• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Belajar dan Pembelajaran dalam Pendidikan Islam 1. Teori Belajar Behavioristik

Dalam dokumen BAB I MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM (Halaman 193-200)

DAN PEMBELAJARAN DALAM KAJIAN PENDIDIKAN ISLAM

B. Teori Belajar dan Pembelajaran dalam Pendidikan Islam 1. Teori Belajar Behavioristik

Beberapa teori belajar Behavioristik, dikemukakan oleh para psikologi.Mereka sering disebut “Contemporary behaviorists” atau juga disebut “S-R Psychologists”.Menurut mereka, tingkah laku menusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan.151F152

Berbagai prinsip belajar dari teori Behavioristik ini seperti belajar harus diulang-ulang, latihan (law of exercise),mempengaruhi (law of effect), dan reward andpunishment.Agar manusia melaksanakan setiap waktu dan setiap hari, maka diperlukan hukuman yang sifatnya mendidik, hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, seperti pada perintah shalat sebagaimana hadits berikut:

”Perintahkanlah kepada anak-anak kalian untuk salat ketika umur mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka karenanya (tidak mau salat) ketika umur mereka sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka”.152F153

Jika dikaji lebih mendalam, maka perintah shalat itu sesuai dengan prinsip belajar Behavioristik. Pertama, shalat harus dilaksanakan pada waktu tertentu, tidak boleh seseorang shalat Subuh pada waktu Dzuhur atau sebaliknya, artinya prinsip pengulang-ulangan dilakukan. Kedua, shalat harus ajarkan/dilatihkan pada anak sejak minimal usia 7 tahun. Ketiga, ketika seseorang muslim pada usia 10 tahun tidak menjalankan shalat, maka perlu diberikan hukuman (dicubit, dijewer, atau dipukul) dalam batas kewajaran, untuk mendidik anak bukan untuk menyakiti apalagi melukai. Keempat, bagi anak-anak yang telah

152Wasty Soemanto. (1998). Psikologi Pendidikan: Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta: Rineke Cipta. Hlm, 117

menjalankan perintah shalat dengan baik, maka orang tua sebaiknya memberikan reward (hadiah) agar anak senang sehingga lebih termotivasi untuk terus belajar menjalankan syariat agama dengan baik.

Dengan demikian, maka semakin sering “stimulus” (S) yang dilakukan oleh guru, orang tua, lingkungan terhadap anak agar mau belajar shalat dengan baik, maka akan semakin baik pula “respon” (R) terhadapnya.

Teori belajar Behavioristik meliputi teori belajar Connectionism yang dikemukakan oleh Thordhik, teori Conditioning yang dikem-bangkan oleh Pavlov dan Watson, teori Operant Conditioning dari Skiner. a. Teori Connectionism

Teori ini dikembangkan oleh Thordhik, menurutnya belajar adalah menyangkut persoalan-persoalan pertalian hubungan yaitu formasi dan yang memperkuat hubungan-hubungan ujung syaraf antara situasi dan respon.154

Eksperimen-eksperimen Thorndike terutama dilakukan dengan mempergunakan kucing sebagai subyek dalam eksperimen, dalam eksperimen Thorndike, kucing yang dipilih merupakan kucing yang masih muda dimana kebiasaan-kebiasaannya masih belum kaku, kucing tersebut dibiarkan lapar lalu dimasukkan ke dalam kurungan yang disebut “problem box”. Konstruksi pintu kurungan itu dibuat sedemikian rupa, sehingga kalau kucing menyentuh tombol tertentu pintu kurungan akan terbuka dan kucing dapat keluar dan mencapai makanan (daging) yang ditempatkan di luar kurungan itu sebagai hadiah atau daya penarik bagi si kucing yang lapar itu.

Stimulus (perangsang) akan mempe-ngaruhi organisme dan kemudian timbulah tanggapan (respon). Ikatan atau pertalian S-R dapat dianggap baik sebagai kondisi fisik maupun sebagai hubungan yang ada atau terjadi antara situasi tertentu dan kecakapan individu untuk menggapainya.

