BAB I
MANAJEMEN KURIKULUM
PENDIDIKAN ISLAM
A. Pengertian Manajemen Kurikulum Pendidikan Islam
Manajemen kurikulum pendidikan Islam pada dasarnya gabungan tiga suku kata yaitu: manajemen, kurikulum dan pendidikan Islam.
Manajemen merupakan suatu ilmu/seni yang berisi aktivitas perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengendalian (controlling)dalam menyelesaikan segala urusan dengan memanfaatkan semua sumberdaya yang ada melalui orang lain agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Kurikulum secara etimologi berasal dari bahasa Latin Curriculum, semula berarti a running course, specially a chariot race course, dan terdapat pula dalam bahasa Perancis “Courier” artinya “to run” (berlari).Untuk mendapatkan rumusan tentang pengertian kurikulum, para ahli mengemukakan pandangan yang beragam. Dalam pandangan klasik, lebih menekankan kurikulum sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran dan materi apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum. Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell (1935), bahwa kurikulum: “… to be composed of all the experiences children have under the guidance of teachers”. Dipertegas lagi oleh pemikiran Ronald C. Doll (1974), yang mengatakan bahwa: “…the curriculum has changed from content of courses study and list of subject and
courses to all experiences which are offered to learners under the auspices or direction of school”. Sedangkan George A. Beauchamp (1986), menge-mukakan bahwa:“A Curriculum is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in given school”.1
Menurut Mulyasa manajemen kurikulum merupakan suatu kegiatan yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kurikulum.
Beauchamp mengatakan bahwa kurikulum adalah suatu rencana pendidikan atau pengajaran, pelaksanaan rencana itu sudah masuk pengajaran.
Pendidikan Islam secara etimologi diwakili oleh istilah ta’lim dan tarbiyah yang berasal dari kata dasar ‘allama dan rabba sebagaimana dalam Al-Qur’an, sekalipun konotasi kata tarbiyah lebih luas karena mengandung arti memelihara, membesarkan, dan mendidik, serta sekaligus mengandung makna mengajar (‘allama).Sedangkan menurut terminologi adalah usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan kepribadian dan kemasyarakatan yang dilandasi dengan nilai-nilai Islam.
2Pandangan Mulyasa hanya menekankan pada tiga aspek
saja, sedangkan aspek pengorganisasian kurikulum secara eksplisit tidak dijelaskan dalam definisinya. Menurut Nasution organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada murid.3
1Nana Syaodih Sukmadinata, (1996). Pengembangan Kurikulum. Remaja Rosdakarya: Bandung, hlm.5 2Mulyasa, (2006).Manajemen Berbasis Sekolah;Konsep, Strategi, dan Implementasi. Remaja Rosdakarya.
Bandung. Hal. 40
3 S. Nasution, (1995).Kurikulum dan Pengajaran. Bumi Aksara: Jakarta. Hal. 135
Sedangkan Suharsimi Arikunto mendefinisikan manajemen kurikulum adalah segenap proses usaha bersama untuk memperlancar pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha meningkatkan kualitas interaksi belajar mengajar.
Berdasarkan definisi di atas, dapat dijelaskan bahwa manajemen kurikulum pendidikan Islam adalah usaha sistematis yang dilakukan seseorang melalui aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum yang dilandasi nilai-nilai Islam agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
B. Perencanaan Kurikulum Pendidikan Islam
Perencanaan kurikulum merupakan proses yang melibatkan kegiatan pengumpulan, penyortiran, sintesis dan seleksi informasi yang relevan dari berbagai sumber. Informasi ini kemudian digunakan untuk merancang dan mendesain pengalaman-pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Beane James mendefinisikan perencanaan kurikulum sebagai suatu proses yang melibatkan berbagai unsur peserta dalam banyak tingkatan membuat keputusan tentang tujuan belajar, cara mencapai tujuan, situasi belajar-mengajar, serta penelaahan keefektifan dan kebermaknaan metode tersebut. Sehingga Tanpa perencanaan kurikulum, sistematika berbagai pengalaman belajar tidak akan saling berhubungan dan tidak mengarah pada tujuan yang diharapkan. Berikut pernyataanya:
Curriculum planning is a process in which participants at many levels make decisions about what the purposes of learning ought to be, how those purposes might be carried out through teaching-learning situations, and whether the purposes and means are both appropriate and effective.4
Parkey et al., menegaskan bahwa tujuan yang direncanakan dari kurikulum dikembangkan dari beragam perspektif, teori dan penelitian yang didasarkan pada kekuatan sosial (social force), pengembangan manusia (human development) dan pembelajaran serta model pembe-lajaran (learning and learning style).5
Menurut Zenger and Zenger perencanaan kurikulum dibuat untuk menjadi petunjuk kerja.
Perencanaan kurikulum itu penting karena akan menjadi arah bagi usaha mempermudah pekerjaan pendidikan yang akan dilakukan.
6
4 Beane, James A.,et all. (1986). Curriculum Planning and Development, Boston, Allyn and Bacon.Hal. 32 5Parkay , F. W. (2006). Curriculum Planning a Contemporary Approach, Edisi 8, Pearson, New
York-London-Sanfransisco. Hal: 4
Curriculum Planning is intended as a “how-to-do-it guide” for curriculum planners in the school system or as a textbook for college-level courses in curriculum planning and development. Dalam tulisannya yang berjudul Curriculum Planning: A Ten-Step Process (1982), terdapat langkah-langkah penting perencanaan kurikulum:
6Zenger, W. F. and. Zenger, S. K. (1982).Curriculum Planning: A Ten-Step Process di unduh dari
1. State the curriculum problem or need.
2. Identify, revise, or develop curriculum /program goals and objectives. 3. Plan and organize the resources and constraints of curriculum
development.
4. State the functions of and select curriculum committees used for curriculum planning and development.
5. Plan and state the roles and responsibilities of personnel involved.
6. Identify and analyze possible new curricula, programs, or other curricular innovations to meet the stated curriculum need.
7. Assess and select one of the new curricula, programs, or other curricular innovations to meet the stated curriculum need.
8. Design or redesign the new curriculum or program. 9. Implement the new curriculum or program.
10. Evaluate the new curriculum or program.
Perencanaan kurikulum terjadi di semua level baik guru, super-visor, administrator dan lainnya, dilibatkan dalam usaha kurikulum. Semua guru dilibatkan dalam perencanaan kurikulum tingkat kelas. Bahkan pada tingkat (wilayah/daerah/distrik), ditingkat nasional harus ada representasi guru. Level perencanaan kurikulum menurut Oliva dimulai dari level kelas, kemudian individual school, school district, state, region, nation dan world. Representasi guru harus dominan dalam level kelas dan departemen.7
7 Oliva, P. F. (1992). Developing the Curriculum, Harpers Collin Publisher, Amerika. Hal. 58
Perencanaan kurikulum pendidikan Islam mensyaratkan adanya muatan materi kurikulum yang memiliki jangkauan yang lebih jauh yaitu tidak hanya membekali siswa dengan seperangkat kompetensi keduniawiaan (artinya siap kerja) saja dengan skill, kecakapan hidup dan kompetensi lainnya, tetapi juga muatan mata pelajaran yang membekali siswa untuk siap dalam menghadapi kehidupan yang lebih abadi/ kekal yaitu menghadap kehadirat Allah Swt. Sehingga jangkauan perencanaan kurikulumnya tidak hanya berbunyi dunia-kerja, tetapi dunia-akhirat.
Perencanaan di dalam Islam merupakan salah satu aspek harus ditekankan sebagai firman Allah dalam surat Al-Hayr: 18:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al Haysr: 18).
Kandungan ayat di atas menunjukkan perlunya memperhatikan sesuatu yang akan dilaksanakan untuk ke depan (hari esok). Dalam konteks manajemen pendidikan dipahami sebagai suatu perintah untuk membuat perencanaan yang baik, agar nantinya tidak gagal dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Prinsip manajemen yang mengata-kan bahwa “If you fail to plan, you plan to fail”, (jika anda gagal merencanakan, maka anda merencanakan kegagalan).
Perencanaan Kurikulum menyangkut banyak demensi. Dalam “The Educational Imagination on The Design and Evaluation of School Programs”, Eisner menjelaskan bahwa ada beberapa unsur penting dari dimensi perencanaan kurikulum. Unsur tersebut yang akan menentukan logika dan karakteristik alur dari sebuah perencanaan kurikulum.8
Dari pernyataan Eisner di atas, dapat dijelaskan lebih lanjut, bahwa semua jenis perencanaan kurikulum dengan demikian terjadi pada semua tingkat pendidikan dan disesuaikan dengan tingkatan kelas. Ini terlihat dengan adanya organisasi isi dan organisasi siswa. Ini selanjutnya juga dapat menjadi catatan bahwa sebuah perencanaan kurikulum yang realistis disusun berdasarkan prinsip-prinsip penting yang harus diperhatikan.
