BAB III KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
E. Orientasi Kurikulum Pendidikan Islam
1. Orientasi Transmisi Ciri-cirinya yaitu:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36)
Dalam kurikulum pendidikan secara umum sebagaimana dijelaskan oleh John P. Miller dan Wayne Seller di dalam bukunya “Curriculum Perspectives and Practice” membagi kurikulum ke dalam tiga orientasi:
1. Transmission Position Curriculum, di dalam model ini dikatakan bahwa guru atau pendidik itu bersifat mentransfer memindahkan fakta, keterampilan, informasi, atau ilmu dan juga nilai-nilai kepada siswa. 2. Transaction Position atau model transaksi adalah model kurikulum
yang melibatkan siswa dalam menentukan subyek apa atau topik apa yang akan dipelajari. Di sini anak merasa dihargai sebagai insan atau manusia yang berpotensi, misalnya tidak dianggap sebagai celengan kosong saja.
3. Transformation Position, merupakan model yang lebih mengem-bangkan kurikulum dari segi sekedar transaksi saja. Dalam konteks ini pembelajaran bisa dianggap sebagai bagaimana mengubah lingkungan dan mengubah siswa menjadi suatu lingkungan yang baru dan kehidupan baru dan ini biasanya cocok untuk di negara maju.81F82
Adapun penjelasan masing-masing orientasi kurikulum dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Orientasi Transmisi Ciri-cirinya yaitu:
a. Paradigma bersifat atomistic (terpisah-pisah).
b. Tujuan pendidikan adalah penguasaan mata pelajaran dengan penguasaan tentang norma-norma sosial yang sifatnya pengetahuan dan penghayatan.
82John P.Miller dan Wayne Seller. (1985).Curriculum Perspectives and Practice, London: Longman. Hal.5-8
c. Pengalaman belajar lebih menekankan pada belajar fakta dan konsep-konsep asosiasi.
d. Tugas guru adalah sebagai pemberi arahan (directive). e. Evaluasi menggunakan traditional achievement.
Fungsi pendidikan menurut orientasi ini adalah mentransmisikan fakta, keterampilan dan nilai untuk siswa.
a. Penguasaan materi sekolah melalui pembelajaran buku teks.
b. Kemahiran keterampilan dasar dan nilai-nilai budaya tertentu dan aturan-aturan yang dibutuhkan di dalam masyarakat.
c. Aplikasi pandangan mekanisme dari perilaku manusia, dimana keterampilan siswa dikembangkan melalui strategi pembelajaran tertentu.
Orientasi transmisi tersebut dapat penulis gambarkan sebagai berikut:
Gambar 3.2: Orientasi Transmisi
Fungsi orientasi Transmisi pendidikan adalah untuk mewariskan (mentransmisikan) berbagai fakta, keterampilan dan nilai-nilai untuk siswa. Orientasi ini mendasarkan penguasaan materi sekolah tradisional melalui metodologi pengajaran tradisional, pembelajaran buku teks (orientasi subjek), kemampuan keterampilan dasar siswa dan budaya nilai-nilai tertentu dan moral yang dibutuhkan dan bermanfaat bagi kehidupan di dalam masyarakat.(orientasi transmisi budaya), dan aplikasi pandangan humanistik perilaku manusia pada perencanaan kurikulum. Posisi transmisi dalam sejarah berakar dari pendidikan kolonial.83
Orientasi transmisi ini mendasarkan pemikiran John Locke tentang Tabula rasa, bahwa pikiran itu bersifat pasif “pendidikan adalah
proses pembentukan kebiasaan (process of habit formation). Munculnya sensasi diikuti oleh ide yang masuk ke dalam otak (pikiran), tindakan yang mempengaruhi kebiasaan, dan kebiasaan yang membentuk karakter. Selain itu juga Francis Bacon yang berpandangan tentang pemikiran induktif (scientific inquiry)”, dengan mengobservasi nature maka kita dapat membangun teori. Dan juta Lidwig Wittgenstein dengan (analytic philosophy), yaitu bahwasannya “alam semesta dibuat dan diisolasi oleh fakta-fakta, atau atom, yang mungkin atau tidak mungkin berhubungan antara satu sama lain, tidak ada hubungan inheren atau ikatan diantara mereka. Pada tabel 3.1 berikut akan dijelaskan tentang pemetaan masing-masing orientasi kurikulum transmisi.