155

Pada usaha (trial) yang pertama kucing itu melakukan bermacam-macam gerakan yang kurang relevan bagi pemecahan problemnya, seperti misalnya mencakar, menubruk dan sebagainya

154 A. Crow& L Crow, (1989). Psikologi Pendidikan. Nur Cahaya. Hlm, 280

sampai kemudian menyentuh tombol dan pintu terbuka. Waktu yang dibutuhkan dalam usaha pertama ini adalah terlihat cukup lama.

Percobaan yang sama seperti sebelumnya dilakukan secara berulang-ulang, pada usaha trial berikutnya, ternyata waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah makin singkat, hal ini ditafsirkan oleh Thorndike demikian: ”kucing itu sebenarnya tidak mengerti cara membebaskan diri dari kurungan itu, tetapi dia belajar mencamkan (mempertahankan) respon-respon yang benar dan menghilangkan atau meninggalkan respon-respon yang salah.”

Hukum-hukum belajar primer yang dinyatakan Thordhik berdasarkan atas pemodifikasian antara neuron-neuron dan pertalian syaraf, berdasarkan teori ini maka faktor-faktor penting dalam belajar adalah kesiapan syaraf (readiness of the neuron) urutan waktu, keterikatan dan keterlibatan (belongingness dan pengalaman yang memuaskan atau menyenangkan) hukum-hukum tersebut umumnya disebut hukum-hukum kesepian, latihan dan efek.

1) Kesiapan (readiness)prinsip kesiapan dikemukakan oleh Thorndike sebagai berikut:

a) Kalau suatu unit tindakan sudah siap untuk dilakukan, maka tindakan dengan unit tersebut akan menimbulkan kepuasan, dan tidak akan ada tindakan-tindakan yang lain untuk mengubah tindakan tadi

b) Kalau suatu unit tindakan sudah siap untuk dilakukan, akan tetapi tidak dilakukan maka akan mengakibatkan ketidak-puasan, dan tidak akan menimbulkan respon-respon apapun yang bersifat alamiah untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasan tertentu

c) Kalau suatu unit tindakan tidak siap dilakukan kemudian dipaksa untuk melakukannya, maka tindakan tersebut akan mengakibtkan ketidakpuasan.

2) Latihan (exercise) hukum ini mengandung tendensi menggunakan dan tidak menggunakan, tendensi ini dinyatakan sebagai berikut: a) The law of use (hukum menggunakan) artinya, suatu pertalian

yang dapat dimodifikasi antara situasi S dan R, sehingga dalam keadaan itu akan menambah kuatnya pertalian kalau orang

merespon latihan-latihan lain yang sama dengan yang pernah dihadapi sebelumnya.

b) The law of disuse (hukum tidak menggunakan) artinya suatu pertalian yang dapat dimodifikasi tidak dibuat antara S dan R selama jangka waktu yang lama, sehingga dalam keadaan itu akan menurunkan atau melemahkan pertalian, kalau orang akan merespon latihan-latihan yang sama dengan yang pernah dihadapi sebelumnya.

3) Pengaruh (Effect) hukum ini mengatakan bahwa, apabila S dan R disertai atau diikuti oleh keadaan yang memuaskan, maka akan menambah kuatnya pertalian yang dibuat itu disertai atau diikuti oleh keadaan yang tidak memuaskan, maka kekuatan pertalian itu akan berkurang ataupun melemah, yaitu kalau orang akan merespon hal-hal lain yang sama.156

Sedangkan menurut Thorndike belajar merupakan suatu proses yang disebut gamak dan galat (trial and error) yang diterapkan terutama untuk menguasai situasi belajar yang lebih komplek, dan yang kedua disebut law of effect.

1) Trial and Error

Trial and Error dalam istilah pendidikan bukan merupakan unsur manipulasi yang tidak bertujuan. Pebelajar dibangkitkan ke arah kesadaran akan suatu teknik yang bisa digunakan untuk memecahkan masalah kalau dia berusaha untuk memecahkannya, jika gamak (trial) yang berencana itu tidak berhasil, maka secara sadar dia akan menilai untuk mengoreksi setiap galat yang nampak dalam tekniknya kemudian dia berusaha lagi untuk memecahkan usahanya, proses ini berlangsung terus sampai akhirnya pebelajar mampu menghilangkan galat-galat yang telah diperbuatnya dan kemudian sampailah kepada pemecahan yang digunakan.