Unsur tersebut dapat disebutkan sebagai berikut: (1) Tujuan dan prioritas (goals and priorities); (2) Isi kurikulum (content of the curriculum); (3) Jenis pembelajaran (types of learning opportunities); (4)Organisasi pembelajaran (learning organization); (5)Organisasi isi (organization of content areas); (6)Model presentasi dan respon (mode of presentation and response); dan (7)Jenis evaluasi (types of evaluation).
8 Eisner, E. W. (2002). The Educational Imagination on the Design and Evaluation of School Programs,
Pertama, Perencanaan kurikulum berkenaan dengan pengalaman-pengalaman para siswa. Kedua, Perencanaan kurikulum dibuat berdasarkan berbagai keputusan tentang konten dan proses. Ketiga, Perencanaan kurikulum mengandung keputusan-keputusan tentang berbagai isu dan topik. Keempat, Perencanaan kurikulum melibatkan banyak kelompok. Kelima, Perencanaan kurikulum dilaksanakan pada berbagai tingkatan. Keenam, Perencanaan kurikulum adalah sebuah proses yang berkelanjutan.
Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam perencanaan kurikulum. Oemar Hamalik menyebut aspek-aspek yang menjadi karakteristik perencanaan kurikulum yaitu berdasar konsep yang jelas, dibuat dalam kerangka kerja yang komprehensif, bersifat reaktif, tujuan berkait minat anak, dan ada partisipasi kooperatif.9
Masyarakat luas mempunyai hak dan tanggung jawab untuk mengetahui berbagai hal yang ditujukan bagi anak-anak mereka melalui perumusan tujuan pendidikan. Berkaitan dengan hal ini para pendidik-lah yang berkewajiban untuk memberitahukannya. Dengan keahlian profesional mereka, pendidik berhak dan bertanggung jawab
Apa yang disampaikan Hamalik di atas penting untuk dikomen-tari lebih lanjut. Pertama, perencanaan kurikulum harus berdasarkan konsep yang jelas tentang berbagai hal yang menjadikan kehidupan menjadi lebih baik, karakteristik masyarakat sekarang dan masa depan, serta kebutuhan dasar manusia. Kedua, perencanaan kurikulum harus dibuat dalam kerangka kerja yang komprehensif, yang memper-timbangkan dan mengoordinasi unsur esensial belajar-mengajar efektif. Ketiga, perencanaan kurikulum harus bersifat reaktif dan antisipasif. Pendidikan harus responsif terhadap kebutuhan individual siswa, untuk membantu siswa tersebut menuju kehidupan yang kondusif. Keempat, tujuan-tujuan pendidikan harus meliputi rentang yang luas akan kebutuhan dan minat yang berkenaan dengan individu dan masyarakat, rumusan berbagai tujuan pendekatan harus diperjelas dengan ilustrasi konkrit, agar dapat digunakan dalam pengembangan rencana kurikulum yang spesifik. Jika tidak, maka persepsi yang muncul kurang jelas dan kontradiktif.
mengidentifikasikan program sekolah yang akan membimbing siswa ke arah pencapaian tujuan pendidikan. Masyarakat boleh saja memberikan saran, namun keputusan akhir ada pada pendidik. Perencanaan dan pengembangan kurikulum paling efektif jika dikerjakan secara bersama-sama. Hal ini dikarenakan beragamnya unsur-unsur kurikulum, yang menuntut tentang keahlian secara luas.
Perencanaan kurikulum baru memuat artikulasi program sekolah dan siswa pada setiap jenjang dan tingkatan sekolah. Berkaitan dengan hal ini, kurikulum harus terdiri atas integrasi berbagai pengalaman yang relevan. Karenanya program sekolah harus dirancang untuk mengoor-dinasikan semua unsur dalam kurikulum kerangka kerja pendidikan. Meski masing-masing sekolah dapat mengembangkan dan memper-halus suatu struktur organisasi yang memfasilitasi studi masalah-masalah kurikulum dan mensponsori kegiatan perbaikan kurikulum.
Tetapi partisipasi kooperatif harus dilaksanakan dalam kegiatan-kegiatan perencanaan kurikulum, terutama keterlibatan masyarakat dan para siswa dalam perencanaan situasi belajar-mengajar yang spesifik. Maka dalam perencanaan kurikulum, harus diadakan evaluasi secara kontinyu terhadap semua aspek pembuatan keputusan kurikulum, yang juga meliputi analisis terhadap proses dan konten kegiatan kurikulum. Berbagai jenjang sekolah, mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, hendaknya merespon dan mengakomodasi perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan siswa. Untuk itu, perlu direfleksikan organisasi dan prosedur secara bervariasi.
Ada empat pertanyaan mendasar untuk menganalisis dan mengembangkan kurikulum. Empat pertanyaan dasar ini sering disebut ”Tyler Rationale”, karena pertanyaan ini memang diadaptasi dari buku Tyler yang berjudul ”Basic Principles of Curriculum and Instruction”. 1. What educational purposes should the school seek to attain?
2. What educational experiences can be provided that are likely to attain these purposes?
3. How can these educational experiences be effectively organized? 4. How can we determine whether these purposes are being attained?.10
10 Tanner, D and Tanner,L. N. (1980). Curriculum Development: Ttheory into Ppractice, 2nd Ed. New York,
Pertanyaan Tyler ini kemudian banyak dikutip penulis karena dianggap mewakili dari empat tahap berurutan dari pengembangan kurikulum.
Tanner dan Tanner menyebut empat esensi dari pertanyaan di atas. Pertama, mengidentifikasi tujuan. Kedua, memilih makna-makna bagi pencapaian tujuan ini. Ketiga, mengorganisasi makna-makna ini. Empat, mengevaluasi hasil. Secara sederhana hubungan interaksi antar faktor-faktor determinan dalam perencanaan kurikulum dapat digambarkan sebagai berikut.11
Gambar 1.1: Hubungan Interelasi Faktor-faktor Determinan Perencanaan Kurikulum Tanner dan Tanner
Berdasarkan faktor-faktor determinan di atas, kemudian muncul sebagai elemen, unsur, demensi, kerangka kerja dari perencanaan kurikulum dengan beragam variasi dan istilah yang berbeda-beda, meski secara fundamental empat faktor determinan tersebut selalu ada. Dalam perencanaan kurikulum faktor determinan tersebut menjadi elemen sekaligus kerangka kerja umum, membantu perencanaan kurikulum tersebut tersusun secara sistematis dan terorganisasi. 11Ibid. hal. 81-82 Objectives Methods and Organization Evaluation Subject Matter
Menurut Henson,12
Perhatian serupa juga diberikan Blenkin dan Kelly dalam melihat perencanaan sebagai faktor penting pengembangan kurikulum.
perencanaan kurikulum sebagai kata kunci rekayasa kurikulum terkait dengan beberapa variabel yang saling menunjang; memiliki judul yang jelas, mencerminkan pondasi kuat berdasar pernyataan filosofis, pernyataan tujuan yang akan dicapai, mengorganisasi isi, merumuskan aktivitas guru dan murid, dan yang penting juga adanya evaluasi (philosophy, purposes, content, activities, evaluation).
13
1. Landasan Perencanaan Kurikulum
Secara sistematis dihubungkan dengan beberapa urutan berikut; penilaian (assessment), tujuan (goal), isi (content), metode pembelajaran (teaching method), alokasi waktu (time allocation), organisasi materi (isi) dan kelas (organization of materials and classroom), dan organisasi anak berdasar umur dan kemampuan (organization of student). Dari kontribusi di atas, secara umum mencakup model, ide, dan harapan sebuah perencanaan kurikulum.
Pentingnya perencanaan dalam menerapkan kurikulum yang aplikatif merangsang banyak penulis yang memberikan konsen serius pada masalah ini. Penulis secara khusus memberikan kerangka kerja dari perencanaan kurikulum diantaranya Amstrong (1989), Beauchamp (1975), Brady (1990), Oliva (1992), Henson (1995), Tanner dan Tanner (1980) dan Eisner (2002).
Pendidikan berdasarkan tiga landasan utama, yaitu filsafat, sosiologi dan psikologi, yang berhubungan dengan kebutuhan individu maupun masyarakat. Perencanaan kurikulum berhubungan dengan fokus spesifik dan subjek daerah Pondasi tersebut. Menurut Brady klaim umum untuk membawa disiplin ini dalam pengembangan kurikulum adalah untuk membantu mereka memberikan guru tujuan spesifik dan perencanaan pengalaman belajar.14
12 Henson, K.T. (1995). Curriculum Development for Educational Reform, Eastern Kentucky University,
Longman.Hal. 313
13Blenkin, G M dan Kelly, AV. (1981).Primary Curriculum, London ,Harper dan Row Publisher. Hal: 158 14 Brady, L. (1990). Curriculum Development, Third Edition, New York, London, Prentice Hall. Hal. 36
menyediakan pengetahuan yang membantu guru dalam menentukan tujuan yang spesifik pada tiga area utama.
Pertama, pertumbuhan, kebutuhan-kebutuhan, keinginan dan kesiapan anak (psikologi).Kedua, kondisi sosial yang telah dialami atau memungkinkan untuk menjadi pengalaman anak (sosiologi), dan Ketiga, karakteristik pengetahuan dan pengajaran (filsafat).