Tabel 3.1: Pemetaan Landasan Filsafat, Psikologis dan Ideologi Politik Orientasi Kurikulum Transmisi
Landasan Filsafat
Logical positivism, scientific empirism, analytic philosophy. Orientasi transmisi berakal pada filsafat positivism logic. Yang merupakan penurunan dari berbagai komponen logik yang dapat dianalisis dan dievaluasi.
Landasan Psikologis
Psikologi behavioristik (Ivan Pavlov, Thorndike dan Skinner), yang menekankan pada aktivitas manusia terhadap respon tertentu yang dapat digunakan untuk memprediksi dan mengkontrol perilaku manusia. Dalam psikologi Bacon adalah Behaviorisme, dimana semua perilaku dapat dipahami melalui istilah sebab dan akibat (stimulus dan respon). Behaviorisme menekankan pada “penurunan aktivitas manusia ke dalam respon tertentu yang dapat digunakan untuk memprediksi dan mengontrol perilaku manusia.
Thorndike: (Connectionism)
Seseorang yang intelek, memiliki karakter, dan keterampilan adalah kumpulan dari kecenderungannya untuk merespon situasi dan berbagai aspek pada situasi. Pengajaran adalah penyusunan suatu situasi yang akan memudahkan mereka untuk mencapai kepuasan.
B.F. Skinner: (Operant Conditioning)
Jika terjadi sebuah operant (perilaku yang dapat dikontrol melalui reinforcement) diikuti dengan menghadirkan penguatan terhadap stimulus, semakin kuat stimulus maka semakin tinggi pula responnya.
Ideologi
Politik Kapitalisme Laissez Faire, teori ekonomi konservatif yang membatasi intervensi pemerintah terhadap ekonomi dan aktivitas ekonomi dikontrol oleh kepentingan individual dan kompetisi dalam penempatan pasar terhadap suatu barang dan pelayanan.
Tiga jenis orientasi Transmisi: a. Subject/orientasi isi:
1) Kurikulum dipusatkan pada subjek dan disiplin akademik tertentu.
2) Penekanan pada pembelajaran langsung: dosen dan penugasan (resitasi).
3) Kurikulum dibagi berbagai materi. Materi inti dan materi pilihan. 4) Subject curriculum didasarkan pada perencanaan tertentu
mengenai pendidikan apa yang dibutuhkan pada level tertentu. 5) Lamanya masa belajar diatur sesuai dengan materi.
b. Orientasi transmisi budaya:
1) Sekolah-sekolah harus menjadi pelindung excellence karakter bangsa.
2) Metode merupakan pendidikan moral rasional.
3) Sekolah harus melatih siswa dengan keterampilan yang dibutuh-kan oleh masyarakat.
4) Aspek moral dihubungkan dengan suatu kewajiban: menentukan perilaku (hubungan interpersonal-dasar pemikiran antara manusia dan benda.
5) Aspek moral merupakan konteks eksternal yang kita sesuaikan dengan perilaku kita.
c. Orientasi Pendidikan berbasis kompetensi/orientasi mastery learning 1) Tujuan dari CBE (Competence Based Education) adalah
mengem-bangkan kemampuan siswa melalui strategi pembelajaran tertentu.
2) CBE difokuskan pengukuran secara objektif, mencari perencanaan pembelajaran yang sesuai, penilaian melalui kriteria-kriteria yang mengarah pada ujian.
3) Mastery learning merupakan system yang terintegrasi yang mencakup prosedur untuk mengidentifikasi outcome pembelajaran yang diharapkan, evaluasi dan proses pembelajaran yang akan meningkatkan pembelajaran siswa.
2. Transaksi