Ciri-ciri belajar trial and error yaitu: (1) Ada motif pendorong aktifitas; (2) Ada berbagai respon terhadap situasi; (3) Ada

156 A. Crow& L Crow. (1989). Psikologi…, hlm, 281

eliminasi respon-respon yang gagal atau salah; (4) Ada kemajuan reaksi-reaksi yang mencapai tujuan.157

2) Law of Effect

Law of effect disini merupakan segala tingkah laku yang mengakibatkan suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diingat dan dipelajari dengan sebaik-baiknya. Terjadinya dalam belajar menurut Thorndike disebabkan adanya law of effect.

Dalam kehidupan sehari-hari law of effect dapat terlihat dalam hal memberi penghargaan atau ganjaran dan juga dalam hal memberi hukuman dalam pendidikan. Akan tetapi menurut Thorndike yang lebih memegang peranan dalam pendidikan dalam hal ini ialah hal memberi penghargaan atau ganjaran dan itulah yang lebih dianjurkan.

Karena adanya law of effect terjadilah hubungan (connection) atau asosiasi antara tingkah laku atau reaksi yang dapat mendatangkan sesuatu dan hasilnya (effect) karena adanya koneksi antara reaksi dengan hasilnya maka teori Thorndike disebut juga teori Connectionism.

b. Teori Conditioning (Ivan Pavlov dan Watson)

Menurut teori ini, belajar adalah formasi kebiasaan yang diakibatkan oleh persyaratan (conditioning) atau menghubungkan stimulus yang lebih kuat dengan stimulus yang lebih lemah hingga akhirnya organisme itu dimungkinkan, sebagai hasil dari pada belajar asosiatif, hal ini untuk mentransfer respon yang biasanya dihubung-kan dengan stimulus yang lebih kuat dihentidihubung-kan.158

157 Ngalim Purwanto, (1989). Psikologi Pendidikan, PT Remaja Rosdakarya. Hlm, 99

158 A. Crow& L Crow. (1989). Psikologi …, hlm. 280

Dalam masalah S-R Pavlov menggunakan eksperimen dengan menggunakan anjing, dalam eksperimennya ia memotong pembuluh kelenjar ludah seekor anjing melalui pipanya kemudian ditentukan pengumpulan dan penakaran yang cermat terhadap air liur yang tersembunyi anjing tersebut dibuat senang dan dijauhkan sedemikian rupa dari segala macam gangguan.

Pengamat tinggal pada sebuah ruang yang kedap suara (a sound-proof room) terlindungi dari penglihatan anjing namun dia dapat melihat percobaan lewat kaca. Kombinasi perangsang-perangsang yaitu makanan dan bunyi bel diulang-ulang sampai beberapa kali sehingga bel itu sendiri menjadi perangsang yang menimbulkan air liur, sejak itulah anjing telah diisyaratkan dengan prasangka baru.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam percobaan tersebut sebagai berikut:

1) Stimulus atau perangsang bel menyebabkan keluarnya air liur berkurang dari pada stimulus makanan.

2) Bel menandakan makanan diberikan secara serempak selama proses persyaratan.

3) Anjing “dibuat” (dibiarkan) lapar sampai dipengaruhi oleh dua perangsang.

Eksperimen Pavlov dengan menggunakan anjing menunjukkan bahwa mungkin untuk memindahkan stimulus isyarat yang semula membuktikan respon kepada stimulus lain nantinya akan menimbulkan respon yang sama, Pavlov menamakan proses ini dengan refleks bersyarat (conditioned reflex) syarat ini barulah mudah dicapai jika prinsip-prinsip waktu, intensitas dan keajekan sesuai. Di bawah ini akan dipaparkan tentang hal-hal tersebut:

1) Waktu: respon terhadap stimulus yang memuaskan atau yang tidak memuaskan harus datang lebih dahulu setelah terjadinya respon terhadap stimulus syarat dan sebelum berhenti sama sekali.

2) Intensitas: respon yang kedua harus merupakan pelaksanaan yang lebih kuat ataupun lebih baik dari pada yang pertama.

3) Keajegan: respon yang kedua harus mengikuti respon yang pertama yang relatif ajeg sampai refleks bersyarat ditetapkan.