Ketiga disiplin ini digambarkan Brady sebagai terikat, bersen-tuhan sebagai informasi pengembangan kurikulum di semua tingkat perencanaan. Pengetahuan fundamental yang menjadi dasar peren-canaan kurikulum dapat dijelaskan dari gambar berikut.
Gambar 1.2: Landasan Perencanaan Kurikulum
Apa yang dikemukakan Brady di atas, memiliki beberapa alasan. Pertama, Filsafat memberikan sumbangan berharga dalam meneguhkan karakteristik pengetahuan, basis epistemologi, etika dan karakteristik pengetahuan. Apakah pengetahuan itu? Apa pengajaran? Mana pendidikan atau materi yang lebih utama? Apakah nilai? semua membutuhkan sumbangan filsafat sebagai dasar atau pondasinya. Kedua, Psikologi menyiapkan informasi dan konsep untuk melakukan metode investigasi yang dapat digunakan secara umum pendidikan. Perilaku,
1 Landasan Filosofis • Tujuan • Keutamaan • Struktur Pengetahuan 2 Landasan Sosial • Perubahan Sosial • Perubahan Teknologi • Perubahan Ideologi 3
Pilihan dari Budaya
4 Landasan Psikologi • Pengembangan • Pembelajaran • Instruksi • Motivasi 5 Kurikulum terorganisir dalam urutan dan tingkatan
karakter, keinginan, kebutuhan, motivasi berfikir adalah konsep yang diklasifikasikan dalam studi psikologi. Ketiga, sosiologi juga memberi-kan gambaran memadai tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kurikulum. Karakter keluarga, karakter masyarakat, komunitas. kelompok akan menentukan bangunan kurikulum yang direncanakan.
Berbeda dengan Brady, Amstrong,15
2. Tujuan
berpijak dari Tyler (1949) mengidentifikasi tiga sumber utama kurikulum; masyarakat, pelajar dan pengetahuan. Pengembang kurikulum menganggap informasi dari setiap sumber di atas sebagai poin permulaan untuk kerja mereka. Sedang Psikologi dan Filsafat itu sebagai Major Mediator, disiplin perantara, sumber perspektif dalam melihat dari harapan-harapan masyarakat, watak pelajar yang harus dilayani dan pengetahuan yang akan ditransmisikan.
Menurut Brady pernyataan dari tujuan pendidikan mencakup tujuan umum, tujuan khusus, tujuan kelas dan tujuan behavioral (goals, aims, objectives and behavioral objectives).16 Tujuan dari kelas (objectives)
menggambarkan keluaran yang dikehendaki dari proses belajar mengajar dalam terma-terma dari beberapa perubahan dari anak. Tujuan behavioral mengkomunikasikan maksud dengan pernyataan tindakan atau perbuatan yang akan dicapai.
Gambar 1.3: Hirarki Tujuan.17
15Amstrong, D. G. (1989).Developing and Documenting the Curriculum, Allyn and Bacon, Boston, London,
Sydney. Hal. 5
16Brady, (1990).Curriculum…, Hal: 14 17Ibid, Hal: 89
Hal berbeda dengan yang kemukakan Kennet T. Henson dalam bukunya “The Curriculum Development for Education Reform,” kata aim, goal dan objective memiliki perbedaan dalam stratifikasi dan ruang lingkup tujuan.Gambar 1.4 berikut menjelaskan tentang perbedaan dan contoh penggunaannya masing-masing tingkatan.
Gambar 1.4: Tingkatan Tujuan Pendidikan.18
Sedangkan objective (tujuan pembelajaran) disesuaikan dengan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD). Proses pembelajaran tanpa tujuan bagaikan hidup tanpa arah. Oleh sebab itu, tujuan pendidikan dan pembelajaran secara keseluruhan harus dikuasai oleh guru. Tujuan disusun berdasarkan ciri karakteristik anak dan arah yang ingin dicapai. Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan perbuatan belajar, yang Ada istilah aim (tujuan pendidikan nasional), yaitu sesuai dengan amanat undang-undang dasar 1945 dalam pembukaannya alinea empat, dijelaskan bahwa tujuan pendidikan nasional kita adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa.”
Kemudian pada goal (tujuan institusional atau kelembagaan) misalnya, membentuk pribadi manusia yang beriman dan berakhlak mulia serta mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
18 Agus Zaenul Fitri, (2012). Reinventing Human Character: Pendidikan Karakter Berbasis Nilai dan Etika
umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang baru yang diharapkan tercapai oleh siswa
Hamalik menjelaskan bahwa komponen tujuan pembelajaran, meliputi: (1) tingkah laku, (2) kondisi-kondisi tes, (3) standar (ukuran) perilaku.19
Tujuan pembelajaran (objective) memberikan arah positif yang berimplikasi pada; Pertama, suatu pengertian tentang arah (sasaran) bagi
Dalam model pengembangan kurikulum seperti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tujuan pembelajaran disesuaikan dengan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang diukur melalui indikator-indikator pencapaian keberhasilan pembe-lajaran. Perilaku belajar dalam KTSP diukur dengan indikator yang jelas. Misalnya, mampu menjelaskan, mengungkapkan, menganalisis dan mengaplikasikan suatu konsep atau teori tertentu.
Karenanya, area yang paling luas dan kerangka kerja kurikulum adalah definisi tujuan pendidikan secara menyeluruh. Berdasarkan tiga daerah fondasi tadi, tujuan umum menyajikan tujuan khusus kewilayahan yang dikembangkan pada berbagai jenjang wilayah (nasional, provinsi, kabupaten atau kotamadya, dan masyarakat luas).Rumusan tujuan tersebut merefleksikan tingkat atau daerah satu dengan yang lainnya. Tingkat nasional memberikan petunjuk bagi pengembangan lokal, dan sebaliknya. Masalah yang sering timbul dalam perencanaan kurikulum yang spesifik tidak mempertimbangkan rumusan tujuan yang luas atau rumusan tujuan umum berkelanjutan. Karenanya rumusan tujuan akan membatasi dari ruang mana ia menjadi sasaran.
Perumusan tujuan belajar diperlukan untuk meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat, dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitarnya. Di Indonesia secara umum untuk mencapai tujuan, penyelenggara sekolah berpedoman pada tujuan pendidikan nasional. Sumber dan tujuan ini adalah sumber empiris, sumber filosofis, sumber mata pelajaran, konsep kurikulum, analisis situasional, dan tekanan pendidikan yang sudah dirumuskan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
setiap orang yang tertarik dengan proses pendidikan, seperti siswa, guru, administrator, orang tua, penilik, pengawas dan sebagainya; Kedua, basis perencanaan kurikulum yang rasional dan logis; dan Ketiga, memberikan suatu basis untuk penilaian siswa. Tujuan umum menyaji-kan berbagai tujuan yang mengalihmenyaji-kan kegiatan belajar mengajar sejalan dengan tingkat perkembangan siswa (anak-anak sampai dewasa) sehingga program pendidikan pun sejalan dengan tingkat perkem-bangan siswa tersebut.
Dalam kerangka ini, maka tujuan yang efektif menuntut Brady harus dapat mempertemukan beberapa persyaratan; (1) cakupan (scope), memasukkan semua rangsangan hasil belajar:(2) relevansi (suitability), terkait situasi kelas dan konteks sosial:(3) validitas (validity), mereflek-sikan nilai yang mereka tuju untuk dihadirkan;(4) fisibilitas (feasibility), dapat dicapai dalam terma kemampuan anak dan ketersediaan sumber;(5) kompatibel (compatibility), memiliki konsistensi dengan pernyataan tujuan lainnya;(6) spesifik (specificity), cukup tepat untuk menghilangkan ambiguitas; dan (5) interpretatif (interpretability), mudah difahami bagi mereka yang mungkin membantu untuk mengimplementasikannya.19F20
3. Organisasi Isi
Isi atau materi dalam bahasa Arab disebut dengan (Al-maddah) yang berarti materi (isi).Materi (isi) dari pada kurikulum pendidikan Islam meliputi: (1) Al-Qur’an dan Hadits; (2) Akidah dan Akhlak; (3) Fiqh (Muamalah); (4) Sejarah Peradaban dan Kebudayaan Islam; dan (5) Sejarah Pendidikan Islam.
Isi kurikulum atau core curriculum atau struktur bahan pelajaran adalah kumpulan dari mata pelajaran yang menjadi bahan diskursus dalam proses belajar mengajar. Brady menegaskan isi didefinisikan sebagai mata pelajaran dari belajar mengajar (content is defined as the subject matter of teaching-learning).20F21Ia melibatkan banyak hal. Bukan saja pengetahuan, tetapi juga keterampilan, konsep, sikap dan nilai; isi di sampaikan dengan berbagai cara; cara yang digunakan disebut metode
20Brady, (1990).Curriculum…, hal: 89-90 21Ibid, hal: 92
belajar; konten atau isi kurikulum merupakan susunan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.
