusat pada Pebelajar)

Learner-centered design atau desain yang terpusat pada peserta-didik adalah suatu pendekatan desain kurikulum yang menempatkan peserta-didik pada posisi sentral. Desain ini dimaksudkan untuk mengembangkan bakat yang selaras dengan minat peserta didik. Pendidik hanya berfungsi sebagai fasilitator dan motivator. Learner-centered design mengutamakan perkembangan individual, oleh sebab itu tidak memiliki pola pengorganisasian yang baku.

Dua karakteristik yang membedakan learner-centered design dengan subject-centered design adalah: Pertama, pengembangan kuriku-lum didasarkan pada keinginan (kebutuhan, minat dan tujuan belajar) peserta didik dan bukan berdasarkan materi pelajaran. Kedua, sebagai akibat karakteristik pertama itu, kurikulumnya tidak dapat dirancang sebelumnya (preplanned) tetapi harus disusun bersama antara peserta didik dan pendidik. Dengan demikian pengorgani-sasian kurikulum untuk kelompok tertentu (dari individu-individu dengan keinginan yang sama) tergantung pada masalah atau topik-topik yang menarik perhatian mereka; sedangkan sekuens dan kedalaman materi pelajaran tergantung pada sejauh mana mereka mampu mempersepsi permasalahan dan situasi yang timbul.

Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa, akan terdapat variasi model pembelajaran yang tak terbatas; hal mana menyebabkan kesulitan dalam penyediaan buku teks sehingga pendidik harus meramu sendiri materi pelajaran untuk setiap kelompok peserta didik. Diantara model-model yang pernah dikembangkan adalah activity/experience design, humanistic design dan child-centered design.

Konsekuensi dari activity/experience design ini sama dengan broad flied design yakni, tidak memiliki pola organisasi kurikulum yang baku karena kurikulum harus disusun berdasarkan minat dan kebutuhan peserta didik, baik secara individu maupun kelompok.126

e. Problem-Centered Design(Desain Berpusat pada Masalah)

Problem-centered design dikembangkan berdasarkan pemikiran filsafati tentang peran manusia dalam masyarakat. Jika desain kurikulum berbasis kegiatan/pengalaman menempatkan peserta didik sebagai individu dalam proses pembelajaran, maka pada desain kurikulum berbasis masalah menempatkan peserta didik sebagai anggota masyarakat yang harus mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakatnya demi kesejahteraan bersama.

Dengan problem-centered design dimaksudkan, desain yang difokuskan pada masalah-masalah kehidupan sosial. Dalam hubungan ini manusia sebagai makhluk sosial akan selalu hidup bersama dan memecahkan masalah sosial secara bersama-sama pula. Isi kurikulum yang diangkat sebagai materi pelajaran adalah masalah-masalah sosial masa kini, misalnya: organisasi kepemudaan, dampak krisis ekonomi, pengangguran, pengaruh media massa atas ketekunan belajar, peningkatan prestasi olah raga dan lain-lain yang dihadapi peserta didik dewasa ini dan di masa mendatang.

Desain kurikulum berbasis masalah yang pernah dikembangkan adalah desain berbasis bidang kehidupan (areas of living) dan desain berbasis kurikulum inti (core curriculum design).

126Ibid, hal. 73.

1) The area of living design (Desain Berbasis Bidang Kehidupan). Menurut desain ini bahwasanya pengorganisasian kurikulum hendaknya menyiapkan masyarakat agar dapat berfungsi secara efektif pada lima bidang kehidupan, yaitu: (1) direct preservation (menyiapkan diri secara langsung); (2) indirect self-preservation (menyiapkan diri secara tidak langsung, seperti menabung, menyediakan pangan dan rumah; (3) parenthood (menyiapkan diri untuk berumah tangga); (4) citizenship (menjadi warga negara yang baik); dan (5) leisure activities (kegiatan masa senggang).

Selanjutnya dengan perjalanan waktu direkomendasikan agar kurikulum menyiapkan peserta-didik dalam enam kategori utama dalam kehidupan, yakni: (1) tanggung jawab dan kompeten, (2) pemahaman masalah-masalah ekonomi, (3) hubungan kekeluar-gaan, (4) menjadi konsumen yang cakap, (5) mengapresiasi keindahan, dan (6) kecakapan berbahasa.

Gambaran yang menonjol dari kurikulum berbasis masalah kehidupan adalah: Pertama, seperti halnya pada desain berbasis aktivitas/pengalaman, desain ini memfokuskan pada prosedur pemecahan masalah. Sebagai hasilnya, penguasaan proses (keterampilan analisis, keterampilan sosial, dan lain sebagainya), dan penguasaan materi secara fungsional telah terintegrasi. Kedua, desain ini memanfaatkan pengalaman peserta-didik dan situasi saat belajar sebagai gerbang memasuki areas of living. Hal inilah yang membedakan dengan desain berbasis aktivitas/pengalaman dimana materi dan kegiatan belajar didasarkan pada kebutuhan yang dirasakan oleh peserta didik.