Masalah selanjutnya yang ingin diselidiki oleh Pavlov ialah apakah refleks bersyarat yang telah terbentuk itu dapat dihilangkan. Eksperimen-eksperimen yang dilakukan oleh Pavlov memberikan kesimpulan, bahwa refleks bersyarat yang telah terbentuk itu dapat hilang atau dihilangkan. Sebagaimana penjelasan berikut ini.

1) Refleks bersyarat yang telah terbentuk itu dapat hilang karena perangsang yang mengganggu (hilang untuk sementara).

2) Refleks bersyarat itu dapat dihilangkan dengan proses persyaratan kembali (reconditioning). Jalannya melakukan persyaratan kembali ini sama dengan ketika menimbulkan refleks bersyarat, hanya saja disini tidak diberi reinforcement. Jadi dalam proses persyaratan kembali ini pertanda itu (setelah ada perulangan secukupnya) berarti tidak ada makanan datang, karena itu tak perlu mengeluarkan air liur.159

Selain Pavlov, Watson juga mengadakan eksperimen tentang perasaan takut pada anak dengan menggunakan tikus dan kelinci, dari hasil percobaannya dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa perasaan takut pada anak dapat diubah atau dilatih.

Anak dalam percobaan Watson yang mula-mula tidak takut kepada kelinci dibuat menjadi takut kepada kelinci, kemudian anak tersebut dilatihnya pula, sehingga tidak takut lagi kepada kelinci. Maka menurut teori Conditioning belajar diartikan pula dengan suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (respon). Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu, yang terpenting menurut teori ini ialah latihan-latihan secara terus-menerus, dalam teori ini yang diutamakan ialah belajar yang terjadi secara otomatis.160

c. Teori Operant Conditioning (Skiner)

Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil dari conditioning, yakni hasil dari pada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat atau perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya dalam kehidupannya.

Seperti Pavlov dan Watson, Skiner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respon, tetapi berbeda dengan kedua tokoh yang terdahulu itu, Skiner membuat perincian lebih jauh. Skiner membedakan adanya dua macam respons, yaitu:

159 Sumadi Sueyabrat. (1984). Psikologi …, hlm, 284

1) Respon refleks (reflective response), yaitu respon yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang-perangsang itu, disebut eliciting stimuli yang menimbulkan respon-respon yang secara relatif tetap, misalnya makan yang menimbulkan keluarnya air liur. Pada umumnya, perangsang-perangsang yang demikian itu mendahului respon yang ditimbulkannya.

2) Operant response (instrumental response), yaitu respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang yang demikian itu disebut reinforcing stimuli atau reinforcement, karena perangsang-perangsang tersebut memper-kuat respons yang telah dilakukan oleh organisme. Jadi perang-sang yang demikian itu mengikuti (dan karenanya memperkuat) sesuatu tingkah laku tertentu yang telah dilakukan. Jika seorang anak belajar (telah melakukan perbuatan), lalu mendapat hadiah, maka ia akan menjadi lebih giat belajar (responnya menjadi lebih intensif atau kuat).

Di dalam kenyataannya, respon jenis pertama itu (respondent response atau respondent behavior) sangat terbatas adanya pada manusia dan karena adanya hubungan yang pasti antara stimulus dan respon kemungkinan untuk memodifikasikannya adalah kecil. Sebaliknya, operant response atau instrumental behavior merupakan bagian terbesar dari pada tingkah laku manusia, dan kemungkinannya untuk memodifikasi boleh dikatakan tak terbatas. Fokus teori Skiner adalah pada respon atau jenis tingkah laku, yang menjadi masalah dalam hal ini bagaimana menimbulkan, mengembangkan dan memodifikasi tingkah laku tersebut.

Persoalan-persoalan yang Dihadapi Teori Behavioristik

Teori Behavioristik tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang komplek, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan atau belajar yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon, contohnya saja seorang siswa akan dapat belajar dengan baik setelah diberi stimulus tertentu, tetapi setelah diberi stimulus lagi yang sama bahkan lebih baik, ternyata siswa tersebut tidak mau belajar lagi.161

Dalam dokumen BAB I MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM (Halaman 193-200)