Penggunaan desain kurikulum umum untuk mengorganisir pengalaman belajar yang mencakup semua program disebut aktivitas makro kurikulum.22
22Amstrong, (1988).Developing…., Hal. 73
Kegiatan itu mencakup kegiatan luas, perencanaan dan merefleksikan keputusan yang dibuat secara nasional, regional dan lokal. Hasil kerja ini biasanya berupa garis-garis besar yang berisi informasi terkait bahan pelajaran yang ditawarkan, persyaratan, urutan dan waktu yang dibutuhkan. Bahan ajar yang meliputi bahan kajian dan mata pelajaran. Isi kurikulum adalah mata pelajaran pada proses belajar-mengajar, seperti pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diasosiasikan dengan mata pelajaran.
Pemilihan organisasi isi menekankan pada pendekatan mata pelajaran (pemahaman) atau pendekatan proses (keterampilan) dapat dilakukan melalui beberapa cara. Pertama, pendekatan kronologis, dimana isi diurutkan berdasar tema-tema dari waktu berdasar kalender baik dari masa lampau ke masa sekarang atau sebaliknya dari masa sekarang ke masa lampau. Ini dimungkinkan jika materi memiliki hubungan logis dari sisi urutan waktu (the chronological approach). Kedua, pendekatan tematik, dimana elemen materi pertama diorganisir di bawah satu tema besar, kemudian diputuskan mana yang diajarkan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya (the thematic approach). Ketiga, pendekatan dari bagian kecil ke bagian besar, dimana topik-topik atau unit-unit isi diurutkan dari basic elemen ke elemen yang lebih kompleks (the part to whole approach), dan Keempat, kebalikan dari pendekatan bagian kecil ke bagian besar. Pada pendekatan ini informasi umum secara tipikal disampaikan dahulu, dengan menyiapkan anggota kelas memiliki pandangan umum yang bersifat luas dari apa yang mereka pelajari. Baru kemudian setelah mereka memiliki rangkuman dari overview, informasi spesifik mulai diperkenalkan dan memperkenankan mereka mempelajari bagian terkecil dari bagian besar (The whole to part approach) yang tunjukkan pada gambar 1.5 berikut.
Gambar 1.5: Pendekatan Organisasi Isi
Apapun pilihan pendekatan dari organisasi isi perencanaan kurikulum terdapat kriteria yang perlu diperhatikan dalam pemi-lihan organisasi isi kurikulum ini, yaitu: (a) signifikansi, yaitu seberapa penting isi kurikulum pada suatu disiplin atau tema studi; (b) validitas, yang berkaitan dengan keotentikan dan keakuratan isi kurikulum tersebut; (c) relevansi sosial, yaitu keterkaitan isi kurikulum dengan nilai moral, cita-cita, permasalahan sosial, isu kontroversial, dan sebagainya, untuk membantu siswa menjadi anggota efektif dalam masyarakat; (d) utility atau kegunaan (daya guna), berkaitan dengan kegunaan isi kurikulum dalam mempersiap-kan siswa menuju kehidupan dewasa; (e) learnability atau kemampuan untuk dipelajari, yang berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memahami isi kurikulum tersebut; dan(f) minat, yang berkaitan dengan minat siswa terhadap isi kurikulum tersebut.
4. Organisasi Siswa (Peserta Didik)
Aspek penting yang perlu diperhatikan dari perencanaan kuriku-lum adalah aspek perkembangan manusia. Aspek ini akan memberi arah bagi perencanaan kurikulum yang tepat. Pemahaman yang memadai tentang tahap perkembangan manusia berguna sebagai alat memahami kebutuhan anak dari beragam tingkat pendidikan. Meski secara tak langsung dapat mendefinisikan perkembangan anak secara khusus pada usianya. Karena anak secara lahir memiliki keunikan.
Dalam konteks pendidikan muncul berbagai klasifikasi anak berdasar umur, level dan juga tingkat perkembangannya. Anak dikelom-pokkan berdasar perkembangannya yang disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan jasmani, mental dan motorik. Klasifikasi umum yang sering ditemui adalah infant (usia 1-2 tahun), Todler (usia 2-3 tahun), Nursery (usia 3-4 tahun), dan Kindergarten (usia 4-5) tahun (K1) dan 5-6
tahun (K2). Istilah yang sama dengan Taman Pengasuhan Bersama, Bermain Bersama, Kelompok Bermain (Play Group), Taman Kanak-Kanak. Pengelompokan anak berdasar level, klasifikasi Early Childhood, Pre School, Primary, Secondary, Elementary, Junior, Senior sampai High School atau University adalah argument yang menggunakan dasar perkembangan manusia.
Beberapa aspek perkembangan anak yang penting untuk petunjuk perencanaan kurikulum adalah basis biologis dan perbedaan individu, kematangan fisik, perkembangan intelektual, pertumbuhan emosi, dan perkembangan sosial dan budaya.
Gambar 1.6. Lima Aspek Perkembangan sebagai Petunjuk
Perencanaan Kurikulum.23
Organisasi siswa selain memperhatikan lima aspek sebagaimana digambarkan di atas, juga perlu memperhatikan aspek waktu. Disini guru atau pihak perencanaan kurikulum perlu mempertimbangkan lima daerah yang akan mempengaruhi keputusan mereka, yaitu: Pertama, karakteristik siswa yang menggunakan kurikulum tersebut; Kedua, refleksi prinsip-prinsip belajar; Ketiga, sumber-sumber umum penunjang; Keempat, jenis pendekatan kurikulum (terpisah, terkorelasi,
23Parkay, (2006).Curriculum…., Hal. 123
dan sebagainya); dan Kelima, pengorganisasian pengelolaan disiplin spesifik yang digunakan dalam perencanaan situasi belajar-mengajar. 5. Metode
Metode dalam bahasa Arab disebut (Thoriqah, Wasilah) yang berarti metode, cara, jalan yang digunakan agar dapat mencapai tujuan. Bagian paling penting dan sangat jelas dari elemen kurikulum adalah metode. Menurut Brady seseorang yang datang ke sekolah tidak langsung melihat apa tujuan dan isi di dalam kegiatan. Melainkan metode apa yang digunakan.23F24 Metode tidak berdiri sendiri. Memilih metode sangat berkait dengan model pembelajaran, terkait dengan isi kurikulum dan tujuan.
Gambar 1.7: Hubungan Tujuan dan Metode
Metode dipilih berdasar tujuan yang dirumuskan. Selanjutnya metode juga terkait dengan model belajar. Brady mengidentifikasi lima model belajar, mendefinisikan sebuah model sebagai blueprint yang dapat digunakan untuk membimbing persiapan mengajar. Model disusun dalam sebuah kontinum dari terpusat guru (teacher centered) berpusat pada anak (student centered).
Gambar 1.8: Model Pembelajaran
24Brady, (1990).Curriculum…, Hal. 108
Teacher Centered Exposition Behavioral Cognitive Development Interaction Transaction Student Centered
Model Eksposisi adalah model tradisional yang terpusat pada guru. Sementara transaksi adalah model mutakhir yang terpusat pada anak. Metode juga berkait dengan tujuan yang dirumuskan. Hubungan aktivitas belajar dapat didefinisikan sebagai berbagai aktivitas yang diberikan pada pembelajar dalam situasi belajar-mengajar. Aktivitas belajar ini didesain agar memungkinkan siswa memperoleh muatan yang ditentukan, sehingga berbagai tujuan yang ditetapkan, terutama maksud dan tujuan kurikulum, dapat tercapai.
Berkaitan dengan aktivitas belajar, harus diperhatikan pula strategi belajar-mengajar yang efektif, yang dapat dikelompokkan sebagai berikut: Pertama, pengajaran expository. Pengajaran expository atau penjelasan rinci ini melibatkan pengiriman informasi dalam arah tunggal, dan suatu sumber ke pebelajar. Contoh dan pengajaran ini adalah ceramah, demonstrasi, tugas membaca dan presentasi audio visual. Kedua, pengajaran interaktif. Pada hakikatnya, pengajaran ini sama dengan pengajaran expository. Perbedaannya, dalam pengajaran interaktif terdapat dorongan yang disengaja ketika terjadi interaksi antara guru dan pembelajar, yang biasanya berbentuk pemberian pertanyaan. Pada dasarnya, dalam pendekatan ini pembelajar lebih aktif, dan keterampilan berpikir ditingkatkan melalui unsur interaktif. Ketiga, pengajaran atau diskusi kelompok kecil. Karakteristik pokok dan strategi ini melibatkan pembagian kelas ke dalam kelompok-kelompok kecil yang bekerja relatif bebas, untuk mencapai suatu tujuan. Peran guru berubah, dan seorang pemberi pengetahuan menjadi koordinator aktivitas dan pengarah informasi. Keempat, pengajaran inkuiri atau pemecahan masalah. Ciri utama strategi ini adalah aktifnya pembelajar dalam penentuan jawaban dan berbagai pertanyaan serta pemecahan masalah. Pengajaran inkuiri biasanya melibatkan pembelajaran dengan aktivitas yang dilaksanakan secara bebas, berpasangan atau dalam kelompok yang lebih besar. Dan Kelima, strategi belajar-mengajar lainnya. Strategi belajar-mengajar lain yang relatif lebih baru adalah cooperative learning, community service project, mastered learning, dan project approach.