Dengan mengarahkan pada fungsi-fungsi kehidupan sosial, kurikulum berbasis bidang kehidupan berusaha menghilangkan kelemahan-kelemahan pada kurikulum berbasis mata pelajaran (subject design). Namun desain kurikulum berbasis bidang kehidupan ini juga tidak terbebas dari berbagai kritik. Pertama, masalah yang berkaitan dengan penentuan cakupan dan urutan (scope and sequence) mengingat bidang kehidupan sangat luas cakupannya dan bervariasi kedalamannya. Kedua, materi pelajaran

cenderung hanya dikaitkan dengan masalah-masalah masa kini dan kurang memerhatikan warisan budaya. Ketiga, unit-unit pelajaran dikemas di sekitar masalah-masalah kehidupan yang beragam dan terpisah-pisah sehingga cenderung mengabaikan faktor integrasi. Keempat, desain ini cenderung mengindoktrinasi peserta didik bagaimana mengatasi masalah-masalah masa kini.127

2) Core Curriculum (Desain Kurikulum Inti)

Konsep kurikulum inti dikembangkan sebagai reaksi terhadap separate subject design yang cenderung melaksanakan pembelajaran dengan jalan memecah-mecah mata pelajaran. Padahal pembelajaran akan lebih efektif apabila fakta-fakta dan prinsip-prinsip dari satu disiplin ilmu dihubungkan satu dengan lainnya, terutama pada penerapan ilmu tersebut.

Untuk menghasilkan koherensi dari keseluruhan kurikulum disarankan adanya kajian inti (core of studies) terhadap mana mata pelajaran lainnya harus dihubungkan dan mendukungnya.

Kurikulum inti diartikan sebagai mata pelajaran atau mata kuliah yang perlu diberikan kepada semua peserta didik. Di perguruan tinggi di Indonesia, kelompok mata kuliah ini disebut Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) yang terdiri dari Pancasila, Pendidikan Agama, Kewarganegaraan, dan bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris). Menurut pertimbangan perguruan tinggi yang bersangkutan dapat ditambahkan, misalnya, Pengetahuan Lingkungan Hidup, Kewirausahaan, dan lain-lain.

Terdapat beberapa ragam desain kurikulum inti, yakni: (1) the separate subject core, (2) the correlated core, (3) the fused core, (4) the activity/experience core, (5) the areas-of-living core, dan (6) the social problems core.

The Separate Subjects Core terdiri dari serangkaian mata pelajaran/mata kuliah yang diajarkan secara terpisah oleh spesialis dari mata pelajaran/mata kuliah yang bersangkutan tanpa upaya mengintregrasikan materinya, suatu manifestasi dari

karakteristik, kekuatan dan kelemahan dari separate subjects curriculum.

The Correlated Core dikembangkan dari konsep subject-centered design yang menekankan koherensi hubungan antardua atau lebih mata pelajaran/mata kuliah yang termasuk dalam kurikulum inti. Model ini berkembang dengan jalan mengintegrasikan beberapa mata pelajaran yang erat hubungannya. Dengan tujuan ruang lingkup bahan yang di pelajari akan semakin luas. Sebagai contoh pada pembahasan pariwisata dapat dihubungkan dengan geologi, sejarah, sosiologi dan ekonomi.

The Fused Core berakar pada konsep subject-centered curriculum design. Beberapa mata pelajaran/mata kuliah diintegrasikan atau difusikan menjadi satu, misalnya, sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi dan antropologi, dikombinasikan dan diajarkan oleh spesialis dalam ilmu pengetahuan sosial; ketel uap, mesin-mesin turbin, motor-bakar diajarkan oleh spesialis dalam konversi energi.

The Activity-Experience Core dikembangkan berdasarkan konsep learner-centered design yang dipusatkan pada minat dan kebutuhan peserta didik. Desain kurikulum tidak mempunyai struktur formal dan tidak dirancang sebelumnya. Karena aktivitas didasarkan pada minat dan kebutuhan peserta didik, maka materi dan pengorganisasinya disusun oleh guru bersama para peserta didik.

The Areas-of-Living Core diilhami oleh pendidikan progresif yang mengedepankan masalah-masalah kehidupan dalam masyarakat.

Keuntungan dari the areas-of-living core sebagai suatu program pendidikan sama dengan the areas-of-living design yakni, menginte-grasikan dan menyatukan materi dan mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dalam pembelajaran. Materi pelajaran disajikan dalam bentuk yang fungsional dan relevan dengan permasalahan yang dikaji128

128Ibid,hal. 78-83.

The sosial problem core merupakan design yang hampir sama dengan the areas of living core didasarkan atas kegiatan-kegiatan manusia yang universal, tetapi tidak berisi hal yang kontroversial, sedangkan the sosial problem core didasarkan atas problem-problem yang mendasar dan bersifat kontroversial.

Dalam dokumen BAB I MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM (Halaman 149-161)