Dari beragam metode ini yang penting diperhatikan adalah kriteria pemilihan metode. Menurut Brady,25
a. Metode Ceramah
didasarkan pada beberapa pertimbangan berikut ini: (1) keragaman (variety). Metode harus bervariasi untuk mempertemukan tujuan yang dirumuskan dan mengakomodasi tingkat perbedaan dan gaya pengajaran; (2) cakupan (scope), metode harus cukup bervariasi untuk mencapai semua tujuan yang dirumuskan; (3) validitas (validity), metode khusus harus terkait dengan tujuan khusus; (4) kesesuaian (appropriate), metode terkait dengan keinginan anak, kemampuan dan kesiapan; dan (5) relevan (relevance), metode yang digunakan di sekolah harus terkait dengan apa-apa yang dituntut selesai sekolah.
Macam-macam metode pembelajaran yang bisa digunakan dalam pendidikan Islam, yaitu:
Metode ceramah dapat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penuturan secara lisan. Metode ceramah sampai saat ini sering digunakan oleh setiap guru atau instruktur. Hal ini selain disebabkan oleh beberapa pertimbangan tertentu, juga adanya faktor kebiasaan baik dari siswa maupun guru. Guru biasanya belum puas manakala dalam proses pengelolaan pembelajaran tidak melakukan ceramah.26
25Ibid, 128
26Wina Sanjaya, (2010). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta:
Kencana.Hal.147.
Demikian juga dengan siswa, mereka akan belajar manakala ada guru yang memberikan materi pelajaran melalui ceramah. Sehingga ada guru yang berceramah berarti ada proses belajar dan tidak ada guru berarti tidak ada belajar. Metode ceramah merupakan cara yang digunakan untuk mengimplemen-tasikan strategi pembelajaran ekspositori.
Metode ceramah seringkali diterapkan dalam pembelajaran. Tidak hanya pada pembelajaran fiqih namun juga pembelajaran yang lain. Karena metode ini di anggap lebih mudah dan lebih praktis, apalagi apabila diterapkan pada anak usia kelas bawah.
1) Kelebihan metode ceramah diantaranya:
a) Ceramah merupakan metode yang mudah dan murah untuk dilakukan. Murah maksudnya tidak memerlukan peralatan yang lengkap, sedangkan mudah maksudnya memang ceramah hanya mengandalkan suara guru, sehingga tidak butuh persiapan yang rumit.
b) Ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas, artinya materi yang banyak dapat dirangkum atau dijelaskan pokok-pokoknya oleh guru dalam waktu yang singkat.
c) Ceramah dapat memberikan pokok materi yang perlu ditonjolkan. Artinya guru dapat mengatur pokok materi mana yang perlu ditekankan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
d) Melalui ceramah, guru dapat mengontrol keadaan kelas. 2) Kelemahannya diantaranya:
1) Materi yang dikuasai siswa sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru.
2) Ceramah yang tidak disertai dengan peragaan dapat meng-akibatkan pemahaman yang berbeda antara siswa satu dengan siswa yang lainnya, termasuk dalam ketajaman menangkap materi pembelajaran melalui pendengarannya.
3) Guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, ceramah sering dianggap metode yang membosankan.27
4) Guru sukar mengetahui sampai mana murid-murid mengerti pembicaraannya.28
5) Guru lebih aktif sedangkan murid pasif.
6) Adanya unsur paksaan, karena guru yang bicara, murid diharuskan mendengarkan apa yang dijelaskan guru.29
b. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau
27Ibid, hal.147-149.
28Suryosubroto, (1997). Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakarta:Rineka Cipta. Hal.167.
29Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, 1981.Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam,
untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik.
Dengan metode demonstrasi guru atau murid memperlihatkan pada seluruh anggota kelas sesuatu proses, misalnya bagaimana cara shalat yang sesuai dengan ajaran Rasulullah saw. Sebaiknya dalam mendemonstrasikan pelajaran tersebut guru lebih dahulu men-demonstrasikan yang sebaik baiknya, lalu murid ikut mempraktikkan sesuai dengan petunjuk. Contoh: pada materi tentang tata cara pengurusan jenazah didemonstrasikan cara-cara mengurusi jenazah dengan praktik.
Beberapa keuntungan metode demonstrasi yaitu:
1) Perhatian siswa dapat dipusatkan, dan titik berat yang dianggap penting oleh guru dapat diamati secara tajam.
2) Perhatian siswa akan lebih terpusat kepada apa yang didemonstrasikan, jadi proses belajar siswa akan lebih teratur dan akan mengurangi perhatian siswa kepada masalah lain.
3) Apabila siswa sendiri ikut aktif dalam sesuatu percobaan yang bersifat demonstrasi, maka mereka akan memperoleh pengalaman yang melekat pada jiwanya dan ini berguna dalam pengembangan percakapan.
c. Metode Tutorial/Bimbingan
Metode tutorial merupakan proses pembelajaran yang dilakukan guru/tutor dengan cara memberikan bimbingan kepada siswa baik secara perorangan majupun kelompok. Metode ini sangat baik digunakan bagi siswa yang terlibat dalam kerja kelompok. Misalnya tentang cara mengkafani jenazah, maka guru memberikan bimbingan tentang tata cara mengkafani jenazah secara baik dan benar.
Posisi dan peran guru sebagai motivator, innovator, motivator dan conselorakan sangat membantu siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang dikerjakannya.
d. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa secara kelompok untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengum-pulkan pendapat, membuat kesimpulan atau penyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah. Forum diskusi dapat diikuti oleh semua siswa di dalam kelas dapat pula dibentuk kelompok-kelompok yang lebih kecil.
Secara umum ada 2 (dua) jenis diskusi yang biasa dilakukan dalam proses pembelajaran, yaitu:
1) Diskusi kelompok
Diskusi ini dinamakan juga diskusi kelas. Pada diskusi ini permasalahan yang disajikan oleh guru dipecahkan oleh kelas secara keseluruhan. Yang mengatur jalannya diskusi adalah guru itu sendiri.
2) Diskusi kelompok kecil
Pada diskusi ini siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 3-7 orang. Proses pelaksanaan diskusi ini dimulai dari guru menyajikan masalah dengan beberapa sub masalah. Setiap kelompok memecahkan sub masalah yang disampaikan guru. Proses diskusi ini diakhiri dengan laporan setiap kelompok.
Dalam penerapan metode diskusi ini juga tidak luput dari kelebihan dan kelemahan dari metode yang digunakan. Di bawah ini akan ada penjelasan mengenai apa saja yang menjadi kelebihan dan kelemahan dari metode diskusi ini.
a) Kelebihan metode diskusi diantaranya:
(1) Metode diskusi dapat merangsang siswa untuk lebih kreatif khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide.
(2) Dapat melatih untuk membiasakan diri bertukar fikiran dalam mengatasi setiap permasalahan.
(3) Dapat melatih siswa untuk dapat mengemukakan pendapat atau gagasan secara verbal disamping itu, diskusi juga bisa melatih siswa untuk menghargai pendapat orang lain.
b) Kelemahan metode diskusi.
(1) Sering terjadi pembicaraan dalam diskusi dikuasai oleh dua atau tiga orang siswa yang memiliki keterampilan berbicara. (2) Kadang-kadang pembahasan dalam diskusi meluas,
sehingga kesimpulan menjadi kabur
(3) Memerlukan waktu yang cukup panjang, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan yang direncanakan
(4) Dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat yang bersifat emosional yang tidak terkontrol. Akibatnya kadang-kadang ada pihak yang merasa tersinggung, sehingga dapat mengganggu iklim pembelajaran.30
e. Metode Tajribat (Eksperimen)
Metode Tajribat ini merupakan suatu cara pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung untuk melakukan dan mengalami serta membuktikan sendiri apa yang dipelajari. Maka metode ini siswa didorong untuk melakukan, mengalami, membuktikan, menganalisis dan menarik kesimpulan dari kegiatan yang dilakukan-nya.
Metode ini biasanya dilakukan dalam suatu pelajaran tertentu seperti ilmu alam, ilmu kimia, dan sejenisnya. Biasanya terhadap ilmu-ilmu alam yang di dalam penelitiannya menggunakan metode yang sifatnya obyektif, baik dilakukan di dalam maupun di luar kelas dan laboratorium.31
f. Metode Pemberian Tugas
Misalnya peserta diminta untuk melakukan eksperimen tentang tata cara memandikan, mensholatkan dan mengkafani jenazah.
Metode ini adalah suatu cara dalam proses belajar mengajar bilamana guru memberi tugas tertentu dan murid mengerjakannya, kemudian tugas itu dipertanggungjawabkan kepada guru. Dengan cara demikian diharapkan agar murid belajar secara bebas tapi bertanggung jawab dan murid akan berpengalaman mengetahui
30Wina Sanjaya, (2010).Strategi..., hal.156.
berbagai kesulitan kemudian berusaha untuk ikut mengatasi kesulitan-kesulitan itu.
Pemberian tugas dapat dilakukan dalam beberapa hal yaitu:
1) Murid diberi tugas mempelajari bagian dari suatu buku teks, baik perorangan ataupun kelompok.
2) Murid diberi tugas untuk melaksanakan sesuatu yang tujuannya melatih mereka dalam hal yang bersifat kecakapan mental dan motorik.
3) Murid diberi tugas melaksanakan eksperimen, misalnya: praktik sholat jenazah, cara memandikan jenazah.
4) Murid diberi tugas untuk mengatasi masalah tertentu atau problem solving dengan cara memecahkannya dengan tujuan agar murid terbiasa berfikir logis dan sistematis.
5) Murid diberi tugas melaksanakan proyek dan bertujuan agar murid-murid membiasakan diri bertanggung jawab terhadap penyelesaian suatu masalah. Misalnya peserta didik diberi tugas membuat kliping tentang makanan dan yang halal.
g. Metode Drill (Latihan)
Metode drill merupakan suatu cara penyampaian mata pelajaran kepada peserta didik dengan cara mengulang-ulang (berkali-kali) terhadap hal yang sama dengan tujuan memperkuat suatu asosiasi atau penyempurnaan suatu keterampilan agar melekat dan menjadi permanen.
Penggunaan istilah “latihan” sering disamakan artinya dengan istilah “ulangan”. Padahal maksudnya berbeda. Latihan bermaksud agar pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat menjadi milik anak didik dan dikuasai sepenuhnya, sedangkan ulangan hanyalah untuk sekedar mengukur sejauh mana dia telah menyerap pengajaran tersebut. Misalnya, memberikan soal-soal latihan dengan materi yang lebih dikembangkan sesuai materi pembelajaran pendidikan Islam.
Menurut para ahli metode ini memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan, yaitu:
1) Keunggulan
a) Siswa akan memperoleh ketangkasan dan kemahiran dalam melakukan sesuatu dengan apa yang dipelajarinya.
b) Dapat menimbulkan rasa percaya diri, bahwa para siswa berhasil dalam belajarnya telah memiliki sesuatu keterampilan khusus yang berguna kelak di kemudian hari.
c) Guru lebih mudah mengontrol dan dapat membedakan mana siswa yang disiplin dalam belajarnya dan mana yang kurang memperhatikan tindakan dalam perbuatan siswa di saat berlangsungnya pengajaran.
d) Memungkinkan siswa dapat memperbaiki kesalahannya saat itu juga.
e) Melatih daya tangkap dan daya ingat siswa serta daya ekspresi. f) Melatih siswa untuk rajin belajar dan menyesuaikan
pertanyaan serta jawabannya secara tepat dan benar. g) Melatih daya konsentrasi siswa.
2) Kelemahan
a) Dapat menghambat inisiatif siswa, di mana inisiatif dan minat siswa yang berbeda dengan petunjuk guru dianggap suatu penyimpangan dan pelanggaran dalam pengajaran yang diberikannya.
b) Membuat siswa menjadi statis, karena tidak diberikan kebebasan dalam mengembangkan kreativitas siswa dalam menyelesaikan tugas.
c) Membentuk kebiasaan yang kaku, artinya seolah-olah siswa melakukan sesuatu secara mekanis, dan dalam memberikan stimulus siswa dibiasakan bertindak secara otomatis.
d) Dapat menimbulkan verbalisme, terutama pengajaran yang bersifat menghafal di mana siswa dilatih untuk dapat menguasai bahan pelajaran secara hafalan dan secara otomatis mengingatkan apabila ada pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan hafalan tersebut tanpa suatu proses berfikir yang logis.
h. Metode Kerja Kelompok
Apabila guru dalam menghadapi siswa di kelas merasa perlu membagi-bagi siswa dalam kelompok-kelompok untuk memecahkan suatu masalah yang perlu dikerjakan bersama-sama, maka cara mengajar tersebut dapat dinamakan metode kerja kelompok.
Pengelompokan dapat dilakukan oleh siswa sendiri yang biasanya dalam pemilihan kelompok seperti ini didasarkan atas pemilihan teman yang menurutnya lebih dekat atau lebih intim. Cara ini menimbulkan keuntungan, yaitu menimbulkan konsentrasi dalam belajar, memudahkan hubungan kepribadian dan dapat menimbul-kan kegairahan baru. Namun pengelompomenimbul-kan dapat pula dilakumenimbul-kan oleh guru atas pertimbangan-pertimbangan yang telah dibuat oleh guru.32
i. Metode Tanya Jawab
Misalnya membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, kemudian masing-masing kelompok diberi tugas untuk mempraktik-kan tata cara mengkafani jenazah dengan benar.
Adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya konsumsi langsung bersifat dua arah. Sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa. Guru bertanya siswa menjawab begitu pula sebaliknya. Dalam komunikasi ini terlihat adanya hubungan timbal balik antara guru dan siswa.33
Metode ini dapat dipakai oleh guru untuk menetapkan perkiraan secara umum apakah siswa yang mendapat giliran pertanyaan sudah memahami bahan pelajaran yang telah diberi-kan.34
Metode ini dapat dipakai oleh guru untuk menetapkan perkiraan secara umum apakah siswa yang mendapat giliran pertanyaan sudah memahami bahan pelajaran yang telah diberikan.
Misalnya, guru memberikan pertanyaan kepada peserta didik tentang materi setelah akhir pembelajaran.
35
32Ibid, Hal. 237-243.
33R Ibrahim,dkk,(2010). Perencanaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 106. 34Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, (1981). Metodik..., hal. 245. 35Ibid, hal. 245.
Beberapa alternatif dapat terjadi dalam metode tanya jawab yaitu:
1) Segi kecepatan menuangkan bahan pelajaran
Dalam hal menerangkan bahan pelajaran pada siswa penggunaan metode tanya jawab lebih lamban daripada metode ceramah akan tetapi metode tanya jawab dari segi kepastian lebih tajam, karena guru memberikan pertanyaan untuk suatu jawaban tertentu dan guru dapat mengetahui dengan segera apakah siswanya mengerti atau tidak. Kalau terjadi yang demikian maka guru dapat segera menjelaskan kembali segi-segi yang belum jelas itu.
2) Dapat terjadi penyimpangan dari pokok persoalan
Guru dalam melaksanakan tanya jawab lebih besar kemungkinan menyimpang dari pokok persoalan hal ini dapat terjadi apabila siswa memberikan jawaban, lalu berbalik mengajukan pertanyaan yang menimbulkan masalah baru di luar yang sedang dibicarakan. 3) Dapat terjadi perbedaan pendapat antara murid dan guru
Untuk menghindari sesuatu yang dapat terjadi dalam metode tanya jawab terutama yang bersifat negatif maka perlu diperhati-kan hal-hal sebagai berikut:
a) Pertanyaan harus singkat jelas dan merangsang untuk berfikir. b) Sesuai dengan kecerdasan siswa.
c) Memerlukan jawaban dalam bentuk kalimat atau uraian kecuali yang bersifat obyektif tes, dapat menggunakan pilihan jawaban ya/tidak.
d) Usahakan pertanyaan dengan jawaban yang pasti.36
j. Metode Simulasi
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode
36Ibid, hal. 245-246.
mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya.37
k. Metode Kisah
Dalam simulasi, para siswa membuat sambungan di dalam otak mereka yang jarang didapat, melalui teknik pengajaran konvensional. Akibatnya, pembelajaran memiliki dampak yang lebih besar, ditambah dengan pengetahuan dan keterampilan baru serta efeknya dapat dipertahankan lebih lama lagi. Hebatnya, waktu yang dihabiskan untuk simulasi sebuah konten tidak mengurangi jumlah jam belajar. Efektivitas penggunaan pendekatan simulasi akan tergantung pada desain dasar dari simulasi serta pelaksanaan dan evaluasi teknik yang digunakan. Mengajar menggunakan Metode Simulasi merupakan usaha untuk meningkatkan motivasi, para peserta datang untuk memahami lebih banyak dan juga dapat menemukan lebih banyak subjek. Bahkan, pemahaman mulai berkembang pesat, sehingga tingkat yang lebih tinggi dari motivasi itu dapat muncul. Dengan demikian, motivasi dan pemahaman menjadi bahan bakar untuk satu sama lain, dan siswa menjadi lebih terlibat dalam pengalaman pembelajaran. Peserta didik benar-benar menggunakan lebih dari pengertian materi ketika mereka terlibat dalam kegiatan simulasi. Hal ini dapat dicontohkan seperti bertayamum, sholat, berwudhu, memandikan dan mengkafani jenazah, dan lain-lain.
Metode kisah adalah metode yang banyak menceritakan suatu peristiwa untuk menyampaikan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya, misalnya kisah para nabi dan rasul dan umat terkemuka zaman dahulu. Dalam kisah itu tersimpan nilai-nilai etis, pedagogis, religius, kepemimpinan dan perjuangan yang memungkinkan siswa mampu meresapinya. Contohnya; menceritakan tentang kisah nabi Ya’kub sebagai salah satu contoh nabi yang memiliki kesabaran dalam menghadapi ujian sakit, dijauhi sanak saudara dan kerabat dekat.
37Wina Sanjaya, (2010). Strategi..., Hal. 159.
l. Metode Pemahaman dan Penalaran (al-Ma’rifal wa al-Nadhariyah) Metode ini adalah metode mendidik dengan membimbing anak didik untuk dapat memahami problema yang dihadapi dengan menemukan jalan keluar yang benar dari berbagai macam kesulitan dengan melatih anak didik menggunakan pikirannya dalam mendata masalah, dengan cara memilah dan memilih, membuang mana yang salah, meluruskan yang bengkok, dan mengambil yang benar.
m. Metode Suri Tauladan
Metode ini dapat diartikan sebagai “contoh yang baik”. Dengan adanya contoh yang baik itu, maka akan menumbuhkan hasrat bagi orang lain untuk meniru atau mengikutinya. Sebab saat ini banyak sekali orang (guru) yang bisa memberi contoh tetapi tidak layak dicontoh, oleh karena itu, pribadi yang menjadi seorang guru yang bisa memberi contoh dan sekaligus layak untuk dicontoh dalam perilaku sehari-hari.
Dengan adanya tingkah laku yang baik dalam hal apapun maka hal itu merupakan suatu amaliyah yang paling penting dan paling berkesan, baik bagi pendidik atau peserta didik, maupun dalam kehidupan, dan pergaulan sehari-hari.38
n. Metode Amtsal
Contohnya; kisah tentang nabi Muhammad Saw, yang patut untuk diteladani bagi setiap umat muslim.
Metode ini dilakukan dengan cara memberi perumpamaan dari yang abstrak kepada yang lebih konkrit untuk mencapai tujuan dan atau mengambil manfaat dari perumpamaan tersebut. Manna Khalil Al Qattan mengklasifikasi amstal dalam Al Qur’an menjadi 3 macam: 1) Amtsal Musarrahah, yaitu amtsal yang di dalamnya dijelaskan
dengan lafadz atau sesuatu yang menunjukkan kesamaan/ serupa. Contoh pada Q.S. Al Baqarah: 261.
#
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allahadalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
2) Amtsal Kamimah, yaitu amstal yang di dalamnya tidak disebutkan secara jelas lafadz tamsil tetapi menunjukkan makna-makna yang indah dan menarik dalam kepadatan redaksionalnya. Contoh pada Q.S. Al Furqan: 67 dan Al Isra: 29.
#
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya. Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.”
3) Amtsal Mursalah, yaitu kalimat bebas yang tidak menggunakan tasybih secara jelas, tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai perumpamaan. Contoh QS Al Baqarah: 249 dan Yusuf: 51.
#
“Raja Berkata (kepada wanita-wanita itu): "Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?" mereka berkata: "Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya". Berkata isteri Al Aziz: "Sekarang jelaslah kebenaran itu, Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar."
o. Metode Ibrah Mauidhoh
Metode ini merupakan suatu cara yang membuat kondisi psikis seseorang (siswa) mengetahui intisari perkara yang mempengaruhi perasaannya, yang diambil dari pengalaman hidupnya sendiri sehingga sampai pada tahapan perenungan, penghayatan dan tafakkur (berfikir) yang menuntun kepada pengamalan.
p. Metode Targhib-Targhib
Metode ini merupakan cara untuk meyakinkan seseorang (siswa) terhadap kekuasaan dan kebenaran Allah melalui janji-Nya, disertai dengan bujukan dan rayuan untuk melakukan amal shalih.
6. Evaluasi
Evaluasi dalam pandangan siswa adalah tentang sukses atau gagal dalam ujian. Holt (1964) dalam Brady (1990), menyerang sekolah-sekolah yang telah menghancurkan kreativitas dan kapasitas intelektual anak dengan membuatnya takut atau menjadi bersalah. Holt selanjutnya mengkritik sekolah sebagai hanya melihat anak menjadi ajang merebut-kan hadiah “bintang emas” atau memiliki prestasi “A” bahwa mereka lebih baik dari yang lain. Banyak anak tidak nyaman menghadapi evaluasi mereka. Evaluasi atau penilaian dilakukan secara bertahap, berkesinambungan, dan bersifat terbuka.
Banyak wilayah yang menjadi fokus evaluasi. Area-area yang cocok untuk evaluasi diantaranya; keterampilan berfikir, pengetahuan, kemampuan, sikap, nilai, pengembangan moral, keterampilan fisik, kreativitas, keterampilan sosial, pemahaman estetik, kesadaran, sensitivitas, keterampilan komunikasi, keterampilan aplikasi dan berhubungan dengan yang lain. Secara tegas Brady menggambarkan sebagai berikut.39
39Ibid, hal. 134
Gambar 1.9: Area-area yang sesuai untuk Evaluasi.
Melalui evaluasi ini dapat diperoleh keterangan mengenai kegiatan dan kemajuan belajar siswa, dan pelaksanaan kurikulum oleh guru dan tenaga kependidikan lainnya. Evaluasi prinsipnya harus berkesinambungan, kompatibel dengan rumusan tujuan dan memiliki validitas dalam arti prosedur evaluasi harus mengukur apakah mereka dianggap layak untuk dilakukan pengukuran. Dalam pelaksanaan evaluasi ini terdapat banyak instrumen pengukuran yang dapat dipergunakan oleh pendidik, antara lain: (a) tes standar (pencil and paper test); (b) tes buatan guru; (c) sampel hasil karya (projective technique); (d) tes lisan; (e) observasi sistematis (systematic observation and Recording); (f)wawancara (open-ended question); (g) Kuesioner (questionnaire);(h) daftar cek dan skala penilaian (rating scale); (j) sosiogram (sociometry) dan pelaporan.
Guru menurut Oliva memiliki tanggung jawab untuk melakukan evaluasi kurikulum dan evaluasi instruksional. Evaluasi instruksional adalah evaluasi pelaksanaan kurikulum.40
40 Peter Olivia, (1992). Developing…, hal. 64
Evaluasi kurikulum adalah assessment pada program, proses dan produk kurikulum(material, bukan manusia). Evaluasi instruksional adalah assessment prestasi anak sebelum, selama, dan sesudah program dan efektifitas instruksional.
Keterampilan berfikir, pengetahuan, kemampuan Sikap, nilai, pengembangan moral
Keterampilan pisik, pengetahuan, sikap, ketegaran Kreativitas dan pemikiran divergen/lateral Keterampilan sosial dan sikap
Pemahaman estetik dan keterampilan
Kesadaran, sensitivitas, rasa, tanggung jawab Keterampilan komunikasi
Keterampilan aplikasi (kehendak untuk bekerja) Keterampilan berhubungan dengan orang lain
Memasuki era globalisasi perencanaan kurikulum harus lebih adaptif. Terutama berkait dengan isu teknologi dan keragaman. Polka menegaskan sebagai berikut.
Curriculum planning as a strategic educational process for the improvement of learning. Curriculum planning projects that address the three contemporary dynamic curriculum change forces of technology, diversity or constructivism, must be introduced to educators with attention given to their personal and professional needs using the 4 C’s of Cooperative, Comprehensive, Concrete, and Continuous as a strategic framework.41
C. Pengorganisasian Kurikulum Pendidikan Islam
Komponen perencanaan kurikulum di atas,fondasi atau landasan, tujuan, organisasi isi, organisasi siswa, metode dan evaluasi dalam perencanaan kurikulum harus mempertimbangkan kebutuhan masya-rakat, karakteristik pembelajar, dan lingkup pengetahuan menurut hierarki keilmuan. Oleh karena itu, pengelolaan komponen perencanaan kurikulum harus memperhatikan faktor–faktor di atas. Hal ini penting untuk menjaga relevansi dan pemenuhan kebutuhan dan aspirasi yang terus berkembang sesuai dengan dinamika masyarakat.
Pengorganisasian kurikulum berbeda dengan organisasi kurikulum. Pengorganisasian kurikulum merupakan upaya untuk mengelola dan mensingkronisasikan semua program kurikulum pendidikan Islam agar dapat diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar dengan optimal. Sedangkan organisasi kurikulum adalah struktur program yang berupa kerangka umum program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada siswa.
Organisasi adalah sistem kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Langkah pertama dalam pengorganisasian diwujudkan melalui perencanaan dengan menetapkan bidang-bidang atau fungsi-fungsi yang termasuk ruang lingkup kegiatan yang akan diselenggarakan oleh suatu kelompok kerjasama tertentu. Keseluruhan pembidangan itu sebagai suatu kesatuan merupakan total sistem yang
41 Polka, W. S. dan Mattai, P. R . (2000). Curriculum Planning in The Twenty-First Century: Managing
bergerak ke arah satu tujuan. Dengan demikian, setiap pembidangan kerja dapat ditempatkan sebagai sub sistem yang mengemban sejumlah tugas yang sejenis sebagai bagian dari keseluruhan kegiatan yang diemban oleh kelompok-kelompok kerjasama tersebut.
Kegiatan pengorganisasian kurikulum pendidikan Islam tampak melalui adanya kesatuan yang utuh dan terciptanya mekanisme yang sehat, sehingga kegiatan dapat berjalan dengan baik dan lancar guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Proses pengorganisasian tersebut menekankan pentingnnya kesatuan dalam segala tindakan, dalam hal ini al-Qur'an telah menyebutkan betapa pentingnya tindakan kesatuan yang utuh, murni dan bulat dalam suatu organisasi. Hal tersirat dalam firman Allah Swt dalam surat Al-Imron berikut.
kepada tali (agama) Allah, dan “Dan berpeganglah kamu semuanya
janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu musuhan, Maka Allah
-ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh
an hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, mempersatuk
orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang
-orang
neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Nya kepadamu, agar kamu mendapat
-ayat -Allah menerangkan ayat
S. Al Imron: 103). (Q
petunjuk.”
Menurut Nasution organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada murid.42
42 S. Nasution, (1995).Kurikulum…, hal. 135
Jadi, mengorganisasikan kurikulum merupakan implementasi dari fungsi manajemen kurikulum itu sendiri. Dalam ilmu manajemen bahwasanya setidaknya memiliki empat fungsi yaitu planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pengaplikasian), dan controlling (pengawasan).
Pengorganisasian kurikulum dapat dilihat dari dua pendekatan, yakni pendekatan manajemen dan pendekatan akademik. Pengertian dari kata organisasi itu sendiri adalah suatu kelompok sosial yang bersifat tertutup atau terbuka dari/terhadap pihak luar, yang diatur berdasarkan aturan tertentu, yang dipimpin/diperintah oleh seseorang pimpinan atau seorang pimpinan atau seorang staf administratif, yang dapat melaksanakan bimbingan secara teratur dan bertujuan. Dalam sebuah organisasi sangat diperlukan melaksanakan proses manajemen, yakni:
1. Organisasi perencanaan kurikulum, yang dilaksanakan oleh suatu lembaga atau tim pengembang kurikulum.
2. Organisasi dalam rangka implementasi kurikulum, baik pada tingkat daerah maupun pada tingkat sekolah atau satuan lembaga pendidikan yang melaksanakan kurikulum.
3. Organisasi dalam tahap evaluasi kurikulum, yang melibatkan pihak-pihak yang terkait dalam proses evaluasi sebuah kurikulum.
Dalam setiap jenis organisasi kurikulum, terdapat susunan kepengurusan yang telah ditentukan sesuai dengan struktur organisasi berikut dengan tugas-tugas pekerjaannya sekaligus. Sedangkan bentuk-bentuk kurikulum, akan disusun menurut pola organisasi kurikulum yang dilengkapi struktur, urutan kegiatan pembelajaran dan ruang lingkup materi tertentu. Dan secara akademik, organisasi kurikulum dikembangkan dalam bentuk-bentuk organisasi sebagai berikut:
1. Kurikulum Mata Pelajaran Terpisah (Separated Curriculum)
Merupakan kurikulum yang terdiri dari sejumlah mata ajaran secara terpisah. Adalah kurikulum yang mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
a. Terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang terpisah satu sama lain. b. Setiap mata pelajaran seolah-olah tersimpan dalam kotak-kotak
tersendiri dan disampaikan pada anak didik pada waktu-waktu tertentu.
c. Kurikulum ini bertujuan pada penguasaan sejumlah ilmu pengetahuan.
d. Tidak didasarkan atas kebutuhan, minat, dan masalah-masalah yang menyangkut diri siswa.
e. Tidak mempertimbangkan kebutuhan, masalah, dan tuntutan masyarakat.
f. Pendekatan metodologi sistem penyampaian. g. Pelaksanaan dengan sistem guru mata pelajaran.
h. Para siswa sama sekali tidak dilibatkan dalam perencanaan kurikulum.
2. Kurikulum yang Berkorelasi dengan Mata Pelajaran (Correlated
Curriculum)
Mata pelajaran-mata pelajaran itu disusun dalam pola korelasi agar lebih mudah dipenuhi oleh siswa. Bentuk korelasi terdiri atas dua jenis, yaitu:
a. Korelasi informal, dimana seorang guru mata pelajaran meminta agar guru mata pelajaran lainnya mengkorelasikan pelajaran yang akan digunakannya dengan bahan yang akan diberikannya dengan bahan yang telah diberikan oleh guru yang sebelumnya.
b. Korelasi formal, bahwasanya beberapa orang guru merencanakan bersama-sama untuk mengkorelasikan mata pelajaran yang akan menjadi tanggung jawab masing-masing guru.
Ciri-ciri kurikulum berkorelasi ini adalah sebagai berikut: a. Mata pelajaran dikorelasikan satu sama lain.
b. Mulai adanya usaha untuk merelevankan pelajaran dengan masalah kehidupan sehari-hari meskipun tujuannya masih tetap untuk penguasaan pengetahuan.
c. Kurikulum ini telah mulai mengusahakan penyesuaian pelajaran dengan minat dan kemampuan para siswa walaupun pelayanan terhadap perbedaan individual masih sangat terbatas.
d. Metode pencapaiannya adalah dengan menggunakan metode korelasi meskipun masih banyak kendala dan hambatan yang dihadapi.
e. Meskipun guru masih memegang peran aktif, aktivitas siswa juga mulai dikembangkan.
3. Kurikulum Bidang Studi (Subject Curriculum)
Ciri-ciri umum yang terdapat dalam kurikulum bidang studi antara lain:
1) Kurikulum terdiri atas suatu bidang pengajaran yang di dalamnya terdapat perpaduan sejumlah mata pelajaran yang sejenis dan memiliki ciri-ciri yang sama.
2) Pelajaran bertitik tolak dari core subject, dari sana kemudian dijabarkan menjadi sejumlah pokok bahasan.
3) Berdasarkan tujuan kurikuler dan tujuan instruksional yang telah direncanakan sebelumnya.
4) Sistem penyampaiannya bersifat terpadu. 5) Guru berperan selaku guru bidang studi.
6) Minat, masalah, dan kebutuhan siswa serta kebutuhan masyarakat dipertimbangkan sebagai dasar penyusunan kurikulum.
4. Kurikulum Berintegrasi/Terpadu(Integrated Curriculum).
Kurikulum terpadu dasarnya pada pemecahan suatu problem, yakni “problem sosial” yang dianggap penting dan menarik bagi anak didik. Dalam melaksanakannya disusunlah unit sumber yang mencakup bahan, kegiatan belajar, dan sumber-sumber yang sangat luas.
Sumber unit digunakan sebagai sumber untuk satuan pelajaran yang dipelajari anak didik di kelas. Perbedaan individual anak didik tidak harus selalu mempelajari hal yang sama dan ada kebebasan bagi anak didik memilih pelajaran menurut minat, bakat, dan kemampuan mereka masing-masing. Pemahamannya bahwa unit sumber merupakan apa yang secara ideal dapat dipelajari anak didik, sedangkan satuan pelajaran adalah apa yang secara aktual dipelajari anak didik.43
a. Berdasarkan filsafat pendidikan demokrasi. Ciri-ciri umum bentuk kurikulum ini adalah:
b. Berdasarkan psikologi belajar Gestalt.
c. Berdasarkan landasan sosiologi dan sosial-kultural.
d. Berdasarkan kebutuhan dan tingkat perkembangan dan pertumbuhan siswa.
e. Ditunjang oleh semua mata pelajaran atau bidang studi yang ada.
f. Sistem penyampaiannya dengan menggunakan pendekatan tematik dan sistem pengajaran unit.
g. Peran guru sama aktifnya dengan murid. 5. Kurikulum Inti (Core curriculum)
Kurikulum yang disusun berdasarkan masalah dan kebutuhan siswa. Ciri-ciri core curriculum, yaitu:
a. Inti pelajaran meliputi pengalaman-pengalaman yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan semua siswa.
b. Inti program berkenaan dengan pendidikan umum (general education) untuk memperoleh bermacam-macam hasil (tujuan pendidikan). c. Kegiatan-kegiatan dan pengalaman-pengalaman inti disusun dan
diajarkan dalam bentuk kesatuan, tidak dibatasi oleh garis-garis pelajaran yang terpisah.
d. Inti program diselenggarakan dalam jangka waktu yang lebih lama.
D. Implementasi Kurikulum Pendidikan Islam
Beuchamp mengartikan implementasi kurikulum sebagai “a process of putting the curriculum to work”.44 Fullan mengartikan
implementasi kurikulum sebagai “the putting into practice of an idea, program or set of activities which is new to the individual or organizational using it”.45
Implementasi kurikulum dapat juga diartikan sebagai aktualisasi kurikulum tertulis dalam bentuk pembelajaran. Implementasi kuriku-lum merupakan suatu proses penerapan konsep, ide, program, atau tatanan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran atau aktivitas-aktivitas baru, sehingga terjadi perubahan pada sekelompok orang yang diharapkan untuk berubah. Implementasi kurikulum juga merupakan
Pembelajaran merupakan wujud implementasi kurikulum. Implementasi kurikulum pendidikan Islam merupakan suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan atau inovasi pendidikan Islam dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai, sikap, modal dan akhlak.
44 Baucamp, G.A. (1975). Curriculum Theory, Illionis, The Kagg Press. Hal. 16 45John. P. Miller, (1985). Curriculum Perspective.Longman. United States. Hal